Berawal dari ketidaksengajaan darahnya mengenai gagang pintu berukir naga di tumpukan rongsokan, Raka Mahesa mendadak memiliki akses gerbang penembus dua dunia. Berbekal barang murah modern yang menjadi pusaka di dunia kuno dan herbal purba yang bernilai miliaran di Jakarta, pemulung melarat ini mulai membangun kerajaan bisnisnya untuk merajai kedua dunia tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Tentu saja orang-orang kuno itu tidak paham istilah arsitektur modern sama sekali.
Tapi mereka paham bahwa mereka hanya perlu mencampur debu abu-abu, pasir, air, lalu menuangkannya ke kerangka logam.
"Hamba mengerti Tuan Dewa! Kami akan bekerja siang dan malam membangun dinding batu ajaib ini!" janji Boris penuh semangat.
Bagi Boris, dinding batu adalah simbol kemakmuran kota besar tempat kaisar tinggal.
Kalau desanya punya dinding batu, maka desanya akan menjadi wilayah terkuat di seluruh penjuru pegunungan ini.
"Bagus, suruh para bandit itu bekerja mencampur lumpur ini sampai tangan mereka lecet berdarah."
Raka menepuk debu semen dari tangannya lalu berdiri tegap menghadap warga desa.
"Aku akan terus mengirimkan bahan sihir ini setiap hari sampai benteng desa kita tertutup sempurna melingkar."
Raka menatap Lin yang sedari tadi terus memperhatikan setiap gerak-geriknya dengan mata berbinar penuh kekaguman.
"Lin, ayahmu masih sakit jadi kau yang bertugas menghitung jumlah karung debu ini setiap harinya."
"Jangan sampai ada satu karung pun yang dicuri atau disembunyikan oleh orang desa lain."
"Baik Tuan Dewa Raka, hamba akan menjaga pusaka Anda dengan nyawa hamba sendiri," jawab Lin menunduk patuh dengan pipi merona merah.
Raka merasa urusan proyek konstruksinya sudah cukup jelas untuk dikerjakan mandor sekelas Boris.
Ia harus kembali ke gudangnya untuk mengambil sisa semen dan besi agar tidak menumpuk terlalu lama di Jakarta.
Setelah melakukan tiga kali perjalanan bolak-balik menembus gerbang, puluhan ton material akhirnya pindah ke dunia kuno.
Keringat bercucuran membasahi wajah dan kaos Raka karena lelah memindahkan barang antar dimensi.
"Selesai juga akhirnya bongkar muat tahap pertama ini."
Raka duduk menyandarkan punggungnya di dinding gudang Jakarta sambil meneguk air mineralnya sampai habis.
Ia melirik jam tangan pintarnya dan melihat waktu sudah menunjukkan pukul dua siang.
Tiba-tiba ponselnya bergetar hebat memutar nada dering panggilan masuk yang sangat nyaring.
Kring kring!
Raka melihat nama Nona Sasa Bossy muncul di layar ponselnya lalu menekan tombol terima.
"Halo Nona Sasa, ada rindu apa lagi siang-siang bolong begini?" sapa Raka dengan nada malas.
"Raka! Kau sedang di mana sekarang? Cepat mandi dan ganti bajumu yang bau keringat itu!" omel Sasa dari seberang telepon.
"Saya baru selesai bongkar muat bahan bangunan bos, memangnya ada acara apa sampai disuruh mandi mendadak?"
"Malam ini kita harus menghadiri acara jamuan makan malam pendahuluan sebelum pelelangan elit besok lusa."
Suara Sasa terdengar sangat terburu-buru seperti orang yang sedang dikejar jadwal padat.
"Aku sudah memesankan jadwal pengukuran jas untukmu di butik langgananku kawasan Senayan jam tiga sore ini."
"Wah repot juga ya mainan orang kaya, mau lelang saja pakai acara makan-makan segala," keluh Raka memijat pelipisnya.
"Jangan banyak protes Raka! Kevin pasti ada di sana nanti malam dan kita tidak boleh terlihat seperti orang kampung."
Tut.
Sasa langsung mematikan panggilannya tanpa memberikan celah bagi Raka untuk membantah sedikit pun.
Raka mendesah kasar lalu berdiri memunguti kunci mobil Range Rovernya dari lantai gudang.
Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi kembali ke rumah Pondok Indah untuk mandi kilat.
Satu jam kemudian Raka sudah tiba di depan sebuah butik pakaian pria paling mewah di kawasan Senayan.
Pintu kaca butik itu dijaga oleh dua pria berjas rapi yang langsung membukakan pintu saat melihat mobil mahal Raka datang.
Ting.
Lonceng pintu berbunyi halus saat Raka melangkah masuk ke dalam ruangan yang wanginya seperti uang baru tersebut.
Sasa sudah duduk di sofa beludru merah sambil membolak-balik majalah fesyen impor.
Wanita itu mengenakan gaun hitam elegan yang pas di badan membuatnya terlihat sangat mempesona dan berbahaya.
"Lama sekali kau ini, tukang jahit dari Italia ini sudah menunggumu dari tadi," gerutu Sasa meletakkan majalahnya.
"Macet Nona Sasa, lagipula buat apa sih jahit jas segala? Jaket kulit saya ini masih bagus dan gagah," bantah Raka menunjuk jaketnya.
Sasa berdiri lalu berjalan memutari Raka sambil menggelengkan kepalanya dengan tatapan jijik.
"Jaket kulitmu itu cocoknya dipakai geng motor jalanan, bukan untuk berhadapan dengan pewaris Grup Naga Mas."
Sasa memberi isyarat tangan dan seorang pria bule tua dengan pita ukur di lehernya langsung menghampiri Raka.
Pria tua itu mengukur lebar bahu, panjang lengan, dan lingkar dada Raka dengan gerakan sangat lincah.
"Postur tubuh tuan ini sangat bagus Nona Sasa, bahunya lebar dan pinggangnya tegap berkat olahraga rutin," puji penjahit bule itu dalam bahasa Indonesia yang fasih.
"Bukan olahraga rutin Mister, cuma sering lari dikejar anjing tetangga sama angkat kardus rongsokan," jawab Raka polos.
Sasa langsung memelototi Raka memberi peringatan agar pemuda itu menjaga mulutnya di depan orang luar.
"Buatkan dia jas tiga potong berwarna biru navy gelap dari bahan wol terbaik yang kalian punya."
Sasa menunjuk ke arah katalog kain yang dipajang di dinding butik tersebut.
"Pastikan ukurannya pas di badan dan selesaikan jahitannya dalam waktu kurang dari tiga jam dari sekarang."
Penjahit bule itu terbelalak kaget mendengar tenggat waktu yang sangat tidak masuk akal tersebut.
"Tiga jam Nona Sasa? Itu sangat mustahil untuk jahitan tangan tingkat tinggi!" protes si penjahit.
Brak.
Sasa meletakkan sebuah kartu hitam metalik di atas meja kasir butik tersebut tanpa berkedip.
"Aku akan membayar lima ratus juta rupiah untuk satu setel jas itu kalau kau bisa menyelesaikannya tepat waktu."
Mendengar angka gila ratusan juta keluar, mata penjahit bule itu langsung berbinar penuh semangat kapitalis.
"Baik Nona Sasa! Saya akan mengerahkan sepuluh penjahit senior saya untuk menyelesaikannya sekarang juga!"
Penjahit itu langsung menarik Raka ke ruang pas dan memerintahkannya mencoba kerangka jas dasar.
Raka hanya bisa menelan ludah melihat betapa gilanya cara Sasa membuang uang setengah miliar hanya untuk sebuah baju.
"Uang lima ratus juta kalau dibelikan nasi padang bisa buat makan satu desa Karta sampai mabuk kepayang," batin Raka menggelengkan kepalanya heran.
Tiga jam berlalu dengan sangat membosankan bagi Raka yang harus berdiri diam seperti patung manekin.
Namun saat ia melangkah keluar dari ruang ganti memakai jas biru navy yang sudah selesai sempurna itu, semua orang di butik langsung terdiam.
Setelan jas mahal itu membalut tubuh Raka dengan sangat presisi menonjolkan dada bidang dan kakinya yang jenjang.
Rambut Raka yang sengaja ditata rapi ke belakang oleh penata gaya butik membuatnya terlihat seratus persen berbeda.
Raka tidak lagi terlihat seperti gembel jalanan yang menang lotere atau preman kasar dari gang sempit.
Ia kini memancarkan aura seorang tuan muda konglomerat yang dingin, tampan, dan penuh rahasia gelap.
Sasa yang sedang meminum tehnya sampai lupa menelan air di mulutnya saat melihat penampilan baru Raka.
Jantung wanita arogan itu berdetak satu ketukan lebih cepat tanpa bisa ia kendalikan sama sekali.
"Bagaimana bos? Saya sudah kelihatan seperti mafia penjual organ belum pakai baju ketat begini?" canda Raka memutar badannya.
Sasa buru-buru memalingkan wajahnya sedikit untuk menyembunyikan semburat merah yang mendadak muncul di pipinya.
"Penampilanmu lumayan tidak memalukan untuk kuajak jalan malam ini Raka."
Sasa berdiri lalu merapikan lipatan kecil di kerah kemeja putih Raka dengan sentuhan jarinya yang lembut.
Aroma parfum mawar Sasa bercampur dengan wangi maskulin jas baru Raka menciptakan suasana yang sangat aneh di antara mereka berdua.
"Malam ini di jamuan makan, kau hanya perlu berdiri di sebelahku dan tersenyum arogan pada semua orang."
Sasa menatap mata Raka dalam-dalam memastikan pemuda itu paham aturan mainnya.
"Jangan banyak bicara dan biarkan mereka menebak-nebak seberapa besar kekuasaan yang kau sembunyikan di balik jasmu ini."
"Gampang itu mah, akting sombong dan dingin adalah keahlian utama saya sejak jadi dewa petir," jawab Raka menyeringai tipis.
Raka melirik pantulan dirinya di cermin besar butik itu dan menyadari bahwa peperangan di dunia nyata baru saja dimulai.
Malam ini ia akan masuk ke dalam sarang ular berbisa yang dipenuhi para konglomerat tamak penguasa Jakarta.
Dan ia berencana untuk menginjak kepala ular-ular itu satu per satu kalau mereka berani menghalangi jalannya.