Di tengah guyuran hujan deras yang membasahi jalanan Jakarta, Rima masuk ke mobil mewah yang baru saja ia buka dengan tergesa-gesa. Wajahnya memancarkan kaget luar biasa. Mata terbelalak lebar, mulut terbuka melongo. Saat baru menyadari bahwa ia salah masuk kendaraan, bukan taksi yang sudah dipesannya. Pantulan di kaca spion memperlihatkan Andre yang duduk di kursi pengemudi dengan wajah dingin kaku, tatapan tajam tanpa senyum, seolah tak percaya ada kejadian seaneh ini. Butiran air menetes di kaca jendela dan bodi mobil hitam mengkilap, memperkuat suasana yang canggung sekaligus kocak di pertemuan pertama mereka. Kontras jelas antara ekspresi Rima yang panik lucu dan sikap Andre yang tenang kaku langsung menyiratkan kisah pertemuan tak terduga yang penuh kekacauan manis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arrasy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31 Keraguan Rima
Angin sore berhembus pelan menerpa wajah Rima yang terasa panas dingin.
Ia masih duduk mematung di kursi kayu depan kamarnya, menatap Andre dengan pandangan yang sulit diartikan.
Campuran antara kaget luar biasa, senang yang tak terduga, namun juga kebingungan yang makin menumpuk di hati.
Wajahnya yang tadi pucat pasi perlahan berubah merah padam hingga ke telinga, matanya berkaca-kaca menahan tangis yang entah karena haru atau karena beratnya kenyataan yang baru saja didengarnya.
Andre diam menunggu dengan sabar, tidak memaksanya bicara, tidak menyela, hanya menatapnya lembut seolah memberi waktu sepuasnya untuk mencerna semua kata-kata yang baru saja ia ucapkan.
Setelah hening cukup lama, Rima menarik napas panjang yang terasa berat, lalu berusaha menatap mata Andre dengan berani meski tangannya saling bertaut erat di pangkuan.
"Pak Andre..." suaranya masih bergetar pelan. "Saya... saya jujur saja, saya tidak menyangka sama sekali Bapak punya perasaan seperti itu pada saya.''
''Selama ini saya hanya berani mengagumi Bapak dari jauh, menganggap Bapak pimpinan yang hebat, tegas, dan sangat baik hati.''
''Saya juga harus jujur... saya merasa nyaman setiap kali berbicara dengan Bapak. Rasanya aman dan tenang."
Ia berhenti sejenak, menelan ludah sebelum melanjutkan kalimat yang lebih berat.
"Tapi... saya belum bisa menerima perasaan Bapak saat ini. Maafkan saya ya Pak.''
''Bukan karena saya tidak menghargainya, tapi hati saya sendiri pun masih bingung, belum yakin sepenuhnya apa yang saya rasakan itu benar-benar cinta, atau sekadar kagum pada orang yang saya hormati."
Keraguan lain mulai muncul satu per satu di benaknya, membuat matanya kembali menunduk menatap lantai.
"Selain itu Pak, perbedaan kita terasa begitu jauh. Selain jarak umur kita yang jauh, bapak juga orang besar, pemimpin perusahaan.''
''Saya hanya gadis desa yang masih kuliah. Latar belakang kita, dunia kita, semuanya berbeda.''
''Saya takut saya tidak pantas berdiri di samping Bapak, takut saya tidak bisa masuk ke dalam kehidupan Bapak, dan takut saya hanya akan membebani Bapak nantinya."
Rima menghela napas panjang lagi, lalu menyebutkan alasan yang paling berat selama ini ia simpan sendiri.
"Dan ada hal lain lagi. Bukankah bapak mempunyai hubungan dengan nona Clara.''
''Saya tahu beliau teman masa kecil Bapak, putri sahabat keluarga Bapak, dan semua orang tahu kalau kalian adalah pasangan yang sudah dijodohkan.''
''Kemarin pun saya melihat nona Clara datang ke kantor, kalian terlihat sangat serasi, begitu dekat, dan seolah sudah saling memiliki.''
''Bagaimana bisa saya mengganggu hubungan kalian. Saya tidak mau menjadi orang ketiga, apalagi menyakiti hati wanita lain yang sudah Bapak kenal seumur hidup."
Rima berusaha tegar namun hatinya terasa perih membayangkan betapa sulitnya semua ini.
"Saya juga ingin fokus menyelesaikan kuliah saya dulu di Jogja Pak. Saya tidak mau pikiran saya terbagi-bagi, saya tidak mau mengecewakan Ayah dan Ibu yang sudah bersusah payah membiayai kuliah saya.''
''Saya ingin membuktikan bahwa saya bisa sukses. Saya butuh waktu untuk mengenal diri saya sendiri dulu, sebelum saya berani berjanji pada orang lain."
Suasana kembali hening sejenak. Andre mendengarkan setiap kata dengan saksama, tidak sekalipun terlihat marah atau kecewa.
Justru wajahnya tampak makin lembut, penuh pengertian atas ketulusan dan kejujuran Rima.
"Saya mengerti semua kekhawatiranmu Rima," jawab Andre pelan namun tegas. "Saya tidak menyalahkanmu sedikit pun.''
''Justru karena kamu berpikir begitu, karena kamu peduli pada hal-hal yang benar dan adil, semakin membuat saya yakin bahwa kamu gadis yang tepat."
Ia menatap mata Rima kembali.
"Tentang Clara, izinkan saya menjelaskannya. Saya sudah bicara jujur padanya, dan juga pada kedua orang tuaku. Saya hanya menganggap Clara sebagai saudara, sahabat masa kecil yang sangat saya hormati.''
''Tidak ada hubungan romantis di antara kami, dan tidak ada janji apa pun. Saya tidak ingin kamu merasa terbebani atau merasa bersalah karena hal itu. Clara sudah mengerti, dan persahabatan kami tetap terjalin baik."
"Saya justru ingin masuk ke dalam duniamu, belajar hal-hal sederhana darimu, dan tumbuh bersama. Saya tidak melihat siapa kamu, dari mana asalmu, atau apa yang kamu miliki.''
''Saya melihat hatimu Rima, yang tulus, jujur, dan berharga jauh lebih mahal dari apa pun."
"Dan soal kuliahmu," Andre tersenyum tipis. "Saya justru sangat mendukungmu. Fokuslah, kejar cita-citamu, jangan biarkan kehadiranku mengganggu waktumu.''
''Saya tidak akan memintamu menjawab hari ini. Saya akan menunggu. Saya akan menunggu sampai kamu siap, sampai kamu yakin dengan hatimu sendiri dan sampai kamu selesai membangun duniamu sendiri."
Rima merasakan kehangatan dan kelegaan di dadanya. Ia tidak menyangka akan mendapatkan pengertian sebesar ini.
"Benarkah Bapak mau menunggu?" tanyanya pelan tak percaya.
"Benar," jawab Andre mantap. "Seberapa lama pun waktunya."
Rima menunduk, merasakan beban di hatinya perlahan berkurang meski keraguan belum sepenuhnya hilang. Ia belum bisa berkata ya, tapi ia juga tidak lagi merasa takut seberat sebelumnya.
"Terima kasih banyak atas pengertian Pak Andre," ucapnya pelan. "Saya janji akan memikirkannya dengan tenang. Tapi untuk sekarang, maafkan saya ya, saya belum bisa memberikan kepastian."
"Saya menghargai keputusanmu sepenuhnya," jawab Andre tulus.