NovelToon NovelToon
The Last Survivors

The Last Survivors

Status: sedang berlangsung
Genre:Zombie / Hari Kiamat / Horor
Popularitas:122
Nilai: 5
Nama Author: Pineapple banana

Wabah misterius meluluhlantakkan peradaban dalam semalam, mengubah manusia menjadi makhluk haus darah yang tak kenal lelah. Di tengah kota yang sunyi dan penuh mayat hidup, sekelompok orang yang tak saling kenal terpaksa bersatu. Mereka bukan hanya harus bertahan dari serangan para mayat hidup, tapi juga menghadapi pengkhianatan, kelaparan, dan kenyataan pahit bahwa mereka mungkin adalah sisa-sisa manusia terakhir di muka bumi. Antara harapan dan keputusasaan, mereka harus memilih: bertahan hidup sendiri, atau mati bersama sebagai satu-satunya harapan umat manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pineapple banana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29. Pilihan Jalan Menuju Lembang

"Perjalanan kita berlanjut ke daerah sini..." Ucap Damian, ujung jarinya menunjuk titik di peta jalanan yang terlipat lusuh di atas kap mobil.

Jagad mencondongkan badan, matanya menyipit melihat nama tempat yang ditunjuk. "Itu ke Lembang..." Ia mendongak menatap pemimpinnya, sedikit bingung. "Damian, bukannya kau bilang tujuannya ke Tangkuban Perahu?"

Damian menarik napas panjang, menatap peta itu dengan ragu yang nyata. "Aku ragu ke sana. Banyak kabar menyebut itu tempat pengungsian yang aman, tapi aku tak mudah percaya begitu saja, Jagad. Kau sudah lihat sendiri kenyataannya... lebih baik kita bangun pertahanan sendiri, seperti yang sudah kita lakukan. Dan kalian semua membantu mewujudkannya." Ia menatap satu per satu wajah rekan-rekannya.

Jagad mengangguk pelan — ia setuju, tapi tak tahu apakah yang lain juga berpikir sama. Ia pun menoleh ke sekeliling, menatap setiap orang seakan meminta jawaban mereka.

Tatapan Jagad penuh arti. Ketiga wanita dan ketiga pria yang berdiri di sana saling bertukar pandang, lalu perlahan mengangguk — setuju dengan keputusan Damian.

"Baiklah, mereka setuju," ucap Jagad pelan.

Damian mengangguk mantap. "Kalau begitu, kita berangkat sekarang."

Mereka segera membereskan peralatan makan, melipat peta, dan mengecek kembali senjata serta perlengkapan yang dibawa. Jagad mematikan sisa api unggun, menimbun abunya dengan tanah agar tak meninggalkan jejak, lalu meratakan tempat itu kembali.

"Kalian sudah siap?" tanya Damian, menelisik wajah setiap orang di hadapannya.

"Sudah, Damian..." jawab mereka serempak.

"Baik, masuk ke mobil masing-masing. Kita berangkat."

Pintu mobil tertutup satu per satu. Mesin menyala pelan, lalu kendaraan itu perlahan melaju meninggalkan tempat istirahat mereka, membawa rombongan itu semakin dekat ke Lembang — tempat di mana teman-teman Hilda mungkin sedang bertahan hidup, atau mungkin sudah tiada.

***

Jauh di sana, di daerah Lembang, berdiri sebuah gedung sekolah yang kini terbengkalai — tak lagi dipakai sejak wabah menyapu bersih seluruh kota, mengubahnya menjadi kota mati yang sunyi. Namun gedung itu kini tak lagi kosong: rombongan Danu menjadikannya tempat berlindung, dan di tangan mereka, tempat itu berubah menjadi benteng yang dijaga dengan sangat ketat.

Di halaman depan sekolah, Rafli bersama kakaknya, Toni, sibuk menyusun kayu dan papan-papan kokoh menjadi sebuah pos jaga yang tegak. Mereka menumpuknya rapat, memastikan setiap sisi terlindungi, tempat di mana seseorang bisa berdiri mengawasi jalanan tanpa mudah terlihat dari luar.

Tak cukup hanya di bawah. Di atas gedung sekolah, tepat di atap lantai paling atas, mereka juga membangun pos pengawasan kedua — khusus untuk berjaga saat malam tiba. Dari ketinggian itu, pandangan bisa menjangkau jauh ke segala arah: ke jalan raya, ke pepohonan, hingga ke kejauhan tempat kawanan itu mungkin muncul perlahan di tengah kegelapan.

Siang itu matahari bersinar terang, namun tak ada yang bersantai. Setiap orang bekerja dengan tekun — mengikat, memaku, memperkuat — karena mereka tahu, satu celah saja bisa menjadi jalan masuk bagi maut yang berjalan di luar sana.

Malam turun perlahan, membawa hawa dingin yang menusuk tulang. Mereka berkumpul di halaman sekolah, mengelilingi api unggun yang menyalakan wajah mereka dengan cahaya keemasan. Kayu terbakar mengeluarkan bunyi letupan kecil, dan di atas apinya, buruan yang didapat Rafli tadi sore mulai matang, mengeluarkan aroma yang menggugah selera.

Di sana, di tengah kegelapan yang mengancam di luar pagar, mereka duduk berdampingan — tertawa, bercerita, bercanda seolah tak ada yang berubah. Walaupun dunia di luar sana sudah tak lagi sama.

"Kalian tahu..." ucap Jodie sambil menatap nyala api, senyum tipis terukir di bibirnya. "Dulu aku sangat suka menonton film komedi. Menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk tertawa lepas."

Simon mengangguk pelan, ikut tersenyum. "Aku juga. Apalagi musik... Setiap pagi aku tak pernah melewatkan acara musik di televisi. Rasanya hidup begitu cerah."

Jodie lalu menoleh ke arah Natalia, diikuti tatapan yang lain. "Lalu kau, Nat... apa hobimu dulu?"

Natalia menarik napas panjang, menghembuskannya perlahan ke udara dingin. "Dulu... hobi sederhanaku adalah pulang-pergi bersama pacarku, Justin. Kami berdua sangat mencintai alam. Sering bermalam di hutan saat mendaki gunung, menikmati keheningan di puncak... Lalu sesekali pergi ke pantai, bahkan berlayar ke tengah lautan hanya untuk melihat matahari terbit."

Suaranya melembut, namun penuh perih. "Masa-masa itu... kenangan terindah bersama Justin dan..." Ia terdiam tiba-tiba, menundukkan kepala, tak sanggup melanjutkan kalimatnya.

Mega segera menyahut pelan, memecah keheningan yang menyakitkan. "Sudah, kawan-kawan... tak perlu dilanjutkan." Ia menoleh ke arah Danu, tersenyum lembut. "Mari kita dengar dari pemimpin kita. Bagaimana kisahmu dulu, Danu?"

Danu tersenyum sederhana. "Aku tak punya kisah yang mengagumkan. Aku hanyalah seorang penunggang kuda. Tempatku bekerja sering dikunjungi para pejabat untuk berlibur... dan aku hanya berdiri di sana, mengawasi mereka bersenang-senang."

"Jadi kau itu koboi, kawan?" canda Rafli.

Danu tertawa pelan. "Haha, tidak... Aku hanya orang biasa yang mencintai kuda dan padang rumput itu saja."

Lalu giliran pasangan lansia yang duduk di sisi lain. "Dan kami..." ucap sang kakek lembut, merangkul bahu istrinya. "Kami hanya orang tua yang hobi berkebun. Setiap hari menanam, menyiram, menunggu kedatangan anak dan cucu berkunjung... Semoga mereka masih hidup di tempat yang aman." Suaranya terdengar begitu lirih, penuh harap yang tak ingin patah.

Danu berdiri perlahan, menatap mereka semua. "Baiklah, teman-teman. Sudah cukup larut. Kita beristirahat sekarang, dan yang lain tetap berjaga seperti biasa. Nanti kita gantian."

Beberapa orang pun beranjak, melangkah perlahan menuju pintu masuk gedung sekolah, menghilang ke dalam kegelapan ruangan yang hangat. Sementara yang lain tetap duduk di sana, menjaga api tetap menyala, dan mata mereka sesekali menatap ke arah gerbang — ke arah jalanan yang gelap dan sunyi, tempat di mana bahaya bisa saja berjalan mendekat tanpa suara.

Bersambung

1
Abyyasdemons
keren
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!