NovelToon NovelToon
STORY/ The Wandering Witch Serena

STORY/ The Wandering Witch Serena

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:56
Nilai: 5
Nama Author: Rizz the writter

Seri ini adalah lanjutan dari novel Story/the wandering witch Serena.

——Di dunia bernama Cardinal.

Seorang gadis bernama Serena tinggal di kota Wistoria. Ia bercita-cita menjadi penyihir pengembara yang dikenal banyak orang, namun setiap perjalanan tidak selalu membawa kebahagiaan.

Di balik dunia yang indah, terdapat berbagai konflik, misteri, dan kisah yang perlahan mengubah perjalanan Serena.

Inilah kisah perjalanan seorang penyihir muda dalam menemukan arti dari dunia yang ia tinggali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizz the writter, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

—CHAPTER 12—

Pagi harinya.

Kael berada di dalam istana kerajaan bersama beberapa jenderal lainnya. Peta wilayah Asteria terbentang di atas meja, dipenuhi tanda-tanda merah yang menunjukkan posisi pasukan Gracia.

Victor mengangkat kepalanya dari laporan yang sedang ia baca.

"Situasi semakin buruk. Kita membutuhkan bantuan sekarang juga."

"Jadi? Kita meminta bantuan kepada siapa? Thyrion?"

Kael menatap peta di hadapannya sebelum kembali mengangkat pandangan kepada Victor.

"Ya. Kita akan pergi ke sana."

Victor berdiri.

"Karena itu, aku membutuhkan seseorang yang bisa menteleportasikanku langsung menuju istana Thyrion."

"Kalau begitu, aku bisa mengantarkanmu ke sana dengan cepat."

Rui maju selangkah.

Victor mengangguk.

"Baik. Kalau begitu, kita bersiap."

Ia kemudian mengalihkan pandangannya kepada Kael.

"Kael, jalankan rencana pertama di Sirius. Perkuat pertahanan pangkalan militer di sana dan terus kirim pasukan bantuan ke kota-kota lainnya."

"Baik. Akan kulaksanakan."

Victor kembali menatap Rui.

"Rui! Kita bergerak sekarang."

"Baik!"

Rui segera mendekati Victor. Ia mengangkat tangannya dan mulai melafalkan mantra.

Seketika, sebuah lingkaran sihir berwarna biru muncul di bawah kaki mereka.

Lingkaran itu berputar perlahan.

Kemudian semakin cepat.

Cahaya biru muda memenuhi seluruh ruangan hingga sosok Victor dan Rui hampir tak terlihat.

Beberapa detik kemudian, cahaya tersebut mereda.

Keduanya telah menghilang.

Kael menarik napas pendek.

"Baiklah. Kita bergerak sekarang."

◇◇◇

Di sisi lain benua, jauh dari hiruk-pikuk peperangan yang tengah berkecamuk di Gracia, sebuah ruangan luas berdiri dalam keheningan.

Ruangan tersebut merupakan salah satu bagian dari istana Thyrion.

Berbeda dengan wilayah-wilayah lain yang dipenuhi aktivitas militer, tempat ini justru terasa tenang. Cahaya matahari pagi menembus jendela-jendela tinggi, jatuh di atas lantai marmer dan meja panjang yang berada di tengah ruangan.

Di ujung meja, seseorang duduk seorang diri.

Ryuno Thyrion.

Ia tidak mengenakan pakaian perang maupun perlengkapan tempur. Hanya pakaian hitam bercorak emas tanpa lengan yang terbuka di bagian depan, dipadukan dengan celana putih dan sehelai kain merah yang menjuntai hingga menyentuh lantai.

Rambut cokelat keemasannya dihiasi beberapa helai merah. Di atas kepalanya terpasang mahkota kain yang dilapisi permata-permata mahal.

Penampilannya sama sekali tidak menunjukkan bahwa dunia sedang berada di ambang perang besar.

Namun, tumpukan dokumen di hadapannya mengatakan sebaliknya.

Ryuno membaca salah satu laporan dengan tenang.

Kemudian—

Sebuah lingkaran sihir berwarna biru muncul di tengah ruangan.

Cahaya biru menyebar di atas lantai.

Ryuno mengangkat pandangannya.

Dua sosok muncul dari dalam lingkaran tersebut.

Victor dan Rui.

Begitu cahaya teleportasi menghilang, Victor langsung melangkah maju.

"Ryuno."

Ryuno menutup dokumen di tangannya.

"Victor."

Tatapan keduanya bertemu.

Tidak ada basa-basi.

Victor berjalan menuju meja dan meletakkan beberapa dokumen di atasnya.

"Kami datang untuk meminta bantuan."

Ryuno melirik tumpukan dokumen tersebut.

"Maksudmu mengenai Gracia?"

Nada suaranya tetap tenang, bahkan santai.

"Ya."

Victor menarik kursi lalu duduk.

"Situasinya semakin buruk. Pertahanan kami terus ditekan dari beberapa arah sekaligus. Kalau keadaan ini berlanjut, beberapa kota akan jatuh sebelum pasukan bantuan tiba."

Ryuno tidak langsung menjawab.

Victor melanjutkan.

"Kami membutuhkan pasukan dan teknologi transportasi Thyrion untuk mempercepat jalur logistik."

Ruangan kembali hening.

Rui berdiri beberapa langkah di belakang Victor, sementara Ryuno perlahan menyandarkan tubuhnya pada kursi.

"Berapa banyak?"

"Sebanyak yang bisa kau kirim."

Jawaban Victor terdengar tegas.

Ryuno menatapnya selama beberapa detik.

"Banyak juga."

Ia mengambil salah satu dokumen.

"Tapi tak apa. Akan kubantu sebisaku."

"Terima kasih banyak jika Anda bersedia membantu."

Ryuno membaca dokumen tersebut sekilas.

"Seberapa jauh Gracia telah maju?"

Ia membalik halaman berikutnya.

"Dan selama delapan bulan terakhir, seberapa kuat mereka?"

Victor menatap dokumen di tangannya sebelum kembali menatap Ryuno.

"Dalam delapan bulan terakhir, mereka mulai menyerang dengan kekuatan penuh. Bisa dibilang mereka telah mengerahkan hampir seluruh pasukan mereka untuk menyerang."

Victor berhenti sejenak.

"Dan kalau perang ini berkembang lebih jauh, mereka tidak akan berhenti di Asteria saja."

"Aku juga tahu."

Ryuno meletakkan dokumen itu kembali ke meja.

"Kalau begitu, akan kuberikan lima ratus pasukan tambahan."

Senyum percaya diri muncul di wajahnya.

"Dan satu orang yang paling kau butuhkan saat ini."

Mata merah Ryuno berbinar, memperlihatkan sedikit kesombongan yang nyaris tidak ia sembunyikan.

Victor menatapnya tanpa menghindar.

"Benarkah? Siapa orang itu?"

Ryuno berdiri dari kursinya.

"Shiro!"

Suaranya menggema di seluruh ruangan.

"Masuklah. Aku punya tugas untukmu."

SRR...

Sebuah lingkaran sihir muncul di lantai.

Cahaya biru keputihan berputar di dalamnya.

Dari balik cahaya tersebut, muncul seorang pria berambut putih. Ia mengenakan kemeja putih yang ditutupi long coat hitam selutut, serta celana abu-abu.

Shiro berjalan menuju meja dengan tatapan datar.

"Maksudmu aku harus menjadi kurir yang mengantarkan seluruh pasukan ke medan perang?"

"Benar sekali."

Ryuno tersenyum.

"Tunjukkan bakatmu itu. Tidak semua orang memiliki kemampuan teleportasi dengan jangkauan seluas milikmu."

"Baiklah. Kapan aku harus pergi?"

"Sekarang."

Ryuno menunjuk ke arah Victor.

"Letnan Daniel pasti sudah menyiapkan sekitar lima ratus pasukan. Bawa mereka semua ke Asteria. Setelah itu, kau, Victor, kembali bersama Rui."

Shiro menghela napas kecil.

Ryuno kemudian menunjuk Victor dengan ibu jarinya. Sarung tangan yang melapisi tangannya memantulkan cahaya keemasan.

"Jadi..."

Senyumnya melebar.

"Apa yang akan kau berikan sebagai bayaran atas peminjaman pasukan dan kartu AS milikku?"

Victor terdiam sebentar.

"Utang, ya..."

Ia berpikir sejenak.

"Baik. Kami akan menggratiskan pajak dari jalur perdagangan Asteria untuk negara Anda."

Ryuno terdiam.

Kemudian—

"Kh..."

Bahu Ryuno mulai bergetar.

"KHAHAHAHA!"

Ia tertawa lepas.

"Bercanda. Bercanda. Tidak perlu."

Ryuno mengibaskan tangannya.

"Aku memberikan bantuan ini dengan ikhlas. Lagi pula, bantuan sebesar ini juga tidak akan membuatku rugi."

Semua orang di ruangan itu hanya terdiam.

Victor bahkan hanya mampu menatap Ryuno dengan ekspresi bingung.

"Sudah!"

Ryuno menunjuk ke arah pintu.

"Pergi sana. Selesaikan konflik saudara di negaramu dulu. Baru setelah itu berterima kasih."

Victor dan Rui hanya mengangguk.

Sesaat kemudian, lingkaran sihir kembali terbentuk.

Cahaya biru memenuhi ruangan.

Victor dan Rui menghilang dari hadapan Ryuno.

Shiro pun mulai bergerak.

Tidak lama kemudian, pasukan bantuan Thyrion yang berjumlah lima ratus orang dipindahkan menuju garis timur Asteria.

◇◇◇

Beberapa menit kemudian.

Ryuno berdiri sendirian di balkon istana.

Angin pagi berhembus melewati rambut cokelat keemasannya.

Ia menatap langit biru yang terbentang luas di hadapannya.

"Sepertinya perang mereka akan berakhir sebentar lagi."

Senyum tipis terukir di wajahnya.

"Kutunggu kabar gembira darimu, rekanku."

Ryuno kemudian menoleh.

Tatapannya berhenti pada sesuatu yang seharusnya tidak berada di sana.

Sesuatu yang tidak dapat dilihat oleh manusia biasa.

Ia menghela napas.

"Apa yang masih kau lakukan di sini?"

Ryuno menyilangkan tangannya.

"'Narator', pergilah."

Ia menunjuk ke arah medan perang yang jauh.

"Visualisasikan perang di Asteria. Untuk apa malah berdiri di sini?"

Senyumnya kembali muncul.

"Mereka akan menang, loh."

Ryuno terkekeh kecil.

"Akan sangat rugi kalau pembaca tidak bisa menikmati ceritanya."

◇◇◇

Beberapa menit sebelumnya, ketika Victor sedang bernegosiasi dengan Ryuno—

Kael berada di garis pertahanan Sirius.

Ia hendak menuju Victoria untuk menyampaikan informasi kepada pasukan yang ditempatkan di sana.

Namun, langkahnya terhenti.

Seseorang berdiri di tengah jalurnya.

Seorang pria dengan pakaian pemburu dan jubah hitam yang robek di bagian bawah.

Kael langsung mengenalinya.

Shindou.

"Kau?"

Tatapan Kael mengeras.

"Apa yang kau inginkan di sini?"

Shindou tidak menjawab.

Ia hanya berdiri diam.

Kemudian sudut mulutnya terangkat.

"Yang kuinginkan?"

Tawanya terdengar pelan.

"Hahaha..."

Shindou mengangkat tangannya.

"Apa masih perlu dijelaskan?"

Sebuah artefak muncul di tangannya.

Rule Breaker.

"Aku ingin kau mati di sini."

Kael langsung memasang kuda-kuda.

Tatapannya berubah serius.

Namun, di balik ketegangan itu, satu pertanyaan terus berputar di kepalanya.

Bagaimana bisa orang ini menembus sampai ke sini?

Bukankah wilayah ini dijaga oleh Allwin?

Kael mengepalkan tangannya.

Bahkan kalau dia berhasil melewati pertahanan luar, seharusnya Allwin sudah menghentikannya.

Tatapan Kael semakin tajam.

Jangan-jangan...

Shindou tersenyum seolah telah membaca seluruh pikiran Kael.

"Tidak perlu memikirkannya."

Ia mengangkat Rule Breaker.

"Aku sudah membunuhnya tadi malam."

Kael membeku sesaat.

Shindou melanjutkan dengan nada santai.

"Aku yakin kau sedang mencari rekanmu."

Senyumnya melebar.

"Si Allwin."

"Sialan..."

Kael menurunkan pusat gravitasinya.

Ketenangan yang sebelumnya masih tersisa di wajahnya lenyap sepenuhnya.

"Kalau begitu..."

Tatapannya mengunci Shindou.

"Sepertinya aku tidak perlu menahan diri lagi."

Angin berhembus melewati medan perang yang sunyi.

Tidak ada satu pun dari mereka yang bergerak.

Namun, ketegangan di antara keduanya sudah cukup untuk membuat udara terasa berat.

Shindou menggenggam Rule Breaker.

Kael mengangkat tangannya.

Dan dalam satu detik berikutnya—

pertempuran pun dimulai.

◇◇◇

Di saat Kael dan Shindou berhadapan—

jauh di berbagai penjuru Asteria, peperangan terus berlangsung.

Tidak ada satu pun garis pertahanan yang benar-benar aman.

Di Foulska, suara ledakan telah berhenti.

Asap hitam membumbung tinggi dari reruntuhan bangunan.

Bendera Asteria yang sebelumnya berkibar di atas benteng utama telah diturunkan. Sebagai gantinya, sebuah bendera Gracia berkibar di atas tembok yang telah hancur.

Foulska telah jatuh.

Pasukan yang tersisa dipaksa mundur menuju wilayah berikutnya, meninggalkan kota yang selama berbulan-bulan menjadi salah satu benteng pertahanan utama Asteria.

Namun, Foulska bukanlah satu-satunya.

◇◇◇

Asterwaff.

Pertempuran yang berlangsung selama berhari-hari akhirnya mencapai titik akhirnya.

Pasukan Gracia menerobos pertahanan terakhir.

Satu demi satu benteng dihancurkan.

Pasukan Asteria yang tersisa tidak lagi mampu mempertahankan garis depan.

"Tarik pasukan!"

"Pertahanan utama telah ditembus!"

"Jangan biarkan mereka mencapai pusat kota!"

Teriakan para prajurit tenggelam di tengah suara ledakan.

Pada akhirnya, perintah terakhir tidak pernah terlaksana.

Pasukan Gracia telah menaklukkan seluruh Asterwaff.

Wilayah tersebut kini berada sepenuhnya di bawah kendali mereka.

◇◇◇

Di Warstown—

situasinya tidak jauh berbeda.

Pertempuran berlangsung tanpa henti.

Pasukan Gracia terus menghantam pertahanan Sirius dari berbagai arah, memaksa pasukan Asteria bertahan dengan seluruh kekuatan yang tersisa.

Benteng luar telah hancur.

Garis pertahanan kedua mulai runtuh.

Dan pasukan Gracia terus maju.

"Jangan biarkan mereka masuk!"

"Pertahankan posisi!"

"Tembakkan semuanya!"

Ratusan proyektil melesat bersamaan.

Langit Warstown dipenuhi cahaya dan asap.

Namun, jumlah pasukan Gracia terlalu besar.

Satu demi satu posisi pertahanan Sirius dihancurkan.

Warstown kembali berada di bawah serangan habis-habisan.

◇◇◇

Victoria.

Berbeda dengan Warstown yang terus dihantam dari berbagai arah, Victoria menghadapi tekanan yang jauh lebih brutal.

Pasukan Vorax mengerahkan kekuatan penuh.

Gelombang demi gelombang pasukan Gracia menghantam garis pertahanan kota.

Benteng pertahanan bergetar akibat bombardir yang tidak berhenti.

"Pasukan kiri mundur!"

"Jangan mundur!"

"Mereka sudah menerobos garis kedua!"

"Pertahankan Victoria!"

Para prajurit berusaha mempertahankan posisi mereka.

Namun, setiap kali satu pasukan Gracia berhasil dihentikan, pasukan lainnya segera menggantikannya.

Tidak ada waktu untuk bernapas.

Tidak ada waktu untuk menyusun kembali barisan.

Victoria sedang dipaksa bertahan dengan seluruh kekuatan yang mereka miliki.

◇◇◇

Sementara itu, di Kievan—

situasinya bahkan lebih buruk.

Pasukan Gracia telah menghantam kota itu tanpa memberikan kesempatan untuk melakukan perlawanan yang berarti.

Benteng luar dihancurkan.

Jalur logistik terputus.

Pasukan pertahanan dipaksa mundur berkali-kali.

"Kievan tidak akan bertahan lebih lama!"

"Mintalah bantuan!"

"Saluran komunikasi terputus!"

"Tidak ada bala bantuan!"

Suara ledakan kembali mengguncang kota.

Dinding pertahanan yang telah menahan serangan selama berbulan-bulan akhirnya mulai retak.

Gracia terus menekan.

Dan Kievan terus dipukul mundur.

◇◇◇

Foulska telah jatuh.

Asterwaff telah ditaklukkan sepenuhnya.

Warstown kembali digempur habis-habisan.

Victoria berada di bawah tekanan penuh pasukan Vorax.

Kievan dipaksa bertahan di tengah gempuran Gracia.

Lima wilayah.

Lima medan perang.

Dan semuanya bergerak menuju arah yang sama.

Kehancuran.

Delapan bulan peperangan telah mengubah Asteria menjadi medan perang raksasa.

Pasukan mulai kelelahan.

Persediaan semakin menipis.

Garis pertahanan semakin pendek.

Sementara Gracia masih terus maju.

Namun, di tengah kekacauan tersebut—

sebuah pasukan baru telah bergerak menuju garis timur.

Lima ratus prajurit Thyrion.

Dan bersama mereka—

seorang pria yang memiliki kemampuan untuk memindahkan seluruh pasukan dalam sekejap.

Perang belum berakhir.

Tetapi untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan—

Asteria mendapatkan kesempatan untuk membalikkan keadaan.

◇◇◇

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!