Takdir adalah kuasa Tuhan yang kerap membawa manusia menyusuri jalan berliku. Bagi Ruby Anastasya, rumah yang seharusnya menjadi tempat terhangat untuk pulang justru terasa begitu sesak dan menyiksa. Ironi menyelimuti hidupnya ketika orang tua yang mestinya menjadi pelindung utama, tega mengorbankan masa depannya demi tumpukan uang—melemparnya tanpa belas kasihan ke dalam neraka dunia. Di tengah luka dan impian yang dihancurkan, sanggupkah Ruby bertahan dan menemukan secercah kebahagiaan yang layak ia dapatkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nabilah Tisyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12.
Para pelayan wanita bergerak dengan sangat lembut dan cekatan di sekitar ranjang Ruby. Tidak ada bentakan, tidak ada cengkeraman kasar, maupun tatapan menghina seperti yang biasa ia dapatkan di mansion Kavano.
Seorang pelayan paruh baya dengan senyum hangat menyapa Ruby dengan suara pelan. "Permisi, Miss. Kami bantu ganti pakaian dan bersihkan badannya ya, supaya Miss terasa lebih segar."
Ruby sempat menegang kaku saat jemari pelayan itu menyentuh bahunya. Refleks trauma membuatnya hendak menarik diri, namun kelembutan gerakan mereka perlahan meruntuhkan dinding pertahanannya. Dengan sangat hati-hati, para *maid* memandikan Ruby menggunakan air hangat bernuansa aroma terapi yang menenangkan, membasuh kulitnya yang dipenuhi sisa-sisa bekas luka parut yang mulai memudar.
Pakaian rumah sakit yang kaku digantikan dengan gaun tidur berbahan sutra yang amat lembut dan longgar. Rambutnya yang sempat kusam disisir perlahan hingga rapi dan wangi.
"Nah, sudah selesai, Miss. Apa ada yang terasa sakit atau kurang nyaman?" tanya pelayan itu lembut sambil merapikan selimut tebal menutupi dada Ruby.
Ruby menggeleng pelan. Tenggorokannya masih agak kaku, namun hembusan napas lega akhirnya keluar dari dadanya.
"Terima kasih..." bisik Ruby lirih.
Melihat kehangatan dan ketelatenan orang-orang di ruangan ini, perlahan-lahan kepanikan di kepala Ruby mulai mereda. Meski hatinya masih diliputi banyak tanda tanya tentang siapa pria misterius penolongnya itu, untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan terakhir, Ruby merasa tubuhnya benar-benar aman dan diperlakukan kembali sebagai seorang manusia.
Seorang pelayan muda baru saja hendak menyodorkan sendok berisi sup hangat ke mulut Ruby ketika pintu kamar terdorong perlahan tanpa suara.
Langkah kaki tegap itu menghentikan gerakan sang pelayan seketika. Pria bertubuh tinggi besar dengan setelan jas gelapnya melangkah masuk. Aura dominasi dan ketenangan yang mematikan mengikutinya di setiap pijakan.
"Tinggalkan kami," perintah pria itu dengan suara berat, rendah, dan mutlak.
Tanpa berani membantah atau bahkan menengadah, pelayan itu buru-buru meletakkan mangkuk sup di atas meja samping tempat tidur, membungkuk hormat, lalu keluar dari kamar. Pintu kayu tebal tertutup rapat, menyisakan keheningan yang amat pekat di antara mereka berdua.
Ruby membeku di atas ranjang. Tangannya reflek meremas ujung selimut sutra yang menutupi pangkuannya. Matanya membelalak, menatap pria yang kini berjalan mendekati sisi tempat tidurnya.
Pria itu menghentikan langkahnya tepat di sebelah ranjang. Sorot mata elangnya yang tajam dan tak tertebak menatap lurus ke arah Ruby—meneliti wajah pucat gadis itu yang kini tak lagi berlumuran darah, meski bekas-bekas memar tipis masih tersisa di kulitnya.
"Kamu sudah bisa mengenali lingkunganmu?" tanya pria itu datar, memecah kesunyian.
Ruby menelan ludah dengan susah payah, tenggorokannya mendadak kembali terasa kering. "S-siapa kamu...?" bisik Ruby dengan suara gemetar. "Kenapa... kenapa aku bisa ada di sini?"
Pria itu tidak langsung menjawab. Ia menarik sebuah kursi kayu berukir di dekat sana, lalu duduk bersandar santai sambil menyilangkan kakinya yang panjang. Sikapnya begitu tenang, namun berhasil membuat atmosfer di ruangan itu terasa begitu sempit dan sarat penekanan.
"Empat bulan lalu, seorang gadis yang hampir menjadi bangkai menyelinap ke dalam bagasi mobil saya di kediaman Kavano Benedict," ujar pria itu pelan, tiap kata yang diucapkannya terdengar begitu dingin dan presisi. "Saya tidak suka ada barang asing yang masuk ke dalam properti saya tanpa izin. Apalagi barang itu adalah manusia yang setengah mati."
Jantung Ruby berdegup kencang mendengar nama Kavano disebut dari bibir pria itu. Rasa panik kembali menyeruak. "Aku... aku nggak maksud—"
"Tatap mata saya," potong pria itu singkat, namun suaranya memiliki daya hipnotis yang membuat Ruby terhenti seketika dan memberanikan diri menatap iris mata hitam yang dalam itu.
"Siapa nama kamu?" tanya pria itu lagi.
"R-Ruby..." cicitnya pelan. "Namaku Ruby."
Pria itu mengangguk pelan satu kali. "Ruby. Kamu bernapas di rumah saya, diurus oleh tim medis saya, dan memakan makanan dari dapur saya selama empat bulan terakhir. Saya rasa kamu tahu bahwa di dunia ini, tidak ada bantuan yang benar-benar gratis."
Pria itu memajukan sedikit tubuhnya, menopang kedua siku di atas lutut. Jarak yang memendek itu seketika membuat tekanan di udara makin berat, seolah oksigen di sekitar tempat tidur Ruby mendadak terkuras habis.
"Bertahun-tahun rumah ini tidak pernah diinjak oleh orang luar," ujar pria itu dengan suara rendah yang bergaung dingin. "Lalu tiba-tiba, ada seorang asing yang mengotori bagasi mobil saya dengan darah, koma selama empat bulan di kamar medis saya, dan sekarang bernapas di dalam properti pribadi saya."
Ruby makin menyusutkan tubuhnya ke sandaran ranjang, matanya membelalak ketakutan saat tatapan pria itu mengunci pergerakannya.
"Kavano Archelio..." pria itu menyebut nama itu dengan nada meremehkan. "Dia manusia iblis, tapi cara kamu kabur dengan bersembunyi di mobil saya adalah tindakan yang sangat bodoh. Kamu bisa saja mati di dalam sana, atau yang lebih buruk... saya sendiri yang membuang kamu ke laut kalau kamu mengganggu ketenangan tempat ini."
Ruby menahan napas, bibirnya yang pucat bergetar hebat. "A-aku nggak tahu itu mobil kamu... aku cuma mau selamat..."
Pria itu tersenyum tipis—sebuah senyuman dingin tanpa sedikit pun kehangatan yang justru terasa lebih mengerikan daripada gertakan. Tangannya terulur perlahan, jemarinya yang tegap dan dingin menyentuh dagu Ruby, menahannya agar tetap mendongak menatap matanya.
"Di rumah ini, aturan saya adalah hukum," bisiknya tepat di depan wajah Ruby. "Saya tidak peduli seberapa menderitanya kamu di masa lalu. Begitu kamu melangkah di bawah atap saya, hidup kamu ada di tangan saya. Mengerti?"
Ruby menghembuskan napas panjang, membiarkan dadanya yang sesak perlahan melonggar. Sentuhan dingin di dagunya terasa amat asing, namun di balik ketegasan dan intimidasi pria itu, tidak ada kekejaman yang liar seperti yang biasa ia temukan pada Kavano. Ada batas yang jelas, sebuah ketertiban yang dingin.
Dengan mata yang berkaca-kaca namun memancarkan kelelahan yang sangat dalam, Ruby tidak menarik dirinya. Ia menatap lurus ke dalam iris mata hitam milik pria di depannya. Setelah melewati neraka penyiksaan, koma berbulan-bulan, dan hampir kehilangan nyawanya, rasa takutnya telah mencapai titik jenuh. Ia tidak punya energi lagi untuk memberontak atau melarikan diri. Jika ini adalah garis takdir yang harus ia jalani, maka ia akan menerimanya.
"Aku paham..." bisik Ruby dengan suara parau namun terdengar sangat pasrah. "Hidupku memang sudah hancur sejak awal. Kalau kamu mau minta bayaran atas nyawa yang udah kamu selamatkan ini... aku nggak punya apa-apa selain diriku sendiri."
Pria itu menyipitkan matanya sedikit, meneliti perubahan raut wajah Ruby. Ia menantikan tangisan histeris, jeritan mohon ampun, atau kepanikan yang biasa ditunjukkan orang-orang di posisinya. Namun yang ia temukan hanyalah ketenangan yang sunyi—sebuah kepasrahan total dari jiwa yang sudah terlalu sering patah.
Perlahan, pria itu melepaskan cengkeraman jarinya dari dagu Ruby. Ia kembali menegakkan posisinya, menatap gadis ringkuh itu dari atas ke bawah.
"Bagus," sahut pria itu datar. "Saya tidak suka membuang waktu untuk mengurus orang yang merepotkan. Pulihkan tubuhmu sampai dokter menyatakan kamu benar-benar sehat. Setelah itu, kita baru bicara soal peranmu di rumah ini."
Pria itu bangkit dari duduknya, merapikan kancing jas hitamnya dengan gerakan yang sangat tenang dan elegan.
"Makan sup mu sampai habis," lanjutnya dingin tanpa menoleh lagi saat ia berbalik menuju pintu. "Di rumah ini, orang lemah yang tidak bisa menjaga dirinya sendiri hanya akan menjadi beban."
*Klek.*
Pintu kamar kembali tertutup rapat. Keheningan kembali melingkupi ruangan yang luas itu.
Ruby menatap mangkuk sup yang masih memancarkan uap tipis di atas meja. Ia menyandarkan kepalanya ke bantalan empuk, memejamkan mata sejenak, dan membiarkan air mata hangat menetes perlahan melewati pipinya. Di dalam hatinya yang paling dalam, Ruby menyerahkan seluruh sisa hidupnya pada takdir Tuhan. Ke mana pun alur ini akan membawanya—entah ke dalam pelindungan baru atau godaan bahaya yang lebih besar—ia siap melangkah, tanpa lagi memalingkan wajahnya ke belakang.