Setelah enam bulan wafatnya sang Ibu, Dea memutuskan meninggalkan rumah karena tidak tahan terhadap tekanan dan siksaan dari Paman, Bibi dan sepupunya yang sengaja ingin merebut warisan dari sang ayah yang merupakan seorang CEO sebuah perusahaan Ekspor-Impor bernilai ratusan triluin.
Takdir Pelarian Dea mempertemukannya dengan Tania, seorang gadis desa yang merantau ke kota untuk mencari keluarga dan asal usul jati dirinya.
Dea akhirnya mau kembali ke rumah setelah sang ayah menikahi Tania dan menjadi ibu tiri untuk Dea. Kembalinya Dea ke rumah menimbulkan ketidak sukaan dari paman dan bibi Dea, apalagi sekarang adanya Tania yang menjadi perisai hidup bagi Dea.
Banyak drama dan kejadian yang menguras emosi, banyak plot twist dalam setiap bab kejadiannya, baik dalam kehidupan Dea maupun kehidupan Tania dalam mencari keluarganya di ibukota.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Icita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Secangkir Ketenangan dan Badai yang Menyusul
Sinar matahari pagi menembus celah sempit ventilasi kamar indekos, jatuh tepat di wajah Dea. Gadis itu perlahan membuka kelopak matanya yang terasa berat dan bengkak akibat menangis semalaman. Selama beberapa detik, ia mengerjap bingung, menatap langit-langit tripleks yang sedikit bernoda air, bukan lampu kristal mewah yang biasa menyapanya setiap pagi di kamarnya yang megah.
Lalu, ingatan tentang kejadian semalam menghantamnya. Hujan deras, pelariannya dari rumah, preman-preman beringas di gang gelap, dan sosok wanita memegang payung merah yang menolongnya.
Dea bangkit dari kasur busa tipis yang diletakkan langsung di atas lantai beralaskan tikar plastik. Udara di dalam kamar berukuran tiga kali empat meter itu terasa hangat, sangat kontras dengan dinginnya AC sentral di rumahnya yang bagaikan lemari es. Perhatiannya seketika tertuju pada aroma sedap yang menguar memenuhi ruangan. Aroma bawang putih yang ditumis dengan mentega dan kecap manis.
Di sudut ruangan, di atas sebuah meja kecil yang berfungsi sebagai dapur dadakan, Tania sedang sibuk mengaduk sesuatu di atas kompor gas portabel kecil. Wanita itu mengenakan kaus oblong putih yang lengannya digulung hingga bahu dan celana training yang sama dengan semalam, rambut hitam panjangnya diikat asal ke atas. Gerakannya begitu luwes dan cekatan.
"Kamu sudah bangun?" sapa Tania tanpa menoleh, seolah ia memiliki mata di belakang kepalanya. Ia mematikan kompor, lalu menyalin isi wajan ke dalam dua piring plastik. "Maaf kalau suaraku berisik dan membangunkanmu. Aku hanya membuat nasi goreng sederhana dengan telur orak-arik. Kebetulan bahan makananku tinggal ini. Ayo, cuci mukamu di kamar mandi luar di ujung lorong, lalu kita sarapan."
Dea mengangguk kaku. Ia mengambil handuk kecil yang disodorkan Tania dan berjalan keluar kamar. Saat air keran membasuh wajahnya, Dea menatap pantulannya di cermin kamar mandi yang sedikit retak. Luka lebam di rahangnya akibat tamparan bibinya kemarin sore masih terlihat jelas, berwarna kebiruan dan terasa nyeri saat disentuh. Namun, untuk pertama kalinya dalam enam bulan terakhir, Dea tidak merasa terancam.
Ketika ia kembali ke kamar, dua piring nasi goreng hangat sudah mengepul di atas tikar, berdampingan dengan dua gelas air putih. Tania duduk bersila, menunggu Dea dengan senyum tipis yang menenangkan.
"Makanlah yang banyak. Tubuhmu butuh energi setelah kehujanan dan ketakutan semalaman," ucap Tania lembut, mendorong satu piring ke arah Dea.
Suapan pertama masuk ke mulut Dea, dan entah mengapa, pertahanannya kembali runtuh. Nasi goreng itu sangat sederhana, tidak ada potongan daging wagyu atau udang besar seperti yang biasa disajikan koki pribadinya di rumah. Namun, rasanya begitu luar biasa. Ada kehangatan, ada ketulusan, ada rasa peduli di setiap butir nasinya. Mirip sekali dengan masakan ibunya saat ibunya diam-diam memasak untuk Dea di hari Minggu pagi, menghindari omelan koki kepala yang merasa daerah kekuasaannya direbut.
Air mata Dea menetes, jatuh membasahi punggung tangannya. Ia makan sambil terisak pelan.
Tania meletakkan sendoknya. Ia tidak menghentikan tangis gadis itu, melainkan menggeser posisi duduknya menjadi lebih dekat, lalu mengusap punggung Dea dengan ritme yang lambat dan menenangkan. Tangan Tania terasa sedikit kasar oleh kapalan—bukti latihan bela diri bertahun-tahun—namun sentuhannya lebih lembut dari sutra mana pun yang pernah Dea kenakan.
"Menangislah kalau itu membuat dadamu lega. Rumah ini memang kecil, tapi cukup kedap untuk menyimpan rahasia dan kesedihanmu," bisik Tania.
Setelah piringnya tandas dan napasnya mulai teratur, Dea menatap mata Tania yang teduh. "Kak Tania tidak bertanya siapa aku dan kenapa preman-preman itu mengincarku?"
"Aku menunggu sampai kamu siap bercerita. Aku bukan polisi yang akan menginterogasimu, Dea. Aku hanya seseorang yang kebetulan lewat saat kau butuh bantuan."
Kepercayaan itu tumbuh begitu cepat. Dengan suara bergetar, Dea mulai menceritakan segalanya. Ia bercerita tentang ayahnya, Baskoro Adhitama, seorang CEO sibuk yang jarang pulang. Ia bercerita tentang ibunya yang sehat namun tiba-tiba dinyatakan meninggal karena serangan jantung yang mencurigakan. Lalu, mimpi buruk itu berlanjut pada Paman Hendra, Bibi Rika, dan sepupunya, Siska. Dea menceritakan setiap tamparan, setiap hinaan, dan ancaman pamannya yang menggunakan nama ayahnya sebagai tameng.
"Semalam, Paman Hendra bilang kalau kematian ibuku bukanlah serangan jantung biasa," ucap Dea, suaranya pecah oleh isak tangis. "Mereka membunuh ibuku, Kak. Dan aku yakin, mereka juga akan membunuhku atau menggunakan aku untuk memeras ayahku. Ayahku ada di luar negeri, dia tidak tahu apa-apa. Kalau aku lapor polisi, Paman Hendra punya banyak koneksi orang jahat... Ayahku bisa celaka. Aku... aku tidak punya tujuan. Aku cuma ingin lari."
Rahang Tania mengeras. Sorot matanya yang teduh seketika berubah tajam bak mata pisau. Ada kemarahan yang mendidih di dalam dadanya mendengar betapa kejamnya manusia terhadap darah dagingnya sendiri demi harta. Insting melindunginya, yang terbentuk dari kerasnya hidup sebagai anak temuan, meronta.
"Kamu aman di sini, Dea," ucap Tania penuh penekanan. Ia menggenggam kedua tangan Dea yang dingin. "Mereka tidak akan bisa menyentuhmu seujung rambut pun selama ada aku. Kamu boleh tinggal di sini bersamaku, selama yang kamu mau, sampai ayahmu pulang dan kita bisa membongkar semua kejahatan pamanmu."
"Tapi Kak... aku tidak mau merepotkanmu. Preman suruhan Paman sangat banyak dan berbahaya."
Tania tersenyum misterius, sebuah senyum yang memancarkan kepercayaan diri tingkat tinggi. "Biar saja mereka datang. Kau pikir wanita yang hidup sendirian di kota besar ini tidak punya persiapan? Aku mengajar tari tradisional di sebuah sanggar, Dea. Tapi tarian bukan satu-satunya hal yang kupelajari dari guru angkatku di desa."
Mendengar kata desa, Dea menatap Tania dengan rasa ingin tahu, seolah sejenak melupakan masalahnya sendiri. "Kak Tania dari desa? Kenapa Kakak merantau ke kota sendirian?"
Tania menghela napas panjang. Ia menoleh ke arah sebuah laci kecil di sudut kamarnya, tempat ia menyimpan kotak kayu berisi selimut bayi dan secarik surat wasiat. "Sama sepertimu, Dea. Aku juga sedang mencari keluarga. Bedanya, kamu berlari dari keluarga yang menyakitimu, sementara aku sedang mencari keluarga yang membuangku sejak bayi."
Tania menceritakan sedikit latar belakangnya. Tentang bagaimana ia ditemukan di pinggir hutan di dalam kardus, dirawat oleh sepasang suami istri yang luar biasa baik, dan sebuah surat yang memintanya menunggu hingga usia dua puluh tahun untuk datang ke kota ini mencari jati dirinya.
sejauh ini sy suka ceritanya,sy kasi like thor