NovelToon NovelToon
Kapten Halim, Istrimu Sudah Tiga Tahun "Menjanda"

Kapten Halim, Istrimu Sudah Tiga Tahun "Menjanda"

Status: sedang berlangsung
Popularitas:6
Nilai: 5
Nama Author: Elara Aisyah

Dianggap "gadis bangkrut yang beruntung", diperlakukan seperti janda selama tiga tahun pernikahan rahasianya. Tapi begitu Renata melepas cincin dan pergi, topeng demi topeng terbuka: peretas nomor satu, putri hilang konglomerat permata, penyelamat nyawa sang Kapten. Saat semua yang menghinanya bertekuk lutut—Kapten Nathan Halim justru jatuh paling dalam, mengejar istri yang telah ia sia-siakan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Aisyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 15

Bab 15

Sekali Lagi, Dia yang Dipilih

Dua hari kemudian, Renata berdiri di balik tirai ruang konferensi sebuah hotel di Jakarta Pusat.

Di luar, puluhan kamera mengarah ke panggung kecil berlogo Prima Aeroteknik dan Angkasa Air. Pertemuan media itu seharusnya membahas hasil awal evaluasi AG2331. Namun semua orang tahu pertanyaan pertama bukan tentang pesawat.

“Kita sampaikan fakta yang sudah disepakati,” ujar Reno. “Pernikahan sah, urusan pribadi, nggak ada komentar tentang proses perceraian.”

Renata mengangguk sambil memeriksa susunan materi keselamatan. Nathan berdiri beberapa langkah darinya, jas hitamnya rapi, wajahnya lebih dingin daripada biasanya.

Cheryl berada di sisi lain ruangan. Ia mengenakan gaun putih sederhana dan tidak lagi memakai cincin merah muda itu di jarinya. Namun bekas unggahannya sudah telanjur ada di ribuan ponsel.

“Kenapa dia harus hadir?” tanya Renata pelan.

“Divisi kemitraan mengundang beberapa perwakilan Prima sebelum rekaman tersebar,” jawab Reno. “Mencoretnya sekarang akan terlihat seperti pengakuan.”

Nathan menatap Renata. Ia menunggu protes, sindiran, atau tuntutan agar Cheryl dipulangkan. Renata hanya merapikan map di tangannya.

“Selama dia nggak mengganggu materi keselamatan, terserah.”

Untuk pertama kalinya, jawaban tenang itu membuat Nathan merasa lebih tidak nyaman daripada pertengkaran.

Acara dimulai sepuluh menit kemudian.

Renata duduk di ujung meja panel sebagai awak kabin yang ikut menangani insiden. Saat moderator memintanya menjelaskan evakuasi penumpang, ia berbicara jelas, tidak berlebihan, dan selalu mengembalikan pujian kepada seluruh kru.

Seorang wartawan mencoba menyela.

“Bu Renata, apakah benar Kapten Nathan tidak menemui Anda setelah kecelakaan karena bersama Bu Cheryl?”

Ruangan langsung sunyi.

Renata tidak melihat ke arah Nathan.

“Hari ini saya hadir sebagai awak kabin AG2331. Semua pertanyaan tentang evaluasi keselamatan akan saya jawab. Urusan rumah tangga tidak mengubah fakta bahwa kru bekerja sesuai prosedur.”

“Tapi publik menilai Anda ditelantarkan.”

“Penilaian publik bukan bagian dari laporan keselamatan.”

Beberapa wartawan tertawa kecil. Yang lain buru-buru mengetik.

Nathan memandang perempuan di sampingnya lebih lama daripada seharusnya. Selama tiga tahun, ia mengingat Renata sebagai istri yang ditempatkan Opa di rumahnya, perempuan pendiam yang selalu ada ketika ia pulang dan tidak pernah menarik perhatiannya.

Kini, di bawah puluhan kamera, Renata tidak terlihat seperti orang yang membutuhkan namanya untuk berdiri.

Ia bahkan terlihat lebih tenang daripada seluruh tim komunikasinya.

Ada dorongan aneh di dada Nathan. Ketika wartawan berikutnya bertanya apakah Renata menikah demi menyelamatkan harta keluarga, tangannya bergerak mendekati mikrofon.

“Pernikahan kami bukan hasil paksaan Renata,” katanya.

Renata menoleh.

Itu baru satu kalimat. Bukan permintaan maaf. Namun selama tiga tahun, Nathan bahkan tidak pernah memberinya sebanyak itu di depan orang lain.

“Jadi Anda mengakui telah menyembunyikan istri sah sementara tampil bersama perempuan lain?” teriak seseorang dari barisan belakang.

Pertanyaan bertubi-tubi pecah.

“Apakah Bu Cheryl kekasih Anda?”

“Siapa pemilik cincin merah muda itu?”

“Bu Cheryl, apakah Anda tahu mereka masih menikah?”

Petugas acara meminta media tetap duduk, tetapi beberapa wartawan telah bergerak ke sisi panggung. Cheryl yang sejak tadi berdiri dekat pintu tiba-tiba dikelilingi mikrofon.

“Saya nggak pernah berniat menyakiti siapa pun,” katanya. Matanya memerah. “Saya dan Nathan sudah saling mengenal jauh sebelum...”

“Sebelum dia menikah?” potong seorang wartawan.

Cheryl mundur satu langkah. Tumitnya tersangkut ujung karpet dan tubuhnya bergoyang.

Nathan bangkit tanpa berpikir.

Ia melangkah cepat, menahan bahu Cheryl sebelum perempuan itu jatuh, lalu berdiri di depannya untuk menghalangi kamera.

“Cukup,” katanya tajam. “Dia nggak ada hubungan apa-apa dengan masalah pernikahan kami. Jangan ganggu dia.”

Kilatan kamera memenuhi ruangan.

Renata masih duduk di kursinya, hanya beberapa meter dari mereka.

Ia melihat tangan Nathan melindungi Cheryl. Gerakan itu begitu cepat dan alami, seolah tubuh lelaki itu sudah lama mempelajari ke mana ia harus berlari setiap kali Cheryl tampak rapuh.

Sementara ketika Renata turun dari pesawat dengan lengan berdarah, Nathan bahkan tidak menjawab telepon.

Reno memejamkan mata sebentar. Di tangannya, ponsel bergetar karena pesan masuk dari Kediaman Halim.

Siaran langsung acara belum berakhir ketika potongan video pertama muncul di akun gosip.

Di depan istri sah, Kapten Halim malah pasang badan untuk perempuan lain.

Komentar mengalir begitu cepat hingga layar sulit dibaca.

Istrinya duduk sendirian di belakang.

Kalau nggak ada hubungan apa-apa, kenapa yang selalu dilindungi dia?

Kasihan Bu Renata. Semua orang tahu posisinya kecuali suaminya sendiri.

Nathan baru menyadari letak Renata setelah petugas membawa Cheryl keluar dari kepungan. Kursi di ujung meja sudah kosong.

Ia menyusul ke lorong dan menemukan Renata sedang menyerahkan map materi kepada staf Angkasa.

“Rena.”

Perempuan itu berhenti.

Nathan ingin mengatakan bahwa ia hanya mencegah Cheryl jatuh. Bahwa kerumunan wartawan bisa berbahaya. Bahwa ucapannya tidak dimaksudkan untuk merendahkan siapa pun.

Namun bahkan di kepalanya sendiri, semua alasan itu terdengar terlambat.

“Dia hampir jatuh,” katanya akhirnya.

Renata tersenyum sangat tipis.

“Tentu saja.”

“Apa maksudmu?”

“Nggak ada.” Ia mengambil tas dari kursi. “Acara sudah selesai. Aku pulang dulu.”

Nathan meraih pergelangan tangannya, tetapi Renata menatap jemarinya sampai ia melepaskan pegangan itu.

“Jangan membuat adegan kedua,” katanya.

Di luar hotel, hujan turun deras. Pengemudi mobil yang dipesan Renata mengirim pesan bahwa jalanan macet dan ia harus menunggu beberapa menit.

Renata berdiri di bawah kanopi, merapatkan mantel di tubuh. Air memantulkan lampu kendaraan menjadi garis-garis panjang di aspal.

Selama beberapa detik di panggung tadi, ketika Nathan mengatakan pernikahan itu bukan paksaan darinya, bagian kecil yang bodoh di dalam dirinya sempat menghangat.

Sekarang rasa hangat itu sudah hilang.

Pintu hotel terbuka di belakangnya. Nathan muncul, tetapi sebelum sempat mendekat, Cheryl memanggil dari dalam dengan suara gemetar.

“Nathan, kepalaku masih pusing.”

Langkah lelaki itu berhenti.

Nathan menoleh ke pintu lobi, lalu kembali menatap Renata. Keraguan di wajahnya hanya berlangsung sekejap. Setelah itu ia berkata, “Tunggu di sini. Aku akan antar kamu pulang setelah memastikan kondisinya.”

Kalimat itu mungkin dimaksudkan sebagai perhatian. Bagi Renata, bunyinya tetap sama seperti tiga tahun terakhir: tunggu, karena Cheryl lebih dulu.

Reno keluar sambil membawa ponsel. “Opa menonton siaran langsung,” katanya tanpa basa-basi. “Beliau minta kamu pulang ke Kediaman Halim malam ini.”

Rahang Nathan mengeras. Dari dalam lobi, staf acara kembali memanggil karena Cheryl meminta air hangat.

Nathan mengembuskan napas, lalu berbalik ke arah suara itu.

Renata tidak menoleh untuk melihat pilihannya. Ia sudah tahu.

Mobilnya tiba. Renata membuka pintu sendiri dan masuk ke dalam, meninggalkan Nathan di bawah cahaya lobi.

Sekali lagi, ketika kesempatan datang untuk memilih dengan benar, Nathan Halim memilih Cheryl.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!