NovelToon NovelToon
BESAN ADALAH MAUT

BESAN ADALAH MAUT

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cintapertama / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:7.8k
Nilai: 5
Nama Author: Barra Ayazzio

Handoko Priambodo dan Mellisa Ariani pernah saling mencintai saat masih kuliah. Namun, impian mereka kandas ketika Handoko melanjutkan studi S2 ke luar negeri, memaksa mereka berpisah dan menjalani kehidupan masing-masing.

Puluhan tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka kembali di acara lamaran putra Handoko dengan putri Mellisa. Pertemuan itu membangkitkan kembali cinta lama yang seharusnya telah terkubur.

Di balik status mereka sebagai calon besan, terjalin kembali hubungan terlarang yang mengancam menghancurkan rumah tangga, melukai anak-anak mereka, dan mengoyak dua keluarga sekaligus.

Akankah mereka memilih cinta masa lalu, atau mempertahankan kebahagiaan anak-anak mereka?

Karena terkadang, **besan adalah maut**.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Barra Ayazzio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

30. Kania Salah Sangka

Setelah perbincangan serius yang sempat membuat suasana di antara mereka menegang, akhirnya Handoko memutuskan memesan makan siang. Ia memanggil pelayan dan menyebutkan beberapa menu yang mereka pilih, sementara Mellisa hanya duduk diam di hadapannya.

Tak banyak lagi yang mereka bicarakan. Untuk beberapa saat, meja itu dipenuhi keheningan. Hanya terdengar suara peralatan makan dan percakapan samar dari meja-meja lain. Namun, keheningan itu perlahan terasa nyaman. Seolah pembicaraan serius yang baru saja mereka lalui telah membuka kembali sesuatu yang selama ini berusaha mereka pendam.

Handoko sesekali menyuapkan makanan ke mulutnya, tetapi pandangannya justru lebih sering tertuju kepada Mellisa. Tatapan itu begitu lembut dan mesra, sampai-sampai Mellisa beberapa kali salah tingkah. Ia berusaha pura-pura tidak memperhatikan, tetapi semakin ia mencoba fokus pada makanannya, semakin terasa tatapan Handoko mengikutinya.

Akhirnya Mellisa tak tahan. "Mas, kenapa ngelihatin aku seperti itu?"

Handoko tersenyum santai. "Ya nggak apa-apa. Pengen aja."

"Pengen apa?"

"Pengen lihat kamu."

Jawaban sederhana itu membuat Mellisa buru-buru menundukkan wajah. Ia mengaduk makanannya yang sebenarnya sudah tak terlalu menarik perhatiannya.

"Tapi aku jadi nggak konsentrasi makannya."

"Nggak apa-apa." Handoko malah semakin tersenyum. "Aku malah senang lihat kamu salah tingkah begitu. Jadi makin cinta, deh."

Mellisa langsung mendelik, meski senyum kecil mulai muncul di bibirnya. "Ih, malah ngegombalin."

"Sama sekali aku nggak lagi ngegombalin kamu, lho." Handoko menatapnya lebih dalam. "Aku serius."

Mellisa terdiam sesaat. Tatapan itu... Tatapan yang sama seperti dulu. Tatapan yang pernah membuatnya merasa menjadi satu-satunya perempuan di dunia bagi laki-laki di hadapannya.

"Dari dulu kamu memang paling bisa membuatku terbang," gumam Mellisa.

Handoko tersenyum kecil. "Oh, ya? Dibandingkan Randymu itu?"

Mellisa langsung terkekeh. "Ih, kok ke sana lagi?"

"Abisnya aku nggak suka dia dekat-dekat denganmu." Mellisa menggeleng geli. "Tenang aja, kan katanya kamu yang paling dekat denganku?"

Handoko terdiam sepersekian detik. Ada kepuasan kecil yang tak mampu disembunyikannya mendengar kalimat itu. "Ya, kalau aku nggak mengatakan begitu, bisa-bisa laki-laki itu nyerobot dan mengambilmu dariku."

"Ih, kayak barang aja diambil."

Mereka berdua pun terkekeh.

"Memangnya aku barang?" Mellisa kembali menggoda.

"Bukan."

"Lalu?"

Handoko menatapnya lekat-lekat. "Kamu seseorang yang nggak mau aku kehilangan lagi."

Senyum Mellisa perlahan menghilang. Dadanya terasa sesak oleh kalimat sederhana itu. Namun sebelum suasana kembali terlalu serius, Handoko buru-buru mengambil gelasnya dan berkata ringan,

"Udah, makan. Nanti keburu dingin!"

Mellisa tersenyum kecil sambil kembali mengambil sendoknya. "Iya, Mas."

Mereka kembali makan dalam diam. Tetapi kali ini, keheningan itu terasa berbeda. Ada senyum yang sesekali muncul di antara keduanya, ada tatapan yang diam-diam saling mencari, dan ada perasaan lama yang perlahan kembali tumbuh—meski keduanya tahu, keadaan mereka sekarang tidak lagi sesederhana masa lalu.

Setelah makan siang mereka selesai, Handoko dan Mellisa pun beranjak meninggalkan restoran. Begitu keluar dari pintu, tanpa banyak bicara, tangan Handoko mencari tangan Mellisa dan menggenggamnya erat.

Mellisa sempat menoleh, tetapi Handoko hanya tersenyum kecil. Ia sama sekali tidak berniat melepaskan genggamannya.

Baru beberapa langkah mereka berjalan, terdengar suara seseorang dari belakang.

"Mel!"

Mellisa menghentikan langkahnya dan menoleh.

Randy berjalan menghampiri mereka. "Mel, sudah beres makan siangnya?"

Mellisa tampak sedikit terkejut. "Lho, kamu masih di sini, Ran?"

"Ya iyalah." Randy tersenyum. "Kan nunggu kamu."

Matanya sempat turun pada tangan Mellisa yang masih berada dalam genggaman Handoko. Ada perubahan kecil pada ekspresinya, tetapi ia segera kembali menatap Mellisa.

"Boleh, kan, sekarang giliranku ngobrol sama kamu?"

Mellisa belum sempat menjawab ketika Handoko lebih dulu angkat bicara. "Maaf, Mellisa harus segera kembali ke kantor. Ya, kan, Mel?"

Nada suara Handoko terdengar tenang, tetapi cukup tegas.

Mellisa mengangguk. "Iya, betul. Sekarang aku harus kembali ke kantor, Ran."

Randy terlihat sedikit kecewa. "Jadi kapan dong bisanya?"

Belum sempat Mellisa menjawab, ponsel Handoko tiba-tiba berdering. Handoko mengeluarkan ponselnya dari saku dan menerima panggilan itu. Ia berbicara singkat, kemudian menutupnya.

"Mel, maaf, aku duluan, ya. Aku harus segera ke kantor."

Mellisa mengangguk. Handoko kemudian kembali menggenggam telapak tangan Mellisa. Ia menatap perempuan itu sejenak, seolah lupa bahwa ada Randy yang berdiri tak jauh dari mereka.

Lalu, tanpa ragu, ia mengangkat tangan Mellisa dan mengecup punggung tangannya dengan lembut.

"Aku duluan. Kamu juga segera kembali ke kantor, ya, Sayang!"

Mellisa yang sama sekali tidak menyangka akan mendapat perlakuan seperti itu di depan Randy sontak tersipu.

"Ok."

Handoko tersenyum puas, kemudian melangkah pergi.

Mellisa masih berdiri di tempatnya, menatap punggung Handoko yang semakin menjauh. Ada perasaan hangat yang menjalar di dadanya. Entah kenapa, satu panggilan sederhana—*Sayang*—mampu membuat hatinya melambung begitu tinggi.

Sementara itu, Randy hanya terdiam. Tatapannya berpindah dari Handoko yang sudah menjauh, kemudian kembali kepada Mellisa.

Kini, ia melihat dengan jelas bahwa hubungan antara Mellisa dan laki-laki itu bukan sekadar hubungan biasa.

Dan entah mengapa, pemandangan genggaman tangan serta kecupan tadi membuat Randy semakin ingin tahu, sebenarnya siapa Handoko bagi Mellisa.

Randy dan Mellisa akhirnya keluar dari restoran. Baru beberapa langkah mereka berjalan, tiba-tiba terdengar suara nyaring dari arah samping.

"Bunda!"

Mellisa sontak menoleh. Matanya membulat ketika melihat Kania berjalan menghampiri mereka bersama Raka.

"Oh, Kania!"

Mellisa baru teringat ucapan putrinya pagi tadi. Kania memang bilang hendak melakukan foto prewedding bersama Raka.

Kania langsung menghampiri ibunya dengan wajah ceria. "Yaaa, Bunda sudah selesai makan siang, ya?"

"Iya, sayang. Bunda sudah selesai."

"Sudah beres fotonya?" Mellisa bertanya kepada mereka.

"Sudah, Tante," jawab Raka sopan.

Mellisa tersenyum lega. Namun, Kania yang baru menyadari ada seorang laki-laki berdiri di samping ibunya langsung menatap Randy dari atas sampai bawah.

"Bunda makan siang dengan siapa?"

Mellisa mendadak gugup. "Eh... emm..."

Ia melirik Randy sekilas, seolah mencari jawaban yang paling aman.

Kania malah tersenyum jahil. "Ah, pasti sama Om ganteng ini, ya?" Kania mendekat sedikit. "Kenalin dong, Bun!"

Mellisa semakin salah tingkah. Randy justru tertawa kecil melihat tingkah Kania. Ia kemudian mengulurkan tangan.

"Putrimu Mel? Cantik sekali. Mirip ibunya."

Kania tersenyum lebar.

"Saya Randy, teman putih abunya Amel."

"Wow!" Kania langsung membelalakkan mata. "Amel?"

Ia menoleh kepada ibunya. "Bunda dipanggil Amel?"

Randy mengangguk santai. "Amel itu nama panggilan dari dulu."

Kania terkekeh. "Wow, Amel. Hanya Om yang memanggil Bunda seperti itu."

Mellisa segera menyela. "Kania..."

Namun putrinya justru semakin bersemangat.

"Ya itu panggilan sayang, kan, Om?"

Randy sempat terdiam sesaat. Mellisa langsung menatap putrinya dengan mata membesar, memberi isyarat agar Kania berhenti bicara. Namun Kania tidak menangkapnya.

"Eh... maksudku, panggilan dari teman lama."

Randy tersenyum kecil. "Kurang lebih begitu."

Kania lalu mengulurkan tangannya."Aku Kania, putri semata wayangnya Bunda."

Randy menyambut uluran tangannya.

"Senang bertemu dengan kamu, Kania."

"Ini calon suamiku, Raka."

Kania kemudian menarik lengan Raka sedikit mendekat.

Raka tersenyum dan mengangguk sopan. "Saya Raka. Senang bertemu dengan Om."

"Senang bertemu kalian." Randy tersenyum hangat. "Dan selamat untuk kalian berdua. Jangan lupa undangannya, ya!"

"Pastinya, Om."

Kania kemudian memiringkan kepalanya. Tatapannya berubah usil. "Sekarang kalonin8karang sudah nggak usah ngumpet-ngumpet lagi."

Mellisa yang semula tersenyum langsung terdiam.

"Kania..."

Namun putrinya terus saja nyerocos tanpa merasa bersalah.88"Om bisa datang kapan aja ke rumah. Aku setuju, kok."

Mellisa terbelalak.

"Kania!"

Raka yang berdiri di sampingnya langsung menahan tawa. Sementara Randy hanya bisa mengangkat alis, tampak sedikit terkejut sekaligus geli mendengar keberanian gadis itu.

Kania malah tertawa santai. "Lho, kenapa Bunda? Aku kan cuma bilang Om boleh datang ke rumah."

Mellisa menghela napas panjang sambil menatap putrinya. "Kadang-kadang kamu itu kalau ngomong nggak pernah pakai rem."

Kania terkekeh. "Ya kan aku cuma jujur, Bun."

Randy ikut tertawa kecil. "Saya suka kejujuran Kania."

Mellisa langsung menoleh kepadanya.."Jangan malah didukung."

Kania dan Raka tertawa bersamaan.

Namun di balik senyum kecilnya, Mellisa merasakan jantungnya kembali berdebar. Ia tahu betul apa yang sedang Kania maksud dengan kalimat *nggak usah ngumpet-ngumpet lagi*. Dia salah sangka.

Dan melihat ekspresi putrinya yang begitu yakin, Mellisa hanya bisa berharap Kania tidak sampai menanyakan terlalu banyak hal di depan Randy.

1
~Ni Inda~
Berattt
Hrsnya gak begini
Lawan dong...tolong
Masa...waktu.. sdh berganti
Pikirkan anak² kalian
Alihkan rasa cinta menjadi persaudaraan
Bisa...bisa kok
Asal kalian lakukan dg sadar...ikhlas
falea sezi
jalang lacur uda tua kok jd pelakor
Jamayah Tambi
Nak jawab macam mana tu Mel.Nak terus terang ke bohong.
sutiasih kasih
km akn meraskn yg di rsakn pratiwi.... saat ankmu mngalami hal yg sm....😔😔
sutiasih kasih
bukan cerita masa lalu... tpi masa skrg... yg kalian rajut....
smoga kalian psangan yg tak tau diri... mnyesal krna tak dpt brfikir jernih... lbh mnfedepsmkam nafsu... shingga tak memikirkn ank" kalian yg skn mnikah....
sebaiknya secptnya trbongkar.... ank" tak jdi.mnikah akn lbh baik... biar ank" mmbenci kelakuan tak patut kalian... handoko dan melisa🙄🙄🙄🙄
Jamayah Tambi
Tanya pada tempat yg betul.Tak tau apa jawaban Melissa.Jujur atau tipu
Jamayah Tambi
Berhenti Handoko,kau dah ada rumah mu sendiri.zPratiwi nak letak kat mana kalau kau mrnikahi Melissa
Jamayah Tambi
Kau ada bini,jaga je bini lau.Bini yg baik dan setia.Biar Melissa dan Randy.Mereka duda dan janda tak ada masalah.Simpan je perasaanmu Handoko
sutiasih kasih: handoko msih brnafsu mngejar bahagia semu di ujung jln kak....
nnti klo smua sdh hancur.... bru dia sadar dan mnyesali... krna tak ada jln untuk kmbali....
total 1 replies
Jamayah Tambi
Mana satu nak pilih Mel
Jamayah Tambi
Kesian juga Si Mellisa tak pernah mengecap bahagia setelah menikah .Kemudian menjada selama puluhan tahun.
Jamayah Tambi
Tak pasal2 bapak mertua jd bapak tiri.Hah pelik tp benar.Orang tua klu jatuh cinta lagi,mesumnya mengalahkan anak muda.
Jamayah Tambi
Jangan ikutvhati Handojo.Ingat umur.Bahagikan anak2 kalian.Mungkin kamu dan Melisa memang tidak berjodoh.Kalau kau menikahi Mekissa bagaimana dgn Pratiwi
Oma Gavin
melisa sadar jgn amnesia ingat anakmu perlu bahagia dgn calonnya jgnnlamu cuma mikir kebahagiaan dan kesenangan mu saja fintaylsma mu udah tutup buku ngga perlu dibuka lagi, jgn korbankan kania demi keegoisanku mu sendiri
Jamayah Tambi: Saranku ,jangan niksh dgn Handoko kerana banyak hati ygvterluka.Pratiwi,kina dan Raka.Klu Randy duda atau hujang terlajak ya nikah saja dgnnya.
total 1 replies
sutiasih kasih
lnjutkn kbodohan oleh nafsumu handoko....
prtemuanmu dgn melisa bukanlah cinta tpi hnya rasa penasaranmu krna km tk mnikah dgnnya saat dulu....
tpi kelak... saat km merealisasikn mnikahi melisa.... km akn tau rsanya mnyesali tindakn bodohmu...
Oma Gavin
feeling ku pernikahan anaknya ngga terealisasi karena kebongkar perselingkuhan ortu masing" mereka pasti malu lebih baik mundur daripada berantakan
Oma Gavin
lanjutkan dan jgn melek mata' kalian berdua kan lagi jatuh cinta jadi masing" buta dengan kebahagiaan anak" kalian tetaplah edan jgn sadar
sutiasih kasih: sadarnya nnti aj... klo sdh di hadpkn dgn khilangan dan kehancuran keluarga....
tak ada lgi jln pulang dri petualangan nafsu yg sesat....
🙄🙄
total 1 replies
sutiasih kasih
gmn klo smpe km tau knyataannya wi.... suamimu sdh main gila dgn calon besanmu....
Jamayah Tambi
Depan isteri kau boleh buat Handoko.Kalau ketahuan macam mana.Tak ke merusak hubungn anak2 kamu nanti
Jamayah Tambi
Masalah manusia ialah otak sihat kalah dgn hati yg bercelaru
Jamayah Tambi
Menikah kerana tanggungjawab, bukan cinta kerana hati masing2 mencintai yg lain
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!