NovelToon NovelToon
Putri Kesayangan Raja Iblis

Putri Kesayangan Raja Iblis

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Beda Dunia / Iblis / Fantasi Wanita / Menjadi bayi
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Enzelynn

Semua orang menyebut Aelora anak kutukan. Ia dibuang, diburu, dan dibiarkan mati di hutan iblis. Tapi nasib berkata lain: Raja Iblis sendiri memungutnya dan menjadikannya putri kecil Nocthara. Kini Aelora harus menyembunyikan dua rahasia: ia pernah hidup di masa depan yang hancur, dan ia adalah anak malaikat yang dicari oleh Surga. Demi menyelamatkan ayah angkatnya dan mencegah perang tiga dunia, Aelora kecil harus mengubah takdir sebelum orang-orang yang ia cintai mati untuk kedua kalinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Enzelynn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gerbang di Bawah Kaki Putri

Simbol di bawah kaki Aelora berputar semakin cepat.

Garis-garis emas menyebar di antara batu lantai, membentuk tiga lingkaran yang saling bertumpuk. Di tengahnya terdapat gambar menyerupai jam pasir dengan sayap pada kedua sisi.

Aelora mengenal bentuk itu.

Gerbang Tiga Dunia.

Hanya saja, gerbang dalam ingatannya jauh lebih besar. Ia dibangun dari pilar-pilar hitam, dikelilingi darah, api, dan mayat orang-orang yang berusaha menghentikannya.

Yang ini masih berupa rancangan kecil.

Belum terbuka penuh.

Kael menarik Aelora ke belakang, tetapi cahaya pada lantai bergerak mengikuti langkahnya. Ke mana pun Aelora berpindah, pusat lingkaran tetap berada tepat di bawah telapak kakinya.

“Jangan gunakan bayanganmu,” kata Aelora cepat.

Kael yang sudah membentuk pedang hitam menoleh.

“Kenapa?”

“Aku tidak tahu. Hanya jangan.”

Puluhan malaikat bertopeng bergerak bersamaan.

Mereka tidak menyerang Aelora. Sebagian membuka sayap dan membentuk dinding di sekeliling ruangan. Yang lain berdiri pada setiap ujung garis gerbang, seolah tubuh mereka menjadi bagian dari ritual.

Elianor menghunus pedangnya.

Bilah cahaya keluar dari gagang perak dengan suara mendesis. Ia menebas sosok terdekat, memotong tubuhnya dari bahu sampai pinggang.

Malaikat palsu itu tidak berdarah.

Tubuhnya pecah menjadi bulu-bulu putih, lalu terbentuk kembali beberapa langkah dari tempat semula.

“Mereka ditambatkan pada cincin,” kata Elianor. “Selama cincin pemiliknya masih aktif, tubuh-tubuh itu akan terus kembali.”

“Yang mana tubuh asli?” tanya Daren.

“Tidak ada.”

Kael menggeser Aelora ke belakang takhta kecil. “Semua penjaga keluar.”

Daren menatapnya. “Yang Mulia—”

“Bawa staf istana menjauh dari aula. Tutup koridor dan aktifkan penghalang luar.”

“Lalu Anda?”

“Aku akan menutup gerbang.”

Aelora memegang ujung mantelnya. “Kau tidak tahu caranya.”

“Aku pernah menutup banyak benda.”

“Bukan yang ini.”

Kael melihat simbol yang terus bergerak mengikuti Aelora. “Karena itu kau tetap di belakangku.”

Para penjaga mulai mundur sambil mempertahankan formasi. Dua malaikat palsu mencoba mengejar, tetapi Elianor membentangkan sayapnya dan menghantam mereka menggunakan gelombang cahaya.

Eirna tidak ikut keluar.

Ia membuka tas obat dan melempar tiga botol kecil ke lantai. Cairan biru menyebar menjadi kabut rendah yang menutupi batu.

“Jejak sihirnya akan terlihat,” katanya.

Ketika kabut menyentuh para peniru, benang-benang emas muncul dari punggung mereka. Semua benang mengarah pada satu tempat: sosok bertopeng pertama yang berdiri di dekat pintu.

Elianor melesat ke arahnya.

Pedangnya menembus dada sosok itu.

Topeng putih retak.

Di baliknya tidak ada wajah, hanya lubang hitam berisi cahaya yang berputar seperti pusaran.

Elianor segera menarik pedangnya, tetapi sesuatu dari dalam tubuh makhluk itu melilit pergelangan tangannya. Benang emas merambat ke kulitnya.

“Mundur!” seru Kael.

Terlambat.

Tubuh Elianor terangkat dan dilemparkan ke pilar. Salah satu sayapnya menghantam batu dengan bunyi keras. Ia jatuh berlutut, pedangnya terlepas beberapa langkah darinya.

Malaikat pembawa dokumen berlari untuk membantu.

Dua peniru langsung menghalangi.

Kael mengangkat tangannya secara refleks.

Bayangan di bawah mereka melonjak.

“Jangan!” teriak Aelora.

Kael menahan sihirnya tepat sebelum bayangan itu menyentuh garis gerbang.

Namun satu ujungnya telanjur melintasi lingkaran terluar.

Simbol di lantai berubah.

Emas bercampur hitam.

Suara detak besar terdengar dari bawah batu.

Duk.

Seluruh aula bergetar.

Para peniru mengangkat kepala bersamaan.

“Itu yang kami perlukan,” kata mereka.

Kael memandang noda bayangannya di antara garis emas. Ia segera menarik kekuatannya, tetapi warna hitam tetap tertinggal.

“Mereka membutuhkan darahmu dan bayanganku,” kata Aelora.

“Darahmu belum menyentuh lingkaran.”

Salah satu peniru melepas bulu dari sayapnya.

Ujung bulu itu mengeras menjadi jarum.

Puluhan yang lain melakukan hal sama.

Kael berdiri tepat di depan Aelora.

“Sekarang aku mengerti bagian darahnya.”

Bulu-bulu tajam melesat dari berbagai arah.

Kael tidak menggunakan bayangan.

Ia membalik meja dengan satu tendangan dan menjadikannya perisai. Elianor, yang sudah kembali berdiri, membentangkan empat sayapnya untuk melindungi bagian kanan. Eirna menarik Aelora ke bawah kursi takhta.

Ratusan bulu menghantam kayu, dinding, dan pilar.

Satu bulu menembus meja hingga ujungnya muncul beberapa sentimeter dari wajah Aelora.

Benda itu mengeluarkan cahaya putih, tetapi pada bagian pangkalnya terdapat noda hitam seperti tinta.

Eirna mencabutnya menggunakan penjepit.

“Ini bukan bulu malaikat.”

“Apa?” tanya Aelora.

“Logam yang diberi ilusi.”

Bulu itu bergerak di dalam penjepit, mencoba mengarah pada tangan Aelora.

Eirna memasukkannya ke botol dan menutup rapat.

“Mereka tidak perlu melukaimu banyak. Satu tetes sudah cukup.”

Dari balik meja, Kael berkata, “Aelora, gunakan bros yang kuberikan.”

Aelora meraba mantel.

Bros bulan yang terhubung pada bayangan Kael masih terpasang di kerahnya.

“Lepaskan dan letakkan di lantai.”

“Katamu jangan pakai bayangan.”

“Bros itu bukan untuk menyerang.”

Aelora melepaskannya.

Bros tersebut terasa dingin di telapak tangannya.

“Sekarang apa?”

“Patahkan.”

Aelora menatap logam hitam yang tebal. “Dengan apa?”

“Tekan batu tengahnya.”

Ia menekan batu berbentuk bulan menggunakan ibu jari.

Tidak terjadi apa-apa.

“Lebih keras.”

“Aku sudah keras.”

“Itu dibuat agar tidak pecah dalam pertempuran.”

“Aku anak tujuh tahun.”

Kael menahan bulu lain menggunakan pedangnya. “Aku menyadarinya.”

Aelora menggigit bagian tepi sarung tangannya, melepasnya, lalu mencoba lagi dengan kedua ibu jari. Batu bulan tersebut akhirnya masuk ke dalam bros.

Terdengar bunyi retakan kecil.

Bros terbelah menjadi dua.

Bayangan Kael meledak keluar, bukan sebagai senjata, melainkan kubah hitam yang menutup Aelora dan Eirna. Bulu-bulu tajam memantul dari permukaannya.

Garis gerbang tidak bereaksi.

“Bayangan terpisah,” gumam Aelora.

“Apa?” tanya Eirna.

“Yang mengaktifkan gerbang adalah sihir Kael saat masih terhubung dengan tubuhnya. Bayangan dalam bros sudah dilepaskan sebelumnya.”

Eirna menatapnya. “Kau memahami itu dari satu kali melihat?”

“Aku menebak.”

“Jangan terlalu bangga dengan tebakan saat kita hampir mati.”

“Aku tidak bangga.”

Sedikit bangga, mungkin.

Kael bergerak keluar dari perlindungan meja. Ia bertarung tanpa sihir, hanya menggunakan pedang besi dari dinding pajangan. Benda itu jelas bukan senjata yang biasa dipakainya. Gagangnya terlalu pendek dan hiasan pada bilah membuat keseimbangannya buruk.

Meski begitu, dua peniru sudah kehilangan kepala dalam beberapa detik.

Mereka tetap berubah menjadi bulu dan kembali terbentuk.

“Kita tidak bisa terus begini,” kata Eirna.

Aelora memandang seluruh ruangan.

Benang emas dari para peniru tidak lagi hanya mengarah kepada satu sosok. Setelah tubuh pertama diserang Elianor, tambatan mereka berpindah. Kini benang-benang itu masuk ke simbol gerbang di lantai.

Gerbang menjadi sumber mereka.

Bukan sebaliknya.

“Lingkarannya harus dirusak,” kata Aelora.

“Kael tidak boleh menyentuhnya.”

“Aku yang harus.”

Eirna mencengkeram bahunya. “Tidak.”

“Gerbang mengikuti darahku.”

“Itu alasan yang sangat baik untuk tidak mendekatinya.”

“Kalau aku bisa memindahkannya, mungkin aku juga bisa menghentikannya.”

“Dengan cara apa?”

Aelora tidak memiliki jawaban.

Ia memandang bulu Seraphiel yang terselip di lengan bajunya. Ketika simbol gerbang berdenyut, pangkal bulu yang hitam ikut menghangat.

Piko juga mulai bergerak di pelukannya.

Jahitan pada perut boneka yang tadi terbuka kembali melebar. Dari dalamnya terlihat seutas benang merah tua.

Aelora menariknya sedikit.

Benang itu sangat panjang, jauh lebih panjang daripada yang mungkin muat di tubuh boneka kecil.

“Apa itu?” tanya Eirna.

“Aku tidak tahu.”

Benang terus keluar.

Di salah satu bagiannya terdapat simpul kecil yang mengikat potongan logam berbentuk kunci.

Kunci tersebut hanya sebesar kuku. Satu sisinya berwarna emas, sisi lainnya hitam.

Begitu Aelora menyentuhnya, sebuah suara muncul di kepalanya.

Bukan suara cermin.

Suara seorang perempuan yang terdengar lelah.

Kalau gerbang menemukanmu, jangan lawan tarikan darahnya. Beri gerbang tujuan yang salah.

Aelora mengenali suara itu.

“Ibu.”

Eirna menatapnya. “Apa?”

“Piko menyimpan pesan lain.”

“Apa katanya?”

Aelora melihat simbol di lantai, lalu peniru-peniru yang mengelilinginya.

Beri gerbang tujuan yang salah.

Gerbang adalah pintu.

Pintu membutuhkan dua tempat: tempat keberangkatan dan tempat tujuan.

Mereka sudah menjadikan Aelora sebagai kunci dan istana sebagai titik awal.

Namun tujuan akhirnya belum terbentuk.

Itu sebabnya para peniru terus menjaga lingkaran.

“Aku tahu apa yang mereka lakukan,” katanya. “Mereka tidak mencoba membawa sesuatu keluar.”

Eirna mengikuti pandangannya. “Mereka mau membawa Aelora masuk.”

“Bukan hanya aku.”

Aelora memandang Kael.

“Mereka juga mau membawa Kael.”

Eirna memucat. “Darah terang dan bayangan murni.”

“Kalau kami masuk bersama, gerbang bisa terbuka penuh.”

Salah satu peniru mendengar.

Kepalanya berputar ke arah Aelora meskipun tubuhnya sedang bertarung melawan Elianor.

“Putri kecil mulai mengingat,” katanya.

Kael menusukkan pedang ke lehernya.

“Jangan bicara kepadanya.”

Tubuh peniru pecah, lalu suara yang sama keluar dari belasan mulut lain.

“Dia mengingat karena pernah membuka kami.”

Aelora merasakan bagian belakang lehernya dingin.

“Kalian ada di masa depan itu?”

“Kami adalah masa depan itu.”

Simbol di lantai kembali berdetak.

Duk.

Kali ini retakan muncul di tengahnya.

Dari retakan tersebut keluar angin yang berbau abu dan darah.

Aelora mengenal bau itu.

Bau aula Istana Bulan Merah ketika terbakar.

Ia melihat sesuatu melalui celah di lantai.

Bukan ruang bawah tanah.

Sebuah tempat yang sama, tetapi rusak. Pilar-pilar patah. Dinding runtuh. Langit di atas istana berwarna merah.

Masa depan.

Atau sisa masa depan yang pernah terjadi.

Seorang gadis berambut putih berdiri di sisi lain retakan.

Aelora pada usia tujuh belas tahun.

Gadis itu memegang pedang berlumur darah dan memandang Aelora kecil dengan mata emas.

“Jangan biarkan mereka menyatukan kita,” katanya.

Retakan melebar.

Salah satu tangan gadis dewasa itu terangkat, seolah mencoba menahan sisi pintu dari dunianya.

Di belakangnya, ribuan bayangan bergerak mendekat.

“Aelora!” Kael memanggil dari seberang aula. “Jangan lihat ke dalam.”

“Aku melihat diriku.”

“Itu yang mereka ingin kau lihat.”

Aelora menggenggam kunci kecil dari dalam Piko.

Ia tahu Kael benar. Namun gadis dewasa dalam celah itu tidak tampak seperti ilusi yang dibuat untuk membujuknya. Wajahnya penuh luka. Tangannya gemetar menahan gerbang.

Dan ia terlihat takut.

Bukan untuk dirinya sendiri.

Untuk Aelora kecil.

“Apa tujuan yang harus kuberikan?” tanya Aelora.

Gadis dewasa itu menggeleng.

“Aku tidak bisa memberitahumu. Mereka akan mendengar.”

Para peniru mulai berjalan menuju Aelora.

Kubah bayangan dari bros bergetar saat mereka menyentuh permukaannya. Setiap sentuhan meninggalkan retakan cahaya.

Eirna mengeluarkan pisau pendek dan berdiri di depan Aelora.

“Saya tidak ahli berkelahi.”

“Lalu kenapa membawa pisau?”

“Untuk memotong perban.”

“Benda itu kecil sekali.”

“Keluhan diterima.”

Kael mencoba mencapai mereka, tetapi para peniru membentuk barisan rapat. Elianor bertarung di sisinya, memotong satu tubuh demi tubuh lain tanpa hasil yang bertahan lama.

“Buka jalan untuk Raja!” perintahnya kepada malaikat pembawa dokumen.

Malaikat itu melempar gulungan-gulungannya ke udara. Kertas berubah menjadi burung cahaya, menyerang wajah para peniru dan menciptakan celah sempit.

Kael menerobos.

Namun garis hitam-emas pada lantai menyala begitu ia mendekati Aelora.

Retakan gerbang membesar dua kali lipat.

Kael langsung berhenti.

Mereka hanya terpisah beberapa langkah.

“Aku tidak bisa mendekat,” katanya.

Aelora memandang kunci di tangannya.

Sisi emasnya mengarah pada celah masa depan.

Sisi hitamnya mengarah pada Kael.

Gerbang sudah menentukan tujuan: menyatukan Aelora sekarang, Aelora masa depan, dan Kael di satu titik.

Persis seperti pedang dan ritual yang ia ingat.

Seseorang sedang mencoba mengulang hari kematian Kael lebih awal.

“Aku harus memberi tujuan lain,” kata Aelora.

Kael melihat benda kecil di tangannya. “Dari mana kau mendapat itu?”

“Piko.”

“Tentu saja.”

“Jangan marah kepada bonekanya.”

“Aku mulai mempertimbangkan pemeriksaan isi perut untuk semua mainan di istana.”

Kubah perlindungan retak lagi.

Salah satu tangan peniru berhasil menembus permukaan. Eirna menusuknya menggunakan pisau perban. Makhluk itu menjerit, lebih karena terkejut daripada terluka.

“Cepatlah,” kata Eirna. “Pisau saya tidak dibuat untuk menyelamatkan kerajaan.”

Aelora menutup mata.

Ia mencoba memikirkan tempat lain.

Kamar di istana? Terlalu dekat dengan Kael.

Hutan Hitam? Para peniru dapat keluar dan menyerang makhluk di sana.

Elyrion? Ia tidak tahu bentuk tempatnya dengan cukup jelas.

Lalu ia teringat sesuatu yang dikatakan bayangan cermin.

Seraphiel berada di Ruang Bawah Ketujuh, tetapi ia memperingatkan agar Aelora tidak datang melalui gerbang.

Mungkin karena ia tahu gerbang sedang mencari tempat itu.

Tidak. Terlalu berbahaya.

Aelora membutuhkan tempat kosong. Tempat tanpa manusia, iblis, atau malaikat.

Sebuah tempat yang hanya ia kenal dari masa depan.

“Laut Abu,” bisiknya.

Kael menegang. “Bagaimana kau tahu tempat itu?”

“Dulu sudah tidak ada kehidupan di sana.”

“Itu wilayah yang ditutup sejak Perang Pertama.”

“Berarti aman.”

“Tidak ada yang aman di Laut Abu.”

“Tidak ada orang yang bisa terluka.”

Kunci kecil mulai berputar di telapak tangannya.

Aelora membayangkan hamparan pasir kelabu, langit tanpa bintang, dan laut yang tidak berisi air—hanya debu makhluk kuno yang terus bergerak seperti ombak.

Ia pernah berada di sana bersama Kael masa depan.

Mereka mencari salah satu pecahan gerbang.

Kael saat itu berkata tidak ada pintu yang dapat dibuka dari Laut Abu karena tempat tersebut sudah ditolak oleh ketiga dunia.

Itulah tujuannya.

Tempat yang tidak diinginkan dunia mana pun.

Aelora memasukkan kunci kecil ke tengah simbol di lantai.

Tidak ada lubang, tetapi batu melunak di sekelilingnya.

Para peniru berhenti.

“Jangan,” kata mereka bersamaan.

Aelora memutar kunci.

Sisi emas dan hitam bertukar tempat.

Gerbang menjerit.

Seluruh simbol terangkat dari lantai seperti lembaran kain yang ditiup angin. Retakan menuju masa depan menutup sebagian. Gadis dewasa di sisi lain menatap Aelora dengan lega.

Namun sebelum celah tertutup sepenuhnya, ia berteriak,

“Jangan percaya Elianor!”

Aelora tidak sempat bertanya.

Gerbang berputar.

Cahaya emas, bayangan hitam, dan puluhan malaikat palsu tersedot ke pusat lingkaran. Tubuh-tubuh bertopeng terurai menjadi bulu, lalu menghilang satu demi satu.

Elianor menancapkan pedangnya ke lantai agar tidak ikut tertarik. Malaikat pembawa dokumen berpegangan pada salah satu pilar.

Kael masih berdiri.

Tarikan gerbang berpusat pada bayangannya.

Kakinya bergeser.

“Ayah!”

Panggilan itu keluar begitu saja.

Kael menancapkan pedang besi ke lantai. Bilah hiasan tersebut bengkok, tetapi menahan tubuhnya untuk sementara.

“Aelora, lepaskan kuncinya!”

“Kalau kulepas, gerbang kembali ke sini.”

“Kalau kau terus memegangnya, kau ikut tersedot.”

Kaki Aelora sudah terangkat sedikit dari lantai. Eirna memeluk pinggangnya dari belakang, tetapi tubuh tabib itu ikut terseret.

Piko terlepas dari pelukan Aelora.

Boneka tersebut terbang menuju pusaran.

Kael melepaskan satu tangan dari pedang dan menangkap telinga Piko tepat sebelum boneka itu masuk.

Jahitan baru buatan Nira terlepas setengah.

“Jangan putus!” seru Aelora.

“Ini bukan waktu mengkhawatirkan jahitan!”

“Itu telinga terakhir yang bagus!”

Kael menarik Piko ke dadanya, tetapi gerakan itu membuat pedang penahannya tercabut.

Tubuhnya terseret menuju gerbang.

Aelora mengulurkan tangan.

Jarak mereka terlalu jauh.

Tanda di pergelangan tangannya menyala. Cincin Vesperion di lehernya terangkat oleh angin, memancarkan bayangan tipis.

Bayangan itu membentuk tangan.

Tangan kecil berwarna hitam menjangkau Kael dan melilit pergelangan tangannya.

Gerbang berdetak keras.

Darah Aelora dan bayangan Kael terhubung lagi.

“Tidak,” bisik Aelora.

Lingkaran yang hampir berubah tujuan mendadak berhenti.

Laut Abu terlihat di pusatnya.

Hamparan kosong itu tidak benar-benar kosong.

Seseorang berdiri di sana.

Seorang laki-laki tinggi mengenakan mantel abu-abu. Wajahnya tidak terlihat karena jarak, tetapi cincin matahari terbelah bersinar pada tangannya.

Asterion.

Ia memandang langsung kepada Aelora.

Lalu ia mengulurkan tangan menembus gerbang dan menangkap bayangan yang mengikat Kael.

“Terima kasih,” katanya. “Sekarang aku menemukan jalan pulang.”

1
Carina Yuda
Okee kak. Udah update yaaa
Septriani Margaret
lanjutannya kk
Carina Yuda: Okee kk. Sudah update yaa
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!