Setiap malam, Alena selalu memimpikan seorang pria. Seorang raja tampan yang kejam kepada semua orang, tetapi mencintainya dengan gila-gilaan.
Dalam mimpi itu, Alena adalah tunangannya. Mereka tinggal di sebuah kerajaan yang tidak pernah ia kenal. Sang raja selalu memeluknya, mencium keningnya, bahkan berjanji akan menjadikannya permaisuri.
Alena selalu mengira semua itu hanya mimpi. Sampai suatu pagi, setelah sang raja menciumnya dalam mimpinya, ia menemukan bekas kemerahan di lehernya.
Bekas itu nyata. Sejak saat itu, Alena mulai bertanya-tanya... Apakah ia benar-benar sedang bermimpi?
Sampai seorang pria baru datang ke tempat kerjanya sebagai bos baru. Begitu melihat wajahnya, Alena langsung membeku. Pria itu memiliki wajah yang sama persis dengan raja dalam mimpinya.
Namun sebelum Alena sempat melarikan diri, pria itu justru menghampirinya dan memeluknya erat.
“Kau... masih hidup?”
Alena panik dan segera mendorongnya. “Maaf, Pak. Apa kita pernah bertemu?”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R251Aje, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2 Pasangan Bos
Pria itu menarik Alena ke dalam ruangannya dan mengunci pintu. Tanpa banyak bicara, dia langsung menciumnya. Alena meronta, berusaha melepaskan diri dari ciuman itu, namun tenaganya jelas kalah jauh dibanding tenaga bosnya. Dalam hati dia hanya bisa mengumpat, “Astaga… ciuman pertamaku hilang begitu saja?!”
Setelah puas, Raka Bima melepaskannya. Alena langsung menampar pipi pria itu dengan keras, lalu buru-buru keluar dari ruangan dengan wajah merah padam. Sesampainya di ruang kerja, Mira langsung menggodanya dengan senyum usil. “Eh, muka kamu merah banget. Habis digigit nyamuk apa digigit bos?” godanya pelan. Alena hanya membuang muka, tidak menjawab.
Beberapa saat kemudian, suara Dito—sekretaris pribadi bos—terdengar jelas dari arah ruang utama. Dia mengumumkan bahwa malam ini Direktur akan menghadiri pelelangan benda antik di museum. Dan untuk acara tersebut, beliau akan menunjuk seseorang sebagai pasangan sekaligus perwakilan perusahaan.
Alena menghela napas lega dalam hati. Dia sama sekali tidak berharap namanya disebut. Mending siapa saja, asal bukan dia. Namun detak jantungnya langsung berhenti sejenak ketika suara pria paruh baya itu terdengar tenang namun tegas, “Alena. Kamu yang akan menemani pak Raka malam ini.”
Suasana ruang kerja seketika hening. Semua pandangan tertuju padanya. Alena membeku di kursinya. Dia bisa merasakan tatapan Mira yang membelalak di sebelahnya, juga senyum tipis Raka yang seperti sudah menduga dari tadi.
“Siap, Pak…” jawabnya pelan, hampir tak bersuara, meski seluruh tubuhnya menolak.
Alena masih terdiam di kursinya ketika Dito mendekat sambil membawa map hitam. “Alena, ini detail acaranya,” katanya profesional. “Pelelangan dimulai pukul tujuh. Kamu harus sudah siap di lobi hotel pukul setengah tujuh. Gaun sudah disiapkan di ruang ganti lantai tiga. Ada juga perhiasan yang harus dipakai.”
Alena menerima map itu dengan tangan sedikit gemetar. “Gaun… sudah disiapkan?”
Dito mengangguk. “Pak Raka yang pilih sendiri tadi pagi.”
Mira yang sejak tadi hanya menyimak, sekarang menyenggol lengan Alena pelan. “Astaga… serius dia pilihkan gaun? Ini mah bukan sekadar temenin acara, Len.”
Alena tidak menjawab. Dia hanya menghela napas panjang, lalu berdiri. “Aku ke ruang ganti dulu,” gumamnya.
Ruang ganti lantai tiga ternyata sudah disiapkan khusus. Di dalam, sebuah gaun hitam panjang dengan potongan bahu terbuka tersampir rapi di manekin. Gaun itu elegan, tapi jelas dirancang untuk menarik perhatian. Di sampingnya, sepasang heels hitam dan kalung berlian sederhana.
Alena menatap gaun itu lama. “Dia bahkan tidak bertanya ukuranku…” bisiknya sendiri.
Meski enggan, dia tetap mengganti pakaian. Ketika keluar dari ruang ganti, Dito sudah menunggu di lorong. “Alena sudah siap. Mobil Pak Raka menunggu di basement.”
Perjalanan menuju museum berlangsung dalam keheningan. Raka duduk di kursi belakang bersama Alena, sementara Dito berada di depan bersama sopir. Alena berusaha sebaik mungkin menjaga jarak, tapi kursi mobil yang tidak terlalu lebar membuat bahu mereka sesekali bersentuhan. Raka tidak berbicara sama sekali. Hanya sesekali menatapnya dari sudut mata, seolah menilai.
Sesampainya di museum, suasana sudah ramai oleh para kolektor dan pengusaha. Raka turun lebih dulu, lalu mengulurkan tangan ke arah Alena.
Alena ragu sejenak, tapi akhirnya meletakkan tangannya di atas tangan pria itu. Senyum tipis terpatri di wajah Raka, seolah dia baru saja memenangkan sesuatu.
Begitu mereka memasuki aula utama, beberapa orang langsung menyambut Raka. Sebagai pengusaha muda yang sedang naik daun, kehadirannya tentu menarik perhatian. Namun Raka tidak terlalu memedulikan mereka.
Tatapannya justru tertuju kepada Alena. “Jangan jauh-jauh dariku.”
Alena menghela napas. “Aku bukan anak kecil.”
“Aku tahu.”
“Lalu?”
“Aku hanya tidak ingin kehilanganmu lagi.”
Alena terdiam. Kalimat itu kembali membuat dadanya terasa aneh. Dia tidak mengerti kenapa Raka selalu berbicara seolah mereka pernah mengalami sesuatu yang begitu besar. Mereka kemudian duduk di barisan depan. Pelelangan dimulai. Berbagai benda antik ditampilkan. Mulai dari lukisan tua, pedang kuno, perhiasan kerajaan, bahkan patung-patung yang usianya ratusan tahun.
Alena memperhatikan semuanya dengan biasa saja. Sampai pembawa acara mengumumkan barang berikutnya. “Barang selanjutnya merupakan benda yang ditemukan dalam penggalian reruntuhan kuno.”
Sebuah kotak kaca dibawa ke atas panggung. Di dalamnya terdapat sebuah kalung. Kalung dengan batu merah tua yang berkilau di bawah cahaya lampu. Alena langsung membeku. Jantungnya berdetak keras. “Itu...”
Raka menoleh. “Apa?”
Alena berdiri perlahan. “Aku pernah melihat kalung itu.”
Raka menatap benda tersebut. “Aku tahu.”
Alena menatapnya. “Dari mana?”
Raka tidak menjawab. Pembawa acara melanjutkan penjelasan. “Menurut para peneliti, kalung ini ditemukan di sebuah reruntuhan yang diduga merupakan bagian dari sebuah kerajaan yang sampai sekarang belum berhasil diidentifikasi.”
Layar besar menampilkan gambar simbol di belakang kalung. Alena memegang dadanya. Simbol itu terasa sangat familiar. Tiba-tiba kepalanya berdenyut. “Aduh...”
Raka langsung berdiri. “Alena?”
“Aku tidak apa-apa.” Namun pandangan Alena mulai kabur. Suara-suara asing terdengar di kepalanya. “Yang Mulia...”
Alena menoleh ke sekeliling. Tidak ada siapa pun yang memanggilnya. “Yang Mulia, pasukan musuh sudah mendekati gerbang.”
Alena memegang kepalanya. “Apa ini?”
Raka langsung menggenggam bahunya. “Alena, lihat aku.”
Alena menatapnya. Dalam sekejap, wajah Raka berubah dalam pandangannya. Bukan lagi seorang bos perusahaan. Melainkan seorang pria mengenakan mahkota raja. Dan di belakangnya berdiri sebuah istana yang terbakar.
Alena tersentak. Gambaran itu menghilang. “Raka...”
“Aku di sini.”
“Kau... seorang raja?”
Raka terdiam. Dia tahu saat itu akan datang. Namun ia tidak menyangka secepat ini. “Aku bisa menjelaskan.”
“Jadi semua yang selama ini aku impikan...”
“Bukan mimpi.”
Alena menatapnya dengan mata berkaca-kaca. “Lalu apa?”
“Kenangan.”
Pelelangan terus berlangsung. Namun Alena tidak lagi memperhatikan benda-benda lain. Pikirannya hanya tertuju pada kalung itu. Ketika harga mulai disebutkan, Raka mengangkat papan penawaran. “Satu miliar.”
Beberapa orang langsung ikut menawar. “Satu koma lima miliar.”
“Dua miliar.”
Raka tetap tenang. “Tiga miliar.”
Ruangan menjadi sunyi. Tidak ada lagi yang berani menawar.
Pembawa acara mengetukkan palu. “Terjual kepada Tuan Raka Bima.”
Alena menatapnya. “Anda benar-benar mengeluarkan tiga miliar untuk benda itu?”
Raka mengangguk. “Ya.”
“Kenapa?”
Raka menatap kalung yang baru saja dibelinya. “Karena benda ini pernah menjadi milikmu.”
Alena terdiam. “Milikku?”
“Ya.”
“Bagaimana mungkin?”
Raka tidak langsung menjawab. Ia mengambil kotak kalung tersebut dan menyerahkannya kepada Alena. “Pegang.”
Alena ragu. “Kenapa?”
“Karena hanya kau yang bisa membangunkan kekuatannya.”
Alena menatapnya bingung. “Kekuatan?”
“Percayalah padaku.”
Alena perlahan membuka kotak itu. Tangannya menyentuh kalung tersebut. Seketika—Cahaya merah menyala. Alena terkejut dan hampir menjatuhkan benda itu. Suara musik di dalam aula seolah menghilang.