Raisa Adiratna akhirnya menyerah akan pernikahannya, karena selalu mendapatkan KDRT dari sang suami---Dion Raharja. Dion seorang Pengacara kondang terkenal, di jodohkan atas desakan orangtuanya. Ada satu alasan kuat kenapa Dion membenci istrinya, sampai Dion mengancam jika sampai Raisa hamil maka tak segan Dion akan mengaborsi kandungan itu. Raisa yang mendengar itu ketakutan, wanita yang sudah menjadi yatim piatu itu terpaksa meminta cerai dari Dion karena dirinya hanya memiliki anak di kandungannya, tanpa di ketahui oleh Dion jika Raisa sedang hamil muda. Setelah bertahan di bawah hinaan Dion dan teman-temannya termasuk gundik suaminya---Chelsea. Chelsea seorang wanita yang bekerja sebagai LC di sebuah club. Setelah berhasil menceraikan Raisa, Pria itu menikahi gundiknya. Namun Karma dibayar konstan Dion mengalami kecelakaan yang membuatnya mandul hingga Chelsea meninggalkannya. Dion berusaha mencari mantan istrinya demi mendapatkan maaf, lalu apakah Dion sadar sudah punya anak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Sabina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Siang yang panas di ruang sidang Pengadilan Negeri Jakarta, dengan aroma kayu tua yang menyeruak seolah menemani ketegangan yang ada di ruang sidang.
Di bawah meja dan atas dinding ada lambang Garuda Pancasila yang terpajang gagahnya.
Persidangan tengah berlangsung dengan khidmat, namun suasana nampak tegang saat dua pengacara tengah adu argumen---saling memunculkan bukti dan pembelaan.
Dion Raharja---seorang pengacara kondang terkenal nomer 1 di Indonesia, tengah menjadi pusat perhatian bagi majelis hakim dan para pengunjung sidang.
Disana hanya ada orang-orang dari pihak yang tengah di peradilan.
Dion Raharja berdiri di tengah ruangan, di depannya ada hakim dan beberapa jaksa penuntut umum.
"Yang mulia boleh saya menunjukkan rekaman CCTV yang menyatakan jika klien saya tak bersalah?" tanya Dion.
Dion tampil dengan sangat berwibawa, mengenakan kemeja warna bone yang dipadukan dengan setelan jas hitam formal.
Tak lupa dasi merah terikat di lehernya yang menjadi ciri kekuatannya.
Setelah rekaman CCTV itu, yang menyatakan jika kliennya tak bersalah dalam kasus tabrak lari selesai di putar.
Dion membacakan sebuah nota pembelaan kepada kliennya dengan suara menggelegar, seorang pria yang di tuntut karena di tuduh sebagai kasus tabrak lari.
Setiap argumen hukum yang di lontarkan terasa presisi, di dukung oleh gerakan tangan yang meyakinkan.
Di ruang persidangan ini, Dion adalah pengacara yang paling di segani.
Pria yang kata-katanya mampu mengubah arah nasib seseorang yang tak bersalah, namun di balik topeng profesionalisme itu ada sebuah ego yang haus akan kendali.
"Demikian pembelaan kami, Yang Mulia," tutup Dion dengan anggukan sopan namun tegas ke arah majelis hakim.
Hakim saling berbisik-bisik satu sama lain, dan ketiganya akan mengambil keputusan.
"Baik keputusan akan ditentukan minggu depan, sidang di tunda sampai minggu depan, akan dilanjutkan," ucap sang hakim sambil mengetuk palu.
Sidang pun ditunda untuk pembacaan putusan minggu depan, tangan Dion merapikan berkas-berkasnya ke dalam tas kulit mahal.
Dion menghela napas panjang, dirinya yakin akan menang---karena dari beberapa bukti dengan rekaman CCTV kliennya bisa terbukti tak bersalah.
Terlihat pria itu menyapa beberapa rekan sejawat dengan senyum tipis percaya diri, sebelum keluar Dion bicara dulu dengan kliennya mengenai putusan hakim minggu depan.
"Apa yakin suami saya tak bersalah, Pak?" tanya istri kliennya.
"Ya saya sudah mengeluarkan beberapa bukti agar membuktikan bapak Arya tak bersalah," jawab Dion.
"Baik Pak Dion, saya bisa serahkan semuanya kepada bapak," jawab kliennya.
Dion melangkahkan kakinya keluar ruang sidang dengan dagu terangkat, dan tasnya terselip di samping tangannya.
Namun, saat melewati pintu kayu jati yang besar itu, dan melihat selain para aparat juga jaksa---ada juga media dan pers.
Tiba-tiba, langkahnya mendadak kaku saat melihat sosok yang tak asing di matanya.
Chelsea Giandra.
Chelsea tengah berdiri di dekat pilar besar dengan melipat kedua tangannya di dada.
Rupanya wanita itu berdiri dengan wajah ketus, Chelsea tampak mencolok di tengah kerumunan orang-orang yang mengenakan pakaian formal.
Chelsea mengenakan gaun lengan pendek berwarna hijau pastel sampai lutut, rambutnya yang tergerai indah.
"Dion...kamu tak bisa begitu aja campakin gua," batin Chelsea dengan berani menemui Dion di persidangan.
Tatapan wanita itu memancarkan kemarahan yang tak dapat di sembunyikan.
Dion menemui para pers untuk menjawab beberapa pertanyaan, namun pria itu merasakan hawa dingin yang merayap sampai ke tengkuknya.
Bulu kuduknya menjadi terangkat, seperti akan ada firasat buruk.
Beberapa awak media malah lebih fokus untuk mewawancarai Dion, yang posisinya ada Chelsea berdiri beberapa meter saja.
Namun, matanya melihat Chelsea yang berdiri, sejenak mata mereka saling bertatapan satu sama lain.
"What the F*ck," umpat Dion menatap Chelsea.
Tanpa membuang waktu, Dion melangkah cepat ke arah Chelsea dengan gerakan yang tak terlihat.
Segera Dion mencengkram lengan Chelsea dan menariknya menjauh dari keramaian.
"Kita jangan bicara disini!" ucap Dion sambil menarik paksa tangan Chelsea.
"Kenapa?!" kata Chelsea dengan kesal.
Dion segera menarik wanita LC ini, jika sampai ada orang yang tahu perihal hubungan gelap ini---maka hancur sudah reputasinya sebagai Pengacara muda yang terkenal.
Dion menarik Chelsea ke tempat sepi di dekat lorong, tepatnya samping gedung pengadilan ini.
"Kamu gila ya?! kamu mau ngapain kesini?!" bisik Dion yang suaranya di penuhi kepanikan yang tertahan.
Dion terlihat celingak-celinguk berusaha memastikan tak ada kamera yang menyorot ke arah mereka.
"Kenapa? takut kalo hubungan kita di ketahui publik?!" ujar Chelsea menyentakan lengannya dari genggaman Dion.
"Jangan mulai Chel!" marah Dion.
Terlihat rahang pria itu mengeras, lalu merogoh saku dan hendak menunjukkan sesuatu di ponselnya.
"Uang bulanan sudah saya transfer kemarin. Apartemen sudah dibayar. Semua kebutuhan kamu sudah saya kasih dan------"
Ucapan Dion di potong cepat oleh Chelsea, "aku nggak peduli dengan uangmu, Dion!" potong Chelsea cepat dengan bisikan yang tajam.
Chelsea melangkah maju dan mendekat ke Dion, lalu menempelkan dadanya di depan Dion seolah menggodanya.
"Aku bosen di apartemen terus kaya di tahan, kamu juga nggak pernah ngunjungin aku! kamu pikir aku ini apa? kamu cinta nggak sih ama aku?" tanya Chelsea.
Dion terdiam, dirinya merasa bagian depan wanita ini menekan dadanya.
Dion yang kesal matanya menyapu sekitar dengan waspada.
Matanya melihat seorang petugas polisi dan beberapa kejaksaan melintas dari kejauhan.
"Ayo pulang sekarang," perintah Dion menarik tangan Chelsea ke dalam mobil.
Dion ketakutan akan skandalnya membuat reputasinya hancur, pria yang menjadi pengacara terkenal ini---kini tampak sangat pengecut akan bangkainya terbongkar.
Di dalam mobil.
Dion nampak memarahi wanita simpanannya itu, "kamu tuh gila ya?! kalo reputasi aku ancur uang bulanan kamu berkurang!" ancam Dion sambil mengemudikan mobilnya keluar area Pengadilan.
"Nanti malam saya akan ke apartemen!" lanjutnya dengan nada geram.
"Kamu selalu bilang begitu, tapi ujung-ujungnya kamu pulang ke istrimu yang 'suci' itu, kan?" marahnya.
Chelsea mendengus sinis, wajahnya yang cantik di penuhi rasa cemburu yang mendalam.
"Awas aja kalo kamu nggak dateng malam ini aku viralin di tiktok ama X!" ancam Chelsea.
Dion mengemudikan mobilnya, dengan geram. Pria itu sekarang seperti kena karmanya sendiri, bermain api dan api itu bisa saja sewaktu-waktu membakarnya.
*
*
*
*