Bagaimana jika dua orang remaja yang tidak saling dekat, namun dipaksakan berdua karena perjodohan?
Akankah mereka menerima nya? atau sebaliknya?
"Dia selalu serius ketika menyimak penjelasan dari guru saat jam pelajaran di kelas," batin seorang gadis yang bernama Lyra, sedang memandangi seorang cowo yang terlihat keren saat pelajaran, namun terlihat kesal dengan kesombongannya.
____
"Kenapa harus dia?!" teriak Lyra, tidak menyukai perjodohan yang dilakukan orang tua mereka.
Sedangkan di sisi lain, cowo itu menatapnya dingin dan tajam, sesekali menyetujui ucapan Lyra, tidak ingin perjodohan mereka berlanjut.
____
"Oh iya... yang pintar mah beda." ucap Lyra menyindir cowo dihadapannya itu.
"Makanya belajar! Bukan baca novel!" sarkas cowo itu, yang membuat Lyra ingin mencabik-cabik cowo yang dihadapannya ini.
-- Dua orang Sikap berbeda yang terpaksa bersama --
Follow akun ini(@dinda.glow), like & komen disetiap cerita yaw! di upload setiap hari Jam 09:00 WIB & 21:00 WIB
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dinda.glow, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6. Kelucuan & keseruan Siswa dan Siswi
Setelah ISOMA (Istirahat, sholat dan makan), semua murid berkumpul di gugus masing-masing, dua orang panitia OSIS bertubuh tegap dan berwajah tegas-Kak Danu dan Kak Vanya mendatangi barisan Gugus 4 untuk memeriksa barang bawaan.
"Gugus Diponegoro, siapin barang teka-teki kalian di atas tanah sekarang juga! 'Air Kehidupan' dan 'Roti Berdarah'!" perintah Kak Danu
Semua murid langsung berjongkok dan mengeluarkan isi tas mereka.
Amel, Minda, dan Lyra dengan percaya diri meletakkan sebotol air mineral Nestlé Pure Life dan roti isi selai stroberi.
Namun, tiba-tiba Kak Vanya berhenti persis di depan seorang murid laki-laki di sebelah Amel.
"Kamu! Siapa namamu? Kenapa bawaanmu beda sendiri?" tanya Kak Vanya.
Murid Laki-laki itu gugup setengah mati, "S-saya Rian, Kak. Ini b-bawaan saya..."
Rian ternyata mengeluarkan satu botol besar jus tomat merah pekat dan sebungkus roti tawar kupas yang sudah berlumuran selai stroberi berantakan di dalam kantong plastik transparan.
"Kenapa rotinya sudah kamu lumuri selai dari rumah sampai hancur begitu? Dan kenapa airnya berwarna merah?!" tanya Kak Danu heran.
"Maaf Kak, petunjuknya kan 'Roti Berdarah', jadi saya pikir rotinya harus kelihatan berdarah-darah penuh selai. Terus 'Air Kehidupan', menurut saya darah itu sumber kehidupan, jadi saya bawa jus tomat merah, Kak..." balas Rian polos.
Mendengar kepolosan Rian, Amel spontan menutup mulutnya menahan tawa, sementara bahu Minda dan Lyra berguncang hebat karena berusaha keras tidak tertawa terbahak-bahak di depan panitia yang galak.
Kak Vanya berusaha menahan senyum tapi tetap berakting tegas, "Alasanmu kreatif, tapi salah besar! 'Air Kehidupan' itu air mineral biasa yang murni, dan 'Roti Berdarah' itu roti kemasan pabrik yang isinya selai stroberi di dalam, bukan dioles sampai hancur begini!"
"Sebagai hukumannya, kamu harus memimpin yel-yel lagi dari Gugus 4 di depan semua teman-temanmu setelah ini. Paham?!" ucap Kak Danu sedikit tegas.
"P-paham, Kak!" balas Rian sedikit gugup.
_______________
"Sekarang, Rian! Maju ke depan!" seru Kak Vanya, berusaha menjaga suaranya tetap terdengar galak meski matanya berkilat geli melihat tingkah polos peserta didiknya itu.
Tap, tap, tap... (Suara langkah sepatu)
Rian melangkah dengan ragu ke depan barisan. Ratusan pasang mata dari seluruh peserta Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) langsung tertuju padanya.
Bisik-bisik mulai terdengar dari gugus lain, membuat jantung Rian berdegup dua kali lebih cepat.
Deg.. deg.. deg...
Ia belum pernah memimpin apa pun di depan orang banyak, apalagi memimpin yel-yel dalam kondisi tertangkap basah membawa barang yang salah.
"Ayo, Rian! Jangan malu-malu! Tunjukkan semangat Gugus 4!" teriak Kak Danu sambil melipat tangan di dada, memberikan isyarat agar Rian segera memulai.
Rian menarik napas dalam-dalam. Ia tahu tidak ada jalan untuk mundur.
Dengan nekat, ia mengangkat botol jus tomatnya tinggi-tinggi ke udara seperti seorang panglima yang membawa pedang di medan perang.
"Teman-teman Gugus 4! Mana suaranyaaaa?!" teriak Rian dengan suara yang agak serak di awal, namun mendadak terdengar lantang.
Mendengar teriakan nekat Rian, Amel dan teman-teman satu gugusnya langsung berdiri. Mereka tidak ingin membiarkan Rian berjuang sendirian.
"Huuu-haaa!" sambut anggota Gugus 4 dengan kompak.
Rian mulai menggerakkan badannya, memimpin yel-yel yang sudah mereka latih kemarin sore.
Alih-alih terlihat kaku, gerakan Rian yang heboh justru membuat suasana MPLS yang awalnya tegang dan panas di bawah terik matahari berubah menjadi sangat seru.
Ia berputar, melompat, dan meneriakkan jargon Gugus 4 dengan sisa-sisa tenaga dan keberaniannya.
Jus tomat di tangannya bahkan sempat berguncang hebat, untung saja tutupnya terpasang rapat.
Melihat aksi totalitas Rian, gugus-gugus lain yang awalnya hanya menonton mulai ikut bertepuk tangan mengikuti irama.
Prok..Prok..Prok....
Kak Vanya yang sejak tadi menahan senyum akhirnya menyerah. Ia tertawa kecil bersama Kak Doni sambil menggeleng-gelengkan kepala.
Hukuman yang awalnya dimaksudkan untuk memberi pelajaran, justru berubah menjadi panggung hiburan yang membakar semangat seluruh peserta MPLS siang itu.
Setelah yel-yel selesai dengan teriakan penutup yang membahana, seluruh lapangan meledak dalam tepuk tangan dan sorak-sorai.
Prok! Prok! Prok! ... (Suara tepuk tangan)
Rian membungkuk hormat dengan napas terengah-engah, wajahnya masih merah, tetapi kali ini karena lelah dan bangga, bukan lagi karena malu.
"Bagus! Kreatif dan berani!" puji Kak Danu sambil bertepuk tangan mendekati Rian.
"Hukumanmu selesai. Sekarang, kembali ke barisan. Tapi ingat, besok jangan bawa teka-teki yang aneh-aneh lagi. Bertanya ke kakak pendamping kalau tidak tahu!"
"Siap, Kak! Terima kasih, Kak!" jawab Rian dengan lega.
Saat Rian berjalan kembali ke barisannya, Amel langsung menyodorkan sebuah botol air mineral yang masih segel.
"Nih, 'Air Kehidupan' yang beneran buat kamu. Hebat banget tadi, Rian! Jus tomatmu membawa berkah!" bisik Amel sambil terkekeh.
Rian menerima air itu sambil tersenyum lebar. Ia membuka tutup botolnya dan meminum air mineral murni itu dengan lahap.
Meskipun harus menanggung malu di awal akibat salah mengartikan istilah 'Roti Berdarah' dan 'Air Kehidupan', hari itu Rian berhasil menjadi idola baru di gugusnya karena keberanian dan kepolosannya yang menghibur semua orang.
_______________
Setelah kegemparan yel-yel Rian mereda, peluit panjang berbunyi nyaring dari arah tengah lapangan.
Kak Danu kembali meniup peluitnya tiga kali sebagai tanda bahwa waktu santai telah habis dan seluruh peserta harus kembali fokus.
Priit.. priit... priit.... ( Suara peluit )
"Perhatian semuanya! Segera rapihkan barisan berdasarkan gugus masing-masing! Kita akan masuk ke agenda utama siang ini, yaitu School Touring dan pengenalan ekstrakurikuler!" seru Kak Danu menggunakan pengeras suara.
Rian, Amel, Minda, dan Lyra langsung berdiri tegak di dalam barisan Gugus 4.
Sisa-sisa tawa mereka disimpan rapat-rapat karena Kak Vanya sudah kembali berjalan mondar-mandir di samping barisan dengan tatapan matanya yang tajam, memastikan tidak ada atribut MPLS yang miring atau copot.
"Gugus 4, dengarkan!" Kak Vanya memberikan komando.
"Kita akan berkeliling area sekolah secara tertib. Tugas kalian adalah mencatat ruang-ruang penting seperti laboratorium, perpustakaan, ruang BK, dan ruang kepala sekolah. Di akhir keliling, akan ada kuis berhadiah dari panitia. Paham?!"
"Paham, Kak!" jawab anggota Gugus 4 serempak.
Perjalanan mengelilingi sekolah pun dimulai.
Rian berjalan di samping Amel sambil membawa buku catatan kecil dan pulpen yang tergantung di lehernya menggunakan tali rafia—salah satu atribut wajib MPLS.
Mereka melewati deretan piala yang berjejer rapi di lorong utama sekolah, menuju ke area laboratorium biologi yang berada di lantai dua.
"Rian, jangan melamun terus. Tulis itu nama laboratoriumnya, nanti kalau ditanya Kak Vanya kamu bingung lagi," bisik Amel sambil menyenggol lengan Rian yang tampak masih kelelahan setelah aksi yel-yel tadi.
"Iya, Amel, ini sedang kutulis. Tapi asyik juga ya sekolah ini, luas banget. Jauh beda sama SMP-ku dulu," sahut Rian sambil sibuk mencoret-coret kertasnya.
Setelah hampir tiga puluh menit berkeliling dan mencatat seluruh sudut sekolah, seluruh gugus diarahkan menuju ke aula besar di bagian belakang sekolah.
Di sana, panggung besar sudah disiapkan untuk demonstrasi dari berbagai ekstrakurikuler (ekskul). Ini adalah momen yang paling ditunggu-tunggu oleh para siswa baru.
Suasana aula mendadak riuh saat tim ekskul Pencak Silat maju ke depan melakukan peragaan jurus dengan iringan musik yang mantap.
Disusul kemudian oleh tim ekskul teater yang menampilkan drama komedi singkat, membuat seisi ruangan tertawa terbahak-bahak.
Rian menonton dengan mata berbinar-binar, ia mulai menimbang-nimbang ekskul mana yang akan ia ikuti nanti.
Di tengah-tengah acara, Kak Danu tiba-tiba naik ke atas panggung membawa sebuah mikrofon. Matanya menyapu ke arah kerumunan siswa baru, lalu tertuju tepat pada barisan Gugus 4. Rian mendadak merasa punya firasat buruk.
"Halo semuanya! Sebelum kita lanjut ke penampilan ekskul berikutnya, kakak punya tantangan acak berhadiah botol minum keren untuk dua orang siswa baru yang bisa menjawab pertanyaan seputar fasilitas sekolah yang tadi sudah dikunjungi!" kata Kak Danu memanaskan suasana.
"Pertanyaan pertama... di mana letak ruang Unit Kesehatan Sekolah atau UKS yang tepat?" Amel langsung menyenggol Rian dengan bersemangat.
"Rian! Itu tadi kan kita lewat pas di sebelah lab kimia! Ayo angkat tanganmu!"
Belum sempat Rian berpikir, Amel sudah menarik tangan Rian ke atas tinggi-tinggi. Sial bagi Rian, Kak Doni langsung melihat gerakan tangan tersebut.
"Nah! Itu dia! Peserta terheboh kita dari Gugus 4, Rian! Silakan berdiri dan jawab pertanyaannya!" seru Kak Danu sambil menunjuk ke arah Rian.
Rian terkejut, namun kali ini ia tidak segugup saat dihukum tadi. Ia berdiri dengan percaya diri.
"Siap, Kak! Ruang UKS terletak di gedung B lantai satu, tepat di sebelah Laboratorium Kimia dan berseberangan dengan taman tengah sekolah!" jawab Rian lantang.
Kak Danu tersenyum lebar dan mengacungkan jempolnya.
"Tepat sekali! Luar biasa ingatanmu, Rian. Silakan maju ke depan panggung untuk mengambil hadiahmu setelah acara ini selesai!"
Seluruh anggota Gugus 4 bersorak gembira merayakan kemenangan kecil itu.
Amel menepuk bahu Rian sambil tertawa, "Lihat kan? Hari ini memang hari keberuntunganmu, Rian. Dari dihukum sampai dapat hadiah!"
Rian hanya bisa tersenyum lega, merasa bahwa masa-masa MPLS yang awalnya ia takuti ternyata bisa berjalan sangat seru dan tidak terlupakan.
Bersambung ~~~
Hallo semuanya!!! Semoga suka ya guyss 🤗
Jangan lupa Follow akun ini, like, komen dan share ceritanya ya!! 😉
Instagram: @dinndaayu_64
Wattpad: @dinda.glow
see you~~