Lima tahun lalu, Adeline Wijaya dijebak oleh adik tirinya sendiri hingga keguguran dan diusir oleh suaminya, Bramantara, dalam kondisi sekarat. Semua orang mengira Adeline telah tewas di dasar jurang.Lima tahun kemudian, ia kembali ke Kota Jakarta dengan identitas baru sebagai Elena Vance, seorang desainer perhiasan kelas dunia yang genius dan kejam. Tujuannya hanya satu: menghancurkan mereka yang telah merebut kebahagiaannya.Demi melancarkan aksinya, Elena mendekati Nicholas Syailendra, CEO tertinggi di balik konglomerat nomor satu sekaligus musuh bebuyutan mantan suaminya.
Nicholas menawarkan kesepakatan: "Jadilah istriku, dan aku akan memberikan dunia untukmu membalas dendam." Namun, Elena tidak tahu bahwa di balik pernikahan kontrak itu, ada rahasia masa lalu yang jauh lebih besar yang siap menguji hatinya sekali lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Finus Ina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab31
## BAB 31: Perintah dari Singgasana Lama
Iring-iringan mobil VVIP Syailendra Group melaju membelah fajar yang mulai menyingsing di sepanjang jalur tol Puncak menuju pusat ibu kota Jakarta. Setelah malam berdarah yang menghancurkan Sarah Syailendra dan Utama Group, limosin hitam mewah yang membawa Nicholas dan Elena akhirnya berhenti tepat di depan pelataran paviliun pribadi mereka. Namun, atmosfer kemenangan fajar itu seketika sirna ketika Yan melangkah mendekat dengan wajah setegang kawat baja.
Cklek.
"Tuan Besar, Nyonya Muda... Kakek Agung baru saja mengirimkan draf maklumat darurat dari rumah utama," bisik Yan sembari menyerahkan sebuah dokumen beralas segel perak kuno keluarga Syailendra. "Beliau memerintahkan tim medis khusus di bawah pimpinan dr. Edward untuk mengambil alih seluruh pengawasan kesehatan Nyonya Muda mulai pagi ini."
Nicholas meremas dokumen tersebut hingga berkerut parah di dalam genggaman tangan kanannya yang kekar. Sepasang mata elangnya mendadak memancarkan kilat tirani yang amat pekat, sedingin es kutub utara. "Kakek tua itu benar-benar tidak sabar untuk menguliti areaku," desis Nicholas rendah, suaranya sarat akan ancaman berbahaya yang sanggup membekukan atmosfer.
Elena Vance yang berdiri di samping suaminya hanya mengulas sebuah senyuman miring yang begitu tipis namun tajam. "Dia adalah penguasa lama, Nicholas. Wajar jika dia menggunakan draf isolasi medis ini untuk menguji apakah janin di dalam perutku ini asli atau sekadar draf rekayasa teknologi IT milikmu."
Nicholas membalikkan tubuh tegapnya, menatap langsung ke dalam manik mata indah Elena. Dengan gerakan yang sangat posesif, ia melingkarkan lengan kekarnya di sekeliling pinggang ramping Elena, menarik wanita itu merapat sempurna ke dadanya di hadapan para pengawal. "Paviliun ini adalah wilayah kekuasaan mutlakku, Elena. Selama aku masih bernapas, tidak akan ada satu pun dokter tua suruhan Kakek yang diizinkan untuk menyentuh seujung kuku dari pakaianmu tanpa persetujuanku."
Elena mendongak, menyandarkan kedua tangannya di atas dada bidang Nicholas yang kokoh, merasakan getaran debaran asmara asli yang kini semakin sulit untuk ia sangkal di dalam hatinya. "Mari kita biarkan mereka masuk, suamiku. Aku ingin melihat draf permainan medis seperti apa yang sudah disiapkan oleh dinasti lamamu."
------------------------------
Dua jam kemudian, sore hari membawa ketegangan baru melintasi ruang tamu paviliun utama. Pintu kayu ek ditarik terbuka lebar, dan seorang pria paruh baya berambut putih dengan jubah dokter putih melangkah masuk bersama dua asistennya yang membawa kotak peralatan medis canggih. Pria itu adalah dr. Edward—dokter spesialis kepercayaan Kakek Agung yang telah mengabdi pada dinasti Syailendra selama tiga dekade.
"Selamat sore, Tuan Besar Nicholas, Nyonya Muda Elena," sapa dr. Edward dengan nada suara yang terdengar sangat formal namun sarat akan intrik menyelidiki. "Tuan Besar Kakek Agung sangat mengkhawatirkan kondisi draf kandungan Nyonya Muda setelah insiden di Vila Puncak semalam. Oleh karena itu, saya diperintahkan untuk melakukan karantina medis dan draf pemeriksaan darah serta USG berkala di tempat ini."
Nicholas duduk bersandar angkuh di kursi kebesarannya, menatap dr. Edward dengan sepasang mata elang sedingin es laksana malaikat pencabut nyawa yang siap mencabut nyawa mangsanya. "dr. Edward, Anda boleh melakukan pemeriksaan fisik dasar. Tapi ingat satu hal... seluruh draf data medis istri saya harus melewati enkripsi server internal ruang kerja saya sebelum dicetak ke dalam draf dokumen resmi dewan komisaris."
"Tentu saja, Tuan Besar. Struktur hukum medis keluarga tetap akan kami patuhi," jawab dr. Edward dengan senyuman tipis yang misterius, lalu memberi isyarat kepada asistennya untuk menyiapkan draf alat sensor USG portabel terenkripsi.
Deg!
Elena Vance meremas pelan jemari tangannya di balik gaun tidur satin hitamnya. Meskipun wajah cantiknya tetap memancarkan keangkuhan yang dingin dan tak tersentuh, ia tidak bisa membohongi debaran jantungnya yang mendadak berdegup kencang secara tidak teratur laksana genderang perang. Rahimnya kosong total. Trauma keguguran satu bulan lalu masih menyisakan luka yang nyata di tubuhnya. Jika alat sensor itu ditempelkan ke perutnya sekarang, kebohongan di atas draf kertas emas mereka akan meledak dalam hitungan detik.
Namun, Elena tidak menyadari bahwa di dalam ruang siber IT bawah tanah paviliun, Bobi dan tim teknisi siber tertinggi Nicholas sedang bekerja di bawah tekanan yang luar biasa ekstrem. Jemari Bobi dengan lincah mengetik serangkaian kode enkripsi bypass (firewall override) pada draf sistem transmisi data nirkabel milik alat medis dr. Edward.
"Elena, berbaringlah. Aku ada di sini," suara berat Nicholas terdengar begitu dalam dan hangat di dekat telinga Elena. Nicholas melangkah mendekat, menggenggam erat telapak tangan Elena yang mungil ke dalam genggamannya yang besar, memberikan kekuatan tersembunyi yang membuat Elena kembali menegakkan kepalanya.
Elena perlahan merebahkan tubuh ringkihnya di atas sofa medis. dr. Edward mulai mengoleskan cairan gel dingin di atas perut datarnya yang mulus, lalu menggerakkan alat sensor ultrasonografi tersebut dengan gerakan yang sangat lambat penuh selidiki.
Sret. Sret.
Layar monitor monitor medis di hadapan mereka berkedip beberapa kali sebelum akhirnya menampilkan sebuah draf visual hitam putih. Berkat operasi siber kilat dari Bobi di bawah tanah, layar itu memproyeksikan draf gambar janin palsu berusia enam minggu yang sangat sempurna, lengkap dengan draf indikator kantung kehamilan yang terstruktur rapi.
dr. Edward menyipitkan matanya yang tua, mengamati draf visual tersebut selama beberapa menit dengan pandangan yang mendalam, mencari setitik celah manipulasi. "Draf kantung kehamilan yang sangat rapi, Nyonya Muda. Struktur fisiknya terlihat sangat stabil untuk ukuran awal kehamilan."
Elena mengembuskan napas panjang yang sempat tertahan di tenggorokannya, sebuah senyuman miring penuh kepuasan dendam yang kejam terukir samar di bibirnya saat melihat dokter tua itu berhasil dikelabui oleh teknologi suaminya.
Namun, ketenangan palsu itu mendadak hancur berantakan ketika dr. Edward mematikan layar monitornya, lalu merogoh sebuah tabung suntik khusus bersensor digital dari dalam kotak hitamnya.
"Pemeriksaan visual sudah selesai, Tuan Nicholas," ucap dr. Edward, nadanya mendadak berubah menjadi sangat dingin penuh intrik berbahaya. "Namun, Kakek Agung juga membekali saya dengan draf draf baru draf protokol keamanan dinasti. Saya diwajibkan untuk mengambil sampel cairan ketuban ketuban (amniocentesis) secara langsung dari dalam rahim Nyonya Muda siang ini untuk melakukan draf verifikasi DNA prenatal internasional, guna memastikan bahwa anak di dalam kandungan ini 100% membawa draf darah murni dari silsilah takhta Syailendra Group."
Boom!
Tuntutan ekstrem dari penguasa lama itu laksana hantaman bom waktu yang meledakkan seluruh keheningan di dalam ruang paviliun.
Elena Vance seketika membeku mematung di atas sofa medis, seluruh pasokan oksigen di paru-parunya seolah tersedot habis hingga wajah cantiknya berubah seputih kain kafan. Tes darah dan gambar USG bisa dipalsukan lewat sistem IT siber milik Nicholas, tetapi pengambilan cairan ketuban secara fisik dari rahim yang kosong adalah sesuatu yang tidak akan pernah bisa direkayasa oleh teknologi komputer mana pun di dunia ini!
Nicholas Syailendra berdiri tegap, mengepalkan tinjunya hingga buku-buku jarinya memutih, mengeluarkan aura membunuh yang sangat pekat dan mematikan memenuhi seluruh sudut ruangan paviliun. Sepasang suami istri penuh sandiwara di atas draf kertas emas itu kini benar-benar telah dikunci di dalam sangkar jebakan maut penguasa lama yang siap menguliti seluruh kebohongan takhta mereka dalam hitungan detik.
------------------------------