NovelToon NovelToon
Rahimku Diangkat Suamiku Menikah Lagi

Rahimku Diangkat Suamiku Menikah Lagi

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Romansa / Penyesalan Suami / Penyesalan Keluarga
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Almesha

Tiga tahun Davira bertahan dalam pernikahan perjodohan yang dingin dengan Arka. Baginya, Arka adalah satu-satunya tempat bersandar setelah ayahnya meninggal karena bangkrut dan adik laki-lakinya hilang tanpa kabar di luar negeri. Davira terus bertahan, berharap kehadiran seorang anak kelak bisa melunakkan hati suaminya.

Namun, takdir justru merenggut segalanya dalam semalam. Di saat dokter memvonisnya menderita kanker rahim stadium 3 dan harus mengangkat rahimnya.

Bukannya mendapat perlindungan, Davira malah dihujat mandul oleh ibu mertua dan adik iparnya. Arka yang tega bahkan memberinya ultimatum: menerima Sheila sebagai istri kedua, atau pergi dari rumah tanpa membawa sepeser pun uang.

Di titik terendah hidupnya, hati Davira mati. Dia memilih pergi membawa luka dan penyakitnya. Davira bersumpah akan sembuh, bangkit, dan kembali untuk membuat Arka beserta keluarganya membayar mahal setiap tetes air mata dan penghianatan keji ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Almesha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7: Kepanikan di Kediaman Narendra

Kabar mengenai suntikan dana segar sebesar 500 miliar rupiah dari V-Tech Investment seharusnya menjadi angin segar yang membawa kebahagiaan. Namun, bagi keluarga besar Narendra, berita itu justru menjelma menjadi teror mental yang mencekik leher mereka. Pagi itu, atmosfer di dalam ruang tengah mansion mewah milik keluarga Arka terasa begitu pekat dan menegangkan. Tidak ada tawa atau obrolan santai yang biasanya terdengar; yang ada hanyalah gema langkah kaki yang terburu-buru dan deru napas yang sarat akan kecemasan.

Sheila duduk di sudut sofa beludru impor dengan wajah yang pucat pasi. Riasan wajahnya yang tebal dan mahal tidak mampu menyembunyikan gurat ketakutan yang menjalar di sela-sela matanya. Jemarinya yang dihiasi beberapa cincin berlian berukuran besar tampak gemetar hebat saat memegang cangkir teh porselen, hingga cairan di dalamnya berguncang kecil. Di hadapannya, Siska—sang ibu mertua—dan Maya terus berjalan mondar-mandir seperti setrikaan, mondar-mandir tanpa arah karena tidak tahu bagaimana cara mengendalikan kepanikan yang mendadak menyerang mereka.

"Arka! Kamu pasti salah lihat! Tolong jangan bercanda di saat seperti ini!" pekik Siska dengan suara melengking yang memekakkan telinga. Wanita paruh baya itu menolak mentah-mentah kenyataan yang baru saja dibawa oleh putranya. "Mana mungkin wanita jalang, mandul, dan penyakitan seperti dia bisa menjadi direktur utama di sebuah perusahaan modal asing dari Amerika?! Tiga tahun lalu dia kita usir dari rumah ini tanpa sepeser pun uang! Jangankan jadi kaya, paling-paling sekarang tubuhnya sudah membusuk di dalam tanah karena digerogoti kankernya!"

Arka, yang duduk di kursi tunggal di sudut ruangan, hanya bisa membenamkan wajahnya di antara kedua telapak tangannya. Rambutnya acak-acakan, dan kemeja kerjanya tampak kusut. Kepalanya terasa mau pecah dihantam kenyataan pahit.

"Aku tidak salah lihat, Ma! Berhentilah bersikap menyangkal!" bentak Arka dengan nada frustrasi, perlahan mengangkat kepalanya untuk menatap sang ibu dengan mata yang memerah akibat kurang tidur. "Aku adalah suaminya selama tiga tahun! Aku tahu persis setiap jengkal wajahnya, bentuk bibirnya, dan sorot matanya! Wanita yang memimpin delegasi V-Tech itu adalah Davira! Namanya sekarang Vira Mahendra. Dan yang lebih gila lagi... Reno, adik laki-lakinya yang dulu kita usir dan kita sebut sebagai gelandangan, sekarang berdiri di sampingnya sebagai Chief Financial Officer perusahaan itu!"

"Nggak... ini benar-benar tidak masuk akal!" potong Maya, adik ipar Davira. Wajahnya yang biasa dipenuhi keangkuhan kini tampak mengencang ketakutan. "Kalau wanita pembawa sial itu memegang kendali atas dana investasi kita, itu artinya... nasib dan kehormatan keluarga kita ada di dalam genggaman tangannya? Kak Arka, kamu tidak boleh menandatangani kontrak gila itu! Dia pasti sengaja kembali ke Indonesia untuk membalas dendam dan menghancurkan kita semua!"

"Lalu kita harus bagaimana, Maya?! Menolak kontrak itu?!" bentak Arka, akhirnya kehilangan seluruh sisa kesabarannya. "Jika dokumen kesepakatan itu tidak ditandatangani dan diserahkan kembali besok pagi, lusa pihak bank akan merilis surat sita massal atas seluruh aset dan gedung kantor pusat Narendra Group! Perusahaan warisan Papa akan dinyatakan bangkrut total! Mau ditaruh di mana muka kita di hadapan relasi bisnis sekota?! Kita akan jadi gelandangan!"

Mendengar kata 'bangkrut' dan 'sita', Sheila langsung tersentak di tempat duduknya. Bagi wanita itu, statusnya sebagai istri sah dari seorang CEO kaya raya adalah segala-galanya. Dia telah mengorbankan harga dirinya sebagai selingkuhan selama berbulan-bulan demi bisa menyingkirkan Davira dan menikmati kemewahan ini. Dia tidak bisa membayangkan hidup melarat tanpa adanya uang bulanan ratusan juta, tas-tas bermerek edisi terbatas, dan lingkaran arisan sosialita papan atas yang selalu memujanya.

Sheila segera meletakkan cangkir tehnya ke meja dengan kasar, lalu bergeser ke arah Arka. Dia berlutut di lantai, tepat di samping kursi suaminya, lalu menggenggam tangan Arka erat-erat sembari memasang raut wajah paling melas dan penuh kepedulian yang dia miliki—sebuah topeng manipulatif yang selalu menjadi senjatanya selama ini.

"Mas... tolong dengarkan aku dulu. Tarik napasmu dan tenangkan pikiranmu," ucap Sheila dengan suara yang sengaja dibuat selembut sutra, mencoba menyusup ke dalam celah emosi Arka yang sedang rapuh. "Mungkin ini bukan sebuah kutukan, melainkan sebuah kesempatan. Pikirkan lagi, Mas. Davira... atau siapa pun namanya sekarang, dia pernah sangat mencintaimu, bukan? Selama tiga tahun pernikahan kalian, dia selalu tunduk dan patuh kepadamu. Kamu adalah cinta pertamanya. Tiga tahun lalu dia memilih pergi juga karena keinginannya sendiri, bukan karena kamu menceraikannya secara resmi. Kamu bisa memanfaatkan masa lalu dan perasaan lamanya agar dia mau melunakkan syarat-syarat kontrak yang mencekik itu, Mas."

Arka menurunkan pandangannya, menatap sepasang mata Sheila dengan kekosongan yang kentara. "Memanfaatkan masa lalu? Kamu tidak ada di ruang rapat itu semalam, Sheila. Kamu tidak melihat bagaimana cara dia menatapku. Tatapan matanya... sangat dingin, mati, dan asing. Tidak ada satu jengkal pun sisa cinta atau keraguan di sana. Dia memandangku seolah-olah aku hanyalah seonggok kotoran yang tidak sengaja dia temukan di pinggir jalan."

"Halah! Itu hanya akting luarannya saja agar dia terlihat berkuasa di depan anak buahnya!" cibir Siska, ikut menimpali seraya melipat tangannya di dada, berusaha meyakinkan hatinya sendiri yang sebenarnya didera kecemasan luar biasa. "Perempuan itu, kalau sudah pernah cinta mati sampai menyerahkan seluruh hidupnya, pasti di dalam lubuk hatinya yang paling dalam selalu ada titik lemah. Kamu dekati dia lagi secara pribadi, Arka. Pasang wajah sedih dan penuh penyesalan. Katakan padanya bahwa tiga tahun lalu kamu terpaksa bersikap kasar dan membawakan Sheila hanya demi kelangsungan garis keturunan dan ahli waris keluarga. Wanita mandul seperti dia pasti akan selalu merasa bersalah jika ditekan soal anak. Gunakan rasa bersalahnya itu untuk meluluhkan hatinya."

Arka kembali terdiam, mencerna setiap kata yang dilontarkan oleh ibunya. Di dalam hatinya yang terdalam, ada rasa harga diri yang luar biasa terluka dan terhina karena dia harus merendahkan diri dan mengemis pada mantan istri yang pernah dia buang dengan kejam. Namun, di sisi lain, ketakutan Arka akan kemiskinan, kehilangan jabatan, dan cemoohan publik jauh lebih besar daripada harga dirinya. Keserakahan menuntutnya untuk mulai menyusun sebuah rencana busuk.

Beberapa jam kemudian, di lantai atas gedung perkantoran mewah V-Tech Investment cabang Jakarta.

Vira Mahendra duduk dengan anggun di balik meja kerjanya yang luas dan terbuat dari kayu mahoni premium. Matanya yang tajam tidak sedang menatap tumpukan laporan keuangan, melainkan tertuju pada sebuah buket bunga mawar merah besar yang baru saja diletakkan oleh kurir pribadi di sudut mejanya. Di antara kelopak mawar yang merekah indah, terselip sebuah kartu ucapan kecil berwarna putih gading.

Vira mengulurkan tangannya yang lentik, mengambil kartu tersebut dengan gerakan yang teramat tenang. Di sana, goresan tinta hitam membentuk untaian kalimat yang sangat familier:

“Untuk Vira, wanitaku yang menawan. Selamat atas kembalimu ke tanah air. Aku tahu ada banyak kesalahpahaman di antara kita di masa lalu. Bisakah kita melupakan sejenak urusan pekerjaan dan bicara berdua sebagai teman lama malam ini? Aku akan menunggumu di restoran tempat kita pertama kali bertemu. - Arka Narendra.”

Reno yang sejak tadi berdiri di dekat dinding kaca besar ruangan, langsung mendengus jijik ketika mendengar Vira membaca isi kartu tersebut dengan nada suara yang datar tanpa emosi. Pria muda itu melangkah mendekat, dengan rahang yang mengeras menahan amarah.

"Bajingan itu benar-benar tidak tahu malu. Urat kemaluannya pasti sudah putus total," desis Reno dengan nada tajam. "Setelah membiarkan Kakak bertaruh nyawa di ruang operasi sendirian, setelah merebut kebahagiaan Kakak, dia mengira seikat bunga murahan dan kata-kata manis bisa menghapus seluruh dosa masa lalunya? Perlu aku panggil sekuriti untuk membuang sampah ini ke tempat pembuangan akhir, Kak?"

Vira tidak menunjukkan kilat kemarahan sama sekali. Sebaliknya, sebuah senyuman misterius yang teramat dingin justru terukir di sudut bibirnya yang dilapisi lipstik merah gelap. Dia mengambil sebuah korek api gas berlapis perak dari dalam laci, memantik apinya, lalu menyulut ujung kartu ucapan dari Arka.

Kedua kakak beradik itu hanya diam, menatap bagaimana api perlahan melahap habis tulisan tangan Arka, mengubah kata-kata manis itu menjadi tumpukan abu hitam yang jatuh berserakan di atas asbak kristal di atas meja.

"Jangan dibuang ke tempat sampah dulu, Reno. Biarkan bunganya tetap di sana," ucap Vira, suaranya terdengar merdu namun menyimpan ancaman yang tak kasatmata. "Pria egois dan narsistik seperti Arka tidak akan pernah sudi bergerak serendah ini jika dia tidak sedang terdesak. Saat ini, dia sedang ketakutan setengah mati. Ego dan perusahaannya berada di ujung tanduk kehancuran, dan dia mencoba menggunakan kartu 'nostalgia' serta sisa-sisa pesona masa lalunya untuk menjinakkan aku."

"Lalu, apa yang akan Kakak lakukan? Kakak tidak benar-benar berniat untuk datang dan mendengarkan bualannya, bukan?" tanya Reno dengan dahi berkerut, khawatir jika kakaknya kembali goyah oleh manipulasi pria itu.

Vira bangkit dari kursi kerjanya, berjalan perlahan menuju dinding kaca besar yang menampilkan panorama hiruk-pikuk gedung pencakar langit kota Jakarta. Dia melipat kedua tangannya di dada, menatap pantulan dirinya sendiri yang kini terlihat begitu tangguh dan tak tersentuh.

"Tentu saja aku akan datang, Reno. Aku tidak akan melewatkan tontonan seindah ini," jawab Vira dengan nada santai namun sarat akan intrik. "Aku ingin melihat dengan mata kepalaku sendiri, seberapa rendah dan menjijikkannya seorang Arka Narendra bisa merangkak dan menjilat ludahnya sendiri di hadapanku demi seonggok uang 500 miliar rupiah."

Vira melirik jam tangan Rolex emas yang melingkar indah di pergelangan tangan kirinya. "Hubungi sekretarisnya, katakan bahwa aku menyetujui pertemuan malam ini. Tapi ubah lokasinya. Aku tidak sudi datang ke tempat lama yang penuh dengan memori sampah itu. Jadwalkan pertemuan di restoran mewah L'Ambroisie tepat jam tujuh malam ini."

Vira menjeda kalimatnya, lalu menoleh ke arah Reno dengan kilat mata yang licik. "Dan satu hal lagi yang paling penting, Reno... pastikan Sheila mendapatkan informasi akurat mengenai makan malam pribadi ini. Aku ingin tahu, bagaimana reaksi si ular betina itu saat tahu suaminya sedang mencoba merangkak kembali ke pelukan mantan istrinya."

Reno langsung tersenyum lebar, memahami sepenuhnya strategi brilian yang sedang dimainkan oleh kakaknya. "Dimengerti, Kak. Aku akan memastikan informasi ini sampai ke telinga Sheila dalam waktu satu jam ke depan tanpa meninggalkan jejak kita. Ini akan menjadi malam yang sangat panjang bagi mereka."

Vira kembali menatap ke luar jendela. Tiga tahun lalu, dia dihancurkan hingga ke titik nadi di bawah atap rumahnya sendiri tanpa ada satu pun orang yang membela. Malam ini, dia sendiri yang akan menggerakkan bidak catur pertamanya, dan dia akan memastikan bahwa setiap tetes air mata yang pernah dijatuhkannya akan dibayar dengan kehancuran mental yang teramat menyiksa bagi mereka yang telah mengkhianatinya.

1
Ariany Sudjana
hahaha kamu menyesal arka? itulah hukum tabur tuai, nikmati saja konsekuensinya. kain ini pilihan kamu dan pelacur murahan kesayangan kamu itu 😂😂🤣🤣
Ariany Sudjana
ayo Vira, coba buka hati kamu, laki-laki seperti Adrian dan elvano yang akan menyembuhkan luka di hati kamu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!