NovelToon NovelToon
Lebih Sekadar Tante

Lebih Sekadar Tante

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Agatha soul

Bagi Arvin, Karin bukan sekadar tante dari sahabatnya. Karin adalah tempatnya pulang, tawa yang selalu ia cari, dan masa depan yang ingin ia tuju. Di saat kedekatan mereka mulai mencairkan dinding perbedaan usia, sebuah kencan tak sengaja justru membawa kembali bayang-bayang masa lalu Karin yang belum usai.
Ketika masa lalu menuntut tempatnya kembali, akankah Karin bertahan pada zona nyamannya, atau berani melangkah demi rasa yang lebih dari sekadar tante?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agatha soul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Genggaman di Puncak Bukit

Jalanan pegunungan yang menurun dan berbelok membuat Karin harus memajukan tubuhnya. Untuk menahan dorongan badannya agar tidak terlalu menempel pada Arvin, Karin menurunkan kedua tangannya dan bertumpu pada tangki bensin motor sport tersebut.

Sambil sedikit memajukan kepalanya agar suaranya tidak hilang disapu angin, Karin setengah berteriak, "Arvin! Beli motor kayak gini berapaan harganya?"

Arvin melirik spion sekilas sebelum menjawab, "Lumayan sih, Tan, harganya. Tergantung merek sama kapasitas mesinnya juga."

Karin manggut-manggut. Namun, baru saja Karin hendak mengangkat tangannya dari tangki untuk membetulkan posisi duduk, tiba-tiba seekor kucing berlari menyeberang jalan begitu saja.

CITTT!

Arvin refleks menarik rem depan dengan cukup kuat. Sontak, tubuh Karin terdorong hebat ke depan tanpa sempat bersiap.  Bagian dadanya menempel sempurna pada punggung tegap Arvin.

Sentuhan yang terlampau intim dan mendadak itu seketika membuat Arvin menahan napas. Jantungnya berdebar berkali-kali lipat lebih kencang, memompa darahnya hingga ke ubun-ubun.

"Ma... maaf, Tan. Barusan ada kucing nyebrang," ucap Arvin gugup, buru-buru menstabilkan posisi motornya kembali.

Karin yang sama kagetnya langsung mundur dan memegangi dadanya sendiri yang berdegup kencang karena kaget hampir jatuh. "Iya... iya, gapapa, Vin," jawab Karin, mencoba bersuara senormal mungkin meski wajahnya kini mendadak memerah.

Perjalanan berlanjut hingga waktu menunjukkan pukul dua siang. Namun, alih-alih kembali ke arah perumahan, Arvin justru membelokkan motornya menanjak ke arah area perbukitan hijau yang sering menjadi tempat nongkrong.

Karin yang bingung langsung berteriak, "Vin, ngapain ke sini? Kirain kita mau langsung pulang!"

"Tanggung, Tante. Mumpung udah di luar, sekalian jalan-jalan," jawab Arvin santai dari balik helmnya.

Begitu motor Arvin mendarat di loket tiket, mata Karin langsung menangkap keberadaan sekelompok gadis remaja berseragam bebas yang sedang berkumpul di dekat pagar pembatas. Karin langsung yakin kalau mereka adalah pacar dari teman-teman Reza.

Benar saja, begitu motor Dito dan Bima terparkir, salah seorang gadis berambut sebahu langsung berlari riang dan memeluk Reza.

"Eja! Kok lama banget sih?" rengek gadis itu yang bernama Aurel.

Reza yang melihat Karin masih duduk di boncengan Arvin langsung panik setengah mati. Dengan cepat, dia melepaskan cengkraman tangan ceweknya itu. "Eh, Rel, lepasin dulu. Jangan gini!" bisik Reza panik.

Karin yang masih setia duduk di jok belakang motor Arvin hanya bersedekap dada. Sudut bibirnya terangkat, menatap jeli tingkah laku keponakan remajanya yang mendadak salah tingkah.

"Ih, kenapa sih dipeluk pacar sendiri gak mau?" ucap Aurel.

Karin sengaja menggoda ponakannya. "Oh... jadi ini pacar kamu, Ja?"

Mendengar suara asing seorang wanita, Aurel dan empat temannya yang lain langsung menoleh serentak. Reza buru-buru turun dari motor dan menghampiri tantenya dengan wajah memelas.

"Tante... please, jangan bilang-bilang ke Mama sama Papa ya?" bisik Reza memohon, tahu betul kalau ibunya, sangat melarangnya pacaran sebelum lulus SMA.

Aurel ikut berjalan mendekat, menatap bergantian antara Karin dan Arvin dengan dahi berkerut. "Eh, siapa sih dia, Ja? Oh... apa ini pacarnya Arvin, ya? Pantesan aja di sekolah Arvin selalu nolak cewek-cewek yang deketin dia," celetuk Aurel polos.

"Tante gue, Rel!" potong Reza cepat sebelum salah pahamnya makin melebar.

Aurel seketika menutup mulutnya kaget. Wajahnya langsung memucat. "Eh? T-tante? Maaf banget, Tante! Aku gak tahu!" 

Reza mencoba merayu Karin agar tidak dilaporkan. "Tante... kalau gitu aku bayarin tiket masuk bukitnya deh, sama ganti uang bensin motor Tante juga. Asalkan... Tante jangan bilang-bilang ke orang tua Eja, ya?"

Karin menaikkan sebelah alisnya, lalu terkekeh geli. "Duh, maaf ya, Tante gak menerima suap!"

Karin kemudian mengedarkan pandangannya ke sekeliling bukit. Dia menghitung ada lima gadis di sana, pas dengan jumlah teman-teman Reza minus Arvin. Karin menunduk, menatap cowok yang masih duduk di depannya. "Arvin, pacarmu gak ada di sini?"

Arvin menoleh sedikit ke belakang, menatap mata Karin lekat-lekat. "Gak ada, Tan," jawab Arvin tegas dan jujur.

Karin tersenyum tipis mendengarnya. Dia lalu menepuk bahu Arvin pelan. "Ya udah, Vin, ayo jalan lagi. Daripada kita di sini cuma jadi nyamuk doang liatin bocah pacaran."

"Tante, ayolah kerjasamanya!" bujuk Reza lagi, nyaris frustrasi sambil memegangi ujung jok motor Arvin.

"Gak!" jawab Karin jahil sambil memakai kembali maskernya. "Udah sana, kalian main aja. Tante sama Arvin mau jalan duluan!"

Arvin yang mendengar perintah Karin langsung menyunggingkan senyum penuh kemenangan. Tanpa menunggu aba-aba kedua dari Karin, dia langsung menarik gas motor sport-nya, meninggalkan Reza yang berteriak pasrah di belakang mereka bersama pacarnya.

Arvin memarkirkan motor sport-nya di area yang agak sepi, jauh dari kerumunan teman-temannya. Setelah mencabut kunci kontaknya, dia menoleh ke arah Karin.

"Yuk, Tan, jalan-jalan ke atas," ajak Arvin sambil menunjuk jalan setapak berupa anak tangga batu yang menuju ke puncak bukit.

Karin mengangguk setuju. Namun, baru saja menaiki beberapa anak tangga, napas Karin sudah mulai terengah-engah. Efek jarang berolahraga ditambah kelelahan setelah main air di curug tadi langsung membuat fisiknya drop.

"Tungguin, Vin... capek," keluh Karin sambil berhenti dan memegangi lututnya yang lemas, napasnya naik-turun ngos-ngosan.

Arvin yang berjalan beberapa langkah di depan menghentikan langkahnya. Mendengar keluhan wanita itu, dia terkekeh geli lalu membalikkan badannya. Arvin berjalan turun mendekati Karin, lalu mengulurkan telapak tangan kanannya yang kokoh ke hadapan Karin.

"Ayo, Tan. Di atas pemandangannya bagus banget, lho. Tanggung kalau berhenti di sini," ucap Arvin lembut.

Karin menatap uluran tangan remaja itu selama beberapa detik. Tanpa pikir panjang karena memang sudah tidak kuat berjalan sendiri, Karin menyambut dan menggenggam erat tangan Arvin. Sentuhan kulit mereka yang hangat seketika menyalurkan getaran aneh, namun Arvin dengan sigap menuntun langkah Karin, menggandengnya dengan mantap melewati sisa anak tangga hingga mereka tiba di puncak tertinggi bukit tersebut.

Begitu sampai di atas, mata Karin langsung dimanjakan oleh hamparan pemandangan hijau yang membentang luas di bawah langit sore. Angin bukit yang berembus sepoi-sepoi menerpa wajahnya, seketika mengusir rasa lelahnya.

"Wah... bagus banget pemandangannya!" seru Karin takjub dengan mata berbinar-binar.

"Iya, kan?" sahut Arvin yang alih-alih menatap pemandangan alam, matanya justru fokus menatap wajah samping Karin yang tampak sangat cantik saat tersenyum lepas seperti itu. Genggaman tangan mereka bahkan sempat bertahan beberapa detik lebih lama sebelum akhirnya Karin melepasnya.

Karin kemudian melirik ke arah bawah, memperhatikan area tangga batu yang baru saja mereka lewati. Di sana, tampak Reza, Aurel, dan teman-temannya yang lain masih berjalan santai bergerombol di anak tangga terbawah.

"Ayo, Tante, kita cari tempat duduk dulu sebelum yang lain nyampe," ajak Arvin memecah keheningan.

Karin mengangguk setuju. "Ayo."

Dengan langkah yang jauh lebih santai, Karin berjalan mengekor di belakang punggung tegap Arvin, mengikuti cowok itu yang sibuk mencarikan tempat duduk terbaik dan nyaman untuk mereka berdua.

1
Bunga
Karya terbaik😍semangat 💪
Agatha soul: terima kasih
total 1 replies
Bunga
Terbaik
mary dice
sepertinya ada yang mau nembak nih... lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!