Bella Cintia?" Gumam Eric. Dia seolah tidak asing dengan nama itu. Bahkan ketika menyebutnya namanya saja membuat hati Eric berdesir menghangat.
"Kenapa harus designer ini?" Tanya Eric.
"Karena hanya dia yang cocok untuk mode produk kita pak."
"Apalagi yang kau ketahui tentang designer ini?" Tanya Eric kembali.
"Dia adalah salah satu designer terkenal di dunia. Dia sering berpindah dari negara satu ke negara lain. Karena dia memiliki cabang butiknya hampir di setiap negara yang dia tinggali. Namanya Bell's Boutique. Tapi untuk rumah mode utama nya, dia hanya memilikinya di negara ini. Nama rumah mode itu adalah Bellaric."
Eric terkesiap kala manager produksi itu menyebutkan kata Bellaric.
"Bellaric?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LidyaMin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sahabat Tapi Mesra
Seperti biasa kelas 12 IPA 1 selalu ribut sebelum pelajaran di mulai. Ada-ada saja yang mereka lakukan. Bel masuk sudah berbunyi. Membuat seluruh siswa yang di sekolah untuk segera menempati bangkunya masing-masing.
Ibu Misa, wali kelas 12 IPA 1 masuk ke dalam kelas. Beliau melihat seluruh penjuru kelas dan semua siswanya hadir.
"Selamat pagi anak-anak." Sapa Bu Misa untuk anak didiknya.
"Selamat pagi Bu."
"Tidak lama lagi kalian akan mengikuti ujian nasional. Ibu sangat mengharapkan kalian bisa mempersiapkan diri mulai dari sekarang. Gunakan waktu kalian sebaik mungkin." Bu Misa memberikan nasihat pada siswanya.
"Baik Bu."
"Baiklah kita akan memulai pelajaran kita hari ini." Bu Misa mulai memberikan penjelasan tentang materi yang mereka pelajari.
3 jam kemudian, waktunya kelas istirahat. Eric cs segera berlarian menuju kantin. Suasana kantin begitu ramai. Hampir tidak tempat duduk. Tetapi tidak untuk Eric cs. Selalu ada tempat duduk tersedia bagi mereka. Artinya, tidak ada satupun yang berani duduk di tempat mereka biasa duduk.
"Mau pecah kepala gue kalau sudah urusan kimia." Ujar Daniel lalu duduk sambil mengangkat kakinya sebelah.
"Gue juga. Gue kagak paham reaksi ini reaksi itu. Yang gue paham cuma reaksi cinta." Kata David lagi sambil tertawa.
"Bener kata lo. Kalau reaksi cinta gue paham bener." Timpal Ardi.
Eric hanya diam saja mendengar celotehan mereka. Dia lagi malas nimbrung obrolan mereka.
"Si cabe datang." Ucap Eric melihat jengah Asti dan genknya datang ke meja mereka.
Tanpa permisi Asti meminum minuman milik Daniel. Sontak membuat Daniel melototkan matanya.
"Lo apa-apaan sih asal minum punya orang." Ujar Daniel menatap Asti kesal.
"Ya gak pa-pa juga kali beb. Gue pacar lo. Jadi minum satu gelas itu wajar." Ucap Asti tanpa rasa bersalah sedikitpun dan tanpa rasa malu.
"Najis tau gak lo." Kata Daniel dan segera pergi dari sana.
"Beb. Jangan tinggalin gue dong." Rengek Asti manja. Membuat semua orang yang ada di kantin ingin muntah mendengarnya.
"Ardi, lo punya plastik?" Tanya David.
"Buat apaan? Minta sama mang Kokom sana." Ujar Ardi yang bingung dengan permintaan David.
"Gue mau muntah karena cabe-cabean di sini." Jawab David yang membuat Ardi tertawa terbahak.
"Gue gerah di sini. Bawaannya gue mau nonjok orang rasanya." Kata Eric yang menatap tidak suka pada Asti kemudian meninggalkan kantin menyusul Daniel.
.
.
.
Eric melangkahkan kakinya ke perpustakaan. Dia tahu kalau Bella pasti disana. Saat dia masuk perpustakaan terlihat sepi. Hanya ada beberapa siswa saja yang sedang membaca buku disana.
Mata Eric kesana kemari mencari keberadaan Bella. Seperti dugaannya Bella pasti duduk di pojokan. Eric menghampiri Bella yang sangat serius mencatat sesuatu di bukunya.
"Gue pikir lo gak ada di sini." Bisik Eric di telinga Bella.
"Lo tau sendiri dimana lagi gue kalau gak di sini." Ucap Bella sambil fokus pada catatannya.
"Lo gak lapar? Biar gue beliin sesuatu ke kantin." Tawar Eric. Tapi Bella menggelengkan kepalanya.
"Gue tadi bawa bekal." Ujar Bella.
"Ya udah. Lo gak ke kelas? Bentar lagi masuk." Kata Eric sambil berdiri di samping Bella.
"Lo duluan aja. Catatan gue sedikit lagi selesai." Kata Bella sambil mendongak melihat Eric.
"Gue duluan ya." Bella mengangguk pelan kemudian Eric mengecup puncak kepala Bella dan pergi dari sana.
Bella sudah terbiasa dengan hal itu. Hampir setiap hari dia dapatkan ciuman Eric di puncak kepalanya. Semakin hari hubungan Bella semakin dekat. Tapi tetap saja hubungan mereka hanya sebatas sahabat tapi mesra.
Kaya lagunya bunda Maya TTM (Teman Tapi Mesra), Batin Bella.
"Huuuuuuhhhh." Bella mendesah pelan. Dia bukan hanya sayang tapi dia juga mencintai Eric. Tapi dia sudah berjanji bahwa dia akan sabar menunggu Eric seperti yang Eric sudah janjikan padanya.
Bella keluar dari perpustakaan untuk kembali ke kelasnya. Tapi saat dia melewati toilet dia mendengar suara orang membentak dari sana. Bella perlahan mendekat ingin tahu apa yang terjadi. Betapa terkejutnya Bella melihat Rara yang sudah basah kuyup dan juga menggigil karena di siram Asti dan genknya entah dengan air apa.
"Gue sudah ingatin lo jangan deketin Daniel. Tapi lo masih saja. Gue gak suka!" Asti berteriak sambil menjambak rambut Rara.
Rara hanya diam tanpa perlawanan itulah yang membuat Bella geram. Dia paling tidak suka dengan kelakuan Asti seperti ini di sekolah. Bella menerobos Laura, Rosa dan Naira yang berdiri membelakanginya di depan pintu masuk toilet. Sehingga membuat mereka terkejut.
Bella mencengkeram tangan Asti dengan sangat kuat. Dan menatap tajam padanya. Membuat Asti sedikit takut.
"Lo lepasin dia atau tangan lo bakal lepas karena gue cengkeram!" Ucap Bella dengan menatap tajam Asti.
"Gue gak bakal lepasin dia." Kata Asti.
Bella semakin memperkuat
cengkeramannya di tangan Asti hingga membuatnya meringis kesakitan. Karena tidak tahan menahan sakit Asti melepas jambakannya di rambut Rara.
Hampir saja Rara terjatuh ke lantai kalau saja bukan Daniel yang menahannya. Dia kebetulan lewat sana bersama dengan para sahabatnya.
"Lo apain cewek gue hah??!!!" Bentak Daniel pada Asti.
"Lo bener-bener gak tau malu ya. Kalau sekali lagi gue tau lo nyakitin Rara. Kelar hidup lo!!" Kata Daniel lalu membawa Rara pergi dan sana kemudian mengantarnya pulang.
"Lo tunggu pembalasan gue." Ucap Asti dengan nada kesal pada Bella sambil mengusap lengannya merah bekas cengkeraman Bella. Kemudian pergi dari sana.
"Lo gak pa-pa?" Eric menghampiri Bella dan juga menariknya keluar dari toilet.
"Gue gak pa-pa." Kata Bella.
"Ya udah. Kita masuk kelas aja yuk." Ajak Eric sambil menggenggam tangan Bella.
David dan Ardi hanya mengikuti mereka dari belakang salin tukar pandang dan senyum-senyum.
***
Eric dan keluarganya sedang berkumpul di ruang keluarga. Setelah makan malam mereka memutuskan untuk nonton film bersama. Eric bersandar di bahu kiri mama nya. Sedangkan Edo di bahu kanan mama nya.
"Kak kamu kenapa sih ganggu aja." Ujar Eric kesal karena tangannya sedang memeluk mama nya di pindahkan oleh Edo yang kemudian memeluk mama nya.
"Serah kakak lah. Ini kan mama kakak juga." Kata Edo tak mau kalah.
"Ya tapi kan aku duluan ka." Eric melepas paksa pelukan Edo dari mama nya.
"Ya ampun kalian ini ya." Ujar Eno yang kasihan melihat mama nya di perebutkan oleh adik-adiknya.
"Kalian gak kasian mama di gituin sama kalian?" Eno menggelengkan kepalanya tak habis pikir dengan kemanjaan mereka. Sedangkan mama dan papa Eric hanya terkekeh.
"Makanya cari pacar sana biar gak manja gitu sama mama." Sambung Eno lagi.
"Kayak kakak punya pacar aja." Cibir Eric.
"Kamu lupa kalau kakak sudah punya tunangan? Secara kakak kan emang paling tampan dari kalian berdua." Eno memperlihatkan cincin tunangan di jari manisnya pada Eric lalu tersenyum mengejek.
"Dasar tukang pamer." Edo mendecih pada kakaknya.
"Ma, Eric juga mau punya tunangan." Ujar Eric dengan polosnya pada mama nya.
Edo menoyor kepala adiknya "sekolah aja belum selesai sudah mikir mau tunangan."
"Kenapa kakak yang sewot. Mama papa aja gak keberatan." Ucap Eric sambil menjulurkan lidahnya pada Edo.
"Emang Eric sudah pacar?" Tanya mama nya
"Belum sih ma. Tapi akan." Jawab Eric dengan malu-malu.
"Woaaaaahhh Edo di balap sama Eric." Ujar Eno sambil tertawa terbahak mengejek Edo.
Edo yang kesal melempar Eno dengan bantalan kursi yang ada dalam pelukannya.
"Ajak ke rumah kenalin buat papa dan mama." Kata papa Eric menimpali.
"Oke pa." Kaya Eric dengan semangat sambil tersenyum mengejek ke arah Edo.
Edo beranjak dari sana dan melangkah masuk kamarnya karena kesal di ejek kakak dan adiknya. Eric dan Eno malah tertawa terbahak melihat Edo yang kesal dengan muka cemberut.
🌼🌼🌼🌼🌼
ayoooo guys like nya kencengin lagi ya😊
Jangan lupa tinggalin jejak yang lain juga ya.
Lidya sayang kalian semua😘