NovelToon NovelToon
Top 1%

Top 1%

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri
Popularitas:549
Nilai: 5
Nama Author: Reyanza Rayyan Fahlevy

Nexus Academy bukan sekolah biasa. Hanya 1% siswa terbaik yang berhasil diterima setiap tahun. Dari lebih dari 120.000 pendaftar, hanya 600 siswa yang lolos melewati serangkaian tes yang hampir mustahil: tes logika ekstrem, simulasi kepemimpinan, wawancara psikologi, ujian ketahanan mental, hingga permainan strategi yang membuat ribuan peserta menyerah sebelum mencapai gerbang sekolah.
Mereka yang diterima disebut sebagai Elite One.
Namun tidak semua yang masuk mampu bertahan.
Setiap semester, siswa dengan nilai, etika, atau mental terburuk akan dikeluarkan tanpa kesempatan kedua. Di sekolah ini, tidak ada teman yang benar-benar bisa dipercaya. Tidak ada kemenangan tanpa pengorbanan dan tidak semua siswa jenius adalah orang baik. Sebuah rahasia yang membuat beberapa alumni menghilang tanpa jejak

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyanza Rayyan Fahlevy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12: Strategi atau Pengkhianatan

Di Kelompok 7, layar holografik menampilkan skenario krisis alokasi sumber daya energi kota. Waktu tersisa tinggal sepuluh menit, dan kelompok tersebut masih terjebak dalam perdebatan sengit mengenai pembagian kuota daya antara sektor logistik publik dan sektor riset privat milik yayasan.

"Jika kita memotong pasokan sektor riset privat, nilai efisiensi ekonomi kita jatuh di bawah batas minimum," argumen seorang peserta faksi elite dengan panik.

Raka Elang melangkah maju ke tengah meja, memotong pembicaraan dengan ketukan jemari yang ritmis pada tepian layar. "Kita tidak akan memotongnya. Kita akan mengalihkan seluruh sisa cadangan energi dari sektor perumahan warga sipil ke sektor riset privat," ujar Raka tenang, senyum tipisnya yang manipulatif mengembang.

"Itu gila, Raka!" potong Johan, anggota kelompoknya yang merupakan anak faksi beasiswa. "Mematikan listrik perumahan sipil dalam simulasi ini akan memicu kerusuhan massal dalam waktu lima menit. Skor stabilitas sosial kita akan hancur!"

"Stabilitas sosial adalah variabel jangka panjang, Johan," balas Raka, matanya menatap tajam ke arah Johan dengan tekanan verbal yang presisi. "Sistem Nexus mendahulukan kecepatan pemulihan infrastruktur inti. Jika kita menggunakan argumen moralmu untuk menyelamatkan pemukiman warga sipil, kalkulasi kita akan terlambat tiga menit dari target waktu. Kita semua tereliminasi. Apakah kamu mau mengorbankan posisimu di sini hanya demi nilai moralitas fiktif dalam simulasi komputer?"

Raka memiringkan kepalanya, menyudutkan Johan dengan pilihan kata yang tidak menyisakan ruang untuk membela diri. Ia sengaja membesarkan volume suaranya agar didengar oleh dua anggota kelompok lainnya yang mulai goyah karena ketakutan akan eliminasi.

"Dengar," Raka beralih menatap dua anggota faksi elite di timnya. "Jika kita memasukkan rumus pengalihan ini menggunakan kode akses data milik Johan sebagai penanggung jawab sektor sosial, stabilitas kelompok kita tetap aman karena sistem membaca ada otorisasi darurat dari faksi internal. Kita menang secara algoritma."

Johan terbelalak. "Kamu menjadikanku tumbal? Jika skenarionya gagal, nilai penalti individu untuk keputusanku yang akan jatuh, bukan kelompok!"

"Tapi kelompok kita selamat," jawab Raka dingin, suaranya menusuk tanpa ragu. "Dan itu termasuk menyelamatkanmu dari eliminasi instan saat ini. Masukkan kodenya sekarang, Johan. Atau aku akan melaporkan pada pengawas bahwa kamu menolak bekerja sama dalam tim."

Di bawah intimidasi verbal Raka yang begitu taktis dan tajam, dua anggota kelompok lainnya langsung menekan Johan untuk menyerah. Dipenuhi rasa tertekan dan ketakutan mendalam, Johan akhirnya memasukkan kartu perak pribadinya ke slot otorisasi dengan tangan bergetar.

BZZZ—

Layar Kelompok 7 seketika berubah hijau: SUCCESS – OPTIMAL EFFICIENCY SPECIFICATION.

Kelompok mereka menang dengan waktu tercepat kedua setelah kelompok Atharva. Dua anggota faksi elite langsung bersorak lega, sementara Johan terduduk lemas di kursinya, menyadari bahwa ia baru saja dimanfaatkan secara brutal. Skor individu Johan di layar seketika merosot drastis karena penalti keputusan sosial, sementara nilai kepemimpinan Raka melesat naik ke peringkat 20 besar.

"Strategi yang bagus, kan?" Raka menepuk bahu Johan sambil tersenyum tanpa dosa sebelum melangkah meninggalkan meja.

Johan menepis tangan Raka dengan rahang mengeras. "Ini bukan strategi, Raka. Ini pengkhianatan."

Sejak detik itu, di dalam aula kembali bergeser. Nama Raka Elang mulai berbisik di antara seratus delapan puluh peserta sebagai sosok yang paling berbahaya di jalur verbal. Ia dikenal sebagai orang yang mampu mengalahkan siapa pun, memutarbalikkan logika, dan menghancurkan mental rekan setimnya sendiri hanya dengan menggunakan kata-kata sebagai senjatanya.

...****************...

Dari meja nomor 1, Atharva menyaksikan bagaimana Johan berjalan keluar dari area simulasi dengan wajah lesu setelah papan skor memperbarui nilai individu. Penalti yang diterima Johan terlalu besar, membuatnya berada di zona merah degradasi bawah. Raka telah melakukan amputasi taktis; ia memotong kaki rekannya sendiri agar tubuh kelompoknya bisa melompat lebih tinggi.

"Dia tahu cara memanfaatkan kelemahan regulasi," gumam Nareswara yang kini berdiri di dekat Atharva, mengamati infografis nilai Raka yang melonjak naik. "Sistem Nexus menilai hasil akhir dan efisiensi kelompok di tahap ini. Raka menggunakan celah itu untuk mengorbankan faksi beasiswa tanpa melanggar aturan tertulis."

Atharva tidak merespons. Matanya beralih pada Raka yang kini tengah dikelilingi oleh beberapa anak faksi elite dari kelompok lain. Raka sedang membangun reputasinya sebagai navigator verbal yang andal, tipe orang yang diinginkan oleh struktur organisasi yayasan untuk menjadi eksekutor lapangan.

Di sisi lain aula, Keisya mendekati Johan yang sedang duduk menunduk di bangku barisan belakang. Gadis itu meletakkan sebuah botol glukosa di samping Johan tanpa suara.

"Jangan biarkan dia melihatmu hancur," kata Keisya datar, matanya lurus menatap Raka di kejauhan. "Raka memakan rasa takut orang lain untuk memperkuat argumennya. Jika kamu menyerah sekarang, kamu memberikan apa yang dia inginkan."

Johan mendongak dengan mata yang memerah karena marah dan kecewa. "Nilai individuku hancur, Keisya. Tahap berikutnya adalah eliminasi mutlak untuk tiga puluh peringkat terbawah. Aku tidak punya peluang lagi."

"Masih ada satu tahap kelompok tersisa sebelum akumulasi final," potong Keisya tegas. "Gunakan penalti itu sebagai indikator logismu untuk bergerak lebih agresif nanti. Di tempat ini, mengeluh tidak akan mengubah algoritma penilaian."

Kalimat Keisya yang dingin namun realistis itu menghentikan keputusasaan Johan. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu mengambil botol glukosa tersebut dan meminumnya habis dalam sekali teguk.

Sementara itu, Profesor Adrian berdiri di atas podium utama, memandangi layar pemantau sosiometri para peserta. Garis-garis aliansi dan faksi baru terbentuk di layar monitornya dengan warna yang berbeda-beda. Kelompok Farel ditandai dengan warna biru terang simbol kohesi berbasis proteksi fisik. Sementara kelompok Raka ditandai dengan warna merah pekat simbol dominasi berbasis kanibalisme taktis.

"Dua metode yang sangat bertolak belakang," ujar salah satu pengawas senior di sebelah Adrian. "Farel membangun loyalitas bawah, sedangkan Raka membangun efisiensi atas melalui intimidasi. Mana yang akan bertahan di babak eliminasi internal?"

Profesor Adrian mengetuk layar tabletnya, memunculkan grafik individu milik Atharva yang tetap berwarna abu-abu netral menandakan tidak adanya interaksi emosional maupun aliansi yang tercatat oleh sistem.

"Keduanya hanya riak kecil," jawab Profesor Adrian dengan suara baritonnya yang monoton. "Ujian sesungguhnya adalah saat kita mempertemukan para manipulator ini dengan subjek yang sama sekali tidak memiliki empati seperti Peserta 001. Persiapkan skenario untuk Lantai 1 Gedung Kompetisi. Kita akan melihat sejauh mana kata-kata Raka bisa menembus dinding batu di kepala Atharva."

Lampu aula utama mendadak meredup berkala, digantikan oleh pendar kuning peringatan dari sistem sentral. Papan skor digital raksasa mulai berkedip cepat, mengunci sisa waktu istirahat dan bersiap meluncurkan fase penutup dari Tahap Empat fase di mana strategi dan pengkhianatan tidak akan lagi disembunyikan di balik simulasi komputer, melainkan diadu secara terbuka di hadapan seluruh peserta yang tersisa.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!