Sejak kecil, Alkina selalu tahu bahwa dirinya berbeda di mata kedua orang tuanya. Di rumah, Sisil selalu mendapatkan apa pun yang diinginkan. Ketika Sisil meminta uang, orang tua mereka memberikannya tanpa banyak bertanya. Ketika Sisil melakukan kesalahan, mereka selalu mencari alasan untuk membelanya. Bahkan ketika Alkina berprestasi dan berusaha membuat orang tuanya bangga, keberhasilannya dianggap biasa saja. Berbeda dengan Sisil, Alkina justru selalu dituntut untuk mengalah. "Kamu itu jangan egois... Apa susahnya sih mengalah." Kalimat itu sudah terlalu sering ia dengar. Alkina terbiasa melihat hadiah mahal diberikan kepada Sisil, sementara dirinya hanya mendapatkan barang bekas. Ia terbiasa bekerja membantu pekerjaan rumah, sementara Sisil bebas menghabiskan waktu bersama teman-temannya. Sampai Alkina berada di titik dimana ia berhenti berharap. Ia tidak lagi meminta dibelikan sesuatu. Tidak lagi menceritakan prestasinya. Tidak lagi menunggu ucapan bangga dari kedua orang tuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fianaqila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 12 penyesalan yang datang terlambat
“Hampir semua orang bilang itu salah aku, nek.”
“Tapi kamu masih kecil waktu itu. Kamu tidak tahu apa-apa sayang.”
“tapi tetap saja aku penyebabnya.”
Mira langsung menggenggam tangan Alkina.
“Jangan ulangi kalimat itu, Alkina, kamu tidak salah apa-apa...”
Suara perempuan tua itu lembut, tetapi tegas.
“Kamu juga korban.”
“Jika saja kamu tahu kebenarannya, mungkin kamu tidak akan seperti ini.” sambung Mira dalam hatinya.
Deg.
Mata Alkina langsung berkaca-kaca.
Korban.
Belum pernah ada yang mengatakan itu padanya. Selama ini semua orang hanya menyuruhnya mengerti keadaan ibunya, mengalah, diam dan selalu meminta ia bertahan tidak ada yang bertanya bagaimana perasaannya, bagaimana kondisinya.
Air mata Alkina jatuh perlahan.
“Aku capek nek…” bisiknya lirih.
Mira menarik gadis itu ke pelukannya dan kali ini Alkina tidak menahan tangisnya.
Rian binggung melihat Alkina yang menagis.
“kak Alkina kenapa?”
“Tidak apa, kakak kamu terharu karena di kampus baru, dia dapat banyak teman.” Mira tidak mau cucunya semakin banyak bertanya karena ia tahu cucunya memiliki keingintahuan yang tinggi.
“seharusnya kakak senang, bukan sedih.”
“Kan kakak kamu terharu sayang.”
Anak laki-laki itu tidak lagi bertanya, ia lanjut membaca.
Sementara Alkina memutuskan untuk pergi dari sana.
******
Sementara itu, Ranti semakin kehilangan kendali.
“Apa maksudnya belum juga ketemu hah?” Bentakannya menggema di ruang kerja.
Beberapa orang kepercayaannya hanya menunduk diam.
“Kota ini sangat sebesar bos!”
“Kami sudah mencoba semua jalur, Bos…”
“Saya tidak butuh alasan, saya butuh hasil!” Ranti semakin frustrasi.
Semakin ia mencari, semakin Alkina seperti menghilang ditelan bumi. Bahkan rekening tabungan kecil milik putrinya tidak pernah dipakai lagi.
Ponselnya mati total, tidak ada aktivitas apa pun dan ketakutan paling buruk mulai muncul di kepala Ranti.
Bagaimana kalau sesuatu yang buruk terjadi terhadap putrinya, Ranti bahkan tidak sanggup membayangkan hal itu. ia tidak mau kehilangan untuk yang ke dua kalinya.
Tubuh perempuan itu langsung melemas memikirkan kemungkinan hal tersebut. Ia menagis dalam diam, sekarang ia benar-benar takut, takut terjadi sesuatu terhadap anaknya, takut kehilangan putri kandungnya yang telah ia sakiti.
Malam harinya Setiawan menemukan Ranti duduk sendirian di kamar Alkina lagi.
perempuan itu memeluk bantal kecil milik putrinya sambil menangis diam-diam.
“Aku mimpi dia tadi mas…” bisik Ranti lirih.
Setiawan terdiam melihat istrinya menagis.
“Dia masih kecil di mimpiku…”
Tangis Ranti semakin pecah.
“Dia manggil aku Mama…” Suara perempuan itu penuh penyesalan.Ini pertama kalinya Setiawan melihat istrinya benar-benar hancur, benar-benar menyesal, namun sayang penyesalan itu datang terlambat, penyesalan yang datang ketika putri mereka sudah pergi meningalkan mereka.
“Aku jahat sekali sama putri kita…”
Laki-laki itu menghela napas panjang.
“Kamu bukan cuma jahat...” Ranti menunduk semakin dalam.
“Kamu menghancurkan anak kamu sendiri.” Kalimat itu terasa begitu menyakitkan karena memang benar. Ia adalah penyebab semau ini terjadi.
Jika saja dia tidak sejahat itu terhadap putrinya, mungkin putrinya tidak akan pergi dan semua ini tidak akan terjadi.
Sementara Sisil yang tidak sengaja mendengar percakapan orang tua angkatnya mengepalkan tangannya, ia semakin takut, posisi dirinya akan tersingkir.
“Aku harus melakukan sesuatu, aku tidak bisa terus diam seperti ini... bisa-bisa aku tersingkir.”
“Alkina kamu biang masalah, seharusnya kamu saja yang tiada, bukan bang Arkan.”
“Aku pikir dengan kamu pergi aku bisa memiliki keluarga ini, tapi nyatanya kepergian kamu merusak kebahagiaan aku... Kalau aku tahu jadinya begini, lebih baik kamu tetap berada di rumah ini dan di siksa oleh mama kamu.” Seketika Sisil menyesali perbuatannya yang membuat Alkina pergi dari rumah.