Tiga siswa SMA biasa tidak pernah membayangkan hidup mereka akan berubah hanya karena sebuah buku fiksi misterius di perpustakaan sekolah.
Buku itu terbang ke atas air dan membentuk sebuah portal bercahaya tiba-tiba muncul dan menyeret mereka ke masa lalu, tepatnya ke sebuah dinasti Jepang kuno yang sedang berada di ambang kehancuran.
Negeri itu tidak hanya diguncang oleh perebutan kekuasaan di istana, tetapi juga diteror oleh Makhluk Kutukan, entitas mengerikan yang lahir dari kebencian, dendam, dan ambisi manusia. Kehadiran mereka membuat rakyat hidup dalam ketakutan, sementara para bangsawan sibuk saling menjatuhkan demi takhta.
Namun semakin dalam mereka terlibat, semakin mereka menyadari bahwa musuh terbesar bukanlah para monster yang berkeliaran di luar tembok istana, melainkan kegelapan yang bersemayam di hati manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kyc_ibell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 19
Malam pekat menyelimuti Hutan Terlarang. Kabut tipis merayap di antara pepohonan tua yang berdiri seperti penjaga bisu kegelapan. Tak ada suara selain desir angin yang berembus pelan, menciptakan suasana sunyi yang terasa mencekam.
Jauh di jantung hutan, sebuah rumah kayu tua berdiri tersembunyi dari dunia luar. Cahaya redup tampak menyelinap dari sela-sela jendelanya, menjadi satu-satunya tanda kehidupan di tengah lautan kegelapan.
Master Genjiro duduk seorang diri di depan sebuah meja kayu. Cahaya lampu minyak yang redup menerangi wajahnya yang tenang, sementara tatapannya tertuju pada sebuah benda di atas meja seolah sedang memikirkan sesuatu yang sangat penting.
Lukisan seorang gadis muda.
Yua.
Master Genjiro mengangkat lukisan tersebut perlahan. Matanya menyapu setiap detail wajah gadis itu. Dia menatapnya sangat lama. Seolah sedang memastikan sesuatu yang telah lama diragukannya.
"Jadi kau benar-benar masih hidup.."
Suaranya terdengar lirih. Nyaris seperti bisikan. Tatapannya tidak pernah lepas dari lukisan itu. Jarinya perlahan menyentuh bagian bawah lukisan. Tepat pada nama yang tertulis di sana.
Yua Geisyuku.
Genjiro menatap ke arah jendela. Memandang kegelapan hutan yang membentang di luar sana.
"Nasib memang senang bermain-main.."
---
Udara pagi terasa sejuk di area latihan para pemburu. Angin berembus pelan membawa dedaunan yang berjatuhan dari pepohonan di sekitar lapangan.
Di tengah area latihan, Kazura berdiri dengan mata terpejam. Kedua tangannya menggenggam erat saat berusaha mengendalikan energi es yang bersemayam di dalam jiwanya.
Di sampingnya, Haru memperhatikan dengan senyum tenang.
"Pelan-pelan saja, Kazura. Jangan memaksanya keluar. Dengarkan aliran energinya." ucap Haru lembut.
Kazura menghela napas panjang.
"Aku sudah mencoba, tapi masih terasa sulit."
"Itu wajar."
Haru melangkah mendekat.
"Kemarin kau bahkan tidak bisa mempertahankan energi es selama beberapa detik. Sekarang kau sudah jauh lebih baik."
Kazura tersenyum kecil.
"Kalau kau yang mengatakannya, rasanya aku jadi lebih percaya diri."
"Karena itu kenyataannya."
Mendengar jawaban tersebut, Kazura kembali memusatkan pikirannya.
Perlahan, cahaya biru mulai muncul dari tubuhnya.
Udara di sekitar mereka berubah semakin dingin.
Kabut tipis berputar mengelilingi Kazura seperti pusaran kecil. Mata Haru berbinar melihat perkembangan itu.
"Bagus.. pertahankan."
Lapisan es mulai menyelimuti tanah di bawah kaki Kazura. Energi yang keluar kali ini jauh lebih stabil dibanding sebelumnya. Kazura mengangkat tangannya.
Puluhan serpihan es muncul di udara dan melayang dengan tenang di sekelilingnya.
"Berhasil.." gumamnya.
Haru tersenyum bangga.
"Itulah yang kumaksud. Kau tidak lagi melawan energimu. Kau mulai menyatu dengannya."
Kazura mengangguk.
Lalu dengan satu gerakan tangan, seluruh serpihan es melesat menuju beberapa target kayu di kejauhan.
Kazura mengayunkan tangannya ke depan.
Krrrkkk...
Puluhan serpihan es melesat menembus udara dengan kecepatan tinggi.
Crassh!
Serpihan-serpihan itu menghantam target kayu dan langsung menyebarkan lapisan es ke seluruh permukaannya.
Krekk... krekk...
Retakan-retakan beku menjalar ke segala arah hingga akhirnya.
Praak!
Target kayu itu pecah menjadi kepingan-kepingan es yang berhamburan ke tanah. Seluruh target langsung membeku sebelum pecah berkeping-keping.
Kazura terbelalak.
"Aku melakukannya!"
"Tentu saja."
Wajah Haru dipenuhi senyum hangat.
"Aku tahu kau bisa."
Kazura tertawa kecil.
"Aku tidak menyangka perkembanganku secepat ini."
Tiba-tiba terdengar suara tepukan tangan dan langkah kaki dari belakang. Kazura dan Haru menoleh bersamaan.
Master Seijun berjalan mendekati mereka. Beliau memperhatikan area latihan yang dipenuhi lapisan es serta target-target yang telah hancur. Mata Seijun sedikit membesar.
Master Seijun tersenyum puas.
"Sungguh luar biasa."
Kazura terlihat terkejut menerima pujian itu. Master Seijun melanjutkan,
"Dibanding saat pertama kali aku bertemu denganmu, kemampuanmu meningkat jauh melampaui perkiraanku."
Beliau lalu menatap Haru.
"Dan kau juga melakukan pekerjaan yang sangat baik dalam membimbingnya."
Haru tersenyum malu.
"Aku hanya membantunya sedikit, Master."
"Kerendahan hatimu tidak pernah berubah."
Seijun tertawa kecil sebelum kembali menatap Kazura.
"Teruslah berkembang. Jika kau mempertahankan kecepatan kemajuanmu seperti ini, suatu hari nanti kau bisa menjadi salah satu pemburu terkuat di kerajaan."
Di sampingnya, Haru tersenyum hangat.
"Aku sudah bilang, bukan? kau jauh lebih hebat daripada yang kau kira."
Kazura tersenyum lebar mendengar pujian mereka. Namun di balik senyum itu, pikirannya justru dipenuhi rasa geli.
"Salah satu pemburu terkuat? kalau saja mereka tahu.." batin Kazura.
Tatapannya jatuh pada lapisan es yang menyelimuti area latihan.
"Ini bahkan belum sepersepuluh dari kekuatan yang kumiliki." batinnya lagi.
Selama ini, dia sengaja menahan diri. Sengaja membuat setiap kemajuan terlihat lambat dan alami. Sengaja berpura-pura menjadi murid yang sedang belajar mengendalikan energi esnya. Padahal kekuatan itu telah lama menjadi bagian dari dirinya. Master Genjiro sudah mengajarinya jauh sebelum dia datang ke sini.
"Kalian hanya melihat apa yang ingin kuperlihatkan." batin Kazura.
Kazura tetap memasang wajah ceria.
"Terima kasih, Master!"
Kazura tersenyum lebar mendengar pujian mereka. Senyum di wajahnya tetap terlihat polos dan penuh rasa hormat. Tatapannya mengarah pada serpihan-serpihan es yang masih berkilauan di atas tanah.
Namun jauh di dalam hatinya, dia merasa puas. Semua berjalan sesuai rencana. Bahkan para pemburu istana mulai menganggapnya sebagai harapan masa depan.
"Teruslah percaya padaku. Semakin tinggi kalian menempatkanku, semakin keras kalian akan jatuh saat kebenaran terungkap." batin Kazura.
"Aku akan berlatih lebih keras lagi, Master," ucap Kazura dengan nada penuh semangat.
Seijun tersenyum bangga mendengar jawaban itu. Sementara di balik senyumnya, Kazura hanya menertawakan mereka dalam diam.
---
Ruangan kerja Kaisar masih terang meski matahari mulai tenggelam di ufuk barat.
Tumpukan laporan memenuhi meja kerjanya. Berbagai masalah yang menimpa kekaisaran dalam beberapa waktu terakhir membuat waktu istirahatnya semakin berkurang.
Kaisar menghela napas panjang sambil memijat pelipisnya. Tak lama kemudian terdengar ketukan di pintu.
"Masuk."
Pintu terbuka perlahan.
Jinsei melangkah masuk dengan sikap tenang dan anggun khas seorang bangsawan. Di belakangnya, seorang pelayan membawa nampan berisi teko teh aprikot hangat serta pembakar dupa yang telah menyala.
Pelayan itu meletakkan semuanya di atas meja Kaisar sebelum membungkuk hormat dan meninggalkan ruangan.nPerlahan, aroma teh aprikot dan wangi dupa mulai menyebar ke seluruh ruangan. Suasana yang sebelumnya terasa berat menjadi sedikit lebih nyaman.
Kaisar mengangkat pandangannya.
"Jinsei? ada keperluan apa kemari?"
Jinsei tersenyum sopan.
"Ayah mendengar Yang Mulia belum banyak beristirahat akhir-akhir ini."
"Haha, Ayahmu memang selalu khawatir."
Jinsei berjalan mendekat.
"Beliau meminta saya memastikan Yang Mulia setidaknya meluangkan sedikit waktu untuk menenangkan pikiran."
Kaisar tersenyum kecil.
"Dia masih sama seperti dulu."
Jinsei melirik tumpukan laporan di atas meja.
"Bahkan pilar terkuat sekalipun dapat retak jika terus-menerus menahan beban tanpa beristirahat."
Kaisar tertawa pelan.
"Sejak kapan kau pandai memberi nasihat seperti itu?"
"Saya hanya mengulang apa yang sering Ayah katakan."
"Benar-benar anak yang baik. Tidak heran banyak pejabat menyukainya. Kelak dia pasti akan menjadi sosok besar bagi kekaisaran." batin Kaisar.
Kaisar mengambil cangkir teh yang masih mengepulkan uap hangat. Aroma aprikot yang lembut segera memenuhi indera penciumannya.
"Terima kasih membawakanku semua ini."
Jinsei membungkukkan badan sedikit.
"Merupakan kehormatan bagi saya jika dapat membantu Yang Mulia."
Senyumnya tampak tulus. Senyum seorang pemuda bangsawan yang santun dan penuh perhatian.