Hanan mendekat perlahan ke arah istrinya. Senyum tipis namun tulus di wajahnya tak pernah hilang. “Alhamdulillah… sekarang kamu adalah istriku sepenuhnya, sah secara agama dan negara.” Kanza melirik suaminya itu dengan mata menyipit, berusaha menutupi rasa salting-nya yang luar biasa. “Iya, sudah sah secara dokumen, tapi kan belum sah secara dompet. Kado mana kadooo? Manaaa? Katanya dosen sukses!” Bella menepuk jidatnya sendiri. “Ya Allah, Kanza… baru semenit jadi istri sudah malak suami.” Hanan tertawa pelan, tawa yang jarang sekali ia tunjukkan di depan umum. Ia kemudian menyodorkan sebuah kotak kecil mungil yang manis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Fey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Matahari di atas SMA Tunas Bangsa siang itu seolah sedang memamerkan kemilau terbaiknya.
Cahaya keemasan menembus celah-celah daun mahoni, menciptakan pola abstrak di atas lapangan semen yang kini berubah menjadi lautan manusia.
Bau tajam cat semprot bercampur dengan aroma keringat dan bedak tabur yang beterbangan di udara, sebuah aroma khas yang akan segera dirindukan sebagai "bau kelulusan."
Di tengah keriuhan itu, sosok Kanza Arumi tampak menonjol. Ia tidak hanya merayakan kelulusan; ia merajainya.
Dengan hijab yang sudah tidak lagi simetris karena ditarik ke pundak agar tangannya bisa bebas bermanuver, Kanza berlarian lincah.
Wajahnya yang manis kini "dihiasi" garis-garis spidol permanen dan bedak tabur yang menggumpal karena keringat.
"WOI! JANGAN KABUR LO! Sini, biar masa depan lo cerah karena coretan tangan gue!" teriak Kanza lantang, suaranya yang cempreng membelah kebisingan.
Dua spidol, warna merah muda dan ungu, ia acung-acungkan seperti pedang seorang ksatria yang baru memenangkan pertempuran besar.
"Kanza, astaga! Napas gue... mau habis..." Yuma tersandar di tiang bendera dengan napas yang memburu.
Seragamnya yang semula rapi kini memiliki jejak coretan ungu di bahu kanan, hasil serbuan Kanza lima menit lalu.
"Bisa nggak... sehari saja... lo jadi anak IPA yang sesuai standar operasional prosedur? Kalem, kutu buku, atau minimal nggak teriak-teriak?"
Kanza berhenti sejenak, berkacak pinggang sambil menyeringai lebar.
"Normal itu membosankan, Yum! Lagian, rumus fisika mana yang melarang gue selebrasi? Lulus itu cuma sekali, tapi kenangannya harus abadi!"
Namun, kegilaan itu terhenti seketika saat suara statis dari pengeras suara menggema. Seorang guru senior naik ke podium.
"Anak-anakku, tiga tahun telah berlalu seperti hembusan angin..."
Kalimat pembuka itu seperti sihir yang membekukan waktu. Tawa yang tadi pecah berubah menjadi senyap yang mencekam.
Kanza yang biasanya tidak bisa diam, tiba-tiba mematung. Ia menatap ujung sepatunya yang kini penuh noda spidol warna-warni, sepatu yang sama yang menemaninya lari dari razia kaos kaki setiap Senin pagi.
"Yum..." gumam Kanza pelan.
"Ini beneran ya? Besok nggak ada lagi drama jilbab miring karena telat masuk gerbang?"
Yuma menoleh, matanya mulai memerah.
"Iya, Za. Besok nggak ada lagi yang narik tas lo kalau lo nekat mau bolos ke kantin. Nggak ada tugas kalkulus yang bikin kita pengen pindah ke planet lain."
Kanza tertawa kecil, tapi setetes air mata mengkhianati pertahanannya, luluh membelah noda bedak di pipinya.
"Gue takut, Yum. Gue ngerasa kayak baru kemarin kita main petak umpet di taman komplek, tapi tiba-tiba hidup narik gue ke depan pintu akad. Gue masih suka joget random di dapur pake sodet, Yum... Terus sekarang disuruh jadi istri dosen yang... ya ampun, Hanan Arkan itu kan definisi 'Manusia Kalkulator' yang isinya zikir dan ketertiban."
Yuma menarik bahu Kanza, memberikan pelukan singkat.
"Tapi Hanan milih lo, Za. Di tengah semua keteraturan hidupnya, dia butuh 'kekacauan' manis kayak lo biar hidupnya nggak kayak robot. Dia pria yang sabar, tenang saja."
"Bukan sabar lagi, Yum. Dia butuh kesabaran level dewa buat ngadepin gue," balas Kanza sambil menyeka air mata, mencoba mengembalikan kepercayaan dirinya.
Saat nama "Kanza Arumi" dipanggil, ia seolah mendapat ledakan energi baru.
Ia melangkah ke panggung, melakukan lompatan kecil yang membuat para guru geleng-geleng kepala, lalu menyalami mereka satu per satu dengan takzim namun tetap jenaka.
"Terima kasih sudah sabar menghadapi hamba-Mu yang ajaib ini, Pak! Bu! Doakan saya nggak bikin suami saya pusing!" teriaknya yang disambut tawa riuh seluruh sekolah.
Jauh di barisan belakang, terlindungi oleh bayang-bayang pohon mahoni yang rindang, seorang pria berdiri dengan postur tegak yang sempurna.
Hanan Arkan memperhatikan calon istrinya dari kejauhan. Ia mengenakan kemeja putih yang sangat rapi, kontras dengan keriuhan warna-warni di depannya.
Di tangannya, ia menggenggam sebuah buket kecil bunga segar yang aromanya menenangkan.
Hanan tidak mendekat. Ia membiarkan Kanza menikmati detik-detik terakhirnya sebagai seorang remaja sekolah menengah.
Ada senyum tipis, hampir tak terlihat yang menghiasi wajah datarnya saat melihat Kanza berteriak di atas panggung.
Baginya, keceriaan Kanza adalah warna primer yang selama ini hilang dari kanvas hidupnya yang hitam-putih.
Baginya, kelulusan Kanza hari ini bukan hanya tentang ijazah. Ini adalah tanda bahwa fase baru segera dimulai.
Di rumah, Bella dan Umi sudah sibuk menyiapkan hidangan favorit Kanza, menanti kepulangan sang "Harta Karun yang Wangi" untuk merayakan babak baru dalam hidupnya.
Kanza mungkin merasa belum siap, tapi di mata Hanan, ia adalah potongan teka-teki yang paling sempurna.
Aroma kayu manis dan cengkih dari dapur Umi menyeruak hingga ke lantai dua, bersaing dengan bau menyengat lem tembak dari tumpukan kotak seserahan yang memenuhi kamar Kanza Arumi.
Kamar yang biasanya menjadi saksi bisu Kanza berjoget random itu kini lebih mirip gudang logistik pasca-bencana.
Kain brokat seragam keluarga menumpuk di pojok, sementara sampel undangan dengan foil emas berserakan di atas karpet layaknya rontokan daun musim gugur.
Di tengah kekacauan itu, Kanza duduk meringkuk. Wajahnya tertutup masker lumpur hitam yang sudah mengering hingga pecah-pecah, membuatnya sulit untuk sekadar berekspresi.
Di pangkuannya, sebuah buku catatan besar berisi checklist pernikahan tampak penuh dengan coretan tinta merah yang agresif.
"Gue... beneran... angkat tangan, Yum," gumam Kanza. Suaranya terdengar kaku karena masker yang mengeras.
"Ini bukan persiapan nikah, ini simulasi seleksi masuk surga. Kenapa detail dekorasi rustic aja harus diperdebatkan sampai bawa-bawa filosofi hidup?"
Yuma, yang sedang asyik selonjoran di atas kasur sambil menyeleksi foto kelulusan mereka di ponsel, hanya terkekeh.
"Za, lo tuh pengantin, bukan panitia pembangunan jembatan nasional. Drama lo terlalu tinggi. Nikah itu ibadah terpanjang, bukan lomba ketahanan fisik."
Kanza mendesah berat, membuat retakan masker di sekitar bibirnya berjatuhan ke baju tidurnya.
"Lo nggak paham beban mental gue! Gue masih sering ketukar mana jahe mana lengkuas tanpa bantuan Google Lens. Terus gimana kalau nanti Mas Hanan pulang kerja dengan wajah lelah menanggung beban pendidikan bangsa, eh gue malah nggak sengaja ngajak dia main kartu Uno sampai tengah malam? Gimana kalau sifat 'ajaib' gue ini bikin dia syok terapi?!"
Yuma meletakkan ponselnya, menatap Kanza dengan tatapan prihatin yang dibuat-buat.
"Hanan itu dosen, Kanza. Dia sudah biasa menghadapi mahasiswa yang alasannya lebih absurd dari tingkah lo. Kalau dia bisa sabar sama ratusan orang di kampus, masa dia nggak bisa sabar menghadapi satu 'spesimen' unik kayak lo?"
"Itu dia masalahnya!" Kanza memekik tertahan.
"Mas Hanan itu lurus, tenang, dan berwibawa kayak hadis sahih. Sedangkan gue? Gue ini kayak pesan broadcast hoax di grup WhatsApp keluarga yang isinya konspirasi alien! Kita tuh beda frekuensi, Yum!"
Tok! Tok! Tok!
Ketukan pintu yang tenang namun tegas memutus drama Kanza.
"Kanza... Hanan sudah ada di bawah, Nak. Katanya ada hal penting yang mau dibicarakan soal jadwal akad," suara Umi mengalun lembut dari balik pintu.
Kanza tersentak seperti baru saja tersengat listrik.
"HAH?! SEKARANG?!"
Ia langsung panik luar biasa. Dengan gerakan kalap, ia menyambar tumpukan tisu basah dan menggosok wajahnya secara brutal.
Bukannya bersih sempurna, sisa-sisa masker hitam justru menyisakan noda abu-abu samar di ujung hidung dan dahi.
Tanpa sempat bercermin lama, ia menyambar jilbab instan yang tergeletak di atas bantal dan memakainya asal-asalan, sedikit miring ke kiri.
Yuma berdiri, merapikan bajunya sambil menahan tawa sampai bahunya bergetar.
"Gue turun dulu ya, mau menyapa 'calon imam' lo yang super sabar itu. Pesan gue cuma satu: Tolong, demi kelangsungan rumah tangga lo, jangan buka obrolan dengan nanya 'Gus, menurut lo konspirasi bumi datar itu masuk akal nggak?' ya. Jaga image satu jam saja!"
Kanza hanya bisa memberikan tatapan maut yang frustrasi. Jantungnya berdegup kencang, suaranya seolah hilang ditelan rasa gugup.
Di bawah sana, "Si Kutub Utara" yang tenang itu sudah menunggu.
Sementara itu di ruang tengah, Bella yang sedang menyusun souvenir langsung tersenyum jahil saat melihat Hanan duduk dengan punggung tegak dan wajah tenang di sofa.
Bella sudah bisa membayangkan betapa kontrasnya pemandangan saat adiknya yang "berantakan" itu muncul di hadapan pria yang segalanya tertata serapi kamus bahasa Inggris tersebut.
Ruang tamu kediaman Abi sore itu terasa begitu tenang, kontras dengan "badai" kecil yang baru saja terjadi di lantai dua.
Hanan Arkan duduk dengan punggung tegak di sofa beludru, memancarkan aura ketenangan yang nyaris bersifat meditatif.
Kemeja putihnya licin tanpa cela, dan aroma sandalwood yang lembut dari parfumnya memenuhi ruangan, seolah menetralisir segala ketegangan.
Di hadapannya, Abi dan Abah terlibat dalam percakapan serius namun hangat mengenai logistik pesantren dan koordinasi waktu akad.
Hanan menyimak dengan takzim, sesekali mengangguk sopan, memberikan impresi seorang pria yang benar-benar telah selesai dengan dirinya sendiri.
Hening itu pecah saat suara langkah kaki yang terburu-buru, namun dipaksakan untuk terdengar pelan terdengar dari arah tangga.
Kanza Arumi muncul dengan upaya luar biasa untuk terlihat anggun.
Hijab instannya yang tadi miring sudah diperbaiki, meski jika dilihat lebih dekat, masih ada sisa rona kemerahan di pipinya akibat gosokan tisu basah yang terlalu semangat.
"Assalamu’alaikum," sapa Hanan.
Ia langsung berdiri, sebuah gestur penghormatan yang membuat Kanza hampir kehilangan keseimbangan karena grogi.
"Wa’alaikumussalam," jawab Kanza dengan nada suara yang naik satu oktav.
Ia meremas beberapa lembar kertas rundown di tangannya yang sedikit lembap.
"Maaf ya, Ustad... Kanza tadi... ada sesi darurat uji coba skincare organik di kamar. Takutnya nanti wajah saya nggak siap menyapa masa depan, eh, maksudnya menyapa tamu undangan."
Hanan menunduk sejenak, bahunya sedikit bergetar menahan tawa yang hampir meledak melihat kejujuran calon istrinya yang tanpa filter itu.
"Tidak apa-apa," sahutnya dengan suara bariton yang teduh.
"Semoga hasil uji cobanya membuat wajahmu semakin berseri saat hari besar kita nanti."
Abi menoleh ke arah Abah sembari terkekeh pelan.
"Lihat, Bah. Yang satu benar-benar tenang seperti air telaga, yang satu lagi masih dalam tahap 'latihan' tenang."
Kanza mengambil posisi duduk di sofa tunggal, berusaha melipat kakinya seformal mungkin.
Ia menyerahkan kertas rundown yang penuh dengan coretan warna-warni itu kepada Hanan.
"Ini... Kanza buat dua opsi. Opsi pertama itu versi 'Pesantren Banget', sangat formal dan kaku sampai mungkin lalat pun takut mau lewat. Opsi kedua itu versi... agak sedikit interaktif. Ada sesi lempar bunga dan mini games biar suasananya nggak tegang kayak lagi nunggu hasil tes CPNS," jelas Kanza, semangat aslinya mulai kembali meluap.
Hanan mempelajari setiap detail tulisan tangan Kanza yang meliuk-liuk. Matanya menelusuri baris demi baris dengan saksama.
"Saya menyukai keduanya," ucap Hanan tulus, matanya menatap Kanza dalam.
"Mungkin kita bisa menggabungkan elemen khidmat dari versi pertama dengan sisi unik seorang Kanza di versi kedua. Saya ingin tamu kita tahu bahwa pernikahan ini adalah tentang kita, termasuk sisi jenaka Anda."
Kanza terdiam, matanya memicing ragu, mencari celah kebohongan di wajah Hanan.
"Uztad... Anda benar-benar yakin? Maksud saya, apa Anda siap punya istri yang isi kepalanya sering melompat-lompat kayak popcorn begini?"
Hanan meletakkan kertas itu di meja, lalu menatap Kanza dengan keyakinan yang tidak menyisakan ruang bagi keraguan.
"Kalau saya tidak yakin, saya tidak akan menempuh jalur istikharah yang panjang. Allah memberikan jawaban melalui ketenangan yang saya rasakan setiap kali berbicara denganmu. Itu sudah lebih dari cukup."
Kanza menunduk dalam, pipinya kini benar-benar merah tanpa bantuan skincare apa pun. Ia bergumam sangat lirih, hampir seperti bisikan angin.
"Duh, pengen peluk sekarang juga karena kata-katanya manis banget... tapi, masih loading dosanya ya?"
Hanan, yang dianugerahi pendengaran tajam, tersenyum tipis dengan binar jenaka di matanya.
"Sabar sedikit. Sebentar lagi, semua itu bukan lagi dosa, tapi ibadah yang berpahala."
Di balik tirai dapur, Bella menyikut lengan Umi dengan gemas.
"Lihat si Kanza, Mi. Biasanya kalau bicara sudah kayak sales keliling, sekarang mendadak jadi putri malu."
Umi tersenyum haru, menyeka ujung matanya yang basah.
"Kanza sudah menemukan pelabuhannya, Bel. Hanan tidak datang untuk mengubah warna Kanza, tapi dia datang untuk memastikan warna itu tetap bersinar di tempat yang tepat."
Sore itu, di tengah rincian acara dan tumpukan kertas, Kanza menyadari satu hal: ia tidak perlu menjadi sempurna untuk dicintai.
Ia hanya perlu menjadi dirinya sendiri, dan Hanan adalah jawaban yang dikirimkan langit untuk menemani setiap langkah "ajaib" di hidupnya.
~~~NEXT~~~
Salam Hangat Dari Penuliss...