NovelToon NovelToon
Cerita SMA

Cerita SMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta
Popularitas:560
Nilai: 5
Nama Author: Ervina Dwiyanti

Tidak menyangka Aisyah mendapatkan kehidupan yang lebih baik daripada ketika dulu di SMP atau di SD yang tidak diperlakukan baik oleh teman teman barunya itu

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ervina Dwiyanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15.

Kejadian Tak Terduga di Perpustakaan

Suasana perpustakaan sekolah pagi itu terasa hening dan tenang, hanya terdengar suara gesekan kertas dan langkah kaki pelan penjaga perpustakaan. Rara baru saja selesai meminjam buku referensi, lalu berjalan menuju meja pojok tempat Aisyah sedang menunggunya. Di tangannya terdapat botol minum plastik yang tutupnya ternyata belum tertutup rapat sempurna.

Saat melewati meja di mana Laras sedang duduk asyik menulis catatan, seseorang berjalan terburu-buru di belakang Rara dan tak sengaja menyenggol bahunya. Rara terhuyung ke depan, dan air di dalam botolnya tumpah membasahi ujung lengan baju serta selembar dua halaman buku catatan pribadi milik Laras yang terbuka di atas meja.

"Eh, nggak sengaja!" seru Rara kaget, segera berhenti dan menunduk melihat kekacauan yang baru saja terjadi.

Laras yang tadinya fokus menulis, langsung mengangkat wajah dengan cepat. Matanya menatap tajam ke arah Rara, seolah hendak melontarkan kemarahan yang selama ini ia tahan. Ia menutup buku catatannya dengan kasar, lalu berdiri tegak menghadap Rara.

"Lo ngapain sih?! Mata lo di mana?!" desis Laras dengan suara rendah namun penuh amarah, takut mengganggu ketenangan di perpustakaan tapi tak bisa menahan emosinya. "Buku catatan gue basah semuanya gara-gara lo!"

Rara segera meletakkan botol minumnya di meja, lalu berusaha mengambil tisu dari tasnya. "Maaf ya, Lar... beneran gue nggak sengaja, tadi ada yang nyenggol gue dari belakang. Gue bantu keringin ya," ucapnya pelan, tangannya gemetar ingin menyentuh buku itu.

"Jangan disentuh!" tepis Laras kasar, menepis tangan Rara menjauh. Ia menatap sinis ke arah Rara, bibirnya menyeringai. "Lucu banget sih lo! Kemarin-kemarin lo dateng minta maaf seolah-olah lo udah berubah, sok santun banget di depan orang lain. Ternyata kelakuan lo tetep sama aja ya? Cuma sandiwara doang kan?"

"Itu bukan gue sengaja, Lar... gue beneran nggak bermaksud," coba jelaskan Rara, hatinya perih mendengar tuduhan itu lagi.

"Bukan bermaksud tapi selalu aja bikin gue rugi! Buku ini isinya catatan penting buat ulangan minggu depan, kalau tulisannya luntur atau kertasnya rusak gimana? Lo yang bakal gantiin? Atau lo yang nulis ulang semuanya buat gue?" Laras menunjuk dada Rara dengan jarinya, matanya berkaca-kaca karena campuran marah dan kesal. "Kemarin lo minta maaf gue kasih kesempatan, tapi ternyata lo nggak pernah berubah. Lo emang nggak pernah peduli sama barang atau perasaan orang lain!"

Rara terdiam, tak bisa berkata-kata lagi. Ia tahu ia salah, tapi rasanya tidak adil kalau semua kesalahan selalu dibebankan padanya seolah ia memang sengaja berbuat jahat. Ia hanya diam membiarkan Laras meluapkan kemarahannya, sementara di dalam hatinya mulai timbul pertanyaan: Apakah sebegitu sulitnya buat kita berdua untuk sekadar hidup berdampingan dengan tenang?

Laras akhirnya menyambar buku catatannya yang basah, menekannya pelan dengan tisu kasar dengan wajah yang masih merah padam. Ia tidak lagi menatap Rara, seolah keberadaan Rara di sana hanyalah gangguan besar baginya. Rara pun perlahan mundur, kembali ke meja Aisyah dengan langkah berat, menyadari bahwa permintaan maaf kemarin belum berarti apa-apa bagi Laras.

Suasana hening di perpustakaan makin tegang saat Citra yang duduk tepat di sebelah Laras langsung bangkit berdiri. Ia melipat buku di tangannya dengan kasar, lalu menatap Rara dengan tatapan merendahkan.

"Lo tuh ya, Ra! Bisa-bisanya jalan nggak lihat-lihat?" hardik Citra dengan suara yang sedikit meninggi, membuat beberapa siswa di sekitar mulai menoleh. "Udah tau bawa botol air, malah main asal jalan aja. Buku catatan Laras kan penting banget, lo nggak punya otak apa sih kalau sampai tumpah gitu?"

Rara tertegun, matanya beralih ke wajah Citra yang kini juga menatapnya sinis. "Gue beneran nggak sengaja, Citra... tadi ada yang nyenggol gue dari belakang," coba Rara jelaskan pelan, suaranya hampir tak terdengar.

"Nggak sengaja terus jadi alasan yang selalu lo pakai ya?" Citra mendengus kasar, lalu menyilang tangan di dada. "Kemarin minta maaf sebaik-baiknya, nunjukin kalau lo udah berubah. Sekarang? Buktinya masih aja bikin masalah! Lo emang nggak pernah berubah, sok baik di depan orang lain tapi aslinya ceroboh dan nggak peduli sama perasaan orang lain!"

Laras tersenyum tipis mendengar dukungan temannya, lalu menatap tajam ke arah Rara. "Denger kan? Bukan cuma gue aja yang mikir gitu. Semua orang sebenernya tau lo tuh kayak gimana," timpal Laras dingin.

Rara hanya bisa menunduk, menahan air mata yang mulai menggenang. Ia sadar ia salah, tapi rasanya sangat berat saat dua orang sekaligus menyerangnya dan mengungkit masa lalu yang seharusnya sudah selesai. Tanpa bisa membela diri lagi, Rara perlahan berbalik badan dan berjalan menjauh, meninggalkan meja itu dengan perasaan.

Rara berjalan lunglai menuju sudut paling gelap di perpustakaan, menyandarkan punggungnya ke rak buku yang dingin. Air matanya akhirnya jatuh juga, membasahi pipi yang terasa panas. Ia menekan mulutnya dengan telapak tangan agar tidak mengeluarkan suara isak tangis yang bisa didengar orang lain. Rasanya seolah seluruh dunia menuduhnya jahat, padahal ia hanya tidak sengaja berbuat salah.

Aisyah yang melihat kejadian itu dari tadi, segera bergegas menghampiri Rara. Ia tidak langsung bicara, melainkan memeluk bahu teman sebangkunya itu erat-erat. "Udah, Ra... jangan nangis di sini. Nanti dilihat orang lain malah makin diomongin," bisik Aisyah lembut sambil mengusap punggung Rara.

Sementara itu di meja tadi, Laras sibuk menekan bagian buku yang basah dengan tisu, namun tangannya kini bergerak pelan. Ia tak sengaja mendengar bisik-bisik teman di meja sebelah.

"Kok kasar banget sih Citra sama Rara? Kan kelihatan banget Rara nggak sengaja tadi," gumam salah satu siswi pelan.

"Iya bener. Lagian buku cuma kena air dikit, belum tentu rusak parah. Kok kayak dunia mau kiamat aja marahnya," timpal yang lain.

Perkataan itu menusuk telinga Laras. Ia berhenti bergerak sejenak, menatap wajah Citra yang masih tampak kesal. Tiba-tiba terbayang di benaknya wajah Rara yang sedih, menunduk tanpa berani membela diri sama sekali.

"Citra... tadi kita nggak kelewatan ya?" tanya Laras pelan, ragu.

Citra mendengus, masih merasa benar. "Kelewatan apa? Dia yang salah duluan. Udah sering bikin masalah, dikasih pelajaran dikit nggak apa-apa."

Laras diam lagi. Ia menatap bukunya yang memang hanya basah di ujung halaman, tulisannya belum luntur sama sekali. Tiba-tiba rasa bersalah mulai menyelinap di hatinya. Ia sadar tadi ia meluapkan semua kemarahannya yang sudah lama dipendam—bukan cuma karena buku basah, tapi karena rasa cemburu, rasa takut kalah, dan rasa tidak suka yang ia simpan sejak lama. Dan Rara menjadi sasaran empuknya.

Tak lama kemudian, Bu Ratna masuk ke perpustakaan untuk mengambil buku referensi. Ia melihat Rara yang sedang menyeka air mata di sudut ruangan, lalu melihat ke arah Laras dan Citra yang saling diam. Guru itu mendekat ke meja Laras, melihat buku yang sedikit basah, lalu menatap mereka berdua dengan tatapan tenang namun tajam.

"Ada apa ini? Kenapa ada yang menangis dan ada yang tampak bersalah begitu?" tanyanya pelan agar tidak mengganggu yang lain.

Laras menunduk, tak berani menatap wajah Bu Ratna. "Itu... Rara nggak sengaja tumpahin air ke buku saya, Bu. Saya sama Citra jadi marah," jawabnya lirih.

Bu Ratna mengangguk pelan, lalu menyentuh halaman buku itu. "Bukunya cuma basah sedikit, nanti diangin-anginkan juga kering kembali. Tapi lihatlah ke sana, Nak. Rara tampak sangat hancur. Salah kecil dibalas dengan amarah yang besar, sampai-sampai dia tak berani membela diri. Ingat pesan Ibu: memaafkan bukan berarti kamu lemah, tapi menunjukkan kalau kamu lebih dewasa."

Perkataan Bu Ratna membuat hati Laras terasa seperti ditusuk jarum. Ia menoleh ke arah Rara yang kini berjalan keluar perpustakaan ditemani Aisyah, punggungnya tampak begitu kecil dan rapuh. Untuk pertama kalinya, Laras merasa bukan Rara yang jahat, melainkan dirinya sendiri yang terlalu keras hati.

1
sakura
...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!