Ning sopiah
Aku adalah santri Alumni Pesantren Darunajjah yang sudah lulus S1 Ilmu Tafsir Hadis.
Dulu aku adalah santai yang aktif dan cerdas di pesantren, Kiayi Kholil Pendiri dan Pemilik Pesantren sering menyebut ku ini calon mantu... tapi aku selalu tidak menghiraukan beliau, aku anggap itu candaan.
Empat tahun sudah berlalu setelah aku selesai S1, tiba-tiba aku diminta untuk kembali ke Pesantren.
Aku kaget Kiayi Kholil telah meninggal 3 tahun yang lalu dan di teruskan oleh Anak nya Gus Azam yang aku pun tak pernah bertemu, karena sewaktu aku mondok gus azam kuliah di Kairo Mesir....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurelia Sadewa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari H Akad
Jam 5 pagi, Pesantren Darunnajah sudah tidak tidur.
Adzan subuh baru selesai, tapi aula utama sudah wangi mawar putih. 500 tangkai yang diminta Ning Sopia kemarin, kini berdiri tegak di setiap sudut. Putih, hijau, bersih. Seperti permintaan Abah Yai.
Di ndalem putri, suasana paling haru.
Ning Sopia duduk di depan cermin. Hari ini kebayanya berbeda. Bukan kebaya Jawa seperti fitting kemarin. Hari ini, sesuai permintaan Ibu, akad akan menggunakan adat Sunda.
Kebaya putih tulang dengan bordir mawar putih yang menjuntai halus di lengan panjang, rok batik Sunda coklat keemasan yang menjuntai panjang menyapu lantai, kerudung putih syar'i yang dirapikan, dan di atasnya - siger Sunda keemasan yang anggun, tidak terlalu tinggi, bertabur kristal kecil, melingkar sempurna di dahinya. Cantiknya bukan main. Anggun, agung, tapi tetap syar'i.
Ning Ummah yang melihat langsung terdiam. "Ya Allah... Pi..."
Ning Latifah menutup mulutnya. "Cantiknya... Sopia... kayak putri Sunda beneran..."
Ning Sopia menunduk, air matanya sudah jatuh merusak bulu matanya. "Mbak... Sopia takut sigernya miring..."
"Enggak, sayang, enggak miring. Pas. Kamu pas banget," bisik Ibu Sopiah yang sejak tadi malam datang jam 23.00 bersama A Hafidz. Ibu Sopiah berdiri di belakangnya, dengan mukena yang masih dilipat di tangan, matanya sembab karena menangis semalaman di perjalanan dari stasiun.
Ibu Sopiah memeluk Sopia dari belakang, mencium siger putrinya itu. "Anak Ibu... akhirnya... Ibu ridho, nduk. Ibu ridho sekali. Abah Yai pasti ridho juga kalau lihat kamu pakai siger begini. Cantik seperti Umi dulu waktu nikah."
Sopia berbalik dan memeluk Ibunya erat. "Ibu... makasih udah dateng... Sopia kira Ibu gak dateng..."
"Ibu naik kereta paling malam, nduk. Demi kamu, Ibu jalan kaki juga mau. Apalagi ini Darunnajah, pesantren Abah Yai yang selalu Ibu doakan," jawab Ibu sambil mengusap rok menjuntai Sopia yang panjang itu.
Di pintu ndalem, A Hafidz berdiri canggung. Tidak berani masuk. Dia hanya membawa rantang ayam goreng kesukaan Sopia yang masih hangat sejak semalam.
"A Hafidz..." Sopia memanggil.
A Hafidz masuk, menunduk, lalu menyodorkan rantang itu ke Ning Ummah. "Mbak Ummah, titip... buat Sopia, biar gak gemetar pas akad. Dia kalau gugup gak makan."
Ning Ummah menerima dengan haru. "Hafidz ini kakak paling siaga. Sini, duduk."
Tapi A Hafidz tidak duduk. Dia menatap adiknya yang sudah seperti ratu Sunda itu.
"Pi, nanti pas akad jangan nangis terus ya, nanti sigernya luntur," goda A Hafidz dengan suara bergetar.
Sopia tertawa sambil nangis. "A Hafidz jahat..."
Jam 08.00, akad dimulai di Masjid Darunnajah.
Masjid penuh. 1000 santri duduk bersila. Umi duduk di shaf paling depan bersama Ibu Sopiah, Ning Ummah, dan Ning Latifah. Mereka bertiga - istri 1 dan istri 2 Guz Azam - duduk berdampingan, menggenggam tangan saling menguatkan, menatap suami mereka yang akan menikah lagi. Tidak ada cemburu yang terlihat, yang ada hanya doa yang sama: semoga sah.
Guz Azam duduk di depan Paman Kyai dengan beskap hitam beludru Sunda, iket Sunda keemasan di kepalanya, gagah. Tapi tangannya dingin lagi. Di sampingnya, A Hafidz duduk sebagai saksi keluarga Sopia.
Paman Kyai membuka dengan Al-Fatihah. Pertama untuk Abah Yai dan Guz Faiz, yang membuat seisi masjid terdiam dan mengaminkan dengan isak.
"Al-Fatihah untuk guru kita, Abah Yai Darunnajah dan Guz Faiz, yang telah mendahului kita, semoga mereka menyaksikan hari bahagia ini dari surga."
Guz Azam menunduk, air matanya jatuh.
Lalu Paman Kyai menatap Guz Azam. "Guz Azam bin Kyai Kholil, siap?"
Guz Azam menarik napas. Matanya mencari. Dari balik tirai masjid, terlihat bayangan siger Sunda dan kebaya putih. Ning Sopia mengangguk kencang, seperti janjinya.
"Saya terima nikahnya Sopia binti Kyai Hasan dengan mahar kitab kuning tulisan tangan Abah Yai, seperangkat alat sholat, dan cincin emas 2 gram dibayar tunai."
Lantang. Jelas. Sekali napas. Sah!
"SAH!" teriak para saksi.
Seisi masjid Darunnajah gemuruh takbir. "Allahu Akbar!"
Di ndalem, Ning Sopia langsung sujud syukur dengan sigernya masih terpasang. Ibu Sopiah memeluknya, Ning Ummah dan Ning Latifah ikut memeluk dari kiri kanan.
"Sah, Pi... kamu sudah halal... sudah jadi istri Guz Azam," bisik Ning Ummah dengan air mata.
"Selamat ya adikku," bisik Ning Latifah.
Di masjid, Guz Azam sujud syukur lama sekali. Saat bangun, A Hafidz memeluknya.
"Guz, titip adik saya ya, jangan dibikin nangis, kalau nangis biar nangis bahagia aja," bisik A Hafidz mengulang pesan semalam.
Guz Azam mengangguk, memeluk balik. "InsyaAllah, saya jaga dia seperti Abah Yai jaga Darunnajah, seperti saya jaga Ummah dan Latifah."
Siang harinya, resepsi adat Jawa Timur dimulai di Aula Darunnajah.
Ning Sopia ganti baju. Siger Sunda dilepas, diganti kebaya Jawa Timur putih dengan kerudung putih menjuntai panjang tanpa siger, rok tetap menjuntai anggun. Lebih sederhana, lebih Darunnajah. Guz Azam ganti beskap Jawa Timuran.
Mereka duduk di pelaminan bersama. Di kiri kanannya, Ning Ummah dan Ning Latifah duduk mendampingi sebagai kakak. Umi dan Ibu Sopiah duduk di depan sebagai orang tua.
Saat sesi sungkeman, Ning Sopia bersimpuh di depan Ibu Sopiah, lalu Umi, lalu Ning Ummah, lalu Ning Latifah.
"Ning Ummah, Ning Latifah... Sopia minta ridho... Sopia minta diajarin jadi istri yang baik seperti kalian..."
Ning Ummah menarik Sopia berdiri dan memeluknya erat di atas pelaminan. "Kami ridho, Pi. Ridho dunia akhirat. Mulai hari ini Darunnajah punya tiga bidadari."
Seisi aula menangis. Para santri putri yang melihat dari belakang ikut menangis. Inilah pernikahan yang paling diridhoi Abah Yai. Pernikahan yang rukun, tanpa air mata iri, hanya ada air mata bahagia dan Al-Fatihah untuk yang sudah wafat.
Dan di atas pelaminan, dengan rok kebaya yang menjuntai indah, siger Sunda yang tadi sudah disimpan rapi oleh Ibu, dan doa 1000 santri Darunnajah, Ning Sopia akhirnya resmi menjadi bagian dari Darunnajah selamanya.
---Bersambung---