NovelToon NovelToon
Bai Anshu STORY.

Bai Anshu STORY.

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:10.5k
Nilai: 5
Nama Author: Delia Ata

Menemukan batu bintang, tersambar petir lalu koma tiga hari. Setelah bangun semua berubah, rumah jerami reot perlahan menjadi mewah dan nyaman. Bubur sayuran liar hilang dari meja makan, berganti dengan nasi dan gandum wangi.
Setiap hari akan ada ikan, daging, telur, yang kesemuanya cuma dapat mereka makan setahun sekali.

Bagaimana bisa perubahan itu terjadi pada keluarga miskin tanpa bakat dan kemampuan..?

Apa sebenarnya yang dialami gadis itu saat koma tiga hari..?

Batu bintang, benda apa dan darimana asalnya itu...?

Ikuti perjalanannya dan dapatkan jawabannya di Bai Anshu Story.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Delia Ata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

12

"Bibi Mei...!" seru riang Bai Anshu, membuka pagar lalu menghampiri istri pamannya yang sedang merendam pakaian kotor.

"Shu'er...!"

Bibi Mei bangkit, mengelap tangan basahnya kebaju yang ia kenakan.

"Apa terjadi sesuatu dirumahmu..? pagi-pagi sudah kemari."

Bai Anshu menggeleng, menyodorkan keranjang tangan bersisi sabun.

Bai Lushi muncul membawa sapu jerami untuk membersihkan halaman.

"Shu-ya...!"

"Shi-ya...!"

Kedua gadis remaja itu saling menyapa.

"Apa ini..?" tanya bibi Mei.

"Ini sabun cuci pakaian, shampo rambut dan yang ini untuk seluruh tubuh." balas Anshu menunjuk jejeran benda didalam keranjang dengan jarinya.

Ekor mata bibi Mei dan Lushi meruncing, menatap sabun lalu Anshu bergantian.

Bai Anshu menjelaskan fungsi masing-masing sabun, berikut cara penyimpanan agar awet.

"Dari mana kau mendapatkan benda berharga ini..?" tanya bibi Mei.

"Kami membuatnya sendiri."

"Benarkah..?"

Bai Anshu mengangguk jumawa "Kami berencana menjualnya. Jika laku, dimasa depan sabun ini akan menjadi usaha keluarga."

"Bagus, bagus, ini berita yang sangat bagus. Shu'er, kau hebat..!" puji tulus bibi Mei.

Bai Anshu lalu memberi contoh penggunaan, sekalian ia mengisi ulang sumur dengan air suci.

"Yaa, ini luar biasa. Noda getah dipakaian pamanmu hilang." pekik senang bibi Mei.

"Sabun rambut ini juga sangat bagus bibi, apa lagi yang untuk mandi. Selain menghaluskan, itu juga bisa mencerahkan kulit karena mengandung susu." sahut Bai Anshu.

"Lebih tepatnya karena air suci." protes Xingxing.

"Diam...!" hardik Anshu mendengus.

Usai menyapa kakek-nenek serta paman dan kakak sepupu lelaki, Anshu pamit pulang lalu pergi kekota guna membeli susu serta memesan kertas kemasan sabun juga stempel merk.

Kali ini banyak ibu-ibu yang menjadi teman diperjalanan, sampai membuat gerobak yang dikendarai Pei Dayan tak muat.

Kebanyakan dari mereka berniat membeli bahan pangan menggunakan uang hasil pembagian dari penjualan herbal.

Sesampainya dikota, Anshu dan Hanzi langsung menuju kepasar hewan guna membeli susu domba dan sapi serta lemak babi.

Setelahnya ketoko percetakan.

Seribu kotak kemasan sabun berbeda warna, satu stempel giok merk dagang dan enam token bertuliskan Rose, Persik, Teh Jasmin, Herbal, Sandalwood, Osmanthus, Bai Anshu order.

"Paman, berapa lama pesanan ini siap..?" tanya Anshu pada pemilik percetakan.

"Tiga hari."

Selesai dengan itu, kakak beradik membeli perabotan masak, peralatan makan, ember tembaga, bak kayu besar, dan guci berbagai ukuran.

Bai Anshu mengajak Hanzi membelikan permen malt, kue bulan dan kembang gula. Camilan yang belum pernah keluarganya makan.

"Shu-ya, kau datang..!" sambutan riang Luo Xia, putri pemilik toko kain.

"Salam Xia-ya..!"

Tuan dan nyonya Luo serta Luo Chenji, turut menyambut hangat kakak beradik itu.

"Bagaimana kabar tuan muda..?" tanya Anshu seraya memeriksa denyut nadi Luo Chenji.

"Sangat baik..!" jawab bersemangat Chenji "setelah meminum obat darimu, aku merasakan tubuhku jauh lebih bugar, kakiku juga tidak sesakit seperti biasanya."

"Syukurlah..!"

"Em, Shu-ya, maafkan atas kata-kata kasarku tempo lalu, aku sangat menyesalinya." ucap sendu Luo Chenji.

Bai Anshu tersenyum "tak apa, itu wajar. Lagi pula jika dilihat dari penampilan dan usiaku, siapa juga yang percaya."

Anshu tergelak diakhir kalimat, begitu juga Luo Chenji dan keluarganya.

Setelah berbincang dan memeriksa kesehatan Chenji, Bai Anshu membeli gulungan kain katun kualitas premium serta yang kasar, kapas, sepatu, selimut, dan set peralatan jahit untuk hadiah kakek-nenek serta paman dan bibi dari pihak ibu.

Anshu juga membeli pakaian jadi bagi dirinya sendiri beserta keluarganya masing-masing orang dua stel.

"Tidak perlu membayar, anggap saja ini hadiah dari A-Enji." kata tuan Luo.

"Tidak mau..!" tegas Anshu.

Perdebatan pun terjadi, dan pemenangnya adalah Anshu, setelah ia melemparkan ancaman tak akan mau mengoperasi kaki Luo Chenji.

Harga diskon pun didapat, dari lima belas tael, menjadi harga modal saja sepuluh tahil.

"Kakak, kita mau kemana lagi..?" tanya Hanzi usai mengantarkan barang belanjaan kegerobak.

"Kita jalan-jalan dulu, siapa tahu nanti menemukan sesuatu yang menarik."

Dengan langkah ringan, dua bersaudara kandung itu menyusuri jalanan kota dengan kornea yang jelalatan kesana kemari.

Tujuan utama Bai Anshu sebenarnya adalah mencari toko yang cocok untuk ia tawari prodak sabunnya.

Selain itu Anshu juga berkeinginan menyewa ruko guna dijadikan tempat usaha.

Setelah lama berkeliling, Bai Anshu menemukan setidaknya ada empat toko kosmetik dikota Tiankeng ini. Sementara warung kelontong dua kali lipat lebih banyak.

Sementara ruko yang dijual atau disewakan ada kisaran sembilan bangunan, itu cuma yang berada didaerah strategis karena berdiri dijantung kota.

Setelah puas berkeliling, mempelajari kondisi dan situasi kota Tiankeng, kakak beradik gegas ke pangkalan kereta.

Disana rupanya para ibu-ibu sudah menunggu.

Karena gerobak Pei Dashan penuh berisi barang, akhirnya sebagian orang menyewa pedati milik penduduk desa Qingshan.

"Bersama siapa nanti ibu mengantarkan barang-barang ini kerumah Kakek..?" tanya Anshu, seraya menata semua hadiah untuk keluarga Chen.

"Ayah akan pergi bersama ibu dan adik bungsumu." jawab Dashan menyimpan bubuk bunga pinus yang baru ia giling.

"Tapi kaki ayah..?"

"Ayah berencana menyewa gerobak kepala desa."

Bai Anshu manggut-manggut tanda mengerti.

Usai makan siang, pintu kediaman cabang kedua digembok rapat. Anshu dan Hanzi pergi kepegunungan bersama penduduk desa, sementara orangtua serta Jinyu, menuju kedesa Qingshan.

Kali ini hutan yang didatangi adalah pegunungan barat.

Disana, mereka menemukan kacang tallow.

"Untuk kulitnya bisa dibuat lilin, sementara bijinya dapat diolah menjadi minyak."

Para pria langsung memanen buah yang sudah matang.

"Apa minyaknya bisa untuk memasak..?"

"Tidak, tapi dapat dipakai menjadi lentera serta polesan kayu bangunan dan kerajianan agar awet karena menjauhkan rayap atau serangga."

Jamur Shitake, Shirataki, tak luput dari jarahan mereka.

Kedua jamur ini langsung menjadi hak milik Bai Anshu, setelah gadis cilik itu menggelontorkan uang satu tael.

"Jamur ini sangat mahal harganya, kita beruntung karena mendapat banyak." seru kepala desa senang.

"Musim penghujan begini pertumbuhan jamur akan sangat cepat, bahkan yang langka saja mudah kita temukan." sahut kakek Bai.

Tiga jam bergerilya dihutan, semua keranjang penduduk penuh terisi.

Hasil yang diperoleh langsung dibagi rata, begitu sampai dibalai kampung.

Sesi pelatihan memasak dilakukan, sedangkan tiga pria berbeda usia kembali pergi kekota menjual herbal.

Selain babi rebus rempah, Anshu juga membuat jamur goreng krispy, sup pedas, cincau hijau, kerupuk konjac bawang putih dan bermacam tumisan.

Tak lupa, Anshu mengaliri sumur desa dengan air suci agar tubuh ringkih penduduk terrecovery.

Makan malam bersama dilakukan, setelah tiga pria pulang dari kota.

Dua ratus tael kembali didapat dari penjualan herbal.

Penduduk bersuka cita, terutama nenek Pan, janda tanpa keluarga yang harus mengurus tiga cucu yatim piatu.

Tanpa punya ladang, apa lagi unggas peliharaan, kehidupan nenek Pan amat sangat memprihatinkan.

Hanya mengandalkan kedua cucu yang bekerja serabutan, berburu dengan hasil tak menentu. Keluarga nenek Pan lebih sering makan sehari sekali atau berpuasa.

Malam ini, harapan baru muncul disetiap rumah. Mereka mendapat banyak ide bisnis serta pengetahuan dalam mendapatkan makanan.

Ancaman kelaparan pada masa paceklik, wabah penyakit, bencana alam, kekeringan dan musim dingin, yang bisa saja hadir sewaktu-waktu tak lagi menjadi momok menakutkan.

Dihutan, tersedia banyak peruntungan.

Didapur, ada bahan dan ide untuk berdagang makanan kekota.

Meski ini baru awal, setidaknya ada bintang bersinar terang telah menunggu mereka untuk dijemput pulang.

1
Anna Setyo
up yg banyak thor biar puas bacanya
SENJA
mantabs lah nambah pekerja terus 👌
Erna Fkpg
tetap semangat thor dan terimakasih untuk upnya 😘😘😘
Datu Zahra
tumben banyak typo thor...?
Delia ATA: Sudah direvisi ya kak 🫰

Terimakasih sudah mengoreksinya.
total 1 replies
Datu Zahra
Aku juga beruntung karena dapat bacaan keren dan seru lagi 🤩
Erna Fkpg
keberuntungan keluarga bai dan Chen dan seluruh desa
Dewisiregar
up thor yang banyak, tambah seru ceritanya💪🙏👍
Maria Lina
kok 2 thor kmrin 3 bab kurang ni
vipp
semangat thor
Rai Gojess
lagi thor, kenapa ceritamu ini best sekali, koin ku sdh habis, belum top up..tunggu ya aku top up
SENJA
mantabs maju terus bisnis sabun 👌
Datu Zahra
Kurang kak 🤪
SENJA
buseh bisnis baru lagi
Datu Zahra
Selama ada air suci, apa pun paati menghasilkan banyak dan enak
Datu Zahra
Murong Canfeng jpdohnya Anshu kek'y 🤭
SENJA
songong sih lu padab🤣
Fauziah Daud
trusemangattt... seru
Chen Nadari
mantulll Thorr
Dewiendahsetiowati
kayak dikit deh authornya nulis,apa ceritanya bagus jadi gak sadar sudah habis bacanya😭😭
SENJA
bagus jangan kasih kendor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!