Hutang budi membuat Pria setengah baya itu lupa pada gadis belia yang dulu menolongnya saat pingsan dalam melaksanakan tugas. Bertahun-tahun ia mencari, hingga akhirnya ia menemukan gadis itu dan menjodohkannya dengan 'putranya', Letnan Julang Wengkar (Elang), perwira muda yang gagah, berani, dan namanya di kenal kemiliteran.
Namun takdir punya jalan yang tak terduga. Di balik kesediaan gadis itu menerima perjodohan, tersimpan rahasia yang selama ini ia pendam dalam diam.. Hatinya bukan untuk Elang. Ia justru mencintai Letnan Dante, sahabat Elang sendiri.. Juga 'putra' dari mendiang sahabat Pak Riegan semasa muda dulu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bojone_Batman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12. Karang Hitam.
Hari ini adalah hari keberangkatan Letnan Dante dan Cherry ke tempat dinas yang baru. Di hari ini pula Pak Riegan, Bang Elang dan Shanli ikut mengantar keberangkatan sahabatnya di tempat dinas yang baru.
"Cherry, aku minta maaf..!!" Ucap Shanli dengan nada bergetar, ia gelisah karena Bang Dante tidak pernah berdiri jauh dari Cherry. Meskipun tak ada kata dari Bang Dante tapi ekspresi wajahnya membuat Shanli ketakutan.
"Iyaa.. Aku maafkan." Jawab Cherry dengan senyumnya.
"Kalau kau mau motor, kerja..!!! Jangan hanya numpang dan selalu mengingatkan balas budi." Kata Bang Dante. "Bagaimana dengan sisa uangnya?? Sejak dulu kau selalu mendapatkan apa yang kau mau, pernahkah kau memikirkan apa yang di inginkan Cherry????"
Shanli semakin ketakutan, hingga akhirnya Bang Elang menengahi situasi tersebut.
"Saya minta maaf, nanti biar saya yang transfer ke rekening mu..!!"
"Enak ya... Tapi bukan itu yang saya mau. Sudah banyak waktu yang terbuang dari istri saya, ada banyak keinginan yang tidak tercapai. Apakah Shanli, atau kau bisa mengganti semua yang hilang. Perlu kau pahami kembali, hal yang tidak bisa kembali lagi di dunia ini adalah waktu, ucapan dan kesempatan."
Paham Letnan Dante sudah mulai naik darah, Bang Elang pun menarik Shanli di belakang punggungnya. "Iya.. Atas semua yang terjadi, saya mohon maaf..!! Saya tau rasanya berjuang tidak pernah sama dengan kita mendapatkan dengan cuma-cuma. Nanti apa yang ada dalam rekening Shanli.. Akan di transfer semua ke rekening Cherry."
Shanli kaget, ia tidak terima. Tapi Bang Elang mencegahnya untuk bicara. Hanya tangis berlelehan membasahi pipi.
"Ooomm...." Cherry menarik ujung seragam Bang Dante dan pria itu hanya meliriknya saja.
"Kamu diam..!!!!" Ucap tegas Bang Dante.
Beberapa menit kemudian, Pak Riegan tiba. Beliau pun ikut mengantar 'putranya'.
"Baik-baik kalian disana. Karang Hitam bukan tempat yang mudah untuk di taklukan. Ada Riez, ada Jangkar dan Ayah sudah memindah tugaskan Sabrang Mustahil. Biar sementara Elang disini dulu. Bukan maksud Ayah..........."
"Nggak masalah, yah. Saya mengerti, saya baik-baik saja." Kata Bang Dante.
"Jaga Cherry dengan baik. Kandungannya masih sangat muda. Ingat disana daerah pedalaman, tempat yang rawan untuk ibu hamil." Ujar Pak Riegan tak hentinya mengingatkan.
"Siap, yah. Saya ingat."
...
Cherry duduk diam di sudut body pesawat, menyendiri dalam gelap. Suara bising mesin pesawat tempur cukup memekakan telinga.
"Kenapa, Cher?? Nggak kuat suaranya??" Tanya Bang Dante memastikan keadaan Cherry.
Cherry menggeleng pelan, namun tangannya tetap mencengkeram erat ujung tali pengikat barang di sebelahnya, jemarinya tak bergerak karena tegang. Suara deru mesin terdengar keras, getarannya menjalar hingga ke seluruh tubuh, ditambah dengan segala kejadian di bandara tadi, semua itu membuat dadanya terasa begitu sesak.
"Nggak, Om.. Hanyaaa... tadi kenapa kata-kata Om ke Shanli, agak keras." ucapnya pelan, matanya menatap ke arah jendela kecil yang memancarkan cahaya samar dari luar. "Shanli itu sahabat Cherry, sejak dulu kami selalu bersama. Rasanya... kasihan kalau harus di perlakukan seperti itu."
Bang Dante hanya menghela napas panjang, tapi saat ini ia tidak bisa bicara banyak. Telinga Cherry tertutup eamuff yang meredam suara bising. Tatapannya kini jauh lebih lembut dibandingkan sesaat sebelumnya, namun tetap tegas.
...
Cherry mabuk udara, sungguh dirinya sulit beradaptasi dengan keadaan. Dirinya yang sama sekali belum pernah naik pesawat malah harus ikut dengan pria yang sudah terbiasa naik pesawat angkut tempur militer.
"Mohon ijin, Let. Seluruhnya di minta untuk naik kembali ke pesawat. Lima belas menit lagi pesawat akan boarding." Laporan salah seorang crew pesawat.
"Oke.. Sebentar ya, istri saya kurang sehat. Masih mual." Jawab Bang Dante.
"Siap."
"Eehh Dante.. Nggak kau suruh sikap tobat saja. Biasanya kalau ada anggota yang mabuk udara sudah kau jungkir di pinggir landasan." Ujar Bang Sabrang meskipun akhirnya lettingnya itu akan menolongnya juga.
"Jangan bercanda, Brang. Ini kan bojo, bukan anggota." Omel Bang Dante dengan gigi bergemeretak geram.
Suara Bang Sabrang terdengar renyah di telinga. Memang baru kali ini sahabatnya itu gelisah dan cemas berurusan dengan wanita. Bahkan saat bersama dengan Tian, seorang Dante tidak pernah selemah ini.
"Sudah?? Perutnya masih nggak enak??" Tanya Bang Dante memastikan keamanan kondisi Cherry.
"Sudah, Om."
...
Malam hari, pesawat militer tiba di bumi Karang Hitam. Saat Cherry menginjakan kaki pertama kali. Suasana, cuaca, semua berbeda dengan apa yang di lihatnya di ibukota.
Hidupnya kini serasa bukan miliknya sendiri, mulai detik ini, ia akan bertahan hidup bersama dengan pria asing yang kaku dan dingin, mungkin sepanjang hela nafasnya di dunia.
Belum sempat rasa kagetnya hilang, seorang gadis berlari dan melompat memeluk Bang Dante.
"Astaghfirullah, Tiaaann..!!!!" Bang Dante berusaha keras melepaskan pelukan 'saudara' sekaligus sahabat perempuannya itu.
"Aah gaya nya kau, Dante. Biasanya kau balas pelukanku." Kata gadis itu.
"Balas pelukan yang bagaimana, yang begini agak keterlaluan. Ada anggotamu, kau juga lihat itu..!!!" Tunjuk Bang Dante pada sosok gadis yang perlahan menjauh darinya. "Dia Cherry, istriku."
Seketika mata Tian membulat besar mendengarnya.
"Serius kau, Dante??? Kau sudah nikah??? Kenapa aku nggak tau????" Tian melepas pelukannya, tapi wajahnya nampak dingin tak berekspresi, arah matanya kini menatap Cherry, gadis yang dari wajahnya saja masih terlihat muda belia.
"Makanya kau jaga sikap..!!!!" Ucap tegas Bang Dante.
Namun saat itu Bang Jangkar mendekat dan berbisik di telinga kakak perempuannya. "Jangan buat keributan, Cherry hamil."
"Hamil??? Dengan situasi Dante yang tidak pernah mau berurusan dengan perempuan???? Jangan bilang perempuan yang wajahnya sok polos ini yang menggodanya???" Balas Tian, wajahnya sudah berang menatap Cherry.
Melihat sahabat perempuannya sedikit keras, Bang Dante mengarahkan Cherry berdiri di belakang punggungnya.
"Sudahlah, jangan menuduhnya..!! Sudah kejadian juga. Yang jelas semua ini karena saya yang khilaf, saya yang mulai dan saya juga yang mau." Jawab Bang Dante dan akhir Tian yang kesal langsung pergi meninggalkan bandara.
"Oom.." Rasanya Cherry masih syok, ia berusaha kuat mengatur nafasnya.
"Nggak apa-apa. Tian baik, kok. Dia saudara kembar nya si Elang." Kata Bang Dante.
//
Pak Riegan kembali membaca berkas pemindahan satuan tugas milik Letnan Dante. Tapi ada hal yang membuat beliau kaget.
"Lho.. Ini hasil pemeriksaan dari rumah sakit. Hasil test kehamilan, Negatif. Tapi dalam salinan yang 'naik' ke markas.. Cherry hamil lima minggu." Gumam Pak Riegan sambil memeriksa lebih teliti. "Ini foto USG juga 'kosong'. Sebenarnya ada apa?? Apa yang Dante sembunyikan???"
.
.
.
.
maaf ya mba Naraa/Pray/...tetep tak baca koq meskipun nyesek banget🥹
lanjut mba Nara
Tokoh ceritanya mba Nara...pria² yg bertanggungjawab👍
lanjut mba nara👍
mba Nara, ngasih bawangnya banyak bgt🥹🥹
huaaa...ga rela klo pada pisah😭
lanjut mba Nara🥰