Dikejar tenggat waktu menikah oleh sang nenek, Sari Maheswara CEO kaya raya yang dingin dan perfeksionis. Mobilnya mogok di dekat pasar subuh. Namun, kesialan itu membawanya bertemu dengan Arka, seorang duda tampan penjual kue basah yang karismatik. Hanya dengan sebutir kue klepon buatan Arka, lidah dan hati Sari langsung meleleh.
Terbiasa mendapatkan apa pun dengan uang, Sari dengan angkuh menyodorkan Black Card-nya untuk membeli seluruh dagangan, gerobak, sekaligus sang penjual! Bukannya tergiur, Arka yang berprinsip justru menolak mentah-mentah keangkuhan sang CEO.
Penolakan itu malah menyulut jiwa kompetitif Sari. Demi menaklukkan hati sang duda, Sari rela menanggalkan gengsinya: bangun jam 4 subuh, menerjang beceknya pasar dengan high heels, hingga berebut kue dengan emak-emak berdaster. Meski Arka berulang kali memintanya mundur karena perbedaan kasta dan status dudanya, Sari justru makin tertantang untuk membuktikan bahwa cinta sejatinya tidak bisa dibeli melainkan diperjuangkan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Di dalam angkutan umum yang melaju tenang membelah jalanan menuju terminal, Sari perlahan menggeser duduknya.
Rasa lemas yang masih tersisa di tubuhnya membuat wanita itu tidak bisa menahan rasa kantang yang kembali menyerang.
Dengan gerakan alami, ia merebahkan kepalanya, menyandarkan keningnya di atas bahu tegap
Arka yang terasa begitu kokoh dan nyaman.
Arka sempat tersentak kecil, namun sedetik kemudian ia merilekskan bahunya agar Sari bisa bersandar dengan lebih nyaman.
Ia melirik wanita di sampingnya dengan tatapan penuh kehangatan.
"Mas Arka..." bisik Sari lirih, matanya terpejam menikmati aroma sabun sederhana yang menguar dari hoodie pria itu.
Arka menoleh, memastikan ia tidak salah dengar. "Iya, Mbak?"
Sari membuka matanya sedikit, lalu mendongak menatap rahang tegas Arka.
"Mulai sekarang, panggil aku Sari saja ya. Dan aku, akan memanggilmu Mas Arka. Kita tidak sedang di kantor atau di pasar subuh lagi."
Mendengar permintaan itu, sudut bibir Arka berkedut menciptakan senyuman lebar.
Panggilan "Mas" yang keluar dari bibir seorang Sari Maheswara terasa begitu menggetarkan hatinya.
"Iya, Sari," jawab Arka, sedikit canggung namun terdengar sangat tulus di telinga Sari.
Tidak lama kemudian, taksi mereka tiba di terminal antar kota.
Setelah mengurus tiket dan menaikkan koper ke bagasi bawah, keduanya kini telah duduk manis di dalam bus eksekutif yang akan membawa mereka kembali ke Jakarta.
Baru saja bus perlahan bergerak keluar dari area terminal, perut Sari kembali mengeluarkan suara keroncongan yang halus.
Ia meremas pelan perutnya yang terasa kosong. "Mas, aku lapar lagi," adunya manja, sebuah sisi yang belum pernah ia tunjukkan pada siapa pun sebelumnya.
Tepat saat kalimat itu selesai diucapkan, dari arah depan bus, seorang kondektur berjalan menyusuri lorong kabin.
Sesuai dengan fasilitas kelas eksekutif, kondektur tersebut membagikan kotak makanan dan minuman ringan sebagai camilan pembuka untuk para penumpang.
"Silakan, Mas, Mbak, camilannya," ucap kondektur sambil menyerahkan dua kotak karton kecil dan dua botol air mineral.
Arka menerima kedua kotak tersebut dengan cekatan.
Begitu kondektur berlalu, Arka tidak langsung menyerahkan kotak itu kepada Sari.
Dengan ingatan yang masih segar tentang peringatan dokter mengenai sensitivitas lambung penderita tipes stadium lanjut, Arka membuka kotak tersebut terlebih dahulu.
Ia memeriksa isinya dengan sangat teliti. Di dalam kotak terdapat sebungkus keripik kentang asin, sebuah roti bun manis bertekstur lembut, dan sebatang cokelat.
"Sari, yang ini jangan dimakan dulu ya," ucap Arka sambil memisahkan bungkus keripik kentang yang gurih dan renyah, serta cokelat batangan ke dalam kantongnya sendiri.
Sari mengernyitkan dahi, menatap Arka dengan bingung.
"Kenapa? Aku mau keripiknya, Mas."
Arka menggelengkan kepala dengan tegas namun lembut, memperlihatkan sisi protektifnya sebagai calon suami.
"Tidak boleh. Keripik ini terlalu asin dan teksturnya tajam, bisa melukai dinding lambungmu yang belum pulih total dari bakteri tipes. Cokelat ini juga terlalu pekat untuk perut kosongmu."
Arka kemudian membuka plastik pembungkus roti bun yang lembut, lalu menyerahkannya kepada Sari bersama sebotol air mineral yang sudah ia bukakan tutupnya.
"Nah, makan roti yang ini saja. Teksturnya lembut dan aman untuk pencernaanmu. Habis ini minum air hangatnya ya."
Sari menerima roti itu dengan hati yang membuncah oleh rasa hangat.
Diperhatikan sedetail itu oleh Arka membuat seluruh sisa rasa sakit akibat kesalahpahaman kemarin menguap tak bersisa.
Ia menggigit roti lembut itu sambil terus menatap Arka, menyadari bahwa di balik kesederhanaannya, pria penjual kue ini memiliki cara tersendiri untuk menjaganya dengan teramat mewah.
Bus eksekutif terus melaju, membelah jalanan antarkota dengan kecepatan stabil.
Di dalam kabin yang sejuk dan tenang, Sari masih menyandarkan kepalanya di bahu tegap Arka, sesekali mengunyah sisa roti lembut yang diberikan pria itu tadi.
"Mas..." panggil Sari tiba-tiba, suaranya pelan hampir berbisik.
Arka yang sedang menatap lurus ke arah jalanan di depan langsung menoleh ke bawah, menatap puncak kepala Sari.
"Hm, ada apa?"
Sari tidak langsung menjawab. Wanita itu justru menggelengkan kepalanya perlahan di atas bahu Arka, membuat beberapa helai rambutnya bergesekan dengan kain hoodie sang calon suami.
Arka terkekeh lembut, merasa gemas dengan tingkah manja wanita yang biasanya dikenal tegas dan berwibawa ini. Ia memiringkan kepalanya sedikit.
"Ada apa, Sari? Kok menggeleng?"
"Nggak ada apa-apa, Mas," sahut Sari, menjeda kalimatnya sejenak.
Ia kemudian mendongak, menatap lekat-lekat garis rahang Arka, hidung mancungnya, hingga sepasang mata teduh yang kini sepenuhnya hanya menatap dirinya.
"Kamu tampan sekali ya, Mas."
Mendengar pujian yang teramat jujur dan tiba-tiba itu, semburat merah langsung menjalar di kedua pipi Arka. Pria tegap itu mendadak salah tingkah.
Ia buru-buru mengalihkan pandangannya ke depan, mencoba menyembunyikan rasa gugupnya yang mendadak membuncah.
"Tampan dari mana, Sayang?" sahut Arka parau, menyelipkan panggilan baru yang membuat jantung Sari ganti berdesir hebat.
Arka tersenyum getir, mengingat kembali masa lalunya yang kelam.
"Niken saja meninggalkan aku dan lebih memilih bersama juragan Baron yang kaya raya itu."
Sari langsung menegakkan posisi duduknya. Rasa tidak suka mendadak muncul begitu nama mantan istri Arka kembali disebut.
Ia mencibirkan bibirnya, menatap Arka dengan tatapan mengejek yang jenaka.
"Mantan istrimu itu yang matanya juling!" ketus Sari tanpa saringan, membela harga diri pria yang dicintainya dengan cara yang sangat blak-blakan.
"Dia saja yang tidak bisa melihat permata di depannya dan malah memilih batu kali berlumut seperti Baron."
Pffft.
Arka tidak bisa menahan diri lagi. Tawa kecilnya langsung pecah di dalam kabin bus, memecah kecanggungan yang sempat menggantung akibat masa lalu.
Ia menggeleng-gelengkan kepalanya, benar-benar tidak menyangka seorang CEO Maheswara Group bisa mengeluarkan kalimat se-blak-blakan dan se-posesif itu hanya karena terbakar cemburu.
"Sari, Sari... ada-ada saja kamu ini," ucap Arka di sela tawa kecilnya, beralih meraih jemari tangan Sari dan menggenggamnya erat-erat di atas pangkuan.
Rasa hangat dari genggaman itu seolah menegaskan bahwa badai masa lalu dengan Niken benar-benar telah selesai, digantikan oleh lembaran baru yang jauh lebih manis bersama wanita di sampingnya ini.
Sementara itu, beratus-ratus kilometer jauhnya di sebuah gang sempit pinggiran Jakarta, suasana siang yang terik terasa begitu menyengat.
Niken berdiri di depan pintu rumah kontrakan sederhana milik Arka.
Wajahnya yang dilapisi riasan tebal tampak ditekuk kesal, sementara jemarinya yang mengenakan beberapa cincin imitasi mengetuk pintu kayu itu dengan kasar dan tidak sabar.
Tok! Tok! Tok!
"Arka! Arka, buka pintunya! Ini aku, Niken!" seru wanita itu dengan suara melengking, sama sekali tidak memedulikan pandangan beberapa tetangga yang mulai merasa terganggu.
Sreeek.
Suara gerobak sayur yang berhenti mendadak di ujung gang mengalihkan perhatian Niken.
Dari balik tikungan, muncul Kang Asep yang berjalan sambil memikul keranjang bambu berisi sisa sayuran segar yang baru saja ia ambil dari pasar induk subuh tadi. Peluh membasahi kaos oblongnya yang kusam.
Melihat sosok wanita yang berdiri di depan pintu rumah sahabatnya, langkah Kang Asep langsung terhenti.
Sorot matanya yang biasanya ramah mendadak berubah menjadi sangat dingin dan penuh kilat kemarahan.
Niken membalikkan badan, berkacak pinggang saat melihat kedatangan Kang Asep.
"Eh, Kang Asep! Kemana si Arka? Dari tadi saya ketuk pintu rumahnya, tidak ada jawaban sama sekali. Motor tuanya juga tidak ada di parkiran biasa," tanya Niken dengan nada ketus tanpa basa-basi.
Kang Asep meletakkan keranjang bambunya ke atas tanah dengan hentakan yang cukup keras, seolah sedang meluapkan kekesalannya.
Ia berjalan mendekati Niken, lalu menatap mantan istri sahabatnya itu dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan pandangan meremehkan.
"Oh, jadi kamu masih punya muka untuk datang ke sini?" tanya Kang Asep, suaranya berat dan sarat akan sindiran tajam.
Niken mengernyitkan dahi, merasa tersinggung. "Maksud Kang Asep apa, ya? Saya ke sini cuma mau cari Arka!"
"Kang Arka sudah pergi!" bentak Kang Asep, tidak lagi menahan volume suaranya.
"Dia sudah pergi jauh untuk menyusul dan mencari cinta sejatinya yang sesungguhnya. Dan sepertinya... kamu ini memang manusia yang sudah putus urat malunya, ya, Niken?"
Wajah Niken mendadak berubah pias mendengar bentakan itu.
"Kang, jaga bicara ya—"
"Jaga bicara bagaimana?!" potong Kang Asep dengan sengit, melangkah satu kaki lebih dekat hingga membuat Niken mundur selangkah karena terintimidasi.
"Semua orang di pasar sudah tahu busukmu! Kamu sudah berselingkuh dengan Baron, berkomplot mengambil uang dagangan Kang Arka, dan sekarang setelah semuanya berantakan, kamu dengan tidak tahu malunya datang lagi ke rumah Arka? Berharap dia mau menerima wanita modelan kamu lagi? Bermimpilah!"
Niken mengerucutkan bibirnya, mencoba menutupi rasa malunya yang kini mulai membakar pipinya.
Kata-kata Kang Asep barusan bagai tamparan keras yang membongkar seluruh kedok kelicikannya tepat di depan rumah pria yang dulu ia sia-siakan.
"J-jadi... Arka sudah tahu semuanya?" tanya Niken dengan suara yang mendadak gagap.
Seluruh keberanian dan sikap angkuhnya runtuh seketika. Sepasang matanya bergerak gelisah, menatap Kang Asep dengan raut wajah yang pias bercampur panik.
"Iya! Dia sudah tahu semuanya!" sahut Kang Asep dengan nada yang semakin meninggi, sama sekali tidak memberikan celah bagi Niken untuk membela diri.
"Dan perlu kamu tahu, aku sendiri yang sudah mengambil kembali uang dagangan subuh itu dari tangan suamimu si Baron!"
Niken tersentak, menutup mulutnya tidak percaya bahwa rencana busuknya dengan Baron telah gagal total.
"Sekarang, lebih baik kamu pergi dari sini!" bentak Kang Asep sambil mengacungkan telunjuknya ke arah gang luar.
"Pergi sekarang juga, atau aku akan berteriak memanggil orang-orang sekampung dan meneriakimu sebagai pencuri! Biar kamu tahu rasa digiring warga!"
Mendengar ancaman yang tidak main-main itu, rasa ketakutan langsung menjalar ke sekujur tubuh Niken.
Ia tahu betul bagaimana marahnya warga kampung jika ada seorang penipu atau pencuri yang tertangkap basah.
Tanpa menunggu hitungan ketiga, dengan langkah seribu dan wajah yang memerah karena menahan malu, Niken langsung membalikkan badan dan berlari terbirit-birit meninggalkan pelataran kontrakan Arka.
Kang Asep mendengus kesal melihat bayangan wanita itu yang berangsur menghilang di balik tikungan gang. Setelah memastikan keadaan benar-benar aman dan si pengganggu telah pergi jauh, Kang Asep menghela napas panjang untuk meredakan emosinya.
Ia kembali mengangkat keranjang bambu berisi sisa sayurannya, lalu berjalan perlahan menuju rumahnya sendiri yang terletak di gang sebelah.
Di dalam hatinya, Kang Asep hanya bisa berdoa agar sahabatnya, Arka, berhasil membawa pulang kembali kebahagiaannya.
klo mas duda menolak cinta sih 1000 : 1...
di dunia kita laki2 tu ibarat kucing garong...ikan asin bejejer j di cuntan makinya awewe bungas ✌️✌️✌️🤎