NovelToon NovelToon
The Heiress'S Scents

The Heiress'S Scents

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Identitas Tersembunyi / Cintapertama
Popularitas:7.7k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Di balik kemegahan High School Los Angeles, Issabelle Reichenbach menyembunyikan identitasnya sebagai pewaris tunggal klan mafia legendaris.

Demi bertahan hidup, ia menyamar sebagai murid beasiswa miskin yang patuh, sembari menahan penderitaan tinggal bersama ibu kandungnya yang lemah dan ayah tiri yang kasar.

Namun, penyamaran sempurna Issabelle terancam hancur saat ia berhadapan dengan Navarro Von-Riccardo, penguasa sekolah sekaligus pewaris tunggal terkuat di Pantai Barat.

Navarro menyimpan rahasia kelam klan Von-Riccardo: sebuah genetika yang membuatnya kehilangan indra penciuman sejak lahir.

Secara mengejutkan, aroma tubuh dingin menyerupai mawar es milik Issabelle menjadi satu-satunya wewangian yang bisa dicium oleh Navarro setelah 16 tahun hidupnya.

Terpikat oleh takdir yang tak terelakkan, Navarro mulai terobsesi untuk menguak topeng misterius gadis beasiswa tersebut, memicu perang insting yang mematikan di antara dua predator puncak.


Happy reading 🌷

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#26

Aroma kematian tidak bisa disamarkan oleh wewangian mahal atau pembersih kimia dosis tinggi.

Di dalam ruang bawah tanah kastil peninggalan keluarga Von Reichenbach yang terletak di pinggiran Frankfurt, bau besi dari darah yang mengering dan pembusukan jaringan tubuh manusia telah menjadi udara sehari-hari yang harus dihirup oleh Issabelle selama tiga puluh hari terakhir.

Semua itu adalah omong kosong.

Protokol evakuasi, kode penyelamatan, dan jaminan keamanan yang diucapkan Martha malam itu di telepon hanyalah sebuah sandiwara makro yang dirancang di bawah moncong senapan klan musuh.

Saat Issabelle melompat masuk ke dalam kabin helikopter hitam sebulan lalu, ia tidak sedang terbang menuju keselamatan.

Ia sedang mengantarkan dirinya sendiri masuk ke dalam jebakan maut yang telah dipersiapkan dengan matang oleh aliansi pemberontak yang bekerja sama dengan musuh bebuyutan ayahnya.

Daddy-nya—sang penguasa Dark Dubois—ternyata tidak pernah selamat.

Pria paruh baya yang menjadi pilar kekuatannya itu telah dieksekusi dengan keji dua jam sebelum helikopter penjemputan.

Martha, kepala intelijen setianya, telah dipaksa di bawah ancaman penyiksaan anak-cucunya untuk mengucapkan kalimat palsu guna memancing Issabelle pulang.

Dan begitu kakinya menapak di tanah Jerman, realitas pahit langsung menghantamnya seperti palung es yang meremukkan tulang.

Selama sebulan penuh, kastil megah yang dulunya menjadi simbol kejayaan keluarganya telah bertransformasi menjadi neraka personal bagi Issabelle.

Di sinilah ia sekarang, terkurung di sebuah ruangan luas berlantai marmer dingin yang telah dialihfungsikan menjadi ruang mayat pribadi.

Kedua pergelangan tangan Issabelle diikat dengan rantai besi tebal yang menggantung ke langit-langit beton, memaksa tubuh rampingnya untuk terus berada dalam posisi setengah berlutut yang menyiksa saraf kakinya.

Pakaian rajut sutra hitam yang ia kenakan dari apartemen Navarro kini telah robek di beberapa bagian, berlumuran noda debu dan percikan darah yang bukan miliknya.

Namun, siksaan fisik itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan siksaan visual yang sengaja disuguhkan di depan matanya.

Di sekeliling ruangan itu, bergelimpangan jasad orang-orang yang pernah ia cintai dan hormati.

Di sudut kanan, terbujur kaku jasad sang ayah dengan luka tembak tepat di dahi.

Di sebelahnya, tubuh para pelayan setia, puluhan bodyguard elit Dubois, dan bahkan Martha—wanita yang sudah ia anggap seperti ibu kedua—telah dibantai tanpa sisa.

Jasad-jasad itu sengaja tidak dikuburkan, dibiarkan membusuk di ruangan yang sama dengan Issabelle sebagai alat teror psikologis yang masif.

Klik. Klik.

Suara ketukan ujung sepatu pantofel kulit buaya yang mewah menggema di koridor sebelum pintu besi tebal ruangan itu terbuka.

Sesosok pria bertubuh tegap dengan setelan jas custom-made abu-abu melangkah masuk dengan keangkuhan seorang pemenang.

Taylor Swift.

Nama pria itu terdengar seperti nama panggung yang ironis, namun di dunia bawah tanah Eropa, dia adalah monster berdarah dingin yang memimpin faksi pemberontak aliansi Pantai Timur.

Taylor adalah musuh bebuyutan ayah Issabelle, seorang sosiopat yang telah mendalangi kudeta berdarah ini demi meruntuhkan dinasti Dark Dubois.

Taylor melangkah mendekati Issabelle, mengabaikan bau busuk di sekitarnya. Ia mengulurkan tangan kirinya, mencengkeram rahang Issabelle dengan kuat, memaksa gadis berusia enam belas tahun itu untuk mendongak menatap wajahnya yang dipenuhi senyuman licik.

"Satu bulan, Issabelle. Tiga puluh hari penuh aku memberikanmu kelonggaran," ucap Taylor, suaranya terdengar lembut namun sarat akan ancaman yang mematikan.

"Aku sudah mengubur dua puluh enam orang dari sisa-sisa loyalis klanmu hanya untuk menunjukkan padamu betapa seriusnya aku. Jangan bikin nomor dua puluh tujuh itu adalah kau sendiri, Sayang... Usiamu baru enam belas tahun, terlalu muda untuk menyusul ayahmu ke liang kubur. Menikahlah denganku, dan seluruh sisa kejayaan Dubois akan menjadi milik kita bersama."

"Cuih!"

Issabelle mengumpulkan sisa saliva di mulutnya dan meludahi tepat di pipi kiri Taylor.

Sepasang mata abu-abunya berkilat penuh kebencian yang murni, tidak ada sedikit pun rasa takut di sana, meski tubuhnya sudah berada di ambang batas kelelahan.

"Aku bahkan siap merobek diriku menjadi dua bagian dari pada harus menikah dengan pria menjijikkan sepertimu," desis Issabelle, suaranya serak, kaku, dan sedalam palung laut.

"Kau tidak lebih dari sekadar anjing kelaparan yang mencoba memakai mahkota singa."

Taylor tidak marah. Ia menarik saputangan sutra dari sakunya, mengusap ludah Issabelle dari pipinya dengan gerakan perlahan, lalu kembali mencengkeram rahang gadis itu lebih keras hingga tulang sendinya berbunyi.

"Persetan dengan pernikahan jika kau terus menolak," desis Taylor, matanya menyipit tajam.

"Kalau begitu, mari kita bicara bisnis yang sebenarnya. Katakan padaku, berapa kode akses akun bank Swiss milik ayahmu? Di mana miliaran dolar aset Dubois disembunyikan?"

Ancaman dan pertanyaan itu sudah berlangsung selama satu bulan penuh tanpa jeda.

Namun, meski Issabelle tampak hancur secara fisik, mulutnya tetap terkunci rapat bagaikan brankas baja.

Air matanya telah mengering sejak minggu pertama. Ia menolak untuk memberikan satu angka pun.

Taylor sengaja memerintahkan anak buahnya untuk memberi Issabelle makanan bergizi secara paksa setiap hari agar tubuh gadis itu tidak terlihat kurus atau kehilangan pesonanya.

Karena kenyataannya, si brengsek Taylor benar-benar menyukai segala hal yang ada pada diri Issabelle—kecerdasannya, ketangguhannya, dan kecantikan murni khas aristokrat Jerman yang memikat ego maskulinnya.

Namun siang ini, kesabaran Taylor tampaknya telah mencapai batas akhir.

Ia menyadari bahwa ia tidak lagi memiliki kartu as untuk mengancam Issabelle.

Seluruh keluarga inti, paman, bibi, dan loyalis Dubois di daratan Eropa telah dibantai habis tanpa sisa. Issabelle adalah sebatang kara di istana maut ini.

Sampai sebuah ketukan di pintu kembali terdengar. Salah satu tangan kanan Taylor melangkah masuk dengan terburu-buru, membawa sebuah map dokumen intelijen terbaru.

"Tuan," bisik anak buah itu, namun suaranya cukup keras untuk didengar di ruangan yang sunyi.

"Kami baru saja mendapatkan konfirmasi dari jaringan pelacak di Amerika Serikat. Informasi lama itu valid. Ibu kandung dari gadis ini... Sloane, wanita itu masih hidup. Dia tidak berada di Chicago, melainkan di wilayah Los Angeles bersama anak-anaknya yang lain."

Mendengar laporan itu, Taylor menyeringai lebar, sebuah kilatan kemenangan kembali memancar dari matanya.

Ia melepaskan cengkeramannya dari rahang Issabelle, lalu menoleh pada anak buahnya.

"Bagus sekali. Bawa ibunya kemari, apa pun caranya. Culik wanita itu dari Los Angeles. Kita lihat apakah Pewaris kita ini akan tetap membisu saat melihat kulit ibunya dikuliti satu per satu di depan matanya."

Namun, detik berikutnya, sebuah suara tawa yang hambar dan parau justru menggema di ruang bawah tanah itu.

Issabelle tertawa. Tubuhnya yang tergantung bergetar oleh tawa sinis yang sarat akan keputusasaan dan kegilaan taktis.

"Bunuh saja!" teriak Issabelle, matanya yang merah menatap Taylor dengan tatapan menantang yang mengerikan.

"Aku bahkan tidak memiliki ingatan apa pun untuk wanita lemah itu! Dia hanyalah sampah yang membiarkan dirinya diinjak-injak! Jika kau ingin membunuhnya, lakukan saja, Taylor! Aku tidak peduli!"

Namun, meski mulutnya meneriakkan kata-kata kejam yang terlatih dari doktrin militer, ada sesuatu yang tidak bisa ia kendalikan.

Setetes air mata murni perlahan jatuh melewati pipinya yang kotor, memberikan rasa sakit yang teramat sangat di dadanya.

Salah satu orang yang masih hidup dan memiliki hubungan darah dengannya hanya tersisa ibunya di Los Angeles—bersama Claire dan Toby.

Jika Taylor mengirimkan pasukan pembunuh ke sana, maka Claire-adiknya yang tidak berdosa juga akan ikut terbantai dalam perang berdarah ini.

Memikirkan keselamatan Toby, adik kecil yang ia tinggalkan bersama belati kesayangannya, membuat jantung Issabelle berdenyut nyeri.

Taylor, yang merupakan seorang sosiopat ulung, menangkap kilatan kepedihan di balik air mata Issabelle. Seringainya semakin melebar, menyadari bahwa ia telah menemukan titik lemah baru dari sang mawar es.

"Oh, jadi kau mencoba berakting tidak peduli, hah?" cibir Taylor. Ia berjalan memutari tubuh Issabelle yang tergantung, lalu menepuk pundak anak buahnya.

"Operasi ini tidak boleh gagal. Los Angeles adalah wilayah yang rumit, faksi bawah tanah di sana dikuasai oleh beberapa klan besar Pantai Barat. Kita butuh bantuan lokal agar tidak memicu perang wilayah."

Taylor menjeda kalimatnya sejenak, berpikir keras sebelum melanjutkan perintahnya dengan nada suara yang tegas.

"Hubungi beberapa kenalan kita di jaringan internal Amerika Serikat. Kontak seluruh informan kita di Pantai Barat, termasuk klan Von-riccardo. Sampaikan pesan pada pewaris mereka, Navarro Riccardo. Katakan pada mereka kita butuh jalur aman dan intelijen untuk mencari wanita bernama Sloane itu di seluruh penjuru Los Angeles."

DEG.

Jantung Issabelle rasanya berhenti berdetak saat nama itu meluncur dari bibir Taylor.

Seluruh sistem saraf di tubuhnya mendadak menegang kaku, rasa sakit di pergelangan tangannya seketika mati rasa, digantikan oleh gelombang syok yang luar biasa masif yang menghantam kesadarannya.

Apa-apaan ini... batin Issabelle, matanya membelalak lebar menatap lantai marmer di bawahnya.

Bagaimana bisa pria brengsek seperti Taylor Swift ini mengenal nama Navarro Riccardo?

Memori Issabelle langsung melesat kembali ke malam tiga puluh hari yang lalu di Chicago. Malam di mana ia menyerahkan keperawanannya secara telak di atas ranjang mewah milik Navarro.

Ia mengingat bagaimana posesifnya Tuan Muda Riccardo itu, bagaimana pria itu berteriak di atas atap bahwa ia adalah miliknya, dan bagaimana pria itu berjanji akan menyusulnya ke Jerman saat usianya menginjak delapan belas tahun.

Issabelle tahu bahwa Navarro adalah bagian dari klan Von-riccardo yang berkuasa di wilayah Chicago dan sekitarnya.

Namun, ia tidak pernah menyangka bahwa gurita bisnis dan pengaruh klan Riccardo ternyata begitu luas hingga terhubung dengan faksi pemberontak di daratan Eropa seperti Taylor Swift.

Rasa takut yang baru—yang jauh lebih mengerikan daripada ketakutan akan kematian dirinya sendiri—mulai merayap di dalam dada Issabelle.

Jika Taylor menghubungi klan Von-riccardo untuk melacak ibunya di Los Angeles, maka Navarro pasti akan mengetahui bahwa seluruh cerita yang ia karang di dalam mobil sport malam itu—cerita tentang 'situasi klan yang sudah aman' dan 'kepulangannya yang direstui sang ayah'—adalah kebohongan besar.

Navarro akan menyadari bahwa Issabelle sedang berada dalam penyiksaan dan bahaya maut di Frankfurt.

Jangan terlibat, Navarro... Jangan pernah terhubung dengan monster ini... jerit batin Issabelle dalam keheningan yang mencekik, sementara Taylor di depannya mulai melangkah keluar ruangan untuk mengeksekusi perintah pencarian yang akan mempertemukan dua kutub kegilaan dari dua benua yang berbeda.

...🌷...

Mohon dukungannya untuk meninggalkan komentar ya kak 🙏🏻🫶🏻

1
Game Semut
semoga happy ending issabele dan navvaro serta putri nya Cassandra
Game Semut
ini cerita gmna ending nya nih thor kasian bngt kisah percintaan asmara antara issabele dan Navarro...semoga bs bersatu.
Mia Camelia
aduh isabel kok keras kepala banget sih mpe membenci navaro😔😔😔
gak adil nih klo navaro dan isabel trz salah paham mulu😔
ayolah thor bikin mereka baikan lagi😂😂😂
Game Semut
kaciaaan bngt navvaro
Ros 🌷🦋: huhuhu🥲
total 1 replies
Mia Camelia
semoga isabel cepet muncul lgi thor, kasian navaro jadi patung es bgtu🤣
Ros 🌷🦋: dicairin sama kak reader 🤭🤣🤣
total 1 replies
Mia Camelia
yah kasiah issa ternyata di jebak doang suruh pulang ke jerman😂😂😂😂😂
Ros 🌷🦋: huhuhu😅🤭
total 1 replies
BONBON
aku tunggu kak, 22nya setara dan gk jomplang. bukan kisah Cinderella, mafia x gadis yg dijual oleh keluarganya blabla. 🤣🤣🤭
Ros 🌷🦋: hihi ma'aciww kak atas dukungannya 🫶🥰
total 1 replies
Angela Ghunu
karya kakak bagus skli, semoga semakin maju dan karya " kk makin bnyk🥰🥰
Ros 🌷🦋: Ma'aciww banyak kak🫶🥰
total 1 replies
Mita Paramita
navaro mati rasa sama perempuan 🤨 nunggu Isabella kembali.
Ros 🌷🦋: iyaaa kek nya 😅🤭
total 1 replies
Shusy Bharel
lanjut tho😍😍
Ros 🌷🦋: siap kak🥰
total 1 replies
Mita Paramita
see you again navaro 😘😘😘
Ros 🌷🦋: see you kak reader 🥰
total 1 replies
Mita Paramita
Isabella pecah perawan nya sama navaro 🤣🤣🤣
Ros 🌷🦋: aku malah ngakak loh kak reader 🤭🤣
total 1 replies
Mia Camelia
akhir nya 🥰🥰🥰
Ros 🌷🦋: wkwkw🤭
total 1 replies
Mia Camelia
yah masa baru bucin udah perpisahan aja thor🤣😂😂😂
Ros 🌷🦋: Berpisah dulu biar tau artinya rindu 🤭🤣🤣
total 1 replies
Mia Camelia
yaaah ketauan deh 🤣🤣🤣
Ros 🌷🦋: kwkwk😅
total 1 replies
Mita Paramita
sekarang Isabella punya tempat bersandar walaupun sih navaro plu mines 🤣🤣🤣
Ros 🌷🦋: kesayangan reader 🤣
total 1 replies
Mita Paramita
lanjut Thor 💪💪💪
Ros 🌷🦋: siap kak🫶
total 1 replies
Mita Paramita
navaro diem diem nyelidikin asal usul Isabella 🤣🤣🤣 saking penasarannya
Ros 🌷🦋: kwkwk🤣
total 1 replies
Debu Nakal
lagi.. lagi... lagi... lagi...
Ros 🌷🦋: padahal sudah didraf sampai bab 20 kak😅
total 1 replies
Mia Camelia
wah gak sangka kalo claire pacar nya skylar?? thor ceritaiin dong mereka juga🤔😄
Ros 🌷🦋: author selipin dikit2 nanti mereka 😅
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!