Di mata keluarganya, Aira hanyalah seorang anak kedua yang tak pernah dianggap. Berbeda dari kakak dan adik bungsunya yang berpendidikan tinggi dan berkarier sukses, Aira hanya seorang lulusan SMA yang sehari-hari berjuang menjajakan kue keliling. Kasih sayang sang ayah menjadi satu-satunya alasan Aira bertahan di rumah yang penuh kepalsuan itu.
Namun, pertahanannya runtuh seketika saat pria yang ia cintai datang melamar. Bukan untuk dirinya, melainkan untuk sang adik. Pengkhianatan yang telah lama berjalan di belakangnya itu justru didukung penuh oleh ibu dan kakaknya.
Dalam hancurnya rasa kecewa, Aira melangkah pergi menembus derasnya hujan malam. Malang tak dapat ditolak, sebuah sepeda motor menyenggol tubuhnya yang ringkih. Sang pengendara yang merasa bersalah bermaksud membawanya ke rumah sakit, tetapi jalanan malam yang sepi dan hujan lebat memaksa mereka berteduh di sebuah gubuk tua.Siapa sangka, niat baik untuk berteduh justru berbuah petaka. Warga sekitar yang mengepung gubuk
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona Rara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nyumbang 5 juta?
Di sebuah rumah mewah bergaya modern, suasana ruang tengah mendadak tegang. Seorang wanita paruh baya tampak Mondar-mandir dengan wajah ditekuk, sibuk meluapkan kekesalannya gara-gara sang anak gagal menyabet proyek besar.
"Kamu ini gimana sih?! Bisa-bisanya kalah tender sama anak tengik itu! Kalau caramu begini terus, mana mungkin Papamu mau nyerahin perusahaannya ke kamu!" omel Arum tanpa jeda.
"Ya mau gimana lagi, Ma? Aku juga heran kenapa malah dia yang menang. Padahal aku udah all out banget. Harusnya tender itu jatuh ke tanganku!" sahut Raka membela diri.
"Makanya, pergunakan kesempatan dari Papamu itu sebaik mungkin! Jangan sampai perusahaan sebesar itu malah jatuh ke tangan si bocah tengik." gertak Arum makin gemas.
"Ini juga aku udah berusaha semaksimal mungkin, Ma! Mama jangan cuma bisa ngomel-ngomel aja dong!" protes Raka mulai terpancing.
"Mama gini juga demi kamu! Pokoknya Mama nggak mau tahu, perusahaan itu harus jadi milik kamu!" tegas Arum.
"Iya, tenang aja. Aku bakal usahain gimana pun caranya biar perusahaan itu jatuh ke tanganku." balas Raka penuh percaya diri.
Tak lama kemudian, langkah kaki terdengar mendekat. Suami Arum baru saja pulang kerja. Menyambut kepulangan sang suami, sikap Arum mendadak berubah seratus delapan puluh derajat. Dengan senyum manis yang dipaksa, ia langsung menyambutnya.
"Papa udah pulang?" sapa Arum manis sembari sigap mengambil alih tas kerjanya.
"Iya, Ma." jawab Fandi singkat.
Melihat momen itu, Raka langsung memasang wajah menyesal di depan sang ayah. "Pa, maafin Raka ya... Raka gagal menangin tender kali ini."
Fandi mengibaskan tangan santai. "Sudah, nggak apa-apa. Lagian yang berhasil menangin kan Kakakmu sendiri. Daripada jatuh ke tangan orang lain, ya mending sama dia. Kakakmu itu memang nggak perlu diragukan lagi masalah bisnis." puji Fandi bangga membicarakan putra sulungnya.
Mendengar pujian itu, perut Arum dan Raka rasanya langsung mual. Mereka paling benci kalau Fandi sudah mulai membangga-banggakan anak sulungnya itu.
"Tapi Raka janji, Pa, ke depannya Raka bakal berusaha lebih keras lagi." potong Raka cepat.
"Ya maklumlah, Pa. Raka kan baru pertama kali dikasih kepercayaan buat ikut tender begini. Kalau Kakaknya kan udah makanan sehari-hari. Mama yakin kok, berikutnya Raka pasti bisa memenangkannya." sela Arum penuh pembelaan.
"Oh iya, Ma, tolong siapin makan malam yang spesial, ya. Tadi Papa udah nyuruh Devan buat pulang ke rumah. Kita harus rayain kemenangannya malam ini." titah Fandi.
Setelah mengucapkan kalimat yang sukses membuat telinga anak dan ibu itu panas, Fandi berlalu ke kamarnya. Begitu punggung Fandi menghilang, raut wajah Arum dan Raka langsung berubah masam.
"Ih, nyebelin banget sih! Cuma gitu aja pakai dirayain segala!" gerutu Arum sengit.
"Tau tuh, Papa. Lebay banget!" timpal Raka makin sewot.
"Pokoknya kamu harus pinter-pinter ambil hati Papamu. Kalau enggak, Papamu bakal makin condong ke Devan," pringat Arum yang langsung diangguki Raka.
Meski disuruh menyiapkan makan malam spesial, ujung-ujungnya Arum cuma menyuruh ART di rumah. Mana mau Arum mengotori tangannya di dapur, sejak jadi istri Fandi kan hidupnya tinggal terima beres.
Namun, beberapa detik kemudian, wajah Arum yang tadinya ditekuk mendadak berubah. Sebuah senyum tipis yang sarat arti terpatri di bibirnya.
"Mama kenapa senyum-senyum sendiri gitu?" tanya Raka heran.
"Tenang aja... Mama udah punya rencana mantap biar perusahaan itu tetep jatuh ke tangan kamu" jawabnya dengan kerlingan licik.
"Rencana apa emangnya, Ma?"
"Mama mau jodohin Devan sama Anggun. Kalau Devan nikah sama Anggun, posisi kita bakal aman. Anggun itu pasti bakal berdiri di pihak kita." beber Arum penuh kemenangan.
Raka mendadak membelalak. "Hah?! Memangnya dia mau dijodohin sama Anggun?"
"Ya pasti maulah! Anggun itu cantik, modis, mana ada laki-laki yang bakalan nolak?"
"Ya tapi kenapa nggak dijodohin sama aku aja sih, Ma?!" protes Raka terang-terangan. Sejujurnya ia memang sudah mengincar Anggun sejak lama.
Anggun sendiri adalah anak teman Arum. Dulu Arum pernah membawanya ke rumah dan mengenalkannya pada seluruh keluarga. Sejak pandangan pertama, Raka sudah kepikiran, bahkan sampai sekarang mereka masih sering chat dan jalan bareng.
"Kamu bisa cari wanita lain yang lebih berguna! Kalau Anggun dijodohin sama kamu, rencana besar kita malah bisa berantakan!" tegur Arum tajam.
Raka mendengkus pasrah. "Ck, ya sudahlah, terserah Mama aja. Tapi... Mama udah ngomong sama Papa?"
"Udah dong. Dan Papamu setuju-setuju aja, secara Anggun kan cantik dan kelihatan penurut." sahut Arum puas.
...****************...
Sementara itu di tempat lain, suasana dapur rumah Bu Ismi malah sibuk luar biasa. Bu Ismi kelihatan kerepotan sendiri karena tak ada Devan yang biasanya siap sedia bisa ia suruh-suruh. Kebetulan hari ini pesanan kue kering sedang membludak, bikin Bu Ismi dan Aira kewalahan pontang-panting.
"Suamimu jam segini belum pulang juga?" tanya Bu Ismi sambil terus mencetak adonan.
"Enggak, Bu. Mas Devan hari ini nggak pulang." jawab Aira lembut.
"Tumben banget? Masa iya kuli bangunan lembur sampai pagi?" cerceh Bu Ismi heran.
"Katanya Mas Devan harus ke luar kota hari ini, ada pertemuan penting" bisik Aira polos.
Seketika Bu Ismi menyemburkan tawa ejekan. "Hah?! Pertemuan penting apaan? Sejak kapan kuli bangunan ada pertemuan penting segala? Gaya-gayaan banget kayak orang kantoran!"
"Tau nih Mbak Aira, ada-ada aja alasannya. Kuli bangunan sok-sokan bilang ada meeting" cibir Karin melipat tangan di dada, ikut menyiram minyak ke dalam api.
"Kalau Mas Beni yang ngomong gitu baru masuk akal. Ini kuli bangunan kok gayanya melebihi direktur. Jangan-jangan 'pertemuan penting' sama cewek lain tuh di luar!" ceplos Siska asal mangap tanpa beban.
"Nah, bener banget kata Mbak Siska! Jangan-jangan suamimu lagi asyik ketemuan sama wanita lain. Lagian Mbak Aira aja penampilannya kusam begini, cowok mah sukanya sama yang bening dan modis, bukan yang kucel kayak Mbak!" tambah Karin pedas.
*Deg!*
Dada Aira mendadak berdesir hebat. Rasanya panas dan sesak mendengar tuduhan kakak dan adiknya yang mendadak terdengar masuk akal. Selama ini Aira tahu suaminya cuma kuli bangunan biasa, mana mungkin ada tugas luar kota untuk urusan 'penting'? Pertemuan apa coba?!
*Apa benar kata Karin sama Mbak Siska? Mas Devan beneran lagi sama cewek lain di luar sana? Apa aku se-enggak menarik itu sampai dia cari yang lain?* batin Aira meremas pinggiran wadah adonan. Rasa cemburu merayapi hatinya.
Pikirannya mendadak kalut. Aira tidak mau dikhianati untuk kedua kalinya! Luka lamanya baru saja mengering, masa harus tergores lagi oleh pria yang beda?!
Tanpa sadar, gerakan tangan Aira menguleni adonan jadi makin cepat dan impulsif. Rasanya ia tak sabar ingin segera menyelesaikan pekerjaan ini dan langsung melakukan video call ke suaminya. Ia harus membuktikan sendiri, apakah Devan benar-benar sedang sibuk urusan pekerjaan atau malah sedang berduaan dengan wanita lain!
Mata Aira menatap bayangan dirinya di pantulan kaca oven. Rasa insecure perlahan menggerogoti dadanya.
*Okelah, kalau memang selama ini aku kelihatan kucel, mulai besok aku bakal dandan! Lagian Mas Devan selalu ngasih uang belanja lebih, nggak ada salahnya kan kalau aku pakai buat beli baju bagus dan skincare? Aku juga mau kelihatan cantik!* gumam Aira dalam hati. Ia sudah terlanjur capek terus-terusan diremehkan, dihina, dan dianggap tak berguna oleh keluarganya sendiri.
Siapa sih wanita yang tak ingin tampil mempesona? Aira juga ingin. Hanya saja selama ini ia tak punya modal dan memilih tampil seadanya.
"Daripada si Devan keluyuran nggak jelas gitu, mending suruh pulang bantu Ibu buat kue! Nggak tahu apa kalau pesanan lagi menumpuk gini." omel Bu Ismi lagi.
"Kalau kita kewalahan, Karin sama Mbak Siska kan bisa bantuin sebentar, Bu." sahut Aira mencoba membela suaminya.
"Enak aja! Aku itu capek ya habis kerja seharian! Sampai rumah masa masih disuruh kerja kasar begini?" tolak Siska cepat dengan raut jijik.
"Iya tuh! Lagian kan itu emang kerjaannya Mbak Aira! Mau nyuruh-nyuruh orang segala. Aku tuh mau keluar sama Mas Bagas buat beli cincin nikah!" cerocos Karin dengan nada pamer yang sengaja memanas-manasi. "Aku mau nikah, dan pestaku nanti wajib mewah! Nggak kayak pernikahan Mbak Aira yang cuma asal sah doang!"
Telinga Aira makin panas mendengar nada sombong Karin. Padahal calon suami yang dipamerkan adiknya itu tidak lain adalah Bagas, mantan pacarnya sendiri! Pria bekasannya! Tapi adiknya itu malah bertingkah seolah berhasil memenangkan hadiah utama tanpa tahu malu.
"Udah, udah! Bener kata Karin sama Siska. Mereka itu cape kerja kantoran, gak kayak kamu yang pengangguran di rumah! Lagian Karin kan sibuk ngurusin persiapan nikah. Oh iya Aira, ingat ya, kamu jangan sampai lupa nyumbang buat acara nikahan adikmu!" peringat Bu Ismi tanpa beban.
"Kamu harus nyumbang minimal lima juta! Kakakmu Siska kan lagi hamil dan butuh simpanan buat melahirkan nanti, jadi dia nggak bisa nyumbang banyak. Kamu yang nggak punya tanggungan harusnya bisa kasih lebih besar. Ingat, kamu itu Kakaknya!"
Pernyataan Bu Ismi membuat mata Aira membelalak tak percaya. Lima juta?! Enak saja Ibunya berbicara seolah uang lima juta bisa dipetik dari pohon!
"Apa?! Lima juta?!" seru Aira kaget. "Aira dapat uang dari mana sebanyak itu, Bu? Ibu tahu sendiri Aira cuma bikin kue di rumah, hasilnya nggak seberapa!"
"Ya kamu kan bisa minta sama suamimu, Aira! Bebani aja si Devan, biar dia yang pusing cari uangnya!" sahut Bu Ismi santai.
"Nggak bisa gitu dong, Bu! Kasihan Mas Devan! Yang mau nikah kan Karin, kenapa malah Aira sama Mas Devan yang repot? Kalau nggak punya budget, ya nggak usah maksa bikin pesta mewah!" tegas Aira mulai berani melawan. Enak saja! Udah merebut pacarnya, sekarang malah minta disokong dana pesta!
"Heh! Pesta nikahanku wajib mewah ya! Aku ini wanita karir! Mau ditaruh mana mukaku di depan temen-temen kantor kalau pestaku cuma ecek-ecek?!" protest Karin tidak terima.
"Makanya, Aira... kamu itu jangan samakan kelas kamu sama kita!" potong Siska dengan senyum sinis. "Kelas kita beda! Ya wajar sih kalau kamu dinikahi seadanya gitu, tanpa pesta, tanpa tamu undangan... secara kamu kan cuma tukang kue," ejek Siska yang langsung disambut tawa terbahak-bahak dari Karin.
Aira meremas kuat adonan di tangannya. Tangannya mengepal erat, menahan gemuruh emosi yang hampir meledak di dadanya.
*Awas kalian ya... Lihat aja nanti! Aku berjanji bakal ubah penampilanku sampai kalian semua bungkam!* batin Aira mantap. Kali ini ia benar-benar bertekad akan menggunakan uang pemberian Devan untuk merawat diri habis-habisan. Ia tak akan biarkan ibu dan saudara-saudaranya terus menginjak-injak harga dirinya lagi!
*(Bersambung)*