NovelToon NovelToon
Pernikahan Rahasia Tuan CEO

Pernikahan Rahasia Tuan CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat / Obsesi / CEO
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Melania-1623

Jika kau jatuh cinta padaku selama dua tahun ini, kau tidak akan mendapatkan satu sen pun saat bercerai nanti."

Demi membiayai operasi sumsum tulang belakang adiknya, Aura Dania terpaksa menandatangani perjanjian pernikahan kontrak dengan Evan Adijaya seorang CEO dingin dan kejam yang hanya memanfaatkan Aura untuk merebut takhta perusahaan keluarga.

Di atas kertas, mereka hanyalah orang asing. Tanpa cinta, tanpa sentuhan, dan tanpa pesta. Tugas Aura sederhana: berpura-pura menjadi istri yang manis di depan kakek Evan yang sedang sakit.

Namun, ketika mantan kekasih Evan kembali membawa niat jahat dan rahasia besar terungkap, pernikahan rahasia mereka berubah menjadi pusaran rasa sakit dan hasrat. Bisakah Aura bertahan tanpa menyerahkan hatinya pada sang CEO berdarah dingin?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melania-1623, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12: CEO vs CEO

Selamat Membaca....

______

Atmosfer di dalam ruang kerja Evan seketika berubah mencekam. Suasana hangat yang baru saja menyelimuti mereka lenyap dalam sekejap, digantikan oleh aura intimidasi yang begitu dingin.

Evan berdiri dari kursi mewahnya, membenahi kancing jasnya tanpa melepaskan pandangan tajamnya dari wajah Aura.

"Kau belum menjawab pertanyaanku, Aura," suara Evan begitu rendah, namun sarat akan penekanan yang membuat bulu kuduk berdiri. "Bagaimana kau bisa mengenal Aris Pratama?"

Aura menelan ludah pelan, mencoba menetralkan debar dadanya. Ia tidak ingin Evan salah paham atau mengira ada hal yang disembunyikan.

"Aris adalah kakak tingkatku di kampus dulu," jawab Aura jujur, menatap lurus mata Evan. "Dia ketua himpunan mahasiswa saat aku baru masuk kuliah. Kami sempat beberapa kali mengurus proyek kegiatan kampus bersama sebelum akhirnya aku memutuskan berhenti kuliah dan fokus bekerja."

"Hanya sebatas kakak tingkat?" selidik Evan seraya melangkah mendekat, mengikis jarak di antara mereka hingga Aura bisa merasakan deru napas pria itu.

"Ya, hanya sebatas itu," tegas Aura. "Setelah aku keluar dari kampus, kami sama sekali tidak pernah berkomunikasi lagi. Aku bahkan tidak tahu kalau dia sekarang menjabat sebagai CEO Pratama Group."

Evan menatap dalam-dalam iris mata Aura, mencari tanda-tanda kebohongan. Namun, yang ia temukan hanyalah kejujuran dan sedikit kepanikan. Pria itu menghembuskan napas pelan, mengusap jemari Aura yang terasa sedikit dingin.

"Baiklah. Ikut aku ke ruang rapat," ujar Evan datar. "Mari kita lihat apa tujuan sebenarnya pria itu datang ke sini."

Di dalam ruang rapat eksekutif B, seorang pria berjas abu-abu terang sedang berdiri membelakangi pintu, menatap pemandangan kota di luar jendela kaca. Aris Pratama pria berusia tiga puluh tahun dengan garis wajah tampan, potongan rambut rapi, dan senyum ramah yang menjadi ciri khasnya.

Pintu ruang rapat terbuka. Aris berbalik, mengumbar senyum hangatnya. Namun, senyuman itu seketika membeku di udara saat matanya tidak hanya menangkap sosok Evan Adijaya, melainkan juga Aura Dania yang berjalan tepat di samping sang Presdir.

"Aura?!" pekik Aris kaget, matanya membelalak tak percaya. "Kau... kau benar-benar Aura Dania?"

Aura tersenyum tipis, membungkuk sopan. "Selamat pagi, Tuan Aris. Senang bisa bertemu kembali."

Aris melangkah maju dua tapak dengan wajah berbinar. "Astaga, Aura! Sudah berapa tahun? Aku mencarimu ke mana-mana setelah kau tiba-tiba mengundurkan diri dari kampus! Bagaimana kabarmu? Kenapa bisa ada di gedung Adijaya...."

"Ekhem."

Suara dehaman keras dari Evan memotong ucapan Aris seketika. Evan sengaja menggeser posisi berdirinya, menutupi sebagian tubuh Aura dari pandangan Aris. Tatapan Evan terlihat begitu tajam, seolah siap menerkam siapa saja yang berani menyentuh miliknya.

"Tuan Aris Pratama," sapa Evan dingin seraya mengulurkan tangannya. "Selamat datang di Adijaya Group. Saya harap Anda datang ke sini untuk urusan bisnis, bukan untuk reuni masa lalu."

Aris tersentak kecil, menyadari tatapan bermusuhan yang dilayangkan oleh CEO Adijaya Group tersebut. Sebagai sesama pria dan pimpinan perusahaan, Aris bisa merasakan aura persaingan yang kuat dari diri Evan. Ia menjabat tangan Evan dengan cengkeraman yang tak kalah kokoh.

"Tentu saja, Tuan Evan," sahut Aris dengan senyum tenang yang dipaksakan. "Saya datang untuk membahas kelanjutan kontrak pengadaan logistik antara Pratama Logistics dan anak perusahaan Adijaya di Jawa Barat."

Kedua pria berpengaruh itu melepaskan genggaman tangan mereka. Evan berjalan menuju ujung meja rapat utama, mendudukkan dirinya di kursi kebesaran Presdir, lalu mengisyaratkan Aura untuk duduk tepat di samping kirinya.

"Duduklah, Tuan Aris," ujar Evan formal. "Singkat saja, jadwal saya sangat padat pagi ini."

Aris menarik kursi di seberang mereka. Bimo segera membagikan berkas proposal kerja sama di atas meja. Namun, perhatian Aris tampak tidak sepenuhnya tertuju pada berkas tersebut. Matanya beberapa kali mencuri pandang ke arah Aura yang sedang sibuk menyiapkan catatan rapat.

"Saya mendengar bahwa Pratama Logistics telah menandatangani draf awal kontrak bulan lalu," buka Aris percaya diri. "Kami datang untuk meminta pengesahan akhir dari Anda sebagai Komisaris Utama baru."

Evan menyandarkan punggungnya, mengetukkan jarinya di atas meja kayu yang dipoles mengilat. "Kontrak itu dibatalkan."

Aris mengerutkan keningnya, wajahnya menegang seketika. "Dibatalkan? Atas dasar apa, Tuan Evan? Kami sudah memenuhi seluruh kualifikasi dan menyepakati nilai investasi yang ditawarkan."

"Atas dasar indikasi kecurangan dan pengelembungan harga," sahut sebuah suara wanita dengan tenang namun tegas.

Aris menoleh kaget ke arah Aura.

Aura membuka map investigasi yang sudah ia susun rapat-rapat. "Berdasarkan analisis akuntansi forensik yang saya lakukan pagi ini, Pratama Logistics menetapkan biaya operasional tiga puluh persen di atas rata-rata harga pasar resmi. Selain itu, status Pratama Logistics baru terdaftar dua bulan lalu sebagai anak perusahaan Anda. Ini menyalahi klausul transparansi Adijaya Group."

Aris tertegun. Ia menatap Aura dengan pandangan campur aduk antara kagum pada kecerdasannya dan terkejut karena rencananya terbongkar begitu cepat.

"Aura... ini hanya penyesuaian biaya inflasi material," kilah Aris berusaha tersenyum manis pada Aura. "Kau pasti salah paham. Kalau kau mau, kita bisa mendiskusikan hal ini secara pribadi sambil makan siang nanti? Aku sangat ingin membicarakan banyak hal padamu."

Brak!

Evan menepuk meja rapat dengan pelan namun bertenaga, membuat suasana ruangan seketika hening mencekam. Bimo yang berdiri di sudut ruangan sampai menahan napas.

"Tuan Aris," kata Evan, suaranya meluncur begitu dingin dan menakutkan. "Anda sedang berbicara dengan Asisten Sekretaris Utama Adijaya Group sekaligus Istri Sah saya. Menjaga batas kesopanan adalah hal yang wajib Anda pelajari sebelum mengajaknya makan siang."

Deg.

Aris membelalak tak percaya. "I-Istri Sah?!"

Pernyataan menohok dari Evan menghantam kesadaran Aris bagai disambar petir di siang bolong. Pria itu menatap Aura dan Evan bergantian, mencari kepalsuan dari kalimat tersebut. Namun, saat melihat bagaimana Evan secara protektif merengkuh bahu Aura di hadapannya, Aris tahu ucapan itu bukan sekadar gertakan.

Aura tidak menolak atau melepaskan pautan tangan Evan di bahunya. Ia justru menatap Aris dengan tegas, mengonfirmasi status hubungan mereka tanpa ragu sedikit pun.

"Laporan analisis yang disampaikan istri saya adalah keputusan mutlak perusahaan," tegas Evan seraya berdiri dari kursinya. "Kerja sama dengan Pratama Logistics resmi ditolak dan dibatalkan detik ini juga. Silakan tinggalkan gedung ini, Tuan Aris."

Aris menggertakkan giginya menahan malu dan kekalahan. Ia mengepalkan tangannya rapat-rapat di bawah meja, lalu berdiri seraya merapikan jasnya.

"Baiklah, Tuan Evan," ujar Aris dengan nada suara yang tertahan. Ia lalu menatap Aura dengan binar mata yang sulit diartikan. "Aura... aku senang bisa melihatmu lagi. Kota ini sangat sempit, aku yakin kita akan sering bertemu setelah ini."

Tanpa menunggu balasan lagi, Aris berbalik dan melangkah keluar dari ruang rapat dengan langkah lebar penuh amarah.

Pintu rapat tertutup rapat. Begitu Aris menghilang dari pandangan, Evan melepaskan pegangannya dari bahu Aura. Pria itu menghembuskan napas kasar, membelakangi Aura seraya melonggarkan ikatan dasinya yang terasa mencekik.

Kecemburuan membakar dadanya begitu hebat. Cara Aris menatap Aura tadi benar-benar membangkitkan insting liar Evan untuk melindungi wanitanya.

Aura berdiri dari kursinya, melangkah mendekati Evan yang sedang berdiri tegap menatap dinding kaca.

"Evan..." panggil Aura pelan.

Evan tidak menoleh. "Kau masih memikirkannya?"

Aura tersenyum tipis. Ia memberanikan diri melangkah hingga berada tepat di hadapan Evan, menengadah menatap wajah tegas sang suami yang sedang tertekuk kesal.

"Aku tidak memikirkannya sama sekali," bisik Aura tulus. tangannya terulur merapikan kerah kemeja Evan yang sedikit berantakan. "Terima kasih sudah membelaku di depan Aris tadi."

Evan menunduk, menatap iris mata Aura yang jernih. Rasa kesal di dadanya perlahan menguap saat melihat ketulusan dari tatapan istrinya. Tanpa bisa menahan dirinya lagi, Evan meraih pinggang Aura, menarik tubuh wanita itu merapat ke dalam pelukannya.

"Kau milikku, Aura Dania," bisik Evan seraya mendaratkan ciuman protektif di pelipis Aura. "Siapa pun yang mencoba merebutmu dariku, akan kuhancurkan tanpa sisa."

Terima kasih sudah membaca. Jangan lupa tinggalkan Like< Vote & Komen...

1
Orang
Kerenn...
Orang
/Drool/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!