NovelToon NovelToon
Putri Yang Dibuang

Putri Yang Dibuang

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Balas Dendam / Diam-Diam Cinta
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: NisfiDA

Bisu, tuli, dan dianggap aib keluarga. Amara diperlakukan lebih buruk dari hewan di mansionnya sendiri. Puncaknya, ia dibuang ke halaman belakang yang dingin membeku tanpa diberi makan sedikit pun saat pesta bisnis ayahnya berlangsung.

​Di tengah keputusasaannya, muncul Gabriel—CEO muda paling ditakuti dengan tato bunga mawar di lehernya.
​Melihat Amara yang terkulai lemas menahan lapar, pria dingin itu melepaskan jasnya dan merangkul sang gadis.

​"Mulai malam ini, siapa pun yang menyakitimu... akan kuhancurkan."

​Ketika sang Putri yang Dibuang dilindungi oleh Pria Paling Berkuasa, pembalasan dendam pun dimulai!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NisfiDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pagi Pertama

"Astaga, aku kesiangan," gumam Amara pelan dengan suara seraknya, mencoba bangun dari tidurnya dengan tergesa-gesa karena sinar matahari sudah menerobos masuk melalui celah tirai kamar.

Namun, gerakan kecilnya mendadak terhenti begitu ia merasakan sepasang lengan besar dan kokoh melingkar erat di perutnya, menarik tubuhnya kembali ke dalam dekapan hangat yang begitu familier.

"E-eh..." cicit Amara tertahan, napasnya seketika tercekat.

Ia menunduk perlahan. Di balik selimut tebal berbahan sutra itu, ia mendapati dirinya berada dalam pelukan Gabriel. Pria itu masih memejamkan mata, tidur dengan wajah damai yang jarang sekali terlihat saat ia sedang terjaga—garis wajahnya tampak jauh lebih lembut, tanpa raut dingin atau intimidatif yang biasa ia tunjukkan pada dunia luar.

Gabriel mengeratkan dekapannya sedikit, lalu membuka matanya perlahan. Manik mata hitam itu langsung menatap lurus ke arah Amara dengan tatapan penuh kehangatan di pagi hari.

"Mau ke mana, Hm?" tanya Gabriel dengan suara serak khas bangun tidur, terdengar begitu dalam dan menggoda di telinga Amara.

Pipi Amara langsung merona merah padam hingga menjalar ke lehernya. Ia menggeleng pelan, merasa salah tingkah karena jarak wajah mereka yang begitu dekat.

‘A-aku... aku pikir aku kesiangan. Ini sudah pagi, dan aku harus bangun,’ tulis Amara terburu-buru di buku catatannya yang berada di nakas, lalu memperlihatkannya dengan tangan yang sedikit bergetar.

Gabriel terkekeh pelan—sebuah tawa renyah yang membuat dada bidangnya bergetar, dan getaran itu dirasakan langsung oleh punggung Amara.

"Kesiangan?" ulang Gabriel sambil mengangkat sebelah alisnya. Pria itu menaikkan selimutnya sedikit lagi untuk merapikannya. "Hari ini hari libur kita, istriku. Tidak ada jadwal ke kantor, tidak ada rapat. Jadi, kau tidak perlu terburu-buru bangun."

Mendengar kata 'istriku' yang diucapkan begitu santai namun penuh penegasan oleh Gabriel, jantung Amara kembali berdegup kencang tak karuan.

"Lagipula..." bisik Gabriel, mendekatkan wajahnya hingga hidung mereka nyaris bersentuhan, "...aku ingin menikmati pagi ini lebih lama bersamamu. Tanpa gangguan dari siapapun."

Amara menatap Gabriel dengan wajah bingung, manik matanya mengerjap beberapa kali karena masih merasa apa yang terjadi semalam begitu mirip dengan mimpi indah yang terlalu sempurna untuk menjadi nyata.

Gabriel menyadari keterkejutan di wajah istrinya. Pria itu tersenyum tipis, lalu menaikkan sebelah alisnya dengan tatapan menggoda.

"Jangan bilang kamu lupa bahwa tadi malam kita sudah resmi menjadi suami istri?" tanya Gabriel lembut, sengaja memperjelas gerak bibirnya agar Amara dapat menangkap setiap kata dengan sempurna.

Mendengar pertanyaan itu, pipi Amara langsung merona merah hingga ke ujung telinga. Ingatan tentang prosesi sakral di aula privat, cincin mawar hitam di jari manisnya, hingga ciuman hangat Gabriel seketika berkelebat di kepalanya.

‘B-bukan lupa...’ tulis Amara cepat di buku catatannya dengan jemari yang gemetar karena salah tingkah, lalu menyodorkannya ke hadapan Gabriel. ‘Hanya saja... semuanya terasa begitu cepat. Aku... aku masih merasa ini mimpi.’

Gabriel membaca tulisan itu dalam diam. Senyuman di wajahnya memudar, digantikan oleh sorot mata yang dipenuhi ketulusan mutlak.

Ia melepaskan satu tangannya dari perut Amara, lalu menggunakannya untuk menangkup pipi lembut gadis itu dengan sangat hati-hati.

"Ini bukan mimpi, Amara," bisik Gabriel penuh penegasan, ibu jarinya mengusap lembut kulit pipi istrinya. "Kau benar-benar milikku, dan aku benar-benar suamimu. Mulai sekarang, selamanya."

Amara menatap lekat manik mata hitam Gabriel. Air mata haru yang hangat tiba-tiba menggenang di pelupuk matanya—bukan air mata kesedihan seperti dulu, melainkan air mata kebahagiaan yang teramat sangat.

"Ga-briel..." panggil Amara pelan, melatih suaranya sendiri tanpa bantuan buku catatan.

Mendengar namanya disebut dengan suara serak yang begitu manis dari bibir Amara, senyuman lebar kembali terkembang di wajah Gabriel. Pria itu tampak begitu terpukau.

"Ya, istriku?" sahut Gabriel lembut. "Ada apa?"

Amara menggeleng pelan, lalu memberanikan diri mendekatkan wajahnya sedikit dan menyandarkan keningnya di dada bidang Gabriel.

"Terima kasih..." bisiknya tulus, suaranya terdengar begitu rapuh namun sarat akan kelegaan.

Gabriel mengeratkan dekapannya, mengecup puncak kepala Amara dengan penuh kasih sayang.

"Sama-sama, sayang. Sekarang, tidurlah kembali dalam pelukanku. Hari ini kita tidak akan kemana-mana."

​"T-t-tapi, a-a-aku l-lapar," ucap Amara terbata-bata. Suaranya terdengar sangat pelan, malu-malu, sekaligus menyiratkan rasa canggung karena ia tidak biasa bermanja-manja seperti ini.

​Mendengar pengakuan malu-malu itu, Gabriel tertegun sejenak sebelum akhirnya tertawa pelan.

Tawa renyah yang terdengar begitu hangat di telinga Amara, menghapus sisa-sisa rasa canggung yang sempat menyelimuti udara pagi di kamar itu.

​Gabriel melepaskan dekapannya secara perlahan, membuat Amara merasakan sedikit kehilangan sebelum akhirnya Gabriel mengubah posisinya menjadi duduk bersandar di kepala ranjang. Pria itu menunduk, menatap wajah Amara yang masih merona merah dengan tatapan penuh memuja.

​"Ah, benar juga," gumam Gabriel lembut. "Kalau begitu, kita tidak boleh membuat ratu kecilku kelaparan di hari pertama kita sebagai suami istri."

‘T-tapi... aku belum cuci muka, dan aku malu kalau harus turun dalam keadaan seperti ini,’ tulis Amara cepat di buku catatannya dengan jemari yang masih bergetar, lalu memperlihatkannya pada Gabriel sambil menarik selimut sedikit lebih tinggi untuk menutupi wajahnya yang sudah semerah kepiting rebus.

Gabriel terkekeh geli melihat tingkah istrinya yang salah tingkah. Pria berbadan tegap itu mencondongkan tubuhnya, dengan lembut menarik turun selimut yang menutupi wajah Amara agar ia bisa melihat mata indah gadis itu dengan jelas.

"Kenapa harus malu?" tanya Gabriel dengan nada menggoda, sebelah alisnya terangkat naik. "Tidak ada yang perlu disembunyikan dariku, Amara. Lagipula, kau tetap terlihat sangat cantik di mataku, bahkan saat baru bangun tidur seperti ini."

Mendengar pujian blak-blakan itu, jantung Amara

berdegup semakin kencang. Ia menggigit bibir bawahnya, merasa sekujur tubuhnya meleleh oleh kehangatan tatapan sang suami.

Melihat Amara yang hanya bisa menunduk pasrah karena tidak bisa membantah lagi, Gabriel mengulurkan tangannya untuk mengusap puncak kepala istrinya dengan penuh sayang.

"Baiklah, kompromi," ucap Gabriel lembut. "Aku akan turun duluan ke bawah untuk meminta Bik Sum menyiapkan air hangat dan makanan ringan untukmu. Kau bisa mandi dan bersiap-siap dengan tenang di sini. Tapi ingat, jangan lama-lama, atau aku akan naik lagi dan menyeretmu ke bawah."

Amara mendongak, mengerjap cepat mendengar ancaman setengah bercanda itu, lalu menganggukkan kepalanya pelan dengan pipi yang masih merona.

Gabriel tersenyum puas. Ia mengecup sekilas kening Amara sebelum akhirnya bangkit dari ranjang, mengenakan jubah mandinya, dan melangkah keluar kamar meninggalkan keheningan yang kini terasa begitu manis bagi sang istri.

1
Rahmat
ayah dan ibu tiri lucknat masih gak nyadar y di penjara baru tau rass ciuh😠
Rahmat
bahagiax jd istri moga sukses ritualx🤭
Rahmat
lanjut thor
Rahmat
saking traumax sering dpt kekerasan fisik dan hinaan mpai suarax pun tdk kedengaran
Rahmat
lanjut thour ceritax bagus
Iffanaya 😽
belum sah ya Gabriel udah di klaim jd istri 🤣🤣
Soraya
lanjut
Fitria Syafei
semangat KK 👌 KK cantik kereen 😍 kereen 😍
Soraya
mampir thor lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!