yovada, seorang anak remaja yang memilik obsesi pada pengetahuan. ia tidak peduli dengan apapun, selama itu menambah pengetahuannya maka akan ia lakukan. ia di kenal debagai seseorang yang gila dengan ilmu dan tidak mau menjalin sebuah hubungan karena ia tahu bahwa hubungan tanpa memahami pasangan adalah sebuah penyiksaan. ia yakin bahwa tiada yang memahami perasaannya hingha ia bertemu seseorang yang membuatnya merasa nyaman dan aman. sebuah rasa yang membuatnya bingung dengan jalannya. sebuah lembaran baru yang ia buka demi cerita baru dalam hidupnya. apa yang terjadi selanjutnya dan apa semua akan berakhi karena ego atau malah luluh karena sebuah rasa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon najmun_huda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CP: 12 Langit Dan Bintang
Malam hari, Yovada tidak tertidur. Matanya masih memandangi langit-langit atap dan matanya terpaku seperti tidak dapat bergerak dan hanya melamun dalam keheningan. Ia mencari posisi tidur yang nyaman namun ia tidak menemukannya. Ia merasa seperti ada yang membuatnya tidak tenang namun ia sendiri tidak tahu apa yang membuatnya tidak tenang. Ia langsung bangkit dan kemudian melihat pak tua itu duduk di kursi roda dan menatap kembali langit malam yang kali ini di penuhi bintang. Ia sendiri merasa bingung dengan sikap bapak itu. Ia mencoba bangkit dan kemudian ia turun dari ranjangnya dan kemudian membawa tiang impuls bersamanya dan berjalan ke arah pak tua itu untuk berbicara dengannya.
“tidak bisa tidur lagi kek? Masih ke ingat istri atau memang tidak bisa tidur saja?” Tanya Yovada kepada Pak tua itu. Pak tua itu berbalik arah dan kemudian langsung tersenyum dengan lemah. Seperti biasa ia meneteskan air matanya sambil menatap ke arah Yovada yang berdiri di belakangnya. Pak tua itu bergerak pelan dan memberikan ruang di sebelahnya agar Yovada bisa menikmati pemandangan bintang di malam hari. Yovada berjalan ke sebelahnya dan kemudian berdiri sambil menikmati cahaya bintang di langit malam.
“ya... begitulah dek. Kakek tidak bisa berbuat apa-apa. Jasad tetaplah jasad dan kenangan akan tetap menjadi memori yang tidak bisa di ulang namun bisa di kembangkan. Kakek tidak bisa melakukan apa pun kan sekarang? Jika kakek paksa tidur juga percuma. Kakek terbiasa tidur dengan istri kakek.” Ucapnya pada Yovada dengan lemah karena ia tahu bahwa ia sendiri tidak ada yang harus di sembunyikan oleh anak muda seperti Yovada dan itu malah menjadi pembelajaran baginya nanti di masa depan.
Yovada menatap bintang dan merenungi seperti yang kakek itu liat. Ia berusaha memahami apa makna di balik setiap bintang yang ada di langit. Namun seberapa besar juga kemampuannya untuk memahami semua itu namun usahanya sama saja dan pada akhirnya ia sendiri tidak dapat memahami makna apa yang ada di langit hingga ia berkata pada pak tua. “bagiku tidak ada bedanya. Hanya yang mana lebih bersinar terang dan mana yang lebih redup. Mana yang lebih banyak berkumpul dan mana yang menyendiri. Apa istimewanya dari hal itu?” Tanya Yovada kepada Pak tua dengan penasaran dan juga penuh pertanyaan. Ia menatapnya yang terduduk di kursi roda dan kemudian ia mulai memejamkan mata dan kembali membukanya.
Ia memalingkan wajahnya kepada Yovada dan kemudian ia menatapnya dengan penuh penasaran dan juga pertanyaan. “anak muda, izinkan aku bertanya padamu. Kenapa semesta menciptakan langit malam dengan bintang dan juga penuh kegelapan yang indah? Padahal langit biru itu sangat indah dan memuaskan mata untuk di tatap. Kita tahu langit biru yang cerah jika di ubah menjadi gelap seperti kebalikan cerahnya biru maka akan terlihat jelek. Namun langit malam juga memiliki keindahannya tersendiri. Kenapa bisa itu terjadi?” Ucapnya dengan penasaran kepada Yovada dengan tatapan tenang namun mengisyaratkan seperti ada petunjuk untuk memahami sesuatu yang di luar pemahamannya.
Yovada yang mendengar itu langsung terdiam. Ia menatap langit yang gelap dan di penuhi bintang itu sekali lagi dan kemudian memahaminya dengan lebih mendalam dan beberapa saat kemudian ia menyerah. “kakek, aku tidak memahami apa pun dari bintang-bintang ini. Apa ini hanya sebuah lelucon atau hanya sebuah candaan untukku?” Ucapnya dengan penasaran dan juga penuh kebingungan kepada pak tua itu. Pak tua itu hanya tertawa dan tersenyum ke arah Yovada.
Pak tua itu kembali menatap bintangnya dan kemudian ia menjelaskannya dengan perlahan dan penuh perasaan. “begini anak, kau tahu bintang ini cahaya kan? Berapa perbandingan jarak kecepatan cahaya yang kamu tahu anak?” Tanya pak tua itu kepada Yovada dengan tatapan penuh perasaan dan penuh penasaran kepadanya
Yovada tanpa berpikir panjang langsung menjawabnya dengan gampang. “jika perbandingan jarak bumi ke bulan maka kita butuh 1,2 detik. Jika ke matahari maka sekitar 8 menit.” Jawabnya Yovada kepada pak tua itu dengan penasaran dan juga kebingungan dengan pertanyaan yang ia berikan.
Pak tua itu melanjutkan dengan tenang. “jika dari matahari saja butuh 8 menit, maka berapa lama cahaya bintang ini butuh waktu untuk menembus galaksi hingga ke sini? Ia butuh waktu yang panjang bahkan hingga jutaan tahun lalu. Kita tidak tahu apakah cahaya itu berasal dari zaman dinosaurus, kerajaan bahkan zaman yang bahkan sejarah saja tidak pernah catat. Cahaya itu tercipta di waktu yang sangat lama dan mungkin membawa cerita di saat ia terbentuk itu ada seseorang yang sedang jatuh cinta atau seseorang yang baru saja kehilangan. Kita tidak pernah tahu akan hal itu namun kita tahu bahwa itu terjadi. dan kini kita menikmati sisa dari sejarah cinta sepasang kekasih dahulu dari cahaya bintang yang bahkan kita sendiri tidak tahu bahwa itu mungkin sejarah cinta kakek moyang kita.” Ucap pak tua kepada Yovada dengan tenang dan juga penuh perasaan kepadanya. Di sisi lain Yovada terkagum dengan kalimat Pak tua, ia tidak menyangka kakek ini memiliki pemikiran yang sedalam ini dan membuatnya tercengang.
Yovada yang mendengar itu langsung mempertanyakan pada pak tua itu tantang hal ini. “kek, kok bisa sih kakek sedalam ini pemikirannya? Kakek kan biasanya memahami secara logis, kok bisa memahami sedalam filsafat dan juga menggabungkan kemungkinan dan juga sejarah?” Tanyanya dengan penasaran dan juga penuh kekaguman dengan Pak tua itu.
Pak tua yang mendengar itu langsung menjawab dengan tenang. “tentu aku logis dan sangat mustahil jika aku ke pikiran hal itu. Itu adalah perkataan istriku ketika kami masih bersama dulu. Ketika kami di pertemukan dengan bintang dan kami pun menjadikan bintang-bintang sebagai saksi dari percintaan kami dan membuatnya abadi di setiap sinarnya lalu menyampaikannya kepada generasi selanjutnya agar filosofi itu tidak terkubur dan kemudian mati bersama jasad yang ada.” Ucap Pak tua itu kepada Yovada dengan penuh kebahagiaan karena bisa mengingat apa yang di katakan istrinya dahulu ketika bersamanya.
Yovada yang melihat itu langsung terdiam dan kemudian menunduk ke lantai dan kembali mengangkat kepalanya untuk melihat langit malam dan juga mengingat kejadian yang pernah terjadi dalam hidupnya. Ia tidak memiliki kenangan indah sama sekali. Yang ia ingat adalah pukulan, teriakan, tuntutan, amarah dan juga kekecewaan. Ia mulai meneteskan air matanya namun ia berusaha tetap bangkit dan kuat agar dirinya tidak merasa hancur di sana. Ia kembali menghapus air matanya dan kemudian mulai menanyakan pada pak tua itu. “kek, bukannya melihat ini hanya membuat kakek merasa sakit dan buruk, karena ini hanya akan menunjukkan bagaimana sejarah terjadi dan membuat kakek seakan terpuruk dan tidak dapat keluar dari lubang masa lalu?” Ucapnya dengan penasaran kepada pak tua itu dengan penasaran namun kali ini air matanya mengalir di wajahnya.
Pak tua itu menatap langit malam dengan begitu serius, kali ini beberapa bintang tertutup oleh awan dan beberapa menghilang dari pandangan. Pak tua itu hanya tersenyum tipis dan kemudian ia menjawab. “anak... jika kamu mengingat teman wanitamu tadi, kamu pasti ada rasa senang dan juga bersyukur dengannya karena ia sendiri mau merawatmu di sini walau mungkin hanya kali ini bukan?” Ucapnya dengan penasaran pada jawaban anak muda yang menjadi lawan bicaranya.
Yovada menjawab degan jujur tanpa ada yang di sembunyikannya. “jujur, aku tidak tahu kenapa ia mau membantu dan menolongku. Namun jika suatu yang menolongku pasti senang dan akan membekas bagiku sendiri.” Ucap Yovada pada pak tua yang menjadi lawan bicaranya. Ia kemudian menatap kembali pak tua itu dengan tatapan penuh penasaran.
“wah, sepertinya kamu sudah menjawabnya. Begini nak, pada dasarnya sesuatu yang membekas akan sangat susah untuk di hilangkan namun ia sendiri banyak melupakan bagian buruk tentang istrinya. Namun jika itu bisa di sampaikan kepada orang lain dan mereka menyambung perkataan ini seperti pipa maraton antar zaman, aku yakin hubungan kita kepada seseorang yang kita sayang tidak akan putus. Karena setidaknya aku sudah menanam sesuatu yang menjadi pemikirannya padamu dan membagikannya pada orang yang membutuhkan. Dengan begini, kalimatnya akan di ingat walau aku mati, setidaknya ada yang mengetahui dan memahami dengan dalam dan penuh perhitungan. Ia mungkin menjadi pelaku di masa depan dan menjadikan cintanya abadi di antara gemerlapnya bintang.” Ucap Pak tua dengan penuh kebahagiaan dan juga kesenangan karena ia berhasil membagikan pemahaman istrinya kepada seseorang yang akan melanjutkan jalur kehidupan.
Yovada yang mendengar itu langsung tersenyum. Ia memahami bahwa ada rasa berharga dalam dirinya karena sebuah kebaikan yang membekas. Ia juga memahami betapa dalamnya pemikiran seseorang di karenakan sebuah benda langit karena ia tahu bahwa ada makna filosofis di antara gemerlapnya bintang. Ia tersenyum bangga karena ia menemukan seseorang yang sangat bijak dan baik karena ia mau berbagi ilmu pengetahuannya pada dirinya kali ini.
Pak tua yang melihat Yovada merasa puas langsung tersenyum karena kini ia tidak khawatir bahwa tidak akan ada yang menggantikan perjalanan dan pemahaman pada bintang. Ia memutar kursi rodanya mengarah ke ranjang punya dirinya. Yovada yang meliha itu langsung menemaninya dan kemudian membantu pak tua itu untuk bangun dari kursi roda dan kemudian ia menaruh pak tua itu di atas ranjang. Ia membenarkan selimut pak tua itu dan kemudian memberikan kata-kata kepada Yovada sebelum tidur.
“anak muda, aku mamu memberikan sebuah kunci bahagia di dunia ini. Pastikan senyum mereka yang kamu cintai dan kamu sayangi senyumnya masih aman terjaga. Karena jika senyum mereka sudah tidak terukir lagi, apa gunanya kamu hidup namun kamu tidak pernah meliha mereka tersenyum bahagia? Sejarah akan menulisnya dan perjuanganmu akan di saksikan oleh mereka yang akan mengenangmu dan menceritakan semua tentangmu. Maka dari itu cobalah bangkit dan majulah...” Ucap Pak tua itu dengan penuh keyakinan kepada Yovada