Ditolak di depan teman-temannya sendiri, harga diri Jaka hancur berkeping-keping. Satu penolakan yang seharusnya cuma luka kecil, kini menjelma dendam yang membutakan.
Demi mendapatkan Dea—perempuan yang menolaknya—Jaka rela menempuh jalan yang tak seharusnya dilalui siapa pun: mencuri, berbohong, dan akhirnya menyerahkan dirinya pada ilmu hitam seorang dukun tua di ujung hutan bambu.
Namun, cinta yang direbut paksa selalu punya harga. Dan harga itu tak pernah berhenti di satu nyawa saja.
PELET LAKNAT 2 — ketika obsesi menemukan jalannya lewat kegelapan, siapa yang benar-benar akan selamat?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HERMAWAN 505, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SANG PENGHUNI KEGELAPAN
# PELET LAKNAT 2
## Bab 12: Sang Penghuni Kegelapan
Dengan tangan sedikit gemetar, Kiki memberanikan diri mengarahkan sorot senternya ke samping gubuk. Di tengah temaram sinar kuning yang bergetar, tampaklah sesosok pria tua berambut putih panjang terurai hingga ke bahu. Wajahnya dipenuhi garis-garis kerutan dalam, mengenakan pakaian pangsi serba hitam khas adat Sunda yang melambai-lambai ditiup angin malam. Sebuah ikat kepala atau totopong yang melingkar kencang di dahinya kian menambah kesan magis dan misterius. Sementara di tangan kanannya, ia memegang erat sebuah tongkat kayu hitam berukir kepala ular yang berkilat tertimpa cahaya redup.
"Si-Simbah!" teriak Kiki terbata-bata, langkahnya terhenti seketika seraya menarik napas panjang karena terkejut.
Ya, lelaki tua itu bernama Usman, yang kerap dipanggil Mbah Usman atau Ki Usman oleh orang-orang yang mengenalnya. Sosok tua itu tidak menjawab sama sekali. Ia hanya mengulas senyum tipis yang misterius melihat kedua pemuda di depannya berdiri kaku ketakutan dengan bahu yang tegang.
Dengan langkah kaki rentanya, Mbah Usman berjalan perlahan menghampiri mereka. Tanpa mengucap sepatah kata pun sapaan, ia melewati Kiki dan Jaka begitu saja. Tangannya yang keriput segera meraih gagang pintu kayu gubuknya dan menyorongnya perlahan.
Kreeek!
Pintu kayu tua itu terbuka meliuk, menimbulkan deritan ngilu yang bergema menembus sunyinya malam.
Seketika bau kembang melati yang menusuk bercampur dengan aroma pekat kemenyan menyengat menyeruak dari dalam, langsung menerpa indra penciuman Kiki dan Jaka hingga membuat Jaka menutup hidungnya refleks.
"Silakan masuk, Anak Muda!" seru Mbah Usman dengan suara serak yang berat seraya melangkah santai melewati ambang pintu.
Tanpa banyak omong lagi, Kiki dan Jaka bergegas membuntuti langkah Mbah Usman ke dalam.
Namun jauh di dalam hatinya, Jaka dihantam ketakutan luar biasa. Detak jantungnya berdegup kencang bak ditabuh. Tangannya yang saling bertaut gemetar hebat, ragu untuk melangkahkan kaki. Raut wajahnya perlahan memucat pasi dengan bulir-bulir keringat dingin yang mulai bercucuran memenuhi keningnya.
Begitu mereka masuk ke dalam rumah, suasana seketika terasa makin hening dan gelap. Hanya ada pendar cahaya obor yang menempel di sudut-sudut dinding kayu kusam, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menari mengerikan.
Lalu Mbah Usman duduk bersila di hadapan sebuah altar kayu tebal. Di atas altar itu telah tersusun rapi barang-barang mistis di atas alas anyaman bambu: sebuah mangkuk tanah liat untuk membakar kemenyan yang asapnya masih mengepul tipis meliuk-liuk, dua buah kendi tanah, beberapa lembar keris kecil berkilat, kuntum kembang yang berserakan, serta boneka jerami berbentuk manusia yang terbuat dari jalinan tangkai padi.
Dengan gerakan perlahan dan tubuh yang kaku, Kiki dan Jaka pun ikut duduk bersila di hadapan Mbah Usman, sehingga kini mereka duduk berhadapan dan hanya dibatasi oleh sebuah meja kayu tua yang kusam. Jaka meremas jemarinya sendiri di atas pangkuan.
"Apa yang membawa kalian datang ke sini?" tanya Mbah Usman dengan suara berat, memecah keheningan ruangan yang remang itu seraya menatap datar.
Bukannya langsung menjawab pertanyaan sang kakek tua, Jaka dan Kiki malah saling sikut. Kiki menyenggol lengan Jaka dengan tatapan mata memaksa, sementara Jaka menggeleng pelan seraya menggelengkan kepala, saling dorong untuk menentukan siapa yang harus angkat bicara lebih dulu.
Melihat tingkah laku kedua pemuda itu, Mbah Usman terkekeh pelan. Tubuhnya sedikit terdorong ke belakang saat tertawa. Tawanya terdengar serak dan dalam, seakan ia sudah membaca seluruh maksud serta tujuan yang tersimpan di benak mereka.
"Sudah... sudah! Tidak usah dijawab, Simbah sudah tahu tujuan kalian datang ke sini," seru Mbah Usman seraya mengelus janggut putihnya yang panjang.
Matanya yang tajam menatap lurus menembus manik mata Jaka, lalu ia memajukan badannya sedikit ke depan, "Kamu tidak salah datang ke sini, Nak. Kamu hanya sedang menuntut keadilan atas rasa sakit yang selama ini menyiksamu. Lantas, mau kamu apakan perempuan itu? Kamu mau bikin dia celaka... atau sekadar lenyap dari dunia ini?" tanyanya seraya terkekeh dingin, menggariskan senyum misterius di wajah keriputnya.
Jaka menelan ludah dalam-dalam, dadanya naik turun mencoba sekuat tenaga menelan rasa takut yang mencekik tenggorokannya. Ia menggeleng cepat.
"T-tidak, Mbah! Aku cuma mau dia jadi kekasihku saja... cuma itu," sahut Jaka terbata-bata, jemarinya makin erat mencengkeram celananya.
"Hahaha! Jadi tujuanmu cuma mau minta pelet? Itu perkara sangat mudah buat Simbah! Simbah pastikan dia bakal berlutut dan jadi milikmu selamanya!" ucap Mbah Usman terkekeh sumbang, melambaikan tangannya meremehkan seraya suaranya menggelegar memenuhi ruangan sempit itu.
"G-gimana caranya, Mbah?" tanya Jaka dengan mata membelalak panik bercampur penasaran.
"Tenang dulu, Nak, tidak usah terburu-buru!" ujar Mbah Usman pelan namun menekan. Ia mengangkat satu jarinya, menekankan titik pembicaraan. "Kamu harus tahu dulu bagaimana cara kerja pelet ini, dan syarat-syarat yang wajib kamu penuhi sebelum menggunakannya."
"Apa syaratnya, Mbah?" potong Jaka makin tak sabar, tubuhnya condong ke depan dan matanya menatap tajam sang dukun tua.
Melihat kesungguhan hati pemuda di hadapannya, Mbah Usman menyandarkan tubuhnya kembali lalu tersenyum puas—sebuah senyuman licik yang menyembunyikan makna terselubung di baliknya.
"Bagus... bagus! Ternyata kamu punya nyali besar untuk mengejar impianmu," sahut Mbah Usman seraya mengangguk-angguk pelan. Ia lalu mencondongkan wajahnya mendekati Jaka, menatapnya tanpa berkedip. "Tapi ingat, ini bukan pelet sembarangan. Sekali kamu terjun, tidak ada jaminan untuk bisa kembali. Dan kalau sampai kamu melanggar pantangannya, pelet ini akan berbalik memakan dirimu sendiri, Nak. Apa kamu sanggup?"
Mendengar ucapan Simbah, batin Jaka mendadak meronta-ronta hebat. Tubuhnya seketika membeku. Hatinya seperti memberikan bisikan peringatan tajam, seakan memberi isyarat bahwa jalan kegelapan yang sedang ia tempuh ini jauh lebih berat dan mengerikan dari apa yang pernah ia bayangkan.