NovelToon NovelToon
THE ELITE OF UNDERGROUND SOCIETY

THE ELITE OF UNDERGROUND SOCIETY

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mafia / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:581
Nilai: 5
Nama Author: zayyana

Dendam masa lalu menuntut balas. Seorang musuh besar mengincar putri tunggal sepasang pembunuh bayaran legendaris gadis yang telah dilatih menjadi "Ratu Kematian". Namun, rencana itu membentur dinding tebal. Peladen data sekolah elite SMA Garuda Bangsa dilindungi enkripsi militer ketat, menyembunyikan identitas sang target di balik kabut digital.

sementara target baru memulai tahun ajaran baru, sistem mendeteksi enam siswi baru di kelas X-A yang datanya terkunci total. Demi memastikan dendamnya terbalas, sang musuh nekat menculik keenam gadis itu.

Disekap di dalam palka kapal kargo yang gulita, enam gadis asing berbalut almamater merah marun ini terpaksa menekan ego mereka. Insting predator mereka menyatu, mengubah tempat penyekapan menjadi ladang pembantaian demi merebut kembali kebebasan. Malam itu, adalah awal mula The Elite akan terbentuk.

apakah Mereka mampu mempertahankan the elite karna status mereka yang cukup tak biasa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zayyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jaring Obsesi di Balik Kabut Digital

Malam merayap terlalu cepat di atas langit Jakarta, menyisakan hawa pengap yang tertinggal di aspal jalanan. Di dalam kamar tidurnya yang berukuran raksasa, Azrint Breynerlanz melemparkan tas jinjing kulit mahalnya ke atas sofa beledu tanpa minat. Langkah kakinya yang jenjang membawa tubuh setinggi seratus tujuh puluh dua sentimeter itu menuju balkon kamar. Gaun sutra putih gadingnya melambai lembut, menyapu kulit seputih perinya yang malam ini tampak kian pucat di bawah temaram rembulan.

Jemari lentiknya yang dipulas warna merah marun pekat bergerak menyalakan sebatang rokok tipis beraroma mentol. Azrint menyesapnya dalam-dalam, lalu mengembuskan asap putih ke udara malam yang dingin. Pikirannya kembali terlempar pada kejadian di gerbang sekolah tadi sore. Sentuhan berani di puncak kepalanya oleh Gava Ernando masih menyisakan sensasi aneh yang mengganggu.

Tok! Tok!

Suara ketukan pintu memutus lamunan Azrint. Tanpa membalikkan badannya, dia berseru dengan nada manjanya yang berjarak, "Masuk."

Hendra, kepala pengawal inti keluarga Breynerlanz, melangkah masuk dengan langkah tegap yang teratur. Wajah paruh bayanya tampak kaku di bawah sorot lampu kristal. "Nonva Azrint, laporan malam dari tim siber sudah keluar."

Azrint mematikan ujung rokoknya pada asbak kristal di pagar balkon, lalu berbalik anggun. "Apa katanya, Hendra? Apa berandalan kelas dua itu berhasil menemukan sesuatu?"

"Tidak, Nonva," jawab Hendra takzim sembari menyerahkan sebuah tablet elektronik. "Tim siber kita berhasil menghalau tiga belas upaya peretasan yang datang dari ip perangkat milik anggota The Iron Phantoms. Enkripsi profil Anda di peladen SMA Garuda Bangsa tetap aman 100%. Tuan Besar Dion juga sudah memerintahkan penambahan personel penyamaran di sekitar perimeter sekolah untuk besok pagi."

Azrint menerima tablet itu, matanya yang sewarna karamel tua menyipit tajam menatap barisan log aktivitas digital yang memerah. "Tiga belas kali? Gava Ernando benar-benar seambisius itu rupanya," ucapnya dengan nada suara yang perlahan mengeras, meluruhkan kesan manja yang biasa dia tunjukkan. "Dia pikir dia bisa menguliti identitasku hanya dengan modal pasukan motor sport dan koneksi ayahnya?"

"Apakah perlu saya mengirim beberapa orang untuk memberi 'peringatan' fisik pada pemuda itu, Nonva?" tanya Hendra, tangan kanannya secara refleks menyentuh bagian bawah jas abu-abunya, tempat sebuah belati taktis tersembunyi.

"Jangan bodoh, Hendra," sahut Azrint cepat dengan senyum tipis sarat teka-teki. "Gava itu anak donatur utama sekolah. Menyentuhnya di minggu pertama sekolah sama saja dengan memancing perhatian komite pamong dan kepolisian kota. Biarkan saja serigala jalanan itu menggonggong di depan gerbang. Selama dia tidak melewati batas, topengku sebagai siswi baru yang manja tidak boleh retak."

"Baik, Nonva. Saya mengerti," ucap Hendra sembari membungkuk hormat sebelum melangkah mundur keluar dari kamar mewah tersebut.

Sementara itu, di distrik yang berbeda, tepatnya di sebuah markas siber tersembunyi di kawasan Jakarta Utara, Camellia Putri sedang asyik menikmati susu cokelat hangatnya. Gadis berwajah imut (baby face) itu duduk menyilangkan kakinya secara acuh tak acuh di atas kursi ergonomis, sementara mata bulat besarnya berkedip cepat menatap tiga layar monitor raksasa di depannya.

"Wah, menarik banget..." celoteh Camellia dengan suara renyahnya yang menggemaskan. Jari-jari kecilnya bergerak dengan kecepatan yang menakutkan di atas papan ketik mekanis, memunculkan barisan kode dekripsi baru yang baru saja dia salin dari sistem siber sekolah.

KREK.

Pintu ruangan terbuka kasar, menampilkan sosok Aleyna Rossalind yang melangkah masuk sembari melemparkan jaket kulit hitam berlogo geng jalanannya ke atas meja kerja Camellia. Tubuh atletisnya yang memiliki tinggi seratus enam puluh delapan sentimeter tampak tegap, dipenuhi energi pemberontak yang pekat.

"Amel, lo ngapain masih belum tidur? Besok hari Rabu, jam pertama kita itu olahraga. Gue gak mau lo telat dan bikin guru seisi kelas nengok ke arah kita," gerutu Aleyna blak-blakan dengan nada suara seraknya yang khas.

Camellia menoleh, memberikan senyuman manis yang sangat licik di sudut bibirnya yang merah muda. "Ih, El, lo harus lihat ini dulu deh. Jangan galak-galak banget kenapa sih."

Aleyna mendengus pelan, bersandar pada tepian meja sembari melipat kedua tangannya di depan dada. "Lihat apa? Gue gak tertarik sama kode-kode komputer lo itu."

"Ini bukan cuma kode biasa, El," jawab Camellia sembari mengetuk salah satu layar monitor dengan ujung pulpen merah mudanya. "Lo tahu gak, semalam perangkat komputer milik anak buah Gava Ernando mencoba menjebol enkripsi data Azrint sampai tiga belas kali."

Mendengar nama Azrint dan Gava disebut, tatapan mata Aleyna yang tajam mendadak membara. "Gava? Berandalan kelas dua yang hobi pamer pasukan di jalanan itu?"

"Iya! Dan yang gila..." Camellia menjeda kalimatnya sengaja untuk memancing rasa penasaran temannya. "Sistem pertahanan siber yang menendang mereka keluar bukan cuma punya keluarga Breynerlanz. Ada jejak kode asing dari Eropa Timur yang ikut mengunci data Azrint."

Aleyna menyeringai sinis, meraba kalung rantai tipis yang berkilat di lehernya. "Menarik. Berarti si cewek peri seputih peri itu punya bekingan yang jauh lebih ngeri dari yang kita duga. Gue bilang juga apa, Amel. Berani banget si Gava mengusik jalurnya Azrint di gerbang tadi sore. Dia gak tahu aja kalau cewek manja itu bisa bikin seluruh anggotanya lenyap dalam semalam kalau darah mafianya bangun."

"Bener banget!" seru Camellia girang, kembali meneguk susu cokelatnya dengan keanggunan yang menipu. "Makanya, gue udah mengunci alamat ip dari perangkat komputasi milik geng The Iron Phantoms ke dalam daftar pantauan siber gue. Kita bisa manfaatin gesekan ego antara Gava dan Azrint buat mengalihkan perhatian sekeliling dari operasi penyelundupan logistik bokap gue di pelabuhan utara minggu ini."

Aleyna menepuk puncak kepala Camellia dengan kasar namun penuh rasa sayang kawan. "Otak licik lo emang gak pernah ngecewain, Amel. Ya udah, gue mau balik ke bengkel dulu buat ngecek armada jalanan. Lo jangan kemalaman tidurnya."

"Siap, Bos El!" jawab Camellia dengan wajah cemberut palsunya saat Aleyna melangkah lebar keluar dari ruangan siber tersebut. "Mari kita lihat seberapa pintar lo bermain catur siber di sekolah ini, Kakak Kelas Berandalan," bisik Camellia penuh intrik terselubung setelah pintu tertutup rapat.

Di sudut lain kota Jakarta yang lebih sunyi, sebuah perpustakaan pribadi di kediaman mewah klan Zyornaland tampak temaram. Fyrline Zyornaland duduk tegak di balik meja kayu jati kuno. Rambut hitamnya yang biasa disanggul rapi malam ini dibiarkan terurai, membingkai wajahnya yang sangat cantik dengan rona kemerahan di pipi putihnya.

Di hadapannya, berdiri seorang wanita paruh baya dengan pakaian serba hitam yang sedang bermeditasi di sudut kegelapan ruangan. Tante Maya, sang instruktur profesional dari sindikat rahasia bersandi "Senja".

"Bagaimana hari pertamamu di Garuda Bangsa, Fyrline?" tanya Tante Maya tanpa membuka matanya, nada suaranya sedatar es murni.

"Kalkulatif, Tante," jawab Fyrline, pembawaannya teramat efisien dan tenang. "Ada enam siswi baru di kelas X-A termasuk aku yang datanya terkunci total di peladen sekolah. Aku sudah mengidentifikasi dua di antaranya secara visual."

Tante Maya perlahan membuka matanya yang tajam dan dingin. "Siapa saja mereka?"

"Azrint Breynerlanz, putri mafia lokal, dan Eriza Tryanaz," ucap Fyrline dengan ritme napas yang lambat dan teratur. "Eriza bergerak dengan sangat senyap. Langkah kakinya seimbang tanpa suara, dan dia berpura-pura menjadi anak beasiswa yang kuper. Tapi aku tahu, dia adalah anak dari pasangan pembunuh bayaran legendaris, Arland dan Ryana."

Tante Maya mengangguk puas. "Bagus. Tetap pertahankan profesionalismemu, Fyrline. Jangan biarkan ada satu orang pun di kelas itu yang menyadari bahwa kau adalah bagian dari sindikat Senja. Dunia atas sangat rapuh, dan satu kesalahan kecil bisa meruntuhkan penyamaranmu."

"Aku mengerti, Tante. Aku tidak akan membiarkan emosi tidak berguna mengacaukan misiku," jawab Fyrline dengan nada suara yang kalkulatif tanpa ekspresi sedikit pun.

Sementara jam dinding terus berdetak menuju pukul dua pagi, keheningan malam kian mencekik kawasan perumahan elit tempat Miya Fynezayn tinggal. Miya berdiri di depan cermin besar kamarnya, mengekspos leher jenjang putih bersihnya sembari menyisir rambut pirangnya yang sedikit ikal. Tubuhnya yang proporsional (body goals) berbalut gaun minimalis hitam.

Rahangnya yang tegas mengetat dingin saat mengingat bagaimana ayahnya, sang raja mafia luar negeri yang baru memindahkan markas kartelnya ke Indonesia, memperingatkannya tentang faksi-faksi lokal yang berbahaya.

"Miya, apa kau sudah memeriksa profil teman-teman sekelasmu?" suara ibunya, Madam Fynezayn, menggema lewat interkom kamar dengan logat asing yang kental dan penuh wibawa.

Miya menekan tombol interkom di dinding dengan gerakan anggun namun tegas. "Sudah, Mom. Kelas X-A diisi oleh anak-anak dengan latar belakang yang sangat tidak biasa. Ada Breynerlanz, Rossalind, dan beberapa siluet tanpa data yang sangat mencurigakan."

"Bagus. Ingat statusmu, Miya. Kita baru saja memindahkan seluruh jaringan penasihat hukum korup kita ke pengadilan kota ini. Jangan buat masalah fisik yang bisa memicu investigasi kepolisian sebelum fondasi bisnis kita kuat," jawab Madam Fynezayn dingin dari seberang lini.

"I don't care tentang anak-anak borjuis itu, Mom. Tapi jika ada yang berani mengusik wilayah atau ketenanganku, aku sendiri yang akan memastikan mereka terseret ke pengadilan tanpa jalan pulang," sahut Miya dengan kalimat intimidasi yang sangat berkelas, lalu mematikan interkom tersebut secara sepihak.

Di kegelapan luar jendela kamar Miya, di atas dahan pohon beringin tua yang membatasi mansion Fynezayn dengan jalanan luar, sesosok remaja laki-laki duduk berjongkok dengan sangat tenang. Zeyran Rynargo. Kaos hitam polos minimalisnya tampak menyatu dengan kegelapan malam, sementara mata elangnya yang kelam dan misterius mengunci pandangannya sepenuhnya pada siluet tubuh Miya di balik tirai kaca kamar.

Zeyran menyunggingkan senyuman dingin yang memancarkan aroma kematian murni. Rahang tegasnya tampak mengeras dari samping. "Putri mafia yang sangat angkuh..." bisik Zeyran sangat lirih, suaranya hilang ditelan desis angin malam. "Nikmatilah ketenanganmu malam ini, Miya. Karena esok hari, aku akan memastikan monster di dalam diriku bergerak untuk menjagamu dari kegelapan yang sesungguhnya."

Ketegangan baru yang tak kasat mata kini telah mengalir deras di bawah permukaan normal hari Selasa di SMA Garuda Bangsa. Enam gadis dari dunia bawah tanah yang berada di kelas X-A telah kembali ke rumah mereka masing-masing dengan topeng yang masih terkunci rapat. Namun, kehadiran Gava Ernando sebagai pemilik hukum jalanan dunia atas telah meletakkan kepingan teka-teki baru yang siap mengacaukan batas wilayah rahasia mereka pada hari Rabu esok. Fokus mereka untuk tetap mengasingkan diri kian diuji oleh jaring-jaring obsesi yang mulai tumbuh di sekeliling mereka, bersiap menghadapi badai investigasi baru yang sesungguhnya di bawah terang lampu kelas sekolah elit tersebut.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!