NovelToon NovelToon
TA'ARUF SETELAH TALAK

TA'ARUF SETELAH TALAK

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Crazy Rich/Konglomerat / Perjodohan
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: Duyung Indahyani

Empat belas hari.
Hanya selama itu Ghazi Farhan dan Adzra Hanum saling mengenal sebelum akhirnya menikah melalui proses ta'aruf.
Siapa sangka, pernikahan yang awalnya dipenuhi ketenangan justru berakhir dengan satu talak setelah sepuluh bulan bersama.
Sejak hari itu, Adzra meyakini bahwa dirinya hanyalah perempuan yang pernah gagal menjadi istri.
Sementara Ghazi memilih memikul penyesalan yang bahkan tidak pernah berani ia jelaskan.
Sepuluh tahun berlalu.
Mereka sama-sama belum menikah.
Bukan karena belum ada yang datang, tetapi karena ada luka yang belum benar-benar selesai.
Ketika sakit sang ibu mempertemukan mereka kembali, Ghazi tidak meminta Adzra kembali menjadi istrinya.
Ia hanya meminta satu kesempatan.
"Bolehkah... kita mengulang empat belas hari itu?"
Namun, apakah ta'aruf kedua mampu menyembuhkan luka yang ditinggalkan oleh satu talak?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Duyung Indahyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Persimpangan Jalan

Sore itu, langit di Kota Bandung diselimuti awan tipis. Angin berembus pelan membawa aroma tanah yang baru saja diguyur hujan singkat.

Di ruang kerja rumahnya, dr. Rayyan baru saja menyelesaikan beberapa laporan pasien ketika terdengar ketukan di pintu.

"Ibu masuk ya."

"Silakan."

Ibunya membawa sepiring kecil berisi potongan buah.

"Kamu dari pagi belum istirahat."

Rayyan tersenyum.

"Masih ada sedikit laporan."

Ibunya meletakkan piring itu di atas meja.

Tatapannya berkeliling sebentar sebelum kembali kepada putranya.

"Rayyan."

"Iya, Bu."

"Ibu mau bertanya."

Rayyan menutup laptopnya.

"Apa?"

"Sudah berapa lama kamu mengenal Dokter Adzra?"

Rayyan sedikit terdiam.

"Tidak terlalu lama."

"Kami pernah satu kegiatan sosial."

"Beberapa kali bertemu di rumah sakit."

"Lalu sesekali berdiskusi."

Ibunya mengangguk pelan.

"Perempuan itu..."

"...selalu seperti itu?"

Rayyan mengernyit.

"Seperti apa?"

"Tenang."

"Tidak banyak bicara."

"Tapi setiap ucapannya membuat orang merasa dihargai."

Rayyan tersenyum kecil.

"Itu memang Adzra."

Ibunya memperhatikan perubahan kecil di wajah putranya.

Perubahan yang hanya bisa dibaca oleh seorang ibu.

"Rayyan."

"Hm?"

"Kamu menyukainya?"

Ruangan mendadak sunyi.

Rayyan tidak langsung menjawab.

Ia menatap cangkir teh yang mulai kehilangan uap.

Kemudian tersenyum tipis.

"Saya menghormatinya, Bu."

"Itu dulu."

"Lalu sekarang?"

Rayyan menghela napas panjang.

"Entahlah."

"Semakin mengenalnya..."

"...semakin saya merasa beliau perempuan yang baik."

"Tapi saya belum pernah berpikir lebih jauh."

Ibunya tidak mendesak.

Beliau hanya berkata pelan,

"Kalau suatu hari kamu memang berniat mengenalnya lebih serius..."

"...pastikan niatmu karena agamanya dan akhlaknya."

"Bukan karena rasa kagum sesaat."

Rayyan mengangguk.

"Insyaallah."

***

Malam mulai turun.

Setelah salat Isya, Rayyan masih duduk di ruang tamu.

Ucapan ibunya terus terngiang.

"Kamu menyukainya?"

Pertanyaan itu sederhana.

Namun baru malam itu ia benar-benar berani menjawabnya pada dirinya sendiri.

Ia memang mulai menyukai Adzra.

Bukan karena kecantikannya.

Bukan pula karena profesinya.

Tetapi karena setiap kali melihat perempuan itu bekerja, ia selalu menemukan ketenangan yang sulit dijelaskan.

Namun di balik perasaan itu, Rayyan juga menyadari satu hal.

Ia tidak tahu apa pun tentang masa lalu Adzra.

Ia tidak tahu apakah hati perempuan itu masih menyimpan seseorang.

Ia tidak tahu apakah masih ada luka yang belum sembuh.

Dan ia memilih untuk tidak tergesa-gesa.

"Kalau memang Allah menghendaki..."

"...biarlah semuanya berjalan dengan cara yang baik."

***

Di tempat lain.

Kantor Safa Amanah Tour mulai sepi.

Sebagian besar karyawan telah pulang.

Ghazi masih berada di ruang kerjanya.

Di hadapannya terbuka beberapa berkas kerja sama untuk semester berikutnya.

Namun pandangannya tidak benar-benar membaca.

Tok...

Tok...

Ja'far masuk sambil membawa dua gelas kopi.

"Mas."

"Kopi."

"Terima kasih."

Ja'far duduk tanpa diminta.

Sudah bertahun-tahun mereka bekerja bersama.

Hubungan mereka lebih seperti kakak dan adik.

"Boleh tanya sesuatu?"

Ghazi mengangguk.

"Tanya saja."

Ja'far tampak berpikir beberapa detik.

"Mas masih mencintai Mbak Adzra?"

Ruangan langsung hening.

Tidak ada keterkejutan di wajah Ghazi.

Hanya ada tarikan napas yang panjang.

"Aku kira..."

"...kamu tidak akan pernah menanyakan itu."

"Saya memang sengaja tidak bertanya."

"Kenapa sekarang?"

Ja'far menatap lurus.

"Karena saya melihat Mas sudah berhenti menghindari namanya."

Ghazi tersenyum hambar.

Beberapa detik berlalu.

Kemudian ia berkata pelan,

"Kalau kamu bertanya..."

"...apakah aku masih mencintainya."

Jawabannya...

"Iya."

Suara itu begitu lirih.

Namun cukup membuat Ja'far memahami seluruh isi hati sepupunya.

"Lalu kenapa Mas tetap diam?"

Ghazi memandang keluar jendela.

Lampu-lampu jalan mulai menyala satu per satu.

"Aku takut."

"Takut ditolak?"

Ghazi menggeleng.

"Aku takut..."

"...kehadiranku justru mengganggu ketenangan hidup yang sudah susah payah dia bangun."

Ja'far tidak langsung menanggapi.

Ia membiarkan Ghazi melanjutkan.

"Aku pernah menjadi penyebab air matanya."

"Kalau sekarang aku datang lagi hanya untuk memenuhi keinginanku..."

"...apa bedanya aku dengan Ghazi yang dulu?"

Ja'far menundukkan kepala.

Ia mengerti.

Yang mengikat Ghazi selama ini bukan sekadar penyesalan.

Melainkan rasa tidak pantas.

Namun sebelum keluar dari ruangan, Ja'far berhenti di depan pintu.

"Mas."

"Hm?"

"Kadang..."

"...meminta maaf juga bagian dari menghormati orang yang pernah kita sakiti."

"Tidak semua permintaan maaf bertujuan meminta kembali."

Ghazi terdiam.

Kalimat itu terus terngiang bahkan setelah Ja'far menutup pintu.

Untuk pertama kalinya...

Ghazi mulai bertanya kepada dirinya sendiri.

"Apakah selama ini aku benar-benar menjaga Adzra..."

"Atau hanya bersembunyi di balik rasa bersalahku sendiri?"

Pertanyaan itu tidak segera menemukan jawaban.

Namun malam itu...

Untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun terakhir...

Ghazi mulai mempertimbangkan sesuatu yang selama ini selalu ia hindari.

Datang.

Bukan untuk meminta Adzra kembali.

Melainkan untuk meminta maaf sebagai seorang laki-laki yang pernah gagal menjaga amanah sebagai suami.

***

Dua pekan setelah pertemuan dengan Yayasan Wakaf Produktif Kesehatan, aktivitas di Klinik Arafah Medika kembali berjalan seperti biasa.

Proposal pembangunan rumah sakit masih berada di atas meja kerja Adzra.

Belum ada keputusan akhir.

Bukan karena ragu.

Melainkan karena ia ingin memastikan setiap langkah diambil dengan penuh pertimbangan.

Pagi itu, ponselnya bergetar.

Sebuah surat elektronik baru masuk.

Undangan Seminar Kesehatan Masyarakat dan Pelayanan Primer.

Adzra membukanya perlahan.

Di sana tertulis namanya sebagai salah satu narasumber.

Tema yang diminta pun tidak jauh dari kesehariannya.

"Membangun Pelayanan Kesehatan Primer yang Berintegritas dan Berorientasi pada Masyarakat."

Adzra tersenyum kecil.

"Kenapa senyum-senyum sendiri?"

Nabila yang baru masuk ke ruangannya ikut melihat layar laptop.

Adzra memutar monitor sedikit.

"Aku diundang jadi pemateri."

Nabila membaca beberapa detik.

"Lho..."

"Ini acara Ikatan Dokter Kota Bandung."

"Iya."

"Kamu terima?"

Adzra berpikir sejenak.

"Kalau jadwal klinik bisa diatur, insyaallah aku datang."

"Ilmu juga amanah."

Nabila mengangguk.

"Aku yang atur jadwal praktik hari itu."

***

Di tempat lain.

Dr. Rayyan berdiri di depan ruang rapat panitia.

Sebagai ketua pelaksana seminar tahun ini, hampir setiap hari ia harus memastikan seluruh persiapan berjalan sesuai rencana.

"Dokter."

Seorang panitia mendekat.

"Konfirmasi narasumber sudah hampir lengkap."

Rayyan menerima daftar itu.

Matanya berhenti pada satu nama.

dr. Adzra Hanum.

Di samping namanya tertulis:

Hadir.

Entah mengapa, sudut bibir Rayyan terangkat tipis.

Bukan karena ia berhasil mengundang seseorang.

Melainkan karena ia tahu, materi yang akan disampaikan Adzra pasti memberi manfaat bagi banyak dokter muda.

Ia segera mengembalikan daftar itu.

"Pastikan semua narasumber mendapat kebutuhan yang sama."

"Jangan ada perlakuan khusus."

"Baik, Dok."

Rayyan kembali melanjutkan pekerjaannya.

Ia menjaga dirinya agar tetap profesional.

***

Sementara itu, di kantor Safa Amanah Tour.

Ja'far mengetuk pintu ruang kerja Ghazi.

"Mas."

"Masuk."

"Ada undangan."

Ghazi menerima map berwarna putih.

"Mereka mengundang Safa Amanah Tour sebagai sponsor edukasi kesehatan haji dan umrah."

Ghazi membuka surat tersebut.

Acara yang sama.

Seminar Ikatan Dokter Kota Bandung.

"Perlu saya wakili saja?"

Ghazi menggeleng pelan.

"Tidak."

"Aku datang saat pembukaan."

"Setelah itu langsung kembali ke kantor."

Ja'far mengangguk.

Ia tidak tahu satu hal.

Bahwa nama pembicara yang tertera di lembar berikutnya membuat Ghazi berhenti cukup lama.

dr. Adzra Hanum.

Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.

Ia menutup kembali map itu.

Tanpa berkata apa-apa.

***

Hari pelaksanaan seminar pun tiba.

Aula utama hotel tempat acara berlangsung mulai dipenuhi peserta.

Para dokter.

Mahasiswa koas.

Tenaga kesehatan.

Hingga perwakilan lembaga sosial.

Adzra datang bersama Nabila.

Keduanya mengenakan blazer berwarna biru tua dengan jilbab senada.

Rini tidak ikut karena harus menjaga operasional klinik.

"Deg-degan?"

bisik Nabila.

Adzra tersenyum kecil.

"Lebih deg-degan ini daripada menghadapi pasien."

"Padahal pasienmu ratusan."

"Kalau pasien, yang dinilai ilmunya."

"Kalau seminar..."

"...yang dinilai juga cara menyampaikannya."

Mereka tertawa pelan.

***

Di sisi lain aula.

Rayyan sedang memastikan seluruh rangkaian acara siap dimulai.

Tanpa sengaja, pandangannya bertemu dengan Adzra yang baru memasuki ruangan.

Ia mengangguk sopan.

"Assalamu'alaikum, Dokter."

"Wa'alaikumussalam."

"Terima kasih sudah berkenan hadir."

"Terima kasih juga sudah mengundang."

Percakapan mereka singkat.

Sangat profesional.

Namun cukup membuat beberapa panitia memperhatikan kekompakan komunikasi keduanya.

***

Beberapa menit kemudian.

Mobil hitam milik Ghazi memasuki area hotel.

Ia datang hanya bersama Ja'far.

Tidak berniat berlama-lama.

Cukup menghadiri pembukaan sebagai bentuk penghargaan kepada panitia.

Saat memasuki lobi...

Langkah Ghazi mendadak terhenti.

Beberapa meter di depannya.

Adzra sedang berbincang dengan Rayyan mengenai susunan acara.

Keduanya tampak membahas sesuatu sambil sesekali melihat berkas di tangan.

Tidak ada yang berlebihan.

Tidak ada tawa yang terlalu akrab.

Semuanya profesional.

Namun entah mengapa...

Untuk pertama kalinya sejak bertahun-tahun,

Ghazi merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

Bukan marah.

Bukan cemburu.

Melainkan sebuah kesadaran yang datang begitu pelan.

Selama ia memilih diam...

Waktu tidak pernah ikut diam bersamanya.

Orang-orang akan terus datang dan pergi dalam kehidupan Adzra.

Dan ia...

Tidak bisa terus berharap takdir menunggu keberaniannya.

Ghazi menarik napas panjang.

"Mas?"

suara Ja'far membuyarkan lamunannya.

Ghazi mengangguk pelan.

"Ayo."

"Mereka pasti sudah menunggu pembukaan."

Ia melangkah memasuki aula.

Tanpa diketahui Adzra.

Tanpa diketahui Rayyan.

Namun pagi itu...

Untuk pertama kalinya,

tiga jalan yang selama ini berjalan sendiri-sendiri,

mulai bersilangan di bawah langit yang sama.

―Bersambung―

1
Elyanna
yuk update lagiiiii
Anonim
cerita cewek lemah lagi ? cewek gampang dibujuk lagi? ah kusooo
RahmaYesi
Cerita yang bagus. Semangat ya ...
Duyung Indahyani: hai kak rahma, terima kasih
total 1 replies
nunu
next lanjut kak ceritanya
Duyung Indahyani: thank sudah membaca kakak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!