NovelToon NovelToon
Bocah Sampah Penakluk Akademi Mecha

Bocah Sampah Penakluk Akademi Mecha

Status: sedang berlangsung
Genre:Supernatural / Perubahan Hidup / Peradaban Antar Bintang
Popularitas:475
Nilai: 5
Nama Author: Fajar

Planet 3212—planet sampah paling melarat.

Tri, bocah tujuh tahun, bertahan dari rongsokan—tapi ia menyimpan ingatan insinyur mecha dewa dari kehidupan sebelumnya. Kesalahan pendaftaran melemparkannya ke jurusan tempur paling brutal. Semua meremehkan bocah sampah ini—sampai ia menghancurkan lawan, rancangan "jelek"nya mengguncang forum maestro, dan kekuatan 3S-Agung yang terpendam mulai terkuak.

Diburu Kabut Hitam, dilindungi rival terkuatnya, Tri harus pilih: tunduk—atau bangkit menelan takhta bintang. Dari tumpukan sampah menuju singgasana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fajar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 12

Bab 12 — Malam Pertama di Damokles

Planet Pasira menyambut Tri dengan angin panas dan pasir halus yang langsung masuk ke kerah jaket Pak Ilyas.

Pintu starship baru terbuka setengah ketika suara ribut dari pelabuhan menampar telinganya.

“Murid baru Damokles, jalur utara!”

“Barang besar lewat kiri!”

“Jangan berdiri di garis angkut kalau tidak mau jadi stiker lantai!”

Tri turun dari tangga kapal dengan tas di bahu dan paket makanan Bu Wening di tangan. Langit malam Pasira tidak gelap sepenuhnya. Lampu pelabuhan menggantung di udara, memantulkan warna oranye ke debu yang berputar. Di kejauhan, bayangan kompleks Akademi Damokles berdiri seperti tumpukan pisau hitam di atas tanah.

Kom tuanya bergetar.

“Lihat kanan.”

Tri menoleh.

Hendra Gunawan berdiri di bawah papan kedatangan, memakai seragam penerimaan Damokles yang masih terlalu baru. Di belakangnya ada koper otomatis mahal yang bergerak sendiri, wajahnya sombong, dan mata yang langsung menilai tas Tri.

“Lo membawa rumah?” tanya Hendra.

Tri mengangkat paket makanan. “Ini cuma bagian yang bisa dimakan.”

Hendra menatap ukuran paket itu. “Bu Wening tidak percaya akademi punya kantin?”

“Bu Wening percaya. Dia tidak percaya perut gue.”

“Masuk akal.”

Mereka berjalan keluar dari jalur pelabuhan. Hendra berbicara cepat tentang pendaftaran, kartu akses, jadwal orientasi, jaringan Kom kampus, dan biaya denda jika murid merusak fasilitas sebelum tahun ajaran resmi dimulai.

Tri hanya menangkap kata terakhir.

“Denda berapa?”

“Tergantung rusaknya.”

“Kalau kerusakannya bisa diperbaiki sendiri?”

Hendra berhenti. “Lo baru turun kapal.”

“Berarti belum denda.”

“Itu bukan jawaban.”

Bus kampus membawa mereka melewati gerbang Damokles. Di kedua sisi jalan, hanggar latihan berdiri rendah dan lebar. Ada suara logam dipukul dari jauh, deru mesin simulasi, tawa murid senior, dan teriakan seseorang yang disuruh lari putaran malam karena datang terlambat.

Damokles tidak terlihat seperti akademi yang ingin menyenangkan orang tua.

Ia terlihat seperti tempat yang mengasah besi dengan batu kasar.

Tri menyukainya.

Asrama murid baru berada di blok oranye.

Kartu akses Tri menyala setelah dipindai.

KAMAR: ORANYE SATU 707.

Hendra melihat data itu, lalu wajahnya berubah aneh.

“Apa?” tanya Tri.

“Lo dapat 707?”

“Rusak?”

“Bukan. Itu satu-satunya kamar tunggal di lantai murid baru tahun ini. Katanya sisa ruang perawatan lama yang diubah jadi kamar.”

Tri memasukkan kartu ke saku. “Berarti tidak perlu bayar konflik teman sekamar.”

“Lo baru saja mendapat keberuntungan langka, dan kalimat pertama lo tetap soal biaya.”

“Keberuntungan yang tidak bisa dihitung sering berbahaya.”

Kamar 707 kecil, sempit, dan tidak sepenuhnya lurus.

Tempat tidurnya menempel ke dinding. Meja belajar hanya cukup untuk Kom, buku, dan setengah piring. Lemarinya berbau disinfektan tua. Di sudut langit-langit ada bekas jalur oksigen yang sudah ditutup. Tetapi pintunya bisa dikunci, jendelanya menghadap hanggar belakang, dan lantainya cukup kuat untuk menahan meja kerja kecil.

Tri meletakkan tas.

“Bagus.”

Hendra melirik ruangan seperti melihat kotak penyimpanan alat. “Bagus bagian mana?”

“Tidak bocor.”

“Standar hidup lo membuat gue sedih.”

“Sedih gratis. Jangan tagih gue.”

Tri membuka Kom kampus yang baru terhubung. Akses awal masuk. Daftar kantin, jadwal orientasi, peta akademi, aturan keluar malam, dan jumlah pinjaman pendidikan terpampang dengan jelas.

Angka pinjaman itu menatapnya seperti musuh yang duduk sopan.

Tri menutup halaman.

“Ada pekerjaan malam di dekat sini?”

Hendra yang sedang mencoba kursi langsung membeku. “Apa?”

“Pekerjaan. Uang.”

“Lo baru sampai.”

“Utang gue juga sudah sampai.”

Hendra mengusap wajah. “Damokles punya daftar kerja murid, tapi baru dibuka setelah orientasi. Perbaikan ringan, dapur, pengarsipan, simulator.”

“Bayarannya?”

“Kecil.”

“Berapa kecil?”

Hendra menyebut angka.

Tri menatapnya.

“Itu bukan pekerjaan. Itu penghinaan dengan seragam.”

“Kalau lo punya rencana yang lebih buruk, katakan sekarang supaya gue bisa menyiapkan alibi.”

Tri membuka peta kota sekitar Damokles.

Di luar kawasan akademi, beberapa titik hiburan malam menyala. Sebagian legal. Sebagian namanya terlalu bersih untuk tempat yang benar-benar bersih. Di antara nama-nama itu, ada satu titik yang tidak muncul di peta umum, tetapi muncul di forum murid lama yang baru saja ia tembus dengan akun NgemisDiamDiam.

Bengkel Hitam.

Hendra melihat layar, lalu suara napasnya berubah.

“Tidak.”

“Gue belum bicara.”

“Justru karena gue sudah tahu bentuk wajah lo saat menemukan cara mati yang menguntungkan.”

Tri mengetuk nama itu. “Laga Mecha bawah tanah. Ada bayaran per pertandingan.”

“Ada surat hidup-mati juga.”

“Berarti bayaran harus lebih tinggi.”

“Tri.”

“Gue tidak masuk untuk mati.”

“Semua orang yang mati biasanya juga tidak daftar untuk mati.”

Tri berdiri, mengambil jaket, lalu memasukkan beberapa alat kecil ke saku. “Lo ikut?”

Hendra menatapnya seperti ingin mencekik.

Sepuluh menit kemudian, mereka sudah berada di kendaraan sewaan menuju distrik bawah Pasira.

“Gue ikut supaya bisa memberi tahu Pak Ilyas lokasi mayat lo,” kata Hendra.

“Terima kasih.”

“Itu bukan dukungan.”

“Tetap berguna.”

Bengkel Hitam tidak memakai papan besar.

Pintunya hanya lorong servis di belakang gudang suku cadang, dijaga pria berkumis tipis dengan baju kerja berminyak. Ia melihat Tri dari kepala sampai kaki, lalu melihat Hendra.

“Murid baru?”

Hendra langsung tersenyum sopan. “Kami mencari Bang Somad.”

Pria itu meludah ke samping, lalu menunjuk ke dalam. “Kalau tertipu, jangan bilang tidak diperingatkan.”

Bang Somad ternyata kurus, berkulit gelap, dan memakai cincin terlalu banyak untuk orang yang mengaku hanya perantara. Ia duduk di balik meja logam, menghitung keping kredit sambil mengunyah kacang.

“Damokles baru datang, sudah cari uang?” Ia menatap Tri. “Anak rajin atau anak bodoh?”

Tri duduk di depannya. “Yang bayarannya lebih tinggi.”

Bang Somad tertawa.

Hendra berdiri di belakang Tri dengan wajah orang yang sedang menghitung kemungkinan bencana.

“Nama?”

“Tri.”

“Nama keluarga?”

“Tidak ada.”

Bang Somad berhenti mengunyah sejenak, lalu tersenyum lebih lebar. “Bagus. Orang tanpa nama keluarga biasanya butuh uang lebih cepat.”

Tri menatapnya. “Dan perantara biasanya butuh komisi.”

“Cerdas.” Bang Somad mendorong tablet hitam. “Aturan cepat. L0, tiap laga lima ribu kredit, sepuluh poin. Kumpulkan poin, naik tingkat, hadiah makin besar. Boleh pakai topeng. Mesin disediakan, tapi kalau rusak karena kebodohan sendiri, potong bayaran.”

“Kalau rusak karena lawan?”

“Itu hiburan.”

“Kalau saya memperbaiki sendiri?”

Bang Somad mengangkat alis. “Kau bisa?”

“Saya bertanya harga.”

“Kita bicarakan kalau kau masih punya tangan setelah laga pertama.”

Tablet menampilkan surat hidup-mati.

Baris-barisnya pendek, jelas, dan dingin.

Cedera berat tanggung sendiri.

Kematian tanggung sendiri.

Balas dendam di luar arena dilarang.

Sengketa diselesaikan di dalam arena.

Tri membaca dua kali.

Hendra membungkuk dan berbisik, “Lo masih bisa pulang ke kamar.”

“Kamar tidak membayar utang.”

“Kamar juga tidak mematahkan tulang.”

“Tergantung kamar.”

Hendra kehilangan kata-kata.

Tri menandatangani.

Bang Somad memutar tablet. “ID laga.”

Tri melihat kolom kosong itu.

Ia tidak ingin memakai NgemisDiamDiam. ID itu terlalu miskin, terlalu dekat dengan Kom lamanya. Di sini ia butuh sesuatu yang membuat orang meremehkan tanpa tahu arah meremehkannya.

Ia mengetik:

Tunduk pada Nasib.

Bang Somad membaca, lalu tertawa sampai cincin-cincinnya beradu di meja. “Nama pasrah?”

Tri mengambil masker hitam polos dari kotak peserta. “Pasrah itu murah. Orang jarang takut pada barang murah.”

“Kau menarik, bocah.”

“Saya mahal kalau menang.”

Bang Somad menunjuk pintu baja di belakang. “Ambil L0 nomor tujuh belas. Jangan berharap bagus. Mesin itu sudah lebih sering dipukul daripada dipuji.”

Lorong menuju arena turun dalam spiral.

Suara penonton naik dari bawah, bergulung bersama bau oli panas, keringat, asap rokok sintetis, dan logam terbakar. Di dinding, layar kecil menampilkan daftar pertandingan. Nama-nama ID berkedip. Beberapa bercanda. Beberapa berdarah.

Tunduk pada Nasib muncul di baris paling bawah.

L0.

Poin awal: 30.

Tri berhenti di depan Mecha nomor tujuh belas.

Benda itu abu-abu kusam, penuh penyok, bahu kanan berbeda warna, dan salah satu sensor mata berkedip terlambat. Sendi lututnya punya suara yang buruk. Kabel antarmukanya kasar. Di telapak tangan kiri, bekas retak dilas dengan teknik malas.

Tri menyentuh lapisan dadanya.

Hendra menunggu komentar.

Tri tersenyum.

“Bisa dipakai.”

“Itu standar yang mengerikan.”

“Standar orang yang butuh lima ribu kredit.”

Pintu arena di depan terbuka.

Cahaya putih menyambar masuk.

Sorakan penonton menghantam lorong seperti gelombang panas. Di seberang arena, Mecha lawan sudah naik ke panggung, memukul dadanya sendiri sampai logam berdentang. Nama ID lawan muncul di layar, tetapi Tri tidak memperhatikannya terlalu lama.

Ia masuk ke kokpit nomor tujuh belas.

Kabel antarmuka menempel di kulit.

Data kasar menerjang, lebih kotor daripada Mecha sekolah, lebih bising, lebih tidak stabil.

Tri menggenggam dua tuas kendali.

Di luar, pengeras suara meraung, “Pendatang baru L0, Tunduk pada Nasib!”

Hendra berdiri di balik pagar peserta, wajahnya tegang.

Bang Somad tersenyum dari samping papan taruhan.

Lampu arena menyala penuh.

Tri menunduk sedikit ke arah mikrofon internal, suaranya rendah.

“Gue datang bukan untuk main,” katanya. “Gue datang untuk cari uang dan pulang lebih mahal.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!