Lexa, seorang siswi populer yang terbiasa menindas siapa saja yang menghalangi jalannya, terbangun di sebuah kamar sempit yang asing. Saat memandang cermin, ia tersentak menemukan sosok Maya gadis lugu dan pendiam yang saban hari ia jadikan sasaran rundungan di sekolah. Karna suatu kejadian, jiwanya terperangkap dalam tubuh korban yang paling ia benci.
Terjebak dalam kehidupan Maya, Lexa kini harus merasakan dinginnya lantai kamar mandi tempat ia dulu menyiram Maya, pedasnya cemoohan teman-temannya sendiri, hingga kejamnya rasa terisolasi. Demi bertahan hidup dan mencari cara kembali ke tubuh aslinya, Sephia terpaksa membalas balik intimidasi kelompoknya sendiri—kali ini menggunakan akal dan keberanian yang tak pernah dimiliki Maya sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jihan dwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Langit sore mulai memerah ketika bel tanda berakhirnya kegiatan belajar mengajar berdering. Bagi murid-murid lain, suara itu adalah sinyal kebebasan, tetapi bagi Maya, itu berarti akhir dari rasa aman sementara di dalam kelas. Maya merapikan buku-bukunya dengan cermat, memasukkan satu per satu ke dalam ransel kusamnya, lalu bergegas keluar ruang kelas sebelum geng Lexa sempat mencegatnya kembali.Namun, amarah di dada Lexa rupanya belum padam sepenuhnya. Kejadian di gudang sekolah tadi pagi, di mana ia harus menunggu dan merasa panik karena keterlambatan Maya, masih menyisakan kejengkolan yang mendalam. Bagi gadis yang biasa mendikte segala hal seperti Lexa, sekadar menggertak di gudang tidaklah cukup untuk membilas tuntas rasa kesalnya. Saat melihat Maya melangkah terburu-buru menyusuri koridor menuju pintu keluar sekolah, sebuah ide licik berhembus di pikiran Lexa."Kalian duluan aja ke kafe," ujar Lexa pendek kepada Hani, Aurel, dan Lana yang sedang memoles lipstik di depan cermin koridor. "Gue ada urusan sebentar."
Tanpa menunggu tanggapan teman-temannya, Lexa melangkah pelan mengikuti Maya dari jarak aman. Ia ingin melihat dengan mata kepalanya sendiri ke mana gadis yang selalu mengusiknya dengan nilai-nilai sempurna itu pulang. Ia ingin menyaksikan dari dekat bentuk kemiskinan yang selama ini hanya ia dengar dari desas-desus.
Maya berjalan kaki menempuh jarak yang cukup jauh dari sekolah. Ia menyusuri trotoar berdebu, menyeberangi jalan raya yang padat, hingga akhirnya masuk ke dalam pemukiman padat penduduk. Jalan bertanah dan gang-gang sempit yang saling bersilangan mulai menggantikan pemandangan perkotaan yang megah. Sepatu mahal milik Lexa berdecit enggan saat menginjak tanah lembap di lorong sempit itu, tetapi rasa penasaran dan keangkuhannya mendorongnya untuk terus mengekor.Langkah Maya akhirnya terhenti di depan sebuah bangunan kecil berdinding papan kayu yang warnanya telah memudar dimakan usia. Atap sengnya yang berkarat di beberapa bagian tampak muram di bawah temaram sinar matahari sore. Maya menghela napas panjang, merogoh saku seragamnya untuk mengambil kunci, lalu membuka pintu kayu tua rumahnya.
Tepat saat Maya hendak melangkah masuk, suara langkah kaki berdentang pelan di atas tanah kering di belakangnya.
"Jadi... di tempat kumuh ini lu tinggal sehari-hari?"
Suara yang sangat familiar itu membuat tubuh Maya seketika membeku. Jantungnya serasa berhenti berdetak. Dengan perlahan dan penuh rasa takut, Maya berbalik. Di sana, di depan halaman rumahnya yang sempit, Lexa berdiri dengan kedua tangan bersedekap di dada. Dandanannya yang rapi, seragamnya yang bersih, dan auranya yang penuh keangkuhan tampak begitu asing dan kontras di tengah lingkungan pemukiman kumuh tersebut.
"Le-Lexa? Kamu... kenapa bisa ada di sini?" cicit Maya, suaranya bergetar hebat.
Lexa melangkah maju satu demi satu, matanya menyapu sekeliling bangunan rumah Maya dengan tatapan menjeritkan rasa jijik. Ia mengetuk dinding papan yang lapuk itu menggunakan ujung kuku jarinya yang terawat rapi.
"Gue cuma mau memastikan aja," ujar Lexa dengan nada mengayun penuh ejekan. "Ternyata dugaan gue nggak salah. Tempat ini bahkan nggak layak disebut rumah. Ini sih lebih mirip kandang hewan."
Maya mengepalkan jemarinya kuat-kuat di balik lipatan rok seragamnya. Wajahnya yang pucat kian tertunduk dalam-dalam. Sinar matahari sore membiaskan bayangan tubuh mereka berdua di atas tanah sebuah gambaran gamblang tentang jurang pemisah di antara kehidupan mereka.
"Lu tahu nggak, Maya?" Lexa mendekatkan wajahnya, bersuara lirih namun sarat akan racun. "Setiap kali lu dapat nilai seratus di sekolah, setiap kali Pak Danu puji-puji kamu di depan kelas, gue selalu merasa aneh. Buat apa sih lu sok pintar? Mau setinggi apa pun nilai lu di kertas ujian, tempat lu balik ya tetap ke sini. Ke dalam gubuk bau dan kotor ini."
Kalimat-kalimat itu menancap tepat di ulu hati Maya. Rasa pedih yang teramat sangat merebak di dalam dadanya. Air mata yang sejak tadi ia tahan mulai menggenang di balik lensa kacamatanya yang tebal, menetes perlahan menimpa tanah berdebu di bawah kakinya.Lexa menyunggingkan senyum tipis yang dingin, menikmati pemandangan korbankan yang tak berdaya. Ia melanjutkan rentetan kata-kata merendahkannya tanpa rasa iba sedikit pun."Orang-orang kayak lu itu harusnya sadar diri," lanjut Lexa seraya menunjuk dada Maya dengan ujung telunjuknya. "Kepintaran lu itu nggak akan pernah bisa mengubah kenyataan kalau lu itu miskin, culun, dan nggak punya kuasa apa-apa. Jangan pernah mimpi bisa sejajar sama gue cuma gara-gara angka di atas kertas. Sampai kapan pun, lu bakal tetap jadi serangga kecil yang tinggal di gubuk busuk ini."
Maya hanya bisa menunduk pasrah. Tak ada kata-kata perlawanan yang sanggup keluar dari tenggorokannya yang menyempit. Bibirnya gemetar menahan isak tangis yang berusaha ia sembunyikan agar tidak makin memuaskan ego sang penindas. Ia membiarkan setiap hinaan, cemoohan, dan kalimat merendahkan itu menghantam harga dirinya hingga hancur berkeping-keping.
Setelah merasa emosi negatifnya terlampiaskan dan kepuasannya terpenuhi melihat Maya bersimbah air mata dalam diam, Lexa melangkah mundur. Ia mengibas-ibaskan rok seragamnya seolah-olah baru saja terkena debu kotor dari tempat itu.
"Gue jalan dulu ya," ucap Lexa santai, menyibak rambut panjangnya ke belakang. "Ingat, besok di sekolah jangan bikin gue darah tinggi lagi."Tanpa sedikit pun penyesalan, Lexa berbalik dan melangkah pergi menyusuri gang sempit itu, meninggalkan Maya sendirian di depan pintu rumahnya yang merana.Setelah bayangan Lexa benar-benar menghilang di balik belokan gang, pertahanan Maya akhirnya runtuh total. Tubuhnya merosot perlahan menyusuri dinding papan rumahnya hingga ia terduduk di atas tanah. Maya memeluk kedua lututnya erat-erat dan meluapkan tangisnya yang pecah dalam kesunyian sore.
Di dalam dadanya, bergejolak percampuran emosi yang amat dahsyat. Rasa sedih yang mendalam atas nasibnya, rasa malu yang membakar karena tempat tinggalnya dihina, serta benih-benih dendam yang kian menghitam dan mengakar kuat. Ia membenci Lexa dengan seluruh jiwa dan raganya. Ia membenci bagaimana gadis itu bisa dengan mudah menginjak-injak harkat hidup orang lain tanpa pernah mendapat balasan.Namun, di tengah gelombang amarah dan dendam yang membakar hatinya, sebuah kenyataan pahit menyengat kesadaran Maya ia tidak bisa berbuat apa-apa.
Ia hanyalah Maya—seorang siswi miskin, anak dari buruh cuci, tanpa uang, tanpa pengaruh, dan tanpa perlindungan dari siapa pun. Di dunia yang dikuasai oleh orang-orang seperti Lexa, kebenaran dan kepintaran yang ia miliki tidak lebih dari sekadar perhiasan murah yang tak punya taji. Dalam keputusasaan yang mengiris hati, Maya membenamkan wajahnya di antara lipatan tangan, membiarkan malam menyelimuti dirinya yang hancur dalam ketidakberdayaan yang sempurna.