NovelToon NovelToon
Kembaran Rahasia Si Culun

Kembaran Rahasia Si Culun

Status: sedang berlangsung
Genre:Ketos / Bad Boy / Perjodohan
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: fayepey

Elnaya Bellarose Valenzia, gadis polos yang selalu menjadi korban perundungan di Golden International School, mengalami percobaan pembunuhan misterius yang membuatnya koma.

Mengetahui hal itu, saudara kembarnya, Elnara Bellamont Valenzia, seorang bad girl yang bersekolah di luar negeri, kembali ke Indonesia untuk mencari pelaku. Dengan menyamar sebagai Elnaya, ia mulai menyelidiki rahasia di balik kejadian tersebut.

Namun di tengah pencariannya, Elnara justru menarik perhatian dua siswa paling berpengaruh di sekolah: Alaric Alden Adinata, ketua OSIS yang sempurna, dan Nathaniel Atharva Pradana, ketua geng Blaze yang terkenal sebagai bad boy.

Semakin dalam Elnara mengungkap kebenaran, semakin banyak rahasia gelap yang terkuak. Hingga ia menyadari bahwa orang yang menghancurkan hidup saudara kembarnya ternyata lebih dekat dari yang pernah ia bayangkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fayepey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Razia

Malam itu, Nara keluar rumah menuju rumah Arvard. Dia mendapat informasi kalau HP milik Elnaya berhasil dihidupkan kembali. Kabar itu tentu saja membuatnya cukup senang. Siapa tahu ada petunjuk penting yang selama ini tersembunyi di dalam sana.

Sesampainya di rumah Arvard, Nara langsung diajak masuk ke kamar cowok itu yang dipenuhi beberapa komputer dan peralatan elektronik.

"Sini, HP-nya sini," ucap Arvard sambil mengajak adik sepupunya masuk.

"Mana HP-nya?" tanya Nara.

Arvard langsung menyerahkan HP putih itu ke tangan Nara.

"Tuh. Mending lo lihat sendiri isinya, gue nggak berani kepo," ucap Arvard.

Nara pun duduk di kursi yang ada di sana. Jemarinya mulai membuka satu per satu isi HP tersebut. Yang terlihat hanya beberapa ruang obrolan dengan teman-temannya, Rora, Asha, Mami, Papi, Oma, lalu...

"Alden?" gumamnya pelan.

Tanpa pikir panjang, dia langsung membuka ruang obrolan itu. Namun, tak ada satu pun pesan yang tersisa.

"Lo bisa pulihin chat nggak?" tanya cewek itu sambil menoleh ke arah kakak sepupunya.

"Sebagian chat emang berhasil gue pulihin. Kalau datanya masih tersimpan di perangkat, gue masih bisa balikin. Cuma, ada beberapa yang sengaja dihapus permanen, jadi udah nggak bisa," jelas Arvard.

Nara mengangguk pelan. Pantas saja chat dengan mami dan papinya masih ada, tapi chat dengan Alden justru hilang semuanya. Ada yang aneh.

Dia kembali mengutak-atik isi HP itu dengan teliti. Sampai akhirnya matanya berhenti pada sebuah nomor yang tidak dikenal.

"Ini apa..." gumamnya.

Perlahan, dia membuka ruang obrolan tersebut.

"Cepat! Ke rooftop sekarang, atau Asha akan mati!"

Napas Nara langsung tertahan. Tubuhnya menegang membaca isi pesan itu.

"Anjing... lo bisa lacak nomor ini nggak?" tanya Nara dengan nada kesal.

"Bisa, gue coba dulu," jawab Arvard.

Cowok itu langsung menyalakan komputernya dan mulai melakukan beberapa pencarian. Nara hanya berdiri di sampingnya sambil memperhatikan layar monitor dengan wajah penuh harap.

Beberapa menit berlalu, tapi Arvard akhirnya mengembuskan napas pelan.

"Nggak bisa. Nomornya udah nggak aktif. Kemungkinan kartunya udah dibuang atau dimusnahin," ucap Arvard.

Nara mengangguk pelan. Rasa kesalnya makin menjadi karena petunjuk itu kembali buntu.

"Kalau menurut gue, cara yang paling masuk akal sekarang ya cari rekaman CCTV di sekolah lo. Siapa tahu masih ada file aslinya. Kadang rekaman yang kelihatannya udah kehapus ternyata masih bisa dipulihin kalau datanya belum ketimpa," ucap Arvard.

Nara langsung mengangguk paham.

"Oke. Thanks ya. Kalau gitu gue pulang dulu," ucap Nara sambil berdiri dari kursinya.

Arvard hanya mengangguk pelan, lalu mengantar Nara sampai ke depan rumah.

Siang itu suasana kelas IPA 3 berjalan seperti biasa. Semua murid fokus mengikuti pelajaran, sampai tiba-tiba terdengar suara ketukan di pintu kelas.

"Permisi, Bu," ucap Alden dari luar.

"Iya, silakan masuk, Alden," jawab guru yang sedang mengajar.

Tak lama kemudian, Alden masuk bersama Selena dan satu anggota OSIS lainnya.

"Waduh, razia cok!" pekik pelan Rora ke teman-temannya.

"Aduh, kuku gue... oh aman. Lipstik gue... oh nggak menor. Seragam gue... oh aman," gumam Rora sambil buru-buru mengecek penampilannya.

Sementara Asha terlihat santai. Memang dari awal dia selalu mematuhi aturan sekolah.

Berbeda dengan Nara yang mulai ketar-ketir. Diam-diam dia memakai fake nails lagi tanpa sepengetahuan orang tuanya. Padahal uang tabungannya sampai jutaan habis cuma buat beli dan pasang kuku itu.

"Aduh, baru kemarin lagi gue pasang. Sialan lo, Al," gerutu Nara dalam hati.

"Baik, selamat siang teman-teman. Kami dari OSIS mau mengadakan razia. Siapa pun yang memakai make up berlebihan atau membawa barang-barang yang sudah dilarang sekolah akan kami tindak sesuai aturan," ucap Alden dengan tegas.

Alden mulai berjalan menyusuri setiap meja siswa. Satu per satu diperiksa, sampai akhirnya dia berhenti di meja Asha dan Nara.

"Asha."

"Nih kuku aku. Liptint aku nggak menor, kan? Seragamku juga nggak ketat banget," ucap Asha sambil memperlihatkan kedua tangannya.

Alden mengangguk kecil.

"Kamu aman."

Tatapan Alden kemudian beralih ke Nara yang duduk di sebelah Asha. Dia melihat cewek itu melipat bibirnya ke dalam, sementara kedua tangannya disembunyikan di bawah meja.

"Naya."

Nara pura-pura tidak mendengar.

"Tunjukin bibir lo."

Nara langsung menggeleng pelan.

Melihat tingkah cewek itu, Alden mengambil selembar tisu dari saku almamaternya.

"Bibir lo."

Lagi-lagi Nara menggeleng. Bibirnya masih sengaja disembunyikan.

"Elnaya."

Kali ini suara Alden terdengar jauh lebih tegas.

Tetap saja Nara tidak mau menurut.

Alden akhirnya sedikit membungkukkan badan hingga wajah mereka sejajar.

"Lo tunjukin sekarang, atau gue cium."

Ancaman itu membuat mata Nara langsung membulat.

"Ih...apaan sih lo!"

Karena Nara panik dan ga sadar, Alden buru-buru menghapus lipstik merah menyala di bibir itu.

Namun bukannya bersih, lipstiknya malah belepotan ke mana-mana.

"UGH! FUCK! ALDEN!" teriak Nara kesal.

Dia langsung mengambil kaca kecil dari dalam lacinya.

Begitu melihat pantulan wajahnya, matanya langsung melotot.

"EHH! LIAT NIH YANG LO LAKUIN! BELEPOTAN, AL!"

Tanpa sadar Nara berdiri dari kursinya.

Akibatnya, tangan yang sejak tadi dia sembunyikan ikut terangkat.

Sepuluh fake nails yang terpasang rapi langsung terlihat jelas di depan mata Alden.

Bukan cuma itu.

Rok Nara juga terlihat terlalu pendek, sementara kemejanya sangat ketat mengikuti bentuk tubuhnya.

"Baju lo ketat, rok lo pendek, dan lagi-lagi lo pakai fake nails. Lo lupa sama aturan sekolah, hah?" bentak Alden.

"Emang kenapa? Ini tuh fashion! Gue nggak mau ketinggalan fashion walaupun lagi di sekolah. No! Gue nggak mau berpenampilan biasa aja, oke? Gue alergi culun, paham lo!" balas Nara nggak kalah keras.

Alden menarik napas panjang, berusaha menahan sabar.

Tanpa banyak bicara, dia meraih tangan Nara lalu mulai melepas satu per satu fake nails yang menempel.

"NO! OH, FUCKING BITCH!" teriak Nara sambil berusaha menarik tangannya.

Sayangnya tenaga Alden jauh lebih kuat.

"Aldenn..." rengeknya.

"Nggak, plis. Tolong jangan disita. Uang jajan gue habis gara-gara ini! Ayolah..."

Namun rengekannya tidak mempan.

Satu per satu fake nails itu berhasil dilepas sampai semuanya berpindah ke tangan Alden.

"Baju sama rok lo tukar sesuai aturan. Kalau besok masih kayak gini, gue yang gunting," ucap Alden dingin.

Setelah itu dia langsung berbalik dan keluar dari kelas bersama anggota OSIS lainnya.

Nara hanya bisa menatap tajam punggung cowok itu yang semakin menjauh.

"AWAS LO, ALDEN! GUE SUMPAHIN LO BESOK ADA BOTY OBSESI SAMA LO! GUE SUMPAHIN NGGAK ADA CEWEK YANG MAU SAMA LO! SETAN! GUE SUMPAHIN LO NGGAK NIKAH-NIKAH!" teriaknya dari dalam kelas.

"Elnaya," tegur guru di depan kelas.

Nara langsung terdiam.

"Gue ngomong apaan sih... kan nanti nikahnya sama gue," gerutunya dalam hati sambil manyun, membuat beberapa teman yang mendengarnya menahan tawa.

Sepulang sekolah, Nara langsung bertekad pergi ke ruang OSIS buat mengambil fake nails miliknya lagi. Jujur aja, uang jajannya habis cuma buat beli kuku itu.

Dulu dia pernah ketahuan papinya pakai kuku palsu. Alhasil, black card miliknya langsung ditarik, dan uang jajannya dibatasi.

Kalau kuku itu bisa dia ambil lagi, paling nggak bisa dijual ulang lewat media sosialnya. Siapa tahu ada aja followers atau fans yang mau beli.

"Aldenn!" teriak Nara dari luar ruang OSIS.

Di dalam ruangan, Alden yang sedang mengerjakan tugas sedikit terkejut.

"Ngapain lagi dia?" gumamnya dalam hati.

Nara menunggu beberapa detik, tapi cowok itu nggak juga keluar. Dengan wajah kesal, dia akhirnya membuka pintu ruang OSIS lalu masuk begitu saja.

Langkahnya terus menuju ruang ketua OSIS.

Untungnya, di dalam cuma ada Alden seorang diri.

"Ngapain lo ke sini? Sana pergi," usir Alden tanpa mengalihkan pandangan dari laptopnya.

Nara menatap kesal ke arah cowok itu. Perlahan wajahnya berubah memelas.

"Al... please..." ucapnya memohon.

Cewek itu bahkan nekat duduk di lantai tepat di depan Alden, lalu memegang kaki cowok itu.

Alden langsung kaget.

"Ngapain sih lo?" gerutunya.

"Al, please... balikin kuku gue. Itu masih bisa gue jual lagi kalau emang gue butuh uang. Uang jajan gue habis bulan ini gara-gara tuh kuku, Al. Ayolah..." rengeknya sambil menggoyang-goyangkan kaki Alden.

Alden mendengus pelan.

"Bukannya uang jajan lo unlimited? Nggak usah bohongin gue."

"Udah kena potongan gara-gara kuku gue yang kemarin. Jadi papi narik black card gue," cicit Nara pelan.

"Derita lo," balas Alden datar.

"Ayo dong, Al. Uang jajan gue sekarang cuma Rp200.000. Mana cukup sampai akhir bulan. Balikin aja, nanti kukunya gue jual lagi."

"Dan lo kira gue percaya? Kuku palsu susah dijual lagi. Nggak usah ngibul."

Nara malah terkekeh pelan.

"Ayo dong, balikin. Gue nggak mau uang gue sia-sia keluar buat tuh kuku."

Lagi-lagi Alden menggeleng.

"Lo kenapa sih? Biasanya juga razia pertengahan bulan. Ini kok tiba-tiba awal bulan?" protes Nara sambil melipat tangan.

Alden yang masih sibuk mengerjakan tugas hanya memutar bola matanya.

Tanpa banyak bicara, dia mengambil HP di sampingnya lalu membuka ruang chat.

"Nih, baca."

Nara mengambil HP itu dengan penasaran.

Matanya langsung tertuju pada isi pesan.

Om Ronald: "Alden, Om boleh minta tolong sama kamu nggak? Om barusan dapat notifikasi kalau ATM Om sama Nara ada transaksi uang keluar banyak banget. Pas Om lihat detailnya, ternyata dipakai buat salon kuku palsu. Om minta tolong kamu sita ya kukunya. Soalnya kalau Om yang maksa, dia pasti nggak bakal mau. Om titip ya sama kamu."

Nara membaca chat itu dengan mata membulat.

"What? Jadi ini akal Papi?" ucapnya kesal.

Dia baru sadar.

ATM yang dia pakai memang masih terhubung ke rekening papinya, jadi semua transaksi pasti langsung kelihatan.

"Aduh..." gerutunya pelan.

"Udah lihat, kan? Sekarang pergi," ucap Alden sambil mengambil kembali HP-nya.

Nara langsung ketar-ketir.

Kalau papinya benar-benar sudah tahu semuanya, berarti bulan ini dia memang nggak bakal dikasih uang jajan tambahan.

"Aduh, bodoh banget lo, Nara," gerutunya dalam hati.

Dengan langkah lesu dan wajah dongkol, dia akhirnya keluar dari ruangan itu.

Namun sebelum benar-benar pergi, langkahnya sempat terhenti.

Dia menoleh pelan ke arah pintu kecil yang tertutup rapat di dalam ruang ketua OSIS.

Tatapannya menyipit beberapa detik, seolah mengingat sesuatu.

"Hm..."

Tanpa berkata apa-apa lagi, Nara akhirnya melangkah pergi meninggalkan ruang OSIS.

1
fayepey
Alden ini bukan yang 17 tahun langsung jadi CEO yaa guyss, cuman sekarang ini lagi belajar dikit-dikit dulu dan cari pengalaman dalam hal berbisnis, jadinya dia dapat uang dari pengalamannya itu 🥰🥰
aya
Mau cowo kayak Alden, cuek cuek tapi perhatian
syifa
Jangan lupa di lanjut kak, semangat
fayepey: terimakasih kak
total 1 replies
syifa
Seru kak ceritanya, lanjut yaa
fayepey
Hallo, terimakasih sudah membacanya!
Lxjn
Mangat kak💪
fayepey: Terimakasih
total 1 replies
ana Ackerman
kak lanjut ya jangan lupa up kak semangat
fayepey: Terimakasih kak
Nanti sore aku up lagii
total 1 replies
ana Ackerman
lanjut kak
Bu Dewi
seru kk😍😍😍😍
fayepey: Terimakasih😍
total 1 replies
fayepey
Selamat membaca, tinggalkan komentar yang positif, jika tidak suka tinggal skip aja yaa🤗💗
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!