NovelToon NovelToon
MEKANIK: Yang Diremehkan, Ternyata Mekanik Top 1 Dunia.

MEKANIK: Yang Diremehkan, Ternyata Mekanik Top 1 Dunia.

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Action
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Rahmat Agung

Di dunia otomotif, uang bisa membeli mobil mewah, kekuasaan bisa membeli bengkel terbaik, dan nama besar bisa membuat seseorang dihormati. Namun, tidak semua orang memahami bahwa di balik setiap mesin hebat, ada seseorang yang benar-benar mengerti cara kerjanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahmat Agung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17 — KOTAK ARSIP YANG SEHARUSNYA TIDAK ADA

Pagi itu, Arga Pratama datang ke Agung Joyo Motor lebih awal daripada biasanya.

Foto ruang kendali ARX-9 masih terbayang di pikirannya. Begitu pula pesan yang diterima Nadia mengenai Raka Wibisono.

Dia tidak pernah meninggalkan proyek ARX-9 dalam keadaan hidup-hidup.

Kalimat itu terlalu serius untuk diabaikan, tetapi terlalu tidak jelas untuk dipercaya begitu saja.

Arga tahu satu hal: seseorang sedang berusaha memengaruhi arah penyelidikannya.

Bisa jadi orang itu ingin melindungi rahasia lama. Bisa juga ia sengaja mengarang cerita tentang Raka agar Arga berhenti mencari.

Sebelum mengambil keputusan, Arga harus memastikan apakah Raka benar-benar pernah dinyatakan meninggal, mengundurkan diri, atau sekadar menghilang dari catatan perusahaan.

Ia membuka laptop dan menyusun daftar pertanyaan.

Pertama, apakah Raka Wibisono benar-benar terdaftar sebagai teknisi integrasi ARX-9?

Kedua, apakah ada catatan resmi mengenai pengunduran diri atau status kepegawaiannya?

Ketiga, siapa yang terakhir kali mengakses arsip SR-04?

Dan terakhir, mengapa sebuah kotak yang menurut catatan perusahaan masih berada di fasilitas penyimpanan justru sudah berada di tangan seseorang?

Pintu ruang kerja terbuka.

Pak Darto masuk sambil membawa dua gelas kopi.

“Kamu kelihatan seperti orang yang semalaman memikirkan baut yang tidak bisa dilepas,” katanya.

Arga tersenyum tipis.

“Kurang lebih begitu, Pak. Bedanya, kali ini bautnya sudah lima tahun tidak mau terbuka.”

Pak Darto meletakkan kopi di meja.

“Kalau begitu, jangan dipaksa dengan tenaga. Cari tahu dulu mengapa bautnya macet.”

Arga memandang pria tua itu.

Nasihat sederhana tersebut selalu terasa tepat ketika pikirannya mulai dipenuhi terlalu banyak kemungkinan.

“Saya sedang mencari seseorang bernama Raka Wibisono. Dia mungkin pernah bekerja dalam proyek ARX-9.”

Pak Darto mengerutkan dahi.

“Raka Wibisono?”

“Bapak mengenalnya?”

Pak Darto tidak langsung menjawab. Ia berjalan menuju lemari arsip di belakang meja, kemudian mengambil sebuah buku catatan lama yang berbeda dari buku tamu yang mereka periksa sebelumnya.

“Aku tidak yakin ini orang yang sama,” katanya. “Tapi sekitar lima tahun lalu, ada seorang teknisi yang datang menanyakan apakah kamu masih bekerja di bengkel ini. Dia mengatakan pernah melihatmu menangani masalah sistem kendali prototipe.”

Arga menerima buku itu.

Di salah satu halaman, terdapat catatan nomor telepon yang sebagian tintanya telah memudar. Di sampingnya tertulis:

Raka W. — konsultasi teknis — jangan hubungi kantor lama.

Arga menatap tulisan tersebut.

“Kenapa Bapak tidak pernah menceritakan ini sebelumnya?”

“Karena aku tidak menganggapnya penting. Waktu itu kamu sedang sibuk dengan masalahmu sendiri. Aku juga tidak tahu bahwa namanya akan muncul lagi setelah bertahun-tahun.”

Arga memotret catatan tersebut.

“Apakah nomor ini masih aktif?”

“Entahlah. Tapi sebelum kamu mencoba menghubunginya, pastikan kamu tahu apa yang akan kamu katakan.”

Arga mengangguk.

Ia tidak akan langsung menelepon nomor lama itu. Nomor tersebut bisa saja sudah digunakan orang lain, dan ia tidak ingin membocorkan informasi kepada pihak yang tidak dikenal.

Ia akan memeriksanya melalui sumber yang sah terlebih dahulu.

Namun, sebelum ia sempat melanjutkan penyelidikan, ponselnya berbunyi.

Nama Nadia muncul di layar.

“Arga, aku baru saja mendapat balasan dari perusahaan induk Nusantara Precision Systems.”

“Apa hasilnya?”

“Permohonan pemeriksaan arsip kita ditunda.”

Arga mengerutkan kening.

“Apa alasannya?”

“Mereka mengatakan nomor inventaris SR-04 sedang dalam proses rekonsiliasi karena ada ketidaksesuaian antara catatan fisik dan catatan digital.”

Arga terdiam.

“Ketidaksesuaian seperti apa?”

“Catatan digital menunjukkan kotak itu masih berada di fasilitas penyimpanan. Namun, catatan pemeriksaan fisik terakhir tidak mencantumkan keberadaannya.”

Arga memejamkan mata sejenak.

Jadi, kotak itu mungkin sudah lama hilang.

Atau seseorang sengaja mengubah catatannya.

Namun, ia tidak boleh memilih salah satu kemungkinan hanya karena lebih sesuai dengan kecurigaannya.

“Apakah mereka memberikan tanggal pemeriksaan fisik terakhir?”

“Lima bulan lalu.”

“Siapa yang menandatangani hasil pemeriksaannya?”

“Belum diberikan. Mereka mengatakan informasi itu harus diperiksa oleh bagian audit internal.”

Arga menghela napas.

“Baik. Minta mereka mempertahankan seluruh catatan inventaris, riwayat perubahan, dan dokumen pemindahan. Kita perlu memastikan tidak ada dokumen yang dimusnahkan selama proses pemeriksaan.”

“Aku akan mengirim permintaan resmi.”

Sebelum menutup telepon, Nadia menambahkan, “Ada satu hal lagi. Aku menemukan bahwa Raka Wibisono memang pernah terdaftar sebagai teknisi integrasi ARX-9. Tetapi tidak ada catatan kematian yang bisa kami temukan melalui sumber perusahaan yang tersedia.”

“Berarti pesan kemarin belum terbukti.”

“Benar. Kita tidak boleh menyebarkannya sebagai fakta.”

Arga mengangguk meskipun Nadia tidak bisa melihatnya.

Penyelidikan itu kembali bergerak, tetapi kini mereka tahu bahwa arsip yang dicari mungkin telah hilang sebelum mereka menemukannya.

Dan seseorang tampaknya mengetahui lebih banyak daripada yang bersedia mereka katakan.

Di arena National Automotive Engineering Challenge, persaingan memasuki tahap yang semakin sulit.

Panitia mengumumkan bahwa babak berikutnya akan menguji kemampuan peserta dalam mengembangkan solusi untuk kendaraan berperforma tinggi yang mengalami penurunan efisiensi akibat ketidakseimbangan sistem penggerak.

Setiap tim harus memeriksa data, menyusun diagnosis, mengajukan perbaikan, dan mempertahankan keputusan mereka di hadapan juri.

Arga kembali dipasangkan dengan Rendy Mahardika dan Dimas Prakoso.

Kali ini, Rendy datang membawa beberapa halaman catatan sendiri.

“Aku menganalisis pola kegagalan yang sering muncul pada sistem penggerak hibrida,” katanya. “Ada beberapa kemungkinan penyebab, tetapi kita harus menghindari kesimpulan berdasarkan gejala tunggal.”

Arga membaca catatan itu dengan saksama.

“Bagus. Kamu sudah mulai memisahkan gejala dan penyebab.”

Rendy mengangkat alis.

“Jangan terdengar seperti Pak Darto.”

“Kalau analisismu benar, kamu tidak perlu khawatir terdengar seperti siapa pun.”

Dimas tertawa.

Mereka mulai memeriksa data kendaraan uji.

Hasil awal menunjukkan bahwa konsumsi energi meningkat ketika kendaraan berpindah dari satu mode penggerak ke mode lainnya. Selain itu, suhu salah satu komponen naik lebih cepat daripada pola normal.

Rendy mengusulkan pemeriksaan pada sistem pendinginan.

Dimas menemukan bahwa perubahan beban terjadi pada waktu yang hampir bersamaan dengan kenaikan suhu.

Arga tidak langsung memilih salah satu dugaan.

Ia meminta mereka membandingkan data dari beberapa siklus, memeriksa apakah sensor menunjukkan nilai yang konsisten, dan melihat apakah perubahan tersebut terjadi pada kondisi operasional yang sama.

Setelah beberapa pengujian, mereka menemukan bahwa masalah tidak muncul setiap kali kendaraan berpindah mode. Gejalanya hanya terjadi ketika beban tertentu berlangsung cukup lama.

“Kalau begitu, kita belum bisa menyalahkan sistem perpindahan mode,” kata Dimas.

“Benar,” jawab Arga. “Kita perlu memastikan apakah kenaikan suhu merupakan penyebab atau akibat dari perubahan kinerja.”

Mereka mengajukan pemeriksaan tambahan sesuai prosedur kompetisi. Hasilnya menunjukkan adanya keterbatasan pelepasan panas pada kondisi beban tinggi, tetapi data yang tersedia belum cukup untuk menentukan apakah penyebab utamanya berasal dari komponen pendinginan, pengaturan aliran, atau kondisi komponen penggerak.

Alih-alih mengarang jawaban yang terdengar meyakinkan, Arga menyusun rekomendasi pemeriksaan lanjutan dengan urutan yang jelas.

Ketika juri menanyakan mengapa mereka tidak langsung menunjuk satu komponen sebagai penyebab utama, Arga menjawab dengan tenang.

“Karena bukti yang kami miliki belum membedakan semua kemungkinan. Kami bisa menyusun diagnosis sementara, tetapi tidak tepat jika menyebutnya sebagai kesimpulan final.”

Seorang juri mengangguk.

“Dan jika Anda dipaksa memilih?”

“Kami akan memilih tindakan pemeriksaan yang paling aman dan paling informatif, bukan mengganti komponen hanya demi terlihat yakin.”

Di barisan pengawas, Marcus Hale mencatat sesuatu di lembar penilaiannya.

Arga mulai menyadari bahwa kemampuannya tidak lagi sekadar membuat mesin kembali bekerja.

Ia juga mampu menjelaskan mengapa suatu keputusan harus diambil, kapan keputusan itu layak dipercaya, dan kapan seorang teknisi harus mengakui keterbatasan data.

Itulah kemampuan yang dulu membuatnya dihormati dalam proyek ARX-9.

Dan mungkin, justru itulah alasan seseorang pernah berusaha menjatuhkannya.

Setelah sesi kompetisi berakhir, Arga menerima pesan dari Rendy.

Temui aku di ruang tunggu belakang. Ada hal tentang ayahku yang perlu kamu ketahui.

Arga segera menuju tempat yang dimaksud.

Rendy sudah menunggu di dekat jendela. Wajahnya terlihat tegang.

“Ada apa?”

Rendy mengeluarkan sebuah dokumen yang dilipat rapi.

“Ayahku mendapat surat dari perusahaan induk Nusantara Precision Systems. Mereka meminta konfirmasi mengenai keterlibatannya dalam komite pengawasan ARX-9.”

“Apakah dia sudah menjawab?”

“Belum. Dia meminta bantuan bagian hukum perusahaannya untuk memastikan jawaban yang diberikan sesuai dokumen yang benar-benar dia miliki.”

Arga mengangguk.

“Itu langkah yang tepat.”

Rendy kemudian menunjukkan halaman kedua.

“Di sini ada daftar orang yang akan dimintai keterangan jika pemeriksaan arsip dilanjutkan.”

Arga membaca nama-nama yang tercantum.

Gunawan Wiratama.

Marcus Hale.

Adrian Voss.

Hendra Mahardika.

Dan satu nama yang baru muncul dalam daftar tersebut.

Raka Wibisono.

Arga menatap Rendy.

“Dari mana daftar ini berasal?”

“Surat resmi perusahaan. Daftar itu belum berarti mereka dituduh melakukan sesuatu. Mereka hanya diminta membantu mengklarifikasi dokumen lama.”

“Bagus. Kita harus menjaga perbedaan itu.”

Rendy memasukkan kembali surat tersebut ke dalam map.

“Ada sesuatu yang membuatku tidak nyaman. Ayahku mengatakan bahwa ketika komite menyetujui ringkasan evaluasi, ia mengira seluruh keberatan teknis sudah dimasukkan dalam lampiran. Dia tidak pernah melihat dokumen keselamatan awal yang kamu ceritakan.”

“Apakah dia punya bukti tentang itu?”

“Dia sedang mencari notulen dan catatan rapat. Dia tidak mau hanya mengandalkan ingatannya.”

Arga mengangguk.

Untuk pertama kalinya, ia melihat bahwa Rendy mulai memahami penyelidikan ini dengan cara yang sama seperti dirinya.

Mereka tidak bisa menggantikan bukti dengan keyakinan, sekalipun keyakinan itu terasa benar.

“Terima kasih sudah memberitahuku,” kata Arga.

Rendy mengangguk.

“Aku masih ingin mengalahkanmu dalam kompetisi.”

“Aku tahu.”

“Tapi aku tidak ingin menang karena seseorang memalsukan hasil atau menyembunyikan kebenaran.”

Arga mengulurkan tangan.

“Kalau begitu, kita punya satu tujuan yang sama.”

Rendy menjabat tangannya.

Persaingan mereka belum berakhir, tetapi hubungan di antara keduanya telah berubah. Rendy tidak lagi sekadar melihat Arga sebagai mekanik bengkel kecil yang harus dipermalukan.

Ia mulai melihatnya sebagai seseorang yang layak dihadapi secara langsung.

Malam harinya, Arga duduk bersama Nadia, Fajar, dan Kevin dalam pertemuan singkat melalui sambungan video.

Mereka menyepakati langkah selanjutnya: meminta perusahaan melakukan audit resmi atas inventaris SR-04, memeriksa daftar personel ARX-9, serta mencari catatan yang dapat menjelaskan status Raka Wibisono.

Mereka juga sepakat untuk tidak menyebarkan foto ruang kendali sebelum asal-usulnya terverifikasi.

“Kalau foto itu asli, mungkin ada informasi penting di dalamnya,” kata Fajar. “Tapi kalau sudah diedit, kita bisa salah membaca situasi.”

“Benar,” jawab Arga. “Kita perlu menemukan versi aslinya atau setidaknya sumber yang dapat mengonfirmasi keasliannya.”

Kevin mengangkat tangan.

“Aku akan mencari catatan serah terima dokumentasi. Jika Raka benar-benar mengundurkan diri, seharusnya ada dokumen administrasi yang berkaitan dengan pengakhiran tugasnya.”

Nadia menambahkan, “Aku akan memeriksa jalur permintaan akses dan riwayat revisi dokumen. Semuanya harus melalui kewenangan yang sah.”

Fajar menyanggupi untuk menghubungi Ratih Wulandari.

Arga sendiri akan berbicara dengan Pak Darto lagi mengenai nomor lama Raka, tetapi hanya setelah memastikan bahwa nomor itu tidak digunakan oleh orang lain.

Rencana mereka sederhana, tetapi terarah.

Tidak ada yang akan bertindak sendirian.

Tidak ada yang akan mengambil dokumen secara diam-diam.

Dan tidak ada yang akan menuduh seseorang hanya karena namanya muncul dalam arsip.

Setelah pertemuan selesai, Arga membuka kembali foto ruang kendali.

Ia memperbesar bagian yang menampilkan pria berkemeja gelap. Wajahnya tetap tidak terlihat. Namun, ada detail kecil yang sebelumnya terlewatkan.

Pada lengan pria itu, terdapat tanda berbentuk segitiga dengan satu garis melintang.

Arga teringat pernah melihat tanda serupa pada dokumen lama yang berkaitan dengan tim integrasi sistem.

Ia segera membuka folder catatannya dan mencari foto dokumen tersebut.

Beberapa menit kemudian, ia menemukan gambar sebuah kartu identitas teknis.

Di bawah simbol segitiga, tertulis:

INTEGRATION OVERSIGHT — LEVEL E.

Arga merasakan ketegangan menjalar di dadanya.

Ia belum tahu siapa yang mengenakan tanda tersebut dalam foto. Ia juga belum tahu apakah kartu itu benar-benar berkaitan dengan sistem akses yang digunakan pada malam pengujian.

Namun, simbol itu bukan lagi sekadar detail yang tidak berarti.

Ia bisa menjadi petunjuk untuk menemukan kelompok yang memiliki kewenangan atas ruang kendali ARX-9.

Arga hendak mengirim gambar tersebut kepada Nadia ketika sebuah panggilan masuk dari nomor yang tidak dikenal.

Kali ini, ia mengaktifkan perekaman melalui fitur resmi ponselnya dan mengangkat telepon.

“Arga Pratama,” katanya.

Suara laki-laki terdengar dari seberang.

“Aku mendengar kamu masih mencari Raka.”

“Siapa ini?”

“Orang yang tahu mengapa namanya dihapus dari laporan.”

Arga menegakkan punggung.

“Kalau Anda punya informasi, sampaikan melalui jalur yang bisa diverifikasi.”

Terdengar tawa pendek.

“Kamu masih sama seperti dulu. Selalu ingin semuanya tercatat.”

“Karena lima tahun lalu, sesuatu yang tidak tercatat telah menghancurkan hidupku.”

Hening.

Kemudian suara itu kembali terdengar, kali ini lebih pelan.

“Kalau begitu, dengarkan baik-baik. Raka tidak menghilang setelah laporan final diterbitkan. Dia sudah tidak terlihat sejak malam sebelum laporan itu disahkan.”

Arga terdiam.

“Apakah Anda punya bukti?”

“Ada.”

“Di mana?”

“Bukan di kotak SR-04.”

“Lalu di mana?”

Sebelum orang itu menjawab, terdengar suara pintu terbuka dari seberang sambungan.

Suara laki-laki lain memanggil sebuah nama.

“Pak Wibisono?”

Orang yang menelepon Arga mendadak diam.

Arga langsung mendekatkan ponsel ke telinga.

“Siapa yang baru saja Anda panggil?”

Tidak ada jawaban.

“Apakah Anda Raka Wibisono?”

Sambungan terputus.

Arga segera mencoba menelepon kembali, tetapi panggilan tidak tersambung.

Ia duduk diam beberapa saat, menatap layar ponselnya.

Untuk pertama kalinya, ia memiliki alasan untuk mempertimbangkan bahwa Raka mungkin masih hidup. Namun, panggilan itu belum membuktikan siapa peneleponnya, apalagi kebenaran informasi yang disampaikan.

Arga menyimpan rekaman percakapan tersebut, membuat salinan cadangan, lalu mengirimkan pemberitahuan kepada Nadia bahwa mereka mungkin telah menerima petunjuk baru.

Setelah itu, ia membuka buku catatan lama dan menatap inisial R.W.

Ia tidak lagi melihatnya sekadar sebagai dua huruf yang membingungkan.

Kini, di balik inisial itu, mungkin ada seseorang yang mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada malam pengujian ARX-9.

Seseorang yang selama lima tahun tidak pernah muncul dalam cerita resmi.

Dan seseorang yang mungkin sedang berusaha menghubunginya tanpa berani menyebutkan namanya.

Di tempat lain, seorang pria berdiri di depan jendela sebuah kamar kecil. Di tangannya terdapat ponsel yang baru saja ia gunakan untuk menelepon Arga.

Ia menatap kartu identitas lama di atas meja.

Foto pada kartu itu memperlihatkan wajahnya dengan jelas.

RAKA WIBISONO.

Pria itu mengambil kartu tersebut, memasukkannya ke dalam laci, lalu menguncinya.

Ponselnya kembali bergetar.

Sebuah pesan singkat muncul di layar.

Kami tahu Anda telah menghubungi Arga Pratama. Jangan ulangi kesalahan lima tahun lalu.

Raka memandang pesan itu lama sekali.

Kemudian ia mengetik satu kalimat, tetapi tidak mengirimkannya.

Aku tidak akan membiarkan mereka menghapus kebenaran untuk kedua kalinya.

Ia menghapus tulisan tersebut, mematikan ponselnya, dan membuka sebuah map yang tersembunyi di bawah tumpukan dokumen.

Di dalamnya terdapat satu lembar laporan keselamatan awal ARX-9.

Pada bagian bawah laporan itu, ada tiga tanda tangan.

Dua di antaranya sudah dikenal Arga.

Tanda tangan ketiga berasal dari seseorang yang selama ini dianggap tidak pernah terlibat dalam pengambilan keputusan malam itu.

Dan di samping tanda tangan tersebut, terdapat sebuah catatan pendek:

PERINTAH PENGHENTIAN DITOLAK — ATAS INSTRUKSI LANGSUNG DIREKTUR PENGAWASAN.

Raka menutup map itu dengan tangan gemetar.

Lima tahun telah berlalu.

Namun, kebenaran yang disimpannya masih mampu menghancurkan banyak kehidupan.

Bersambung.

1
Rahmat Agung
🙏
Supendi Supendi
lanjut dan semangat terus thor💪
Supendi Supendi
semoga jalan ceritanya semakin menarik dan tidak membosankan🤣
Supendi Supendi
menarik thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!