Setelah diminta mengundurkan diri dari jabatannya sebagai CEO sebuah perusahaan besar, Viola Shania memilih memulai hidup baru dengan membuka toko kue sederhana bernama Sweet Cake.
Di balik senyum manis dan kue-kue manis yang dibuatnya, tersimpan luka yang tak pernah benar-benar sembuh.
Sebuah kejadian tak terduga mengubah jalan hidupnya, memaksanya menikah dengan Han Seokjin, seorang CEO dingin, angkuh, berusia 35 tahun. Han Seokjin menutup rapat pintu hatinya setelah cinta tak berbalas terhadap sepupunya sendiri.
Di tengah pernikahan yang penuh tantangan, Viola bertekad mencairkan hati suaminya.
Mampukah ia meraih cinta Seokjin, atau justru menyerah pada takdir yang tak pernah berpihak padanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon teteh lia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13.
Sore hari, setelah seharian berkeliling mencari tempat baru, Viola akhirnya kembali ke Sweet Cake dengan perasaan yang tidak sepenuhnya lega.
Lima bangunan sudah ia datangi. Tiga di antaranya terlalu tinggi biaya sewanya. Satu sudah lebih dulu disewa orang lain, sementara bangunan yang terakhir yang paling menarik justru sudah terjual pagi tadi.
Melangkah perlahan menaiki tangga dengan tubuh lelah membuat Viola tidak menyadari jika seseorang baru saja turun dari mobil mewah di depan tokonya.
"Nona Viola!"
Suara itu membuat langkah Viola terhenti di anak tangga kedua.
Ia menoleh. Han Seokjin berdiri beberapa meter di belakangnya.
"Tuan Han?" Viola menatap pria itu beberapa saat. Ia sama sekali tidak menyangka pria itu kembali datang ke tempatnya.
"Ada yang ingin aku bicarakan." Seokjin berjalan mendekat.
"Kalau begitu, naik saja. Kita bicara di atas."
Viola kembali menaiki tangga. Seokjin mengikutinya dari belakang.
Sesampainya di lantai atas, ia menarik satu kursi dan mempersilahkan Seokjin untuk duduk.
Seokjin mengangguk lalu duduk di kursi yang menghadap ke jalanan di bawahnya. Sementara Viola masuk ke dalam rumah untuk menyimpan tas dan menyiapkan minuman.
Beberapa menit berlalu, Viola kembali ke luar dengan dua cangkir kopi dan potongan tiramisu di atas nampan yang dibawanya.
"Silakan dicicipi," ucapnya kemudian duduk di kursi sebrang Seokjin.
Seokjin mengangguk kecil lalu mengambil cangkir kopi itu dan menyesapnya. Rasa pahit yang ringan bercampur aroma manis membuat alisnya terangkat tinggi. Ia menyukai rasa pas dalam racikan kopi itu.
"Bagaimana dengan tokomu?" tanya Seokjin. Ia meletakkan cangkir kopi yang masih bersisa setengahnya kembali ke atas meja.
"Ramai seperti biasa," jawab Viola singkat. Namun, selanjutnya ia menghela napas lalu menyandarkan punggungnya.
"Kau sudah mendapat tempat baru untuk tokomu?"
Viola menggeleng pelan. "Belum. Tapi aku sudah mulai mencarinya."
"Ada yang cocok?"
Sekali lagi Viola menggeleng pelan. Ia teringat lima bangunan yang didatanginya hari ini. Semuanya membuatnya lelah.
"Aku sudah mendatangi beberapa tempat hari ini. Tapi sepertinya mencari bangunan yang cocok dan sesuai budget tidak semudah yang kukira."
Seokjin memperhatikan wajah Viola yang terlihat lelah. "Aku memiliki rekomendasi bangunan yang mungkin cocok untuk tokomu."
"Bangunan?" Viola yang penasaran kembali menegakkan tubuhnya.
"Ya. Letaknya di pusat kota. Dua lantai dengan halaman yang cukup luas dan dibagian belakangnya bisa digunakan sebagai tempat tinggal."
"Bagaimana dengan harga sewanya? Bangunan yang letaknya di pusat kota dengan fasilitas memadai. Tentu harga sewanya tidak murah."
"Kau bisa bernegosiasi langsung dengan pemilik bangunannya," jawab Seokjin tenang.
Viola mengangkat wajahnya. Ada ketertarikan yang perlahan muncul di matanya. Pikirannya mulai membayangkan tempat yang dimaksud.
Dua lantai, halaman luas, tempat parkir, sekaligus ruang yang bisa dijadikan tempat tinggal. Hampir semua yang ia cari ada di sana.
"Kau bisa melihat dulu tempatnya," ujar Seokjin. Ia mengambil kembali cangkir kopinya.
"Kau tidak bisa hanya menebaknya tanpa pernah mencoba bernegosiasi lebih dulu."
Viola menunduk. Jarinya perlahan mengusap sisi cangkir miliknya yang masih hangat. Tawaran itu terdengar sederhana, tetapi cukup membuat dadanya terasa sedikit ringan.
"Menurut anda tempat itu cocok untuk Sweet Cake?"
"Cocok." Jawaban Seokjin begitu singkat hingga Viola kembali menatapnya.
"Kenapa anda bisa begitu yakin?"
"Karena aku sudah melihatnya."
Terdiam beberapa saat, Viola sebenarnya masih ragu. Namun, jika Seokjin sendiri yang dengan sengaja jauh-jauh datang dari pusat kota untuk merekomendasikan tempat itu, artinya tempat itu memang benar-benar bagus. Setidaknya tidak ada salahnya melihatnya sekali.
"Baiklah. Aku akan melihatnya."
"Asisten Kim yang akan menjemput dan mengantarmu besok siang."
Viola langsung menggeleng kecil. "Tidak perlu. Aku bisa datang sendiri. Anda cukup mengirimkan alamatnya saja."
Seokjin meletakkan cangkirnya di atas meja. "Asisten Kim akan tetap datang menjemputmu," ucapnya tegas tanpa celah untuk dibantah lagi.
Seokjin berdiri dari kursinya lalu berjalan menuju tangga.
Viola ikut berdiri. Tatapannya mengikuti langkah Seokjin hingga saat pria itu hendak menuruni tangga ....
"Tuan Han," panggilnya pelan.
Seokjin menoleh.
"Terima kasih untuk rekomendasinya."
Seokjin tidak menjawab. Ia hanya mengangguk pelan lalu kembali melangkah menuruni tangga.
Viola masih berdiri di tempatnya. Walau masih merasa tidak enak hati karena merepotkan orang lain namun ia tidak bisa memungkiri jika hatinya terasa sedikit lebih ringan.
Kini ia hanya bisa berharap. Semoga besok siang, ia bisa benar-benar menemukan bangunan yang cocok dengan harga yang pas untuk dompetnya saat ini.
***Bersambung.
coba kalau jauh dari perkotaan, harga nya ga murah ga kemahalan juga.
ngarep boleh ya Thor