NovelToon NovelToon
Penguasa Di Balik Bayangan

Penguasa Di Balik Bayangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Harem / Action / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Cardannak23

Darius Evandra Adhitama adalah putra tertua Keluarga Adhitama yang hidup susah bersama ibunya. Di usia 18 tahun, ibunya meninggal dan ia dicampakkan kekasihnya.

Darius lalu masuk militer, bangkit menjadi "Dewa Perang" legendaris dalam 6 tahun, hingga menguasai bisnis global, lalu menjadi pembunuh bayaran paling ditakuti.

Saat pulang untuk hidup tenang, keluarga Adhitama memaksanya kembali tanpa tahu identitas aslinya.

Darius lalu mendapati mantan kekasihnya telah dinikahi sang adik tiri, dan dirinya justru dijadikan tumbal pernikahan politik dengan Adelina Atmadja demi menyudahi perseteruan berdarah.

Diremehkan dan terjebak pernikahan paksa, Darius hanya menatap dingin. Mereka tidak tahu bahwa "anak buangan" ini sanggup meratakan kedua keluarga besar tersebut hanya dengan satu jentikan jari.

Saat naga yang tertidur akhirnya membuka mata, seluruh kota akan gemetar di bawah kakinya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cardannak23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30

Surya Adhitama bersandar pada kursinya, wajahnya tampak menyimpan beban berat. Ia paham betul, situasi ini terjadi karena perseteruan dengan Keluarga Atmadja.

"Satu-satunya cara cepat untuk menutupi defisit ini adalah dengan menarik investor berskala global," ujar Manajer Keuangan melanjutkan.

Suaranya makin memelan di bawah tekanan suasana ruangan. "Namun, hampir seluruh konsorsium lokal enggan mengambil risiko akibat friksi bisnis kita belakangan ini."

William menyandarkan siku di atas meja, jemarinya bertaut erat. "Apakah kita sudah mencoba mengajukan proposal ke pihak luar?"

"Sudah, Tuan William," jawab Manajer Keuangan seraya menundukkan kepala. "Tapi standar yang mereka tetapkan terlalu tinggi.

"Bahkan permohonan investasi kita ke SuperNova Investment pun telah ditolak di tahap awal audit," lanjut Manajer Keuangan dengan nada helaan napas yang berat.

Mendengar nama SuperNova Investment disebut, kasak-kusuk di antara para direksi seketika semakin ramai, menciptakan gelombang kegelisahan yang jelas terpancar dari raut wajah mereka.

"SuperNova Investment?" cetus Arman Kusnadi dengan dahi berkerut. "Mana mungkin perusahaan investasi raksasa kelas dunia itu mau melirik perusahaan kita dalam kondisi krisis seperti ini?"

"Di seluruh negeri ini, hanya perusahaan berskala monster seperti Mahadinata Group yang pernah mendapatkan suntikan dana investasi langsung dari mereka!" lanjut Arman Kusnadi dengan

Beberapa pemegang saham kemudian menggelengkan kepala. Mereka tahu betul siapa itu Supernova Investment, sebuah konsorsium keuangan raksasa tanpa batas.

Perusahaan itu memegang kendali atas belasan rantai industri global, di mana identitas sang pemilik utamanya masih tersembunyi amat rapat di balik otoritas tertinggi dunia.

"Artinya, jika kita tidak bisa mendapatkan dana segar dalam waktu dekat, proyek kita terancam mangkrak dan obligasi kita akan terancam gagal bayar," gumam salah satu petinggi perusahaan dengan wajah pucat pasi.

Surya Adhitama makin memijat pelipisnya dengan mata terpejam rapat, berusaha keras menahan gelombang pening dan rasa lelah yang kian menumpuk akibat kerumitan masalah di perusahaannya.

Di tengah keheningan yang begitu menekan dan keputusasaan yang menyelimuti seluruh isi ruangan, Darius hanya duduk tenang.

Jemari tangannya yang kokoh bertaut santai di atas meja kayu jati. Raut wajahnya yang datar tak memancarkan sedikit pun kepanikan atau rasa cemas.

Bagi seluruh jajaran direksi di ruangan itu, Supernova Investment adalah tembok raksasa yang mustahil ditembus. Namun bagi Darius, institusi keuangan global itu tak lain hanyalah salah satu aset pribadi yang berada di bawah kendali mutlaknya.

"Kak Darius..." bisik William dengan pelan dari sampingnya. "Situasi perusahaan kita benar-benar sedang di ujung tanduk."

Darius melirik tipis ke arah William. Sorot matanya yang dingin namun mantap memberi rasa tenang yang aneh bagi adik tirinya tersebut.

"Perusahaan ini tidak akan runtuh hanya karena masalah modal kecil seperti ini, William," sahut Darius dengan suara rendah yang amat tenang, namun sanggup memotong suasana tegang di sekitarnya.

Beberapa petinggi senior yang mendengar bisikan Darius seketika menoleh. Sebagian menatapnya dengan heran, sementara beberapa lainnya menyunggingkan senyum canggung.

Mereka menganggap kepolosan pemuda yang baru kembali itu hanya bentuk ketidaktahuan dari sosok yang belum memahami kejamnya dunia bisnis skala besar.

"Mulai hari ini, kalian tidak perlu memusingkan masalah suntikan modal atau ancaman gagal bayar obligasi itu," ujar Darius dengan nada suara yang begitu pasti.

Arman Kusnadi memajukan tubuhnya, dengan dahinya berkerut dalam. "Apa maksud Anda, Tuan Darius? Apakah ada konsorsium lokal lain yang bersedia membantu kita?"

Darius menggelengkan kepala secara perlahan. Sorot matanya menajam, berkilat penuh wibawa mutlak yang sanggup membungkam siapa saja di ruangan tersebut.

"Bukan konsorsium lokal," pukas Darius pendek. "Supernova Investment akan berinvestasi di perusahaan ini."

Deg!

Kalimat singkat yang keluar dari bibir Darius menghantam ruang rapat bagai dentuman petir di siang bolong. Seluruh jajaran direksi hingga pemegang saham membeku di tempat duduk mereka.

"S-SuperNova Investment...?" gumam Manajer Keuangan dengan suara bergetar. "Bagaimana... bagaimana mungkin, Tuan Darius? Mereka baru saja menolak berkas kita kemarin sore!"

Surya Adhitama bahkan langsung menatap Darius tanpa berkedip sedikit pun. "Darius... apakah kau serius dengan ucapanmu?"

Di sebelah Darius, William menahan nafasnya. Hatinya bergetar dengan hebat, melihat ketenangan dan keyakinan tanpa celah dari wajah kakak tirinya itu.

"Aku tidak pernah bermain-main dengan kata-kataku," jawab Darius dingin namun begitu menenangkan. "Dalam waktu dekat, SuperNova Investment akan menyalurkan suntikan dana segar yang kalian perlukan."

Setelah mengatakan hal itu, Darius segera bangkit dari tempat duduknya. Ia tidak ingin membuang waktu untuk melayani pandangan cemas dan tak percaya dari jajaran dewan direksi.

Darius menatap Surya Adhitama yang masih terpaku di ujung meja. "Aku sudah menyelesaikan urusanku di sini, Ayah. Ada hal lain yang harus kulakukan secara pribadi."

Tanpa menunggu persetujuan atau sepatah kata pun dari sang ayah maupun jajaran direksi yang membeku, Darius membalikkan badannya dan melangkah meninggalkan ruang rapat.

Begitu pintu ruang rapat tertutup rapat di belakangnya, kasak-kusuk hebat langsung meledak di dalam ruangan. Para dewan direksi dan pemegang saham saling bertukar pandang.

Darius melangkah santai menyusuri lorong menuju lift khusus. Begitu masuk, ia langsung merogoh ponsel tanpa merek miliknya dari saku jasnya dan menekan tombol panggilan.

Sambungan telepon langsung terhubung pada nada dering pertama, dan sebuah suara tegas namun penuh dengan kepatuhan mutlak terdengar di seberang sana.

"Tuan," ucap Hadrian Arkananta, CEO SuperNova Investment yang sangat disegani. "Suatu kehormatan menerima panggilan Anda secara langsung. Apakah ada instruksi penting?"

Darius melangkah keluar dari lift khusus menuju pelataran lobby utama. "Hadrian, batalkan penolakan berkas investasi pada Adhitama Corporation."

Hadrian terdiam sejenak di seberang telepon, namun dengan cepat memproses perintah tersebut. "Siap, Tuan. Saya akan segera membatalkan keputusan tersebut detik ini juga."

"Suntikkan dana investasi sebesar sepuluh triliun ke Adhitama Corporation," lanjut Darius dengan suara rendah namun sarat penekanan. "Pastikan seluruh proses verifikasi dan penandatanganan kontrak diselesaikan sebelum sore ini."

"Baik, Tuan. Akan segera saya laksanakan dan siapkan tim terbaik untuk langsung memprosesnya," jawab Hadrian tanpa keraguan sedikit pun.

"Satu hal lagi," tambah Darius seraya menatap ke luar pintu kaca lobby. "Pastikan namaku tetap berada di balik layar. Biarkan publik hanya mengetahui bahwa ini adalah keputusan murni dari Supernova Investment."

"Dimengerti, Tuan. Kerahasiaan Anda adalah prioritas utama bagi kami," pukas Hadrian dengan lugas.

Setelah itu, Darius segera mematikan sambungan telepon, lalu memasukkan ponselnya kembali ke saku jas sambil melangkah keluar gedung.

Baru saja Darius melangkah keluar, enam orang pria bertubuh tegap bergerak cepat mendekat. Mereka adalah para pengawal yang ditugaskan Tuan Besar Hardiman untuk terus mengawasinya.

Pemimpin pengawal tersebut, seorang pria berotot dengan raut wajah kaku segera melangkah maju memotong jalan Darius, sementara lima pengawal lainnya bergerak mengelilinginya.

"Tuan muda Darius," ucap sang pemimpin pengawal dengan nada suara berat. "Tuan Besar Hardiman memberi perintah agar Anda tidak pergi ke mana-mana tanpa pengawalan kami, terutama sebelum hari pernikahan."

1
Akang
up lagi thor
Glastor Roy
makasih torku update ya
Cardannak: Sama²
total 1 replies
Julia thaleb
Thor.
up nya yg banyak..
jgn satu.
KLO up nya 1 aja seperti makan krupuk seribuan, 1 menit SDH ludes.
Glastor Roy
yg bayak tor up ya
Julia thaleb
Thor..
aku suka.
up terus yg banyak ya
Glastor Roy
yg bayak tor up ya
Glastor Roy
update ya torku yg baik hati
Glastor Roy
yg bayak tor up ya
Glastor Roy
tor update ya
Glastor Roy
yg bayak tor up ya
Glastor Roy
update ya torku yg baik hati
Glastor Roy
yg bayak tor up ya torku
Glastor Roy
torku update ya lgi dong
Glastor Roy
update lgi
Glastor Roy
yg bayak tor up ya
Glastor Roy
makasih torku update ya
Muhamad U Fadillah Udwm
bguss
Muhamad U Fadillah Udwm
lqnjut
Glastor Roy
update ya torku yg baik hati
Glastor Roy
yg bayak tor up ya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!