Setelah dikhianati dan meledakkan diri bersama musuhnya, Chongyue, kapten tim elit pemburu vampir, justru terlahir kembali di dunia kultivasi dalam tubuh Nona Kelima Kediaman Jenderal Kerajaan Dong—seorang gadis yang dianggap bodoh dan tidak berguna.
Namun, tidak ada yang tahu bahwa di balik tubuh lemahnya itu tersembunyi sebuah segel misterius.
Ketika segelnya terbuka, Chongyue berubah menjadi seorang jenius dengan kekuatan luar biasa. Dalam perjalanannya menjadi kuat, dia bertemu Bei Mingye, Pangeran Keenam yang dijuluki Raja Hantu—pria dingin yang ditakuti seluruh Benua Timur, tetapi justru rela menjadi pelindung Chongyue.
Bersama-sama, mereka menghadapi keluarga, sekte kuno, musuh dari alam atas, serta rahasia besar tentang asal-usul Chongyue.
Di tengah takdir yang terus mempermainkan mereka, mampukah dua hati yang telah dipertemukan itu bertahan hingga akhir?
Yuk ikuti kisah lengkapnya dalam sebuah kisah berjudul: TAKDIR KITA YANG BELUM SELESAI
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita_001, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 - Bertarung dengan empat pengawal
Chongyue menunggu hingga pengawal itu mendekat. Saat tangannya terulur untuk menangkapnya, dia segera mencengkram pergelangan tangannya.
Dengan gerakan cepat, dia menusukkan jarum perak ke kulit pengawal itu, kemudian langsung melepaskan cengkeramannya dan mengerahkan seluruh tenaganya untuk menghantam perutnya dengan tendangan keras.
Bugh
Pengawal itu hanya terhuyung mundur beberapa langkah setelah menerima tendangan Chongyue. Dia tidak sampai terjatuh.
Sebaliknya, Chongyue merasakan telapak kakinya nyeri akibat benturan keras itu. Tubuh pengawal itu terlalu gemuk, sementara tumpukan lemak tebal di tubuhnya ternyata menjadi keuntungan tersendiri dalam meredam serangan.
Chongyue segera menarik kembali kakinya dan bersiap mencari celah berikutnya.
Namun, sebelum dia melancarkan serangan berikutnya, telinganya bergerak pelan, menangkap desingan angin dari belakang.
Serangan lain datang dengan cepat.
Tanpa berpikir panjang, dia langsung merunduk ke depan.
Wussh~
Tinju keras yang dilayangkan pengawal di belakangnya melintas tepat di atas kepalanya.
Karena Chongyue merunduk, pukulan pengawal itu tidak mengenai sasaran. Sebaliknya, tinjunya justru meluncur ke arah rekannya yang berdiri di hadapan Chongyue.
BUK
Pukulan penuh tenaga dari seorang seniman bela diri tingkat empat langsung menghantam wajah pengawal bertubuh besar itu.
Kekuatan pukulannya begitu besar hingga tulangnya patah hanya dalam sekali hantaman.
Meski bertubuh besar dan tegap, pengawal itu tetap kehilangan keseimbangan dan jatuh tersungkur ke tanah.
Pengawal lain yang semula berniat menyerang Chongyue tercengang saat menyadari tinjunya justru mengenai rekannya sendiri.
Namun, dia tidak diberi kesempatan untuk bereaksi lebih jauh.
Ketika pengawal itu masih terpaku pada rekannya yang tumbang, Chongyue sudah memanfaatkan celah tersebut untuk bergerak ke belakang tubuhnya.
Dia memutar tubuhnya dan melayangkan tendangan keras tepat ke punggung pengawal itu.
BUK
Tubuh pengawal itu terdorong ke depan akibat hantamannya.
Selama sebulan terakhir berlatih tanpa henti, Chongyue bukan hanya berhasil memperkuat kondisi fisiknya, tetapi juga mampu mengendalikan energi spiritual yang dimiliki para kultivator di benua ini.
Karena itu, bersamaan dengan mendaratnya tendangannya, energi spiritualnya ikut meledak bersama kekuatan fisiknya.
KREK
Suara retakan tulang yang memekakkan telinga terdengar nyaring.
Pengawal itu langsung jatuh ke tanah.
Tiga dari empat pengawal bertubuh kekar itu kini telah tumbang tak berdaya.
Satu-satunya pengawal yang masih berdiri menatap Chongyue cukup lama. Tatapannya dipenuhi keraguan, seolah sedang mempertimbangkan apakah dia masih akan melancarkan serangan atau tidak.
Dia bahkan mulai curiga bahwa Nona Kelima ini menguasai ilmu hitam. Jika tidak, bagaimana mungkin seorang gadis yang selama ini dikenal tidak memiliki kekuatan mampu mengalahkan tiga seniman bela diri tingkat empat dalam waktu sesingkat itu?
"Tunggu apa lagi?! Cepat tangkap dia!" teriak Xuan Qingqing penuh amarah ketika melihat pengawal terakhirnya hanya berdiri mematung.
Walaupun dipenuhi kewaspadaan dan rasa takut terhadap kemampuan Chongyue, pengawal itu tidak berani mengabaikan perintah Xuan Qingqing. Tanpa pilihan lain, dia mengepalkan tangannya dan menerjang maju.
Chongyue bahkan mampu mengalahkan tiga orang sekaligus. Menghadapi satu orang yang tersisa jelas bukan masalah baginya.
Pengawal itu mengandalkan kekuatan tubuhnya dan langsung melancarkan serangan. Namun, Chongyue tidak memilih untuk beradu kekuatan dengannya. Sebaliknya, dia memanfaatkan tubuhnya yang jauh lebih kecil dan lincah, bergeser untuk menghindari serangan tersebut.
Ketika pengawal itu kembali mengarahkan serangannya, Chongyue segera bergerak memutar. Dalam sekejap, dia menyelinap ke belakang tubuh pengawal kekar itu.
Begitu menemukan kesempatan, dia segera menancapkan jarum perak yang berada di sela-sela jemarinya tepat ke titik akupunktur di lengan kanan pengawal itu.
Seketika itu juga, rasa kebas menjalar cepat ke seluruh lengan pengawal tersebut.
Sebelum dia menyadari apa yang sedang terjadi, Chongyue sudah mencengkeram pergelangan tangannya.
Dia menarik tangan pengawal itu ke belakang, lalu memelintirnya secara paksa hingga melewati batas normal.
KREK
"Ahhh..."
Pengawal bertubuh kekar itu menjerit histeris. Dia memegangi lengannya yang terkilir sambil melompat-lompat, berusaha menahan rasa sakit yang luar biasa.
Chongyue melepaskan tangannya dan melangkah mundur beberapa langkah. Dia berdiri tegak dengan ekspresi tenang, lalu menatap dingin pengawal yang masih meraung kesakitan itu tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Di kehidupannya dulu, setiap vampir yang berhasil ditangkap hidup-hidup akan menjalani interogasi yang sangat kejam. Walaupun kemampuan regenerasi vampir generasi baru jauh lebih lambat dibandingkan vampir berdarah murni, tubuh mereka tetap mampu memulihkan luka sendiri.
Karena itulah, para tim pemburu akan terus menyiksa mereka selama proses penyembuhan berlangsung. Luka yang belum sepenuhnya pulih akan kembali terbuka, membuat rasa sakit yang mereka alami seolah tidak pernah benar-benar berhenti.
"Xuan Chongyue!"
Melihat keempat pengawalnya telah dikalahkan, Xuan Qingqing menjerit penuh amarah. Tanpa membuang waktu, dia segera menyambar kembali cambuknya yang terjatuh, lalu mengayunkannya dengan sekuat tenaga ke arah Chongyue.
Wussh~
Ujung cambuk melesat membelah udara.
Namun, Chongyue hanya berdiri di tempat sambil menyunggingkan senyum dingin. Tepat sebelum cambuk itu mengenai tubuhnya, dia bergerak ringan ke samping.
KRAK
Serangan itu hanya menghantam tanah kosong.
Xuan Qingqing semakin marah. Dia tidak memberikan Chongyue kesempatan untuk menjauh dan kembali mengayunkan cambuknya bertubi-tubi.
Satu sapuan datang dari kiri.
Chongyue menggeser tubuhnya untuk menghindarinya.
Sapuan berikutnya menyusul dari arah berlawanan.
Dia kembali bergerak, membuat ujung cambuk itu hanya melewati sisi tubuhnya.
Xuan Qingqing terus menyerang tanpa henti, tetapi setiap kali cambuknya hampir mengenai sasaran, Chongyue selalu berhasil menghindarinya dengan gerakan yang tenang dan tepat.
Hingga pada serangan berikutnya, sebelum ujung cambuk itu menyentuh tanah, tangan Chongyue bergerak secepat kilat dan langsung mencengkeram cambuk yang masih berada di udara.
Dengan sekali sentakan kuat, dia menarik cambuk itu hingga talinya menegang lurus.
Tubuh Xuan Qingqing yang berada di ujung lainnya ikut tertarik ke depan.
"Xuan Chongyue! Berani-beraninya kau melukaiku! Ayah tidak akan melepaskanmu begitu saja! Kalau sekarang kau membiarkanku memukulimu sampai puas, aku tidak akan mengadukan semua ini kepada Ayah!"
Sorot mata Chongyue seketika berubah dingin.
Ucapan itu membangkitkan kembali kenangan-kenangan buruk yang selama ini tersimpan dalam tubuh ini.
Satu demi satu bayangan ketika pemilik tubuh ini dipukuli, dihina, dan disiksa oleh Xuan Qingqing beserta para anteknya berkelebat cepat di benaknya.
Tubuh ini pernah diseret ke jalanan dan dipermalukan di depan umum. Dia dilempari telur busuk serta sisa-sisa sayuran oleh warga. Bahkan, dia juga pernah dipaksa menceburkan diri ke sungai yang membeku pada puncak musim dingin hanya untuk menangkap ikan, tanpa ada yang peduli apakah dia bisa berenang atau tidak.
Bahkan pada suatu hari, mereka dengan sengaja meletakkan seekor ular berbisa di atas tempat tidurnya.
Peristiwa itulah yang akhirnya merenggut nyawa ibunya, yang mengorbankan diri demi melindunginya dari patukan ular.
Chongyue mungkin masih bisa mengabaikan semua penghinaan yang pernah diterimanya.
Namun, kematian ibunya adalah luka yang tidak akan pernah bisa dia maafkan.
Dia memang bukan darah daging keluarga Xuan, bahkan hingga kini tidak ada siapapun di keluarga ini yang mengetahuinya.
Namun, Chongyue tahu bahwa wanita lembut yang selama ini membantunya menyembunyikan penampilan aslinya pasti mengetahui seluruh rahasia itu.
Meskipun Chongyue bukan anak kandungnya, wanita itu selalu mencurahkan kasih sayang yang tulus kepadanya, seolah-olah dia benar-benar putri kandungnya sendiri.
Namun, wanita selembut itu justru mati secara mengenaskan karena ulah Xuan Qingqing dan para anteknya.
Tanpa disadari, cengkeraman Chongyue pada ujung cambuk semakin mengencang.
Buku-buku jarinya perlahan memutih karena tekanan yang diberikan tangannya.
Dia kemudian mengangkat kepalanya dan menatap lurus ke arah Xuan Qingqing.
Sepasang mata hitam pekatnya memancarkan aura membunuh yang seolah telah membeku selama ribuan tahun. Di balik kegelapan matanya, samar-samar berkelebat cahaya biru yang membuat hawa di sekitarnya terasa semakin dingin.
Tatapan itu membuat kedua kaki Xuan Qingqing gemetar. Rasa dingin menjalar dari telapak kakinya hingga ke seluruh tubuhnya, seolah-olah darah di dalam tubuhnya ikut membeku.
"K-kau... tatapan apa itu?"
Terperanjat oleh aura mengerikan yang dipancarkan Chongyue, dia secara naluriah melepaskan gagang cambuknya.
Begitu cambuk itu terlepas dari tangannya, dia segera mundur beberapa langkah dengan wajah pucat.
"Kau ingin memukuliku sampai puas?"
Chongyue perlahan menggulung cambuk itu ke telapak tangannya sambil tersenyum tipis.