Saat ia pikir hidupnya berakhir, seorang pria tiba-tiba mendapatkan sistem. Namun, bukannya menjadi kaya, ia justru terbangun di masa lalu... di dalam tubuh ayahnya saat masih muda.
Kini, dengan sistem di tangannya dan mengetahui masa depan, ia harus mengubah takdir keluarganya.
Mampukah ia menyelamatkan keluarganya... tanpa menghapus keberadaannya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sistem One, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Orang di depannya ternyata bukan sang ayah, melainkan pria bernama Riko. Raka langsung bingung sekaligus emosi. Apa pria ini ada hubungannya dengan alasan Nadia meminta cerai tadi siang?
Raka jelas tidak terima begitu saja. Sambil mengepalkan tangan menahan amarah, dia melangkah maju.
"Jangan ngaku-ngaku jadi bokap gua lu, sialan...!!!"
Saat pukulannya hampir mendarat ke wajah Riko, tiba-tiba pemandangan di depannya berubah total.
Raka langsung membuka mata. Dia kembali terbangun di atas sofa rumah kayu peninggalan ayahnya di masa lalu.
"Hah? Mimpi?" Raka menghela napas panjang dengan lega. "Pasti mimpi... Kata sistem kan gua baru bisa balik ke masa depan kalau progres misi udah seratus persen. Absurd banget dah mimpinya."
Dia bangkit berdiri. Hari masih malam dan suasana di luar rumah terasa sangat sepi. Raka celingukan mencari keberadaan Nadia dan Reno kecil.
"Nyokap ke mana sih? Gak mungkin dibawa kabur sama cowok itu, kan?" Raka jalan mondar-mandir dengan gelisah.
Kejadian di mimpinya tadi seolah memberi peringatan kalau masa depan keluarganya bisa hancur berantakan karena ulah Riko.
Saat sedang kebingungan, terdengar suara pintu depan dibuka perlahan.
Raka langsung menoleh dan berjalan menghampiri.
Ternyata Nadia baru saja masuk sambil menggendong Reno kecil yang sudah tertidur pulas. Nadia sempat tersentak kaget melihat Raka sudah menunggunya.
"Eh? M-Mas..." ucap Nadia gugup. Wajahnya kelihatan sembab, seperti baru saja habis menangis.
Nadia mencoba berjalan melewati Raka untuk masuk ke kamar, tapi Raka langsung menghadangnya. "Tunggu. Dari mana aja kamu?"
Nadia terdiam, matanya menatap ke arah lantai. "Aku... cuma ngajak Reno jalan-jalan keluar sebentar. Aku mau taruh Reno di kamar dulu..."
Nadia melanjutkan langkahnya ke kamar. Sementara Raka berjalan kembali ke ruang tengah dan duduk menunggu.
Tidak lama kemudian, Nadia keluar dari kamar dan ikut duduk di dekat Raka dengan kikuk.
Suasana sempat hening beberapa saat sebelum Nadia akhirnya membuka suara dengan suara bergetar.
"Maaf... soal yang tadi siang. Mungkin aku terlalu egois dan bodoh."
Mata Raka membelalak. "Sebenarnya ada masalah apa sih? Kenapa tiba-tiba kamu minta cerai? Nggak mungkin cuma gara-gara masalah duit, kan?"
Nadia diam sejenak, meremas ujung bajunya sebelum menjawab, "Sebenarnya... kemarin aku dapet kabar dari Ibu di kampung. Mereka lagi butuh uang banyak banget buat pengobatan saudara kembarku."
Raka terkejut setengah mati. "Saudara kembar? Seumur hidup gua jadi Reno di masa depan, gua baru tahu kalau Nyokap punya kembaran!"
"Hah? Saudara kembar?" tanya Raka refleks.
"Eh? Mas Raka lupa? Masa sih?" Nadia tampak heran. Seingatnya, mereka kan dulu tumbuh di kampung yang sama sebelum merantau ke kota.
Raka langsung menelan ludah, sadar dirinya hampir salah bicara. "Oh, saudaramu yang itu... Ya ingat lah, masa nggak ingat. Cuma kaget aja tiba-tiba denger kabar dia sakit."
Nadia menatap Raka dengan penuh curiga. "Kok aku nggak percaya ya? Kamu belakangan ini kayak orang lain, atau cuma perasaanku aja?"
"Oh ya? Perhatian juga ya kamu sama aku," goda Raka mencoba mengalihkan kecurigaan.
Pipi Nadia langsung merona merah karena malu. Dia memalingkan wajahnya sambil tersenyum tipis. "Kita kan udah tinggal bareng cukup lama, ya jelas aku perhatiin."
"Terus... soal omonganmu tadi siang. Jadi Reno itu beneran anak ay—maksudnya, beneran anak kita kan?" tanya Raka memastikan.
Nadia terkekeh pelan. Dia sudah biasa mendengar Raka yang belakangan ini sering salah ucap saat bicara. "Tentu aja Reno anakmu, Mas. Apa kamu... lupa sama kejadian malam itu?"
Dalam hati, Raka langsung bergidik ngeri. "Lebih baik nggak usah diingat deh, aneh banget rasanya kalau gua tahu proses pembentukan diri gua sendiri."
Raka berdehem kecil untuk menutupi rasa canggungnya. "Jadi... apa masalah biaya pengobatan ini ada hubungannya sama pria kaya yang nemuin kamu kemarin?"
Nadia menghela napas panjang. "Hubunganku sama Mas Raka belakangan ini sudah makin membaik dan dia makin perhatian... Kayaknya aku memang harus lebih terbuka sama dia," batin Nadia ragu-ragu.