"Kau itu cuma babu pembersih luka yang dibeli oleh Kakekku. Jangan pernah bermimpi bisa menjadi nyonya di rumah ini!"
Bagi Jiro, Senjani tak lebih hanya seorang wanita oportunis yang memanfaatkan kelumpuhannya demi uang. Menikahi Tuan Muda lumpuh dengan keterpaksaan karena utang, Senjani harus menelan mentah-mentah semua hinaan dan perlakuan kasar dari Tuan Muda berhati es itu.
Sebagai seorang fisioterapis, tugas Senjani hanya satu, yaitu menyembuhkan kaki Jiro yang lumpuh akibat kecelakaan tragis di masa lalu. Namun, saat jemari tangannya mulai menuntun Jiro untuk kembali berdiri, sebuah rahasia berdarah justru terkuak. Masa lalu kelam di antara keluarga mereka merobek sisa-sisa profesionalisme Senjani.
Saat Senjani memilih pergi dengan luka yang bersimbah air mata, Jiro baru menyadari bahwa sentuhan wanita itu adalah satu-satunya penyembuh bagi jiwanya yang telah lama mati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ghost_Writer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Monster yang Lumpuh
Senjani tidak bergerak satu sentimeter pun dari posisinya berdiri. Buket bunga mawar putih di genggamannya remuk, menyisakan kelopak yang berjatuhan satu persatu ke atas lantai marmer yang mengilap. Tatapan matanya lurus menembus remang kamar, menatap sepasang mata elang milik Jiro yang menyala-nyala oleh amarah dan dendam. Kamar mewah ini terasa begitu mencekam layaknya neraka, lebih dingin daripada ruang isolasi rumah sakit tempat Senjani bekerja dulu.
"Kenapa masih aja berdiri di sana? Selain murahan apa kamu juga tuli, hah?!" bentak Jiro. Suaranya serak naik satu oktav hingga urat-urat di lehernya menegang. Kedua tangannya mencengkeram erat sandaran lengan kursi roda elektriknya, cengkramannya begitu kuat sampai-sampai membuat buku-buku jarinya memutih dan gemetar. "Keluar dari kamarku!"
Senjani mengembuskan napas perlahan melalui hidung, rasanya sesak dan berat. Sebagai seorang profesional yang terbiasa menangani pasien pasca-trauma, dia tahu betul bahwa kemarahan Jiro adalah tameng dari rasa tidak berdaya yang ia rasakan. Dia melangkah maju dengan tenang, membungkuk untuk memungut bantal yang tadi dilempar Jiro, lalu menepuk-nepuk permukaannya yang sedikit berdebu.
"Saya tidak tuli, Tuan Jiro," ucap Senjani. Nadanya sengaja diatur serendah dan seprofesional mungkin, tanpa ada nada menantang ataupun gemetar. "Saya juga tahu kalau Anda tidak menginginkan pernikahan ini. Begitupun dengan saya. Kita berdua sama-sama terjebak. Tapi mulai hari ini, status saya adalah istri sekaligus terapis fisik pribadi Anda. Dan saya tidak akan pergi ke mana pun sebelum tugas saya selesai."
Jiro tertawa sinis. Sebuah tawa hambar yang sarat akan rasa jijik dan ejekan untuk dirinya sendiri. "Istri? Terapis? Kakek benar-benar cerdik, ya. Dia sengaja memilihmu karena tahu aku selalu mengusir semua terapis pria berkumis tebal yang dikirimnya bulan lalu sebelum mereka sempat menyentuh kulitku. Lalu sekarang, apa? Dia mengirim seorang wanita muda berwajah melas agar aku merasa kasihan dan luluh?"
Jiro menekan tombol pada kursi rodanya. Kursi rodanya bergerak memangkas jarak di antara mereka hingga Senjani bisa mencium aroma parfum maskulin yang berbaur dengan bau antiseptik yang pekat dari tubuh pria itu.
"Dengar, Nona Terapis yang ambisius," bisik Jiro. Suaranya mendesis berbahaya tepat di depan wajah Senjani, mengirimkan sensasi dingin yang menggelitik tengkuk. "Kakiku ini sudah mati dan lumpuh total. Jiwaku juga sudah ikut mati di jalan tol itu enam bulan lalu. Jangan berlagak menjadi malaikat penyembuh di rumah ini hanya demi mendapatkan muka dan warisan dari Kakekku. Kamu tidak akan mendapatkan apa-apa dariku bahkan hanya untuk sepeserpun."
Senjani merasakan dadanya berdenyut nyeri. Bukan karena rentetan kalimat tajam yang keluar dari bibir tipis Jiro, melainkan karena dia bisa melihat dengan jelas kilatan keputusasaan yang luar biasa besar di balik sepasang manik mata suaminya. Pria di hadapannya ini sedang sekarat di dalam cangkang tubuhnya sendiri.
Sebelum Senjani sempat membalas, Jiro memutar kursi rodanya dengan gerakan sentakan yang kasar. Dia melaju cepat menuju ranjang berukuran king-size di tengah ruangan. Dengan bersusah payah dan gerakan yang terlihat sangat frustrasi, Jiro mencoba memindahkan tubuhnya sendiri dari kursi roda ke atas kasur.
Kedua kakinya yang terbalut celana kain longgar tampak lunglai tak bertenaga, sama sekali tidak bisa menumpu ataupun menahan beban tubuh bagian atasnya yang gagah.
"Argh! Kaki sialan!" Jiro menggeram saat cengkeraman tangannya pada seprai meleset. Tubuhnya limbung, hampir merosot jatuh ke lantai dengan posisi kepala terlebih dahulu.
Insting seorang fisioterapis membuat tubuh Senjani reflek bergerak lebih cepat dari otaknya. "Tuan Jiro, Hati-hati! Biarkan saya membantu Anda. Teknik transfer tubuh Anda salah, itu bisa mencederai otot rotasi bahu Anda!"
Senjani menubruk maju, menyisipkan kedua lengannya di bawah ketiak Jiro untuk menahan beban tubuh pria itu. Namun, reaksi Jiro justru disaat itu juga benar-benar di luar dugaan.
"Jangan sentuh saya! Lepas!" teriak Jiro histeris. Wajahnya memerah padam karena murka dan rasa malu yang tercampur menjadi satu.
Pria itu menyentakkan siku kanannya dengan sekuat tenaga, menepis lengan Senjani dengan sangat kasar. Dorongan itu membuat keseimbangan Senjani goyah. Tubuhnya terjerembab ke samping, dan punggung tangan kirinya menghantam sudut tajam nakas kayu ek yang tebal dengan keras.
Brak!
"Aw..." Senjani meringis pelan, refleks memegangi pergelangan tangannya yang mendadak mati rasa sebelum rasa nyeri yang berdenyut-denyut mulai menjalar. Kulit putihnya langsung berubah kemerahan dan mulai membiru.
Sementara itu, Jiro berhasil menarik tubuhnya ke atas ranjang dengan sisa tenaga di kedua lengannya yang kekar. Dia berbaring telentang di kasur yang empuk, napasnya tersengal-sengal seperti orang yang baru saja berlari maraton. Matanya menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong, penuh dengan kabut kebencian.
"Mau tidur di sofa atau di lantai... Terserah kamu. Tapi kalau kamu berani mendekati saya atau menyentuh saya lagi saat saya tidur, saya bakal pastikan besok pagi kamu akan didepak dari rumah ini tanpa membawa sepeser uang pun," ancam Jiro, suaranya melemah namun tetap sarat akan ketegasan yang tidak bisa dibantah. Dia membalikkan tubuhnya membelakangi Senjani.
Senjani berdiri perlahan, memandangi punggung tangan kirinya yang kini mulai membengkak. Air mata yang sejak tadi dia tahan di pelupuk mata akhirnya lolos satu tetes. Dia teringat ibunya yang mungkin saat ini sedang bersiap di bandara untuk diterbangkan ke Singapura berkat dana darurat dari Pak Baskoro.
Bertahanlah, Senjani. Rasa sakit ini tidak ada apa-apanya dibanding kehilangan Ibu, bisik batinnya berusaha menguatkan, ia menghapus air mata itu dengan cepat menggunakan ujung jarinya.
Senjani berjalan gontai menuju sofa panjang beludru di dekat jendela besar yang menghadap ke halaman belakang. Kamar mewah ini sama sekali tidak menyediakan selimut atau bantal tambahan untuknya, itu adalah bentuk penolakan secara tidak langsung dari kepala pelayan yang tampaknya berpihak pada Jiro. Dengan gaun pengantin satin yang masih melekat ketat di tubuhnya, Senjani merebahkan dirinya di sofa.
Dia melipat kedua lengannya di dada, meringkuk seperti janin untuk menahan hawa dingin dari AC sentral yang menusuk hingga ke tulang. Malam itu, di dalam kamar pengantin yang seharusnya dipenuhi bunga dan kehangatan, hanya ada keheningan yang menyiksa, diiringi suara detik jam dinding yang seolah menertawakan kemalangannya.
...----------------...
Keesokan harinya, semburat sinar matahari pagi menerobos masuk melalui celah-celah gorden berwarna abu-abu yang tebal.
Senjani tersentak bangun saat mendengar suara pintu kamar mandi yang terbuka. Tubuhnya terasa luar biasa kaku, dan lehernya salah bantal hingga memicu rasa kram yang menyiksa. Dia segera bangkit berdiri, berusaha merapikan gaun pengantinnya yang kini sudah terlihat kusut masai dan tak berbentuk lagi, lalu ia menoleh ke arah sumber suara yang membuatnya terbangun.
Jiro sudah berada di atas kursi rodanya. Pria itu tampak segar, mengenakan kemeja hitam legam yang lengannya digulung hingga ke siku, menampilkan jam tangan mewah yang melingkar di pergelangan tangannya. Rambutnya yang sedikit basah disisir rapi ke belakang. Dia menatap Senjani dengan tatapan sedingin es yang sama seperti semalam, seolah melihat seonggok barang pajangan yang mengganggu pemandangannya di awal pagi.
"Cepat ganti pakaianmu. Kakek minta kita turun untuk sarapan bersama seluruh anggota keluarga besar," ujar Jiro dengan nada suara yang datar dan monoton. "Dan ingat satu hal, di depan Kakek, jaga mulutmu baik-baik. Jangan berlagak mengadu dan memancing keributan jika kamu masih ingin ibumu bernapas di rumah sakit."
Senjani mengangguk patuh, tidak ingin berdenat kusir di pagi hari yang cerah ini. "Baik, Tuan. Beri saya waktu lima belas menit."
Dia segera berjalan menuju walk-in closet raksasa di sudut kamar. Di sana, sudah berjajar pakaian-pakaian baru yang tampaknya dibelikan oleh pelayan atas perintah Pak Baskoro. Senjani memilih setelan yang paling sederhana, yaitu sebuah tunik katun longgar berwarna pastel dan celana kain hitam. Setidaknya, pakaian ini jauh lebih memudahkannya untuk bergerak sebagai terapis daripada gaun pengantin yang menyiksanya semalam.