Selama dua puluh tahun, Aisha mengira dia adalah gadis paling beruntung karena diadopsi oleh keluarga kaya. Namun, segalanya berubah saat anak kandung keluarga tersebut, Clara, yang sempat hilang, akhirnya ditemukan. Seketika, posisi Aisha bergeser menjadi "pembantu" tak kasat mata.
Puncaknya terjadi ketika Clara terjerat hutang miliaran rupiah pada jaringan mafia kejam akibat gaya hidupnya yang liar. Enggan mengorbankan putri kandung mereka, orang tua angkat Aisha tega menumbalkannya. Aisha dipaksa menikah dengan Devan Alister, putra mahkota dari keluarga mafia terbesar sekaligus CEO muda yang terkenal dingin, kejam, dan tak tersentuh.
Aisha mengira hidupnya akan berakhir di neraka. Devan menyambutnya dengan tatapan tajam dan peringatan keras agar Aisha tidak berharap lebih dari pernikahan kontrak ini. Namun, di balik sikap galak dan dinding es yang dibangun Devan, perlahan Aisha menemukan sisi lain dari sang CEO, kepedulian diam-diam yang mulai mengikis luka di hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arraziq, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jamuan Makan Malam
Deretan mobil mewah Maybach hitam membelah jalanan Singapura yang bersih dan tertata rapi. Di balik kaca mobil yang terlapisi film gelap, Aisha menatap gedung-gedung pencakar langit serta keindahan yang megah. Kota Singa ini menyapa mereka dengan terik matahari sore yang hangat, namun atmosfer di dalam kendaraan terasa begitu tenang.
Devan duduk di samping Aisha, tidak sekalipun melepaskan genggaman tangannya dari jemari sang istri. Pria itu sibuk membaca beberapa dokumen di tablet digitalnya bersama Asisten Arya yang duduk di kursi depan, namun sesekali ibu jari Devan mengusap lembut punggung tangan Aisha, sebuah kebiasaan baru yang menunjukkan bahwa di tengah kesibukan bisnisnya, fokus utama Devan tetaplah wanita di sisinya.
"Kita langsung ke Hotel, Tuan Devan," ujar Arya seraya memutar tubuhnya sedikit ke belakang.
"Pihak Lim Corporation sudah memesan seluruh lantai Presidential Suite untuk Anda dan Nona Aisha. Malam ini, Tuan Victor Lim, ayah Nona Catherine, mengundang Anda berdua dalam jamuan makan malam privat di restoran di puncak gedung."
Devan tidak mengalihkan pandangannya dari layar tablet.
"Victor Lim sendiri yang datang?"
"Benar, Tuan. Tuan Victor membatalkan penerbangannya ke Tokyo khusus untuk menyambut Anda secara langsung," tambah Arya.
Aisha melirik Devan.
"Apakah Ayah Catherine tipe orang yang kaku, Devan?"
Devan mematikan layar tabletnya, lalu berbalik menatap Aisha dengan sorot mata yang melembut.
"Victor Lim adalah rubah tua di dunia bisnis Singapura. Dia tenang, sangat sopan, tapi setiap kata yang keluar dari mulutnya adalah perhitungan keuntungan. Kamu tidak perlu khawatir. Nanti malam, kamu cukup menikmati hidangan dan tetap berada di dekatku."
Pukul tujuh malam, Presidential Suite di lantai tertinggi hotel mewah itu menyuguhkan pemandangan spektakuler. Gemerlap lampu Kota Singa terpancar indah dari balik dinding kaca raksasa.
Aisha berdiri di depan cermin rias, merapikan gaun malam tanpa lengan berwarna hijau zamrud berpotongan anggun yang membalut tubuhnya dengan sempurna. Gaun itu dipadukan dengan kalung berlian bunga matahari peninggalan ibunya, memberikan kesan keanggunan yang sangat memesona. Rambut hitamnya disanggul rapi dengan beberapa helai jatuh halus menyapu leher mulusnya.
Pintu ruang ganti terbuka. Devan melangkah keluar mengenakan setelan tuksedo kustom berwarna hitam dengan kemeja putih dan dasi kupu-kupu. Penampilannya malam ini memancarkan aura ketampanan dan dominasi seorang penguasa tanpa cela.
Langkah Devan terhenti saat matanya menangkap sosok Aisha di depan cermin. Pria itu diam terpaku selama beberapa detik, tatapan matanya kian mendalam dan intens.
Aisha yang menyadari tatapan Devan dari cermin mendadak merasa wajahnya merona hangat. Dia berbalik dengan sedikit canggung.
"G-Gaun ini, apakah terlalu berlebihan untuk makan malam privat?"
Devan tidak menjawab dengan kata-kata. Dia melangkah maju dengan gerakan perlahan namun pasti, mengikis jarak di antara mereka hingga aroma wangi maskulin bercampur wangi vanilla dari Aisha menyatu. Tangan kokoh Devan terulur, merengkuh pinggang halus Aisha dan menariknya rapat ke dadanya.
"Tidak berlebihan," bisik Devan dengan suara bariton yang rendah di dekat telinga Aisha.
"Kamu kelihatan sangat cantik, sampai-sampai aku rasanya malas turun ke restoran dan lebih ingin mengurungmu di kamar ini seharian."
Wajah Aisha makin memerah seperti kepiting rebus. Tangannya terangkat memukul pelan dada Devan yang bidang.
"Devan! Jangan mulai bercanda, kita bisa terlambat."
Devan terkekeh pelan, suara tawa renyah yang sangat langka. Pria itu menunduk dan menekan bibirnya di atas bibir Aisha, sebuah ciuman singkat namun penuh akan keposesifan yang mendalam, sebelum akhirnya melepaskan kuncian pelukannya dengan senyum puas.
"Mari kita temui rubah tua itu," ujar Devan seraya mengulurkan tangannya. Aisha tersenyum manis dan melingkarkan tangannya dengan anggun.
Restoran di lantai 57 disulap menjadi area privat malam itu. Angin malam yang berhembus lembut membawa kesegaran di atas ketinggian kota. Di sebuah meja panjang berhiaskan lilin aromaterapi dan perak antik, sudah duduk seorang pria paruh baya berambut perak dengan setelan jas mahal, Victor Lim, bersama putrinya, Catherine.
Begitu Devan dan Aisha melangkah masuk dipandu oleh pelayan restoran, Victor Lim langsung berdiri dari kursinya. Pria tua itu memiliki wibawa yang tenang namun tatapannya sangat tajam.
"Devan. Akhirnya kamu tiba di Singapura," sapa Victor Lim dengan bahasa Inggris beraksen Singapura yang sangat fasih, mengulurkan tangannya hangat.
Devan menjabat tangan Victor dengan jabat tangan yang tegas.
"Selamat malam, Tuan Lim. Terima kasih atas sambutannya."
Mata Victor Lim kemudian berganti menatap Aisha yang berdiri anggun di samping Devan. Kilatan penuh selidik sempat melintas cepat di mata pria tua itu sebelum digantikan oleh senyuman ramah seorang pebisnis veteran.
"Dan ini pasti Nyonya Aisha Alister," puji Victor Lim dengan nada sangat sopan, membungkukkan badannya sedikit.
"Catherine sudah bercerita padaku di bandara tadi siang. Sungguh sebuah kehormatan bisa bertemu dengan putri dari almarhum Aris Dirgantara. Ayahmu adalah sosok pebisnis yang sangat dihormati di masa lalu."
Aisha membalas senyuman itu dengan anggun dan senyuman tulus.
"Selamat malam, Tuan Lim. Terima kasih atas pujian dan sambutan hangat Anda untuk saya dan Devan."
Di sisi lain meja, Catherine, yang malam itu mengenakan gaun sutra warna emas, menatap Aisha dari ujung kepala hingga ujung kaki. Rasa iri berkilat tipis di matanya saat melihat betapa serasinya Aisha mendampingi Devan, serta bagaimana kalung berlian tua di leher Aisha menyempurnakan gaun zamrudnya.
Mereka dipersilakan duduk. Devan dengan sangat telaten dan tanpa ragu menarikkan kursi untuk Aisha terlebih dahulu sebelum duduk di sampingnya, sebuah tindakan kecil namun penuh perhatian yang membuat Catherine mengepalkan tangannya di bawah meja.
Makan malam berlangsung dengan suasana yang tampak ramah di permukaan. Victor Lim memimpin percakapan dengan membahas kenangan bisnis masa lalunya dengan keluarga Alister, sementara Devan menanggapi dengan singkat, tegas, dan dingin seperti biasa.
Namun, memasuki hidangan penutup, arah pembicaraan perlahan bergeser.
Victor Lim menyesap anggur merahnya dari gelas kristal, menatap Devan dengan senyuman yang penuh arti.
"Devan, proyek perluasan Pelabuhan Singapura ini adalah investasi terbesar Alister Group di luar negeri untuk lima tahun ke depan. Nilainya bukan sekadar tiga triliun rupiah, tapi masa depan dominasi logistik di Asia Tenggara."
"Saya tahu persis potensi dan nilainya, Tuan Lim," jawab Devan tenang.
"Tentu saja kamu tahu," sahut Victor Lim pelan. Pria tua itu memajukan tubuhnya sedikit.
"Namun, dewan komisaris Lim Corporation memerlukan kepastian jangka panjang. Bisnis seperti ini tidak hanya butuh kontrak di atas kertas, Devan, tapi juga ikatan kepercayaan yang tak tergoyahkan. Ayahku dan Kakekmu dulu selalu menyatukan keluarga lewat ikatan strategis."
Aisha yang sedang memegang sendok pencuci mulutnya seketika menghentikan gerakannya. Dia bisa merasakan ketegangan yang mendadak merayap di udara.
Catherine tersenyum tipis, menunduk berpura-pura menyesap minumannya, namun matanya melirik ke arah Devan.
Devan menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi, mengusap pelan cangkir kopinya tanpa sedikit pun memperlihatkan keterkejutan. Matanya yang sehitam malam menatap Victor Lim dengan kebekuan yang mengintimidasi.
"Maksud Anda ikatan strategis seperti apa, Tuan Lim?" tanya Devan, suaranya terdengar sangat datar namun penuh akan ancaman terselubung.
Victor Lim tersenyum santai.
"Sebelum kamu mengumumkan pernikahanmu dengan Aisha secara mendadak bulan lalu, dewan komisaris kami sebenarnya sudah menyetujui draf awal di mana kamu dan Catherine akan dijodohkan untuk mengunci saham gabungan kedua perusahaan."
Atmosfer di meja makan privat itu seketika membeku.
Aisha menahan napasnya, dadanya berdesir hebat mendengar pernyataan frontal dari ayah Catherine tersebut. Pernikahan politik? Perjodohan bisnis?
Victor Lim lalu melirik Aisha sejenak dengan tatapan menilai, sebelum kembali menatap Devan.
"Tentu saja, aku tahu kamu sudah menikahi Aisha. Tapi di dunia bisnis tingkat atas, pernikahan hukum bisa disesuaikan, atau paling tidak, kepemilikan saham utama Lim Corporation tetap membutuhkan jaminan posisi khusus untuk Catherine di dalam jajaran eksekutif Alister Group di Singapura."
Sebuah hinaan dan tekanan bisnis yang sangat halus, namun amat tajam. Victor Lim secara tidak langsung mempertanyakan keabsahan posisi Aisha dan mencoba menuntut posisi untuk Catherine di samping Devan.
Aisha meremas serbet kain di pangkuannya. Rasa marah dan tidak terima bergejolak di dadanya, bukan untuk dirinya sendiri, melainkan atas keserakahan orang-orang di depannya yang meremehkan ikatan pernikahannya dengan Devan.
Namun, sebelum Devan sempat meluapkan murkanya yang sudah berada di ambang batas, Aisha menegakkan punggungnya. Dengan penuh keanggunan dan sorot mata yang tak gentar sedikit pun, Aisha memotong keheningan tersebut.
"Tuan Lim," Buka Aisha, suaranya yang halus memecah ketegangan dengan sangat jernih dan berwibawa.