NovelToon NovelToon
Benih Jenderal Di Rahim Istri Sang Mafia

Benih Jenderal Di Rahim Istri Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mafia / Identitas Tersembunyi
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Phopo Nira

Sadhana Abhiseva, seorang Jenderal muda yang mendapat misi atau tugas besar Negara yang sangat berbahaya begitu selesai melaksanakan proses pelantikannya. Hampir 4 tahun lamanya, ia menyamar sebagai salah satu anggota klan mafia tersebut. Akan tetapi, ia tidak pernah menggapai inti klan mafia tersebut.

Hingga akhirnya ia terpilih menjadi salah satu orang kepercayaan yang akan selalu berada di sisi Revaldo Arsenalio, sang pemimpin atau ketua klan mafia Black Gold. Namun, rupanya harga kepercayaan itu begitu mahal untuk ia bayar.

"Untuk menjadi salah satu tanganku. Aku ingin kau melaksanakan sebuah tugas khusus untukku."

"Saya siap."

"Aku ingin kau menghamili istriku."

“….”

Ya, ia diperintahkan untuk menghamili istri sah Reval, Jenara Elendria. Saat itulah, untuk pertama kalinya Dhana ragu untuk melanjutkan misinya atau memilih berhenti.

Akankah Dhana melaksanakan perintah Reval dan menyelesaikan misi Negaranya? Atau mungkin sebaliknya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phopo Nira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

12. Hari Pertemuan

Empat tahun….

Empat tahun menyamar. Empat tahun hidup dengan nama yang bukan miliknya. Empat tahun berbohong kepada setiap orang yang ditemuinya. Dan kini... harga dari semua itu ternyata jauh lebih besar daripada yang pernah ia bayangkan.

"Apa alasan mereka?"

Akhirnya Zeno membuka suara. "Nama Elendria."

Dhana mengangkat pandangan. "Mereka baru mengetahui bahwa Jenara Elendria adalah putri Kepala Kementerian Koordinator Bidang Politik dan Keamanan."

"Kemungkinan besar itulah alasan Reval selama ini tak pernah bisa disentuh."

"Kalau penyamaranmu runtuh sekarang..."

"...seluruh jalur menuju lingkaran terdalam mereka ikut hilang."

Dhana tertawa pendek. Namun tawanya terdengar lebih getir daripada lucu. "Empat tahun..."

"Aku kira puncak misi ini adalah menangkap Reval. Ternyata... aku sendiri yang menjadi taruhan terakhir."

Zeno mengepalkan tangan. "Kalau kau ingin mundur... Aku akan menyampaikan keberatanmu."

Dhana menggeleng pelan. "Tidak. Sudah terlambat untuk mundur sekarang. Mereka benar, misi yang aku jalankan selama empat tahun ini hanya tersisa satu langkah lagi. Hanya satu langkah… tetapi penuh resiko yang harus aku tanggung di masa depan."

Ia kembali melihat lembar keputusan itu. Tidak ada ancaman. Tidak ada paksaan yang tertulis. Hanya sebuah keputusan dingin yang dibuat atas nama negara. Sebagai seorang prajurit, ia memahami logikanya. Sebagai seorang manusia... ia tidak yakin mampu menerimanya.

Dhana memasukkan kembali seluruh dokumen ke dalam map. Wajahnya kini jauh lebih tenang. Bukan karena telah menerima keputusan itu, melainkan karena ia sadar tak ada lagi ruang untuk mengubahnya.

"Aku akan pergi sekarang."

Zeno menatap sahabatnya beberapa saat. "Hati-hati."

Dhana hanya mengangguk. "Kalau suatu hari penyamaran ini gagal... pastikan mereka tahu aku sudah melakukan semampuku."

Zeno tak mampu menjawab. Ia hanya melihat Dhana berjalan keluar dari gudang, melewati ruang makan yang mulai ramai oleh pelanggan pagi. Banyak anak buah Reval yang mulai menyapa Dhana satu persatu seperti biasanya. Namun, tak seorang pun tahu bahwa langkahnya pagi itu sedang menuju salah satu keputusan paling berat dalam hidupnya.

...****************...

Sekitar satu jam kemudian... Mobil hitam itu berhenti di depan gerbang sebuah mansion megah yang berdiri jauh dari keramaian kota. Bangunannya menjulang anggun di balik pagar besi tinggi. Taman yang tertata sempurna membentang hingga ke beranda utama, sementara air mancur di tengah halaman memantulkan cahaya matahari pagi.

Semuanya tampak indah. Terlalu indah untuk menyembunyikan rahasia sebesar itu. Dhana mematikan mesin mobil. Untuk beberapa detik ia tetap duduk di balik kemudi. Tangannya menggenggam setir erat. Ia mengingat kembali satu kalimat dalam surat keputusan itu.

"Pertahankan penyamaran."

Ia mengembuskan napas panjang. Lalu membuka pintu. Setiap langkah menuju pintu utama terasa semakin berat.

Seorang kepala pelayan telah menunggu di depan. "Selamat datang, Tuan Dhana. Nyonya Jenara telah menunggu kedatangan Anda."

Dhana hanya mengangguk singkat.

Pintu kayu raksasa itu perlahan terbuka. Di balik ruang tamu yang luas, berdiri seorang wanita dengan gaun sederhana berwarna gading. Wanita yang semalam menemuinya secara langsung. Wajahnya masih terlihat tenang, tatapannya lembut. Namun sorot matanya menyimpan kelelahan yang sulit disembunyikan.

Untuk beberapa saat, keduanya hanya saling memandang. Tak ada senyum, tak ada sapaan hangat hanya dua orang asing yang sama-sama memahami bahwa mereka sedang dipaksa memasuki permainan yang tidak pernah mereka pilih.

Hari itu menjadi pertemuan resmi pertama antara Dhana dan Jenara. Bukan sebagai sahabat, bukan sebagai musuh melainkan sebagai dua manusia yang, tanpa mereka kehendaki, telah ditempatkan di persimpangan yang akan menentukan arah hidup masing-masing. Sementara di atas semua itu, bayang-bayang keputusan Reval terus menggantung, menjadikan mereka pion dalam permainan kekuasaan yang jauh lebih besar daripada diri mereka sendiri.

Keheningan ruang tamu itu bertahan hanya beberapa menit. Suara langkah sepatu dari lorong utama memecah suasana. Reval muncul dengan setelan jas hitam yang rapi, senyum tipis menghiasi wajahnya seolah tak ada satu pun persoalan yang membebaninya.

"Bagus." Tatapannya bergantian mengarah kepada Dhana dan Jenara. "Kalian sudah bertemu."

Dhana segera berdiri. "Tuan."

Reval mengangguk pelan, lalu duduk di sofa paling besar tanpa mempersilakan siapa pun berbicara lebih dulu. Jenara masih memilih diam dan duduk di sofa yang berseberangan dengan Reval. Sedangkan Dhana masih tetap berdiri ditempatnya, menunggu perintah.

"Aku tidak suka menunda sesuatu."

Kalimat itu terdengar datar, tetapi cukup membuat udara di ruangan berubah semakin berat. Ia mengambil segelas kopi yang baru diantarkan pelayan. "Jadi, malam ini semuanya akan dimulai."

Jenara yang sejak tadi menahan diri akhirnya mengangkat kepala. "Maksudmu?"

Reval meminum kopinya seteguk. "Malam ini kalian akan berada di kamar yang sudah kusiapkan."

Tatapan Jenara membeku. Akan tetapi, Reval tetap melanjutkan seolah sedang membahas urusan bisnis biasa.

"Aku sendiri akan berada di sana."

Dhana mengernyit tipis. "Tuan..."

Reval mengangkat telapak tangan, menghentikan kalimat Dhana sebelum selesai. "Aku akan memastikan tidak ada kebohongan dan kalian benar-benar melakukannya."

Jenara berdiri begitu cepat hingga kursinya bergeser. "Apa kau sudah kehilangan akal sehatmu?" Nada suaranya bergetar. "Aku ini istrimu, Reval. Bukan barang yang bisa kau atur sesukamu."

Reval menatapnya tanpa perubahan ekspresi. "Justru karena kau istriku."

"Tidak." Jenara menggeleng keras. "Aku tidak akan menerima penghinaan seperti ini. Kau meminta terlalu jauh."

Reval meletakkan cangkirnya perlahan. "Ini bukan permintaan. Ini keputusan."

Suara Jenara meninggi. "Keputusan?"

Jenara memejamkan mata. Bahu wanita itu sedikit bergetar, tapi bukan karena takut melainkan karena mulai menyadari bahwa semua kata-katanya tidak lagi mampu menembus dinding yang dibangun suaminya sendiri.

Dhana menundukkan pandangan. Di hadapannya bukan sekadar pertengkaran suami istri. Yang ia saksikan adalah benturan antara kekuasaan dan kehendak seseorang yang terus dipaksa mengalah.

Ruangan kembali hening. Tak ada lagi teriakan dan tak ada lagi bantahan. Jenara membuka mata perlahan. Sorotnya tidak lagi dipenuhi amarah, melainkan kelelahan yang mendalam.

"Baiklah." Suara itu lirih. "Tapi bukan berarti aku menerima tindakanmu sebagai sesuatu yang benar."

Reval tidak memberikan tanggapan. Baginya, perdebatan telah selesai sejak ia mengambil keputusan. Ia berbalik menuju pintu. "Sore nanti kalian akan diberi tahu aturan yang harus dipatuhi."

Ia berhenti sejenak tanpa menoleh. "Jangan membuatku kecewa."

Pintu ruang tamu tertutup pelan. Meninggalkan kesunyian yang terasa jauh lebih menyakitkan daripada pertengkaran beberapa saat sebelumnya. Dhana dan Jenara tetap berdiri di tempat masing-masing. Dua orang yang nyaris tidak saling mengenal.

Namun dalam satu siang itu, keduanya sama-sama menyadari satu hal. Mereka bukan pihak yang memegang kendali. Mereka hanyalah orang-orang yang sedang berusaha bertahan di dalam permainan yang seluruh aturannya ditentukan oleh Reval.

“Jelas aku tidak akan membuatmu kecewa, Reval! Tapi… aku akan membuatmu menyesalinya.” Ucapan Jenara sontak membuat pandangan Dhana teralihkan padanya.

Bersambung….

1
InaraAp 09
Lanjut Thor semakin seru ceritanya
InaraAp 09
bagus dhana
InaraAp 09
hati2 dhana, jangan sampai kebongkat
InaraAp 09
lanjut thor
InaraAp 09
jujur pengin nampol Elena dan anaknya
InaraAp 09
gak bisa bayangkan di posisi jenara
InaraAp 09
benar dhana harus tepati janjimu
InaraAp 09
Jadi dhana pasti serba bingung🤔
Sri Yatun
apa sudah tau ke 4 orang itu tentang penyamaran dhana
Fahmi Ardiansyah
iya mungkin jenara gak ada yang bisa di katakan LG.krn dhanagak mau bekerja sama dgn dirinya.
Fahmi Ardiansyah
semoga Reval gak berbuat curang sama dhana.
Fahmi Ardiansyah
setelah tau markasnya kmu harus menyusun rencana sebaik mungkin dhana.biar Reval hancur sampai akarnya.
InaraAp 09
besok up yang banyak kak
InaraAp 09
pantas saja
InaraAp 09
semakin penasaran
InaraAp 09
semakin seru....
InaraAp 09
🤔
InaraAp 09
berharap beneran padahal
InaraAp 09
semangat lanjut up... seruuu
InaraAp 09
up lagi dong kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!