NovelToon NovelToon
Bukan Kakak yang Kau Inginkan

Bukan Kakak yang Kau Inginkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Menikah dengan Kerabat Mantan
Popularitas:673
Nilai: 5
Nama Author: Luna Widy

Sejak kecil, Sekar hanya "anak nomor dua" di rumahnya sendiri.

Semua yang terbaik selalu untuk sang kakak, Laras—si sulung yang sempurna, cerdas, dan dibanggakan. Sekar? Cukup pakai baju bekas kakaknya, tidur di kamar bekas gudang, dan tersenyum saat dilupakan.

Maka ketika Laras membawa pulang tunangannya saat Lebaran—**Damar Wirajaya**, pewaris konglomerat yang dingin, tampan, dan kaya raya—Sekar pikir pria itu tak ada urusannya dengannya.

Ia salah besar.

Karena tatapan datar Damar selalu berhenti terlalu lama… di wajahnya. Karena hadiah, perhatian, dan "kebetulan-kebetulan" itu semua mengarah padanya. Dan pada satu malam yang tak bisa ia ceritakan pada siapa pun, Sekar menyadari kebenaran yang mengerikan:

**Bukan kakaknya yang diinginkan pria itu. Tapi dirinya.**

Damar tak akan melepaskannya. Dengan utang miliaran rupiah, perjanjian pranikah yang mengikat, dan kuasa yang bisa menghancurkan seluruh keluarganya, ia menyeret Sekar ke dalam pernikahan yang tak pernah Sekar inginkan—sementara satu-satunya cinta yang tulus, sahabat kecilnya **Rangga**, hanya bisa menatap dari kejauhi.

Tapi Sekar bukan lagi gadis yang menunduk dan menerima.

Di balik senyum patuhnya, ia menghitung. Ia menunggu. Dan ketika rahasia kelahirannya sendiri terbongkar—bahwa darah yang mengalir di tubuhnya jauh lebih rumit dari yang siapa pun tahu—Sekar berhenti menjadi mangsa.

Kali ini, dialah yang memegang pisau.

*Berapa harga sebuah kebebasan? Sekar siap membayarnya—sampai tetes terakhir.*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luna Widy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 12

Bab 12: Bayangan yang Selalu Ada

Tiga hari kemudian, aku mendapat panggilan wawancara kedua dari perusahaan logistik yang direkomendasikan teman Rangga.

Kali ini aku datang ke gedungnya, mengenakan blus pinjaman Wulan dan celana kain yang kupakai saat wisuda. Ayah mengantarku sampai halte meski aku sudah bilang bisa berangkat sendiri. Ia menyelipkan dua lembar uang ke dompetku ketika pura-pura memeriksa kartu identitas.

"Buat pulang," katanya.

"Aku masih punya."

"Kalau diterima, uang itu untuk merayakan. Kalau belum, untuk beli makanan biar nggak sedih. Jadi tetap berguna."

Aku memeluknya singkat sebelum naik angkot.

Wawancara berlangsung hampir satu jam. Pewawancara bernama Bu Maya menanyakan pengalaman magang, proyek akhir, dan caraku menangani anggota tim yang tidak menyelesaikan tugas. Untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan, tak ada yang membandingkanku dengan Mbak Laras. Mereka mendengarkan jawabanku karena aku adalah Sekar, bukan adik dari siapa pun.

Bu Maya memberikan simulasi keterlambatan pengiriman. Tiga kota, satu truk rusak, pelanggan marah, dan anggaran tambahan terbatas. Aku meminta kertas, membagi masalah berdasarkan dampak, lalu memilih mengirim barang medis lebih dulu dan menghubungi pelanggan lain dengan jadwal pengganti.

"Kenapa tidak menunggu arahan atasan?" tanya seorang pewawancara laki-laki.

"Karena barang medis punya batas waktu. Saya tetap melaporkan keputusan, tetapi menunggu tanpa tindakan juga sebuah keputusan. Risikonya lebih besar."

Bu Maya menahan senyum. "Anda terlihat pendiam."

"Saya terbiasa mendengarkan dulu. Bukan berarti saya tidak bisa mengambil keputusan."

Kalimat itu mengejutkanku sendiri. Di rumah, diam selalu dianggap bukti bahwa aku setuju. Di ruangan itu, diam bisa menjadi keterampilan, bukan kelemahan.

Mereka juga menanyakan kesediaanku ditempatkan di luar kota. Aku menjawab iya sebelum sempat memikirkan reaksi Ibu. Jika pekerjaan membawaku jauh dari Bandung, mungkin itu bukan masalah yang harus kuhindari. Mungkin justru pintu keluar yang selama ini kucari.

Sebelum aku bangkit, Bu Maya menyerahkan kartu namanya. "Kalau ada pertanyaan tentang posisi ini, hubungi saya langsung. Jangan melalui pihak lain."

Aku menyimpan kartu itu di bagian dompet yang sama dengan alamat surel dari Rangga. Dua jalur menuju hidup yang tidak diatur keluargaku.

"Kami masih mewawancarai dua kandidat," kata Bu Maya di akhir. "Tapi pengalaman proyek Anda sesuai dengan kebutuhan kami."

Aku keluar dengan langkah ringan. Bahkan udara panas di trotoar terasa menyenangkan. Kukirim pesan kepada Ayah, Rangga, dan grup teman-temanku.

Lumayan. Belum mempermalukan almamater.

Balasan masuk bertubi-tubi. Tania mengirim stiker orang berjoget. Wulan menyuruhku berhenti merendah. Rangga hanya menjawab: Sudah kubilang mereka rugi kalau nggak lihat kamu.

Aku sedang tersenyum ketika suara laki-laki memanggil dari belakang.

"Sekar."

Senyumku hilang.

Damar berdiri di depan pintu putar gedung. Dua pria berkemeja rapi berjalan beberapa langkah di belakangnya. Salah seorang membawa map berlogo perusahaan lain.

"Mas ngapain di sini?"

"Rapat."

Ia mengucapkannya tanpa jeda, seolah jawaban sudah disiapkan sebelum pertanyaanku muncul.

"Kebetulan sekali."

"Bandung tidak sebesar yang kamu kira."

Kedua pria itu pamit dan masuk ke mobil. Damar tetap di trotoar bersamaku. Aku bergerak ke dekat petugas keamanan.

"Bagaimana wawancaranya?" tanyanya.

"Mas juga kebetulan tahu aku wawancara?"

"Saya melihat map di tanganmu."

Aku menunduk. Map itu hanya bertuliskan namaku, tanpa logo perusahaan.

"Berjalan baik," jawabku singkat.

"Posisinya staf proyek junior. Gajinya tidak cukup untuk apartemen yang aman."

Darah di wajahku mendingin. "Mas mencari tahu perusahaan ini?"

"Saya hanya memastikan kamu tidak membuang waktu."

"Waktuku milikku."

Damar mengeluarkan kartu nama. "Ada posisi kosong di anak perusahaan Wirajaya. Kamu bisa langsung masuk bulan depan. Gaji tiga kali lipat, asuransi, dan tempat tinggal."

Aku tidak mengambilnya.

"Apa imbalannya?"

"Kamu bekerja dengan baik."

"Dan berada di tempat yang bisa Mas lihat setiap hari?"

Tatapannya tak bergeser. "Apakah itu buruk?"

"Iya."

Jawabanku membuat petugas keamanan melirik. Damar justru memasukkan kembali kartu nama ke saku.

"Kamu tidak perlu memusuhi saya."

"Kalau Mas berhenti muncul di tempat aku berada, aku juga berhenti curiga."

"Saya bilang, saya ada rapat."

"Tunjukkan undangannya."

Untuk pertama kalinya, ia terdiam lebih dari dua detik.

Aku hampir merasa menang. Kemudian ia mendekat setengah langkah, cukup untuk membuat aroma dingin itu sampai kepadaku.

"Kamu mulai berani," katanya pelan.

Aku mundur mendekati meja keamanan. "Aku akan lebih berani kalau Mas terus mengganggu."

Sebuah taksi online berhenti di depan. Aku memeriksa nomor kendaraan, lalu masuk tanpa menoleh lagi. Baru setelah pintu terkunci dari dalam, kusadari tanganku gemetar.

Kubuka aplikasi catatan dan menulis tanggal, jam, nama gedung, serta kalimat-kalimat Damar yang masih kuingat. Catatan pertama kuberi judul Kebetulan. Di bawahnya kutulis dua kejadian sebelumnya: mobil di jalan sepi dan Menara Cakrawala. Jika aku belum sanggup bercerita, setidaknya aku bisa berhenti membiarkan semuanya menguap tanpa jejak.

Salinannya kukirim ke surel pribadiku malam itu, lalu ponsel kusimpan sebelum tanganku berubah pikiran.

Mobil bergerak. Damar berdiri di trotoar, semakin kecil di kaca belakang, tetapi ponselku berbunyi sebelum ia hilang dari pandangan.

Mbak Laras menelepon.

"Wawancaramu bagaimana?" tanyanya ceria.

"Lumayan."

"Syukurlah. Mas Damar juga bilang mau membantu kalau kamu butuh. Dia baik banget, ya. Padahal urusan kerja adik tunangannya bukan tanggung jawab dia."

Aku menatap pantulan wajahku di jendela mobil.

"Mbak bilang ke Mas Damar aku wawancara di mana?"

"Nggak. Aku cuma bilang kamu sedang cari kerja. Kenapa?"

"Nggak apa-apa."

"Oh iya, tadi kami bicara soal tirai. Mas Damar tetap mau warna biru. Katanya rumah perlu sesuatu yang berbeda." Suaranya terdengar bahagia, seolah keras kepala calon suaminya adalah sifat menggemaskan. "Dia memang perhatian sekali pada detail."

"Iya," jawabku. "Terlalu perhatian."

"Apa?"

"Nggak."

Mbak Laras bercerita tentang daftar tamu, rencana foto pranikah, dan ibu Damar yang telah lama meninggal. Aku mendengarkan sambil melihat kendaraan di belakang kami. Tidak ada sedan hitam, tetapi rasa diawasi tak berkurang.

"Kamu suka Mas Damar, kan?" tanyaku ketika ada jeda.

Mbak Laras tertawa. "Pertanyaan apa itu? Tentu saja. Dia mungkin dingin, tapi bisa diandalkan. Aku merasa aman sama dia."

Kata aman menekan tempat paling sakit di dadaku.

"Kalau suatu hari kamu tahu dia nggak seperti yang kamu kira, kamu akan percaya siapa?"

"Sekar, kamu kenapa?"

Aku memejamkan mata. "Cuma gugup menunggu hasil wawancara."

"Jangan dipikirkan. Kalau nggak diterima, Mas Damar pasti bisa bantu."

Panggilan berakhir beberapa menit kemudian. Aku menggenggam ponsel sambil menatap jalan yang mengalir di luar jendela.

Pagi tadi, gedung itu tampak seperti pintu menuju hidupku sendiri.

Sekarang bayangan Damar sudah berdiri tepat di ambangnya.

1
ceuceu
ga jelas lah,maaf thor aku skip
ceuceu
membungungkan antara cerita dan dialog
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!