NovelToon NovelToon
Back To Us, Zehar & Alesha

Back To Us, Zehar & Alesha

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyelamat / Mengubah Takdir / Romantis
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Rani Ramadhani

Tujuh tahun lalu, kerasnya hidup memaksa sepasang kekasih berpisah jalan. Kini, mereka kembali dipertemukan di puncak kesuksesan. Alesha seorang Direktur wanita yang tangguh, dan Zehar telah menjadi perwira polisi yang mapan.
Kesempatan kedua pun diambil. Namun tepat saat hubungan mereka kembali bertaut, sebuah utang budi dari masa lalu datang menagih.
Alesha dihadapkan pada dua pilihan, antara harus berbakti pada perjodohan orang tua, atau mempertahankan cinta sejatinya.
Saat pangkat dan jabatan sudah di tangan, mampukah mereka memenangkan takdir yang dulu sempat gagal?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Percakapan Dua Wanita

Selama seminggu terakhir, suasana di ruang kerja Direktur Operasional terasa berbeda.

Biasanya Alesha bekerja dengan ketelitian tinggi, keputusan yang cepat, dan tatapan yang tajam terhadap setiap laporan yang masuk.

Namun kini, matanya sering kosong menatap jendela kaca, jarinya berhenti bergerak di atas papan ketik, dan beberapa kali ia salah membaca angka atau melewatkan catatan penting dalam rapat.

Tumpukan berkas yang seharusnya selesai dalam sehari, kini terbawa hingga larut malam tanpa hasil yang memuaskan.

Tekanan batin yang menekan hatinya semakin berat dari hari ke hari.

Di satu sisi ada rasa bakti yang mengikatnya pada kedua orang tua, ia tidak ingin dianggap anak durhaka yang melawan keinginan orang tua demi kebahagiaan sendiri.

Di sisi lain, rasa berhutang budi pada keluarga Argantara terasa seperti rantai yang melilit erat, tanpa bantuan mereka, keluarganya mungkin sudah hancur dan ibunya tidak akan bertahan hidup.

Namun jauh di dalam hatinya, ada cinta yang tak pernah padam pada Zehar, lelaki yang telah menunggu dan berjuang bersamanya selama bertahun‑tahun.

Alesha merasa seperti terjebak di tengah tiga arah yang sama‑sama menariknya, hingga ia tak tahu harus melangkah ke mana.

Perubahan itu tidak luput dari perhatian Dinda, sahabat sekaligus asisten pribadinya yang telah bekerja bersama selama lima tahun.

Dinda mengenal Alesha lebih baik daripada siapa pun di kantor, ia tahu kapan Alesha sedang senang, kapan lelah, dan kapan ada beban berat yang dipikulnya sendirian.

Hari ini, saat Alesha kembali memijat pelipisnya dengan raut wajah pucat dan tatapan kosong, Dinda memutuskan untuk tidak membiarkan sahabatnya tenggelam dalam kesendirian.

Saat jam istirahat siang tiba, Dinda mengetuk pintu ruangan itu dan masuk dengan senyum lembut.

“Bu Alesha, waktunya istirahat. Aku sudah pesan makanan di tempat biasa. Di tempat yang sepi dan tidak terlalu ramai. Mari kita makan sebentar, biar pikiran bisa sedikit segar.”

Alesha mengangkat wajah, tersenyum tipis namun terasa hampa.

“Terima kasih, Din. Tapi sepertinya aku tidak terlalu nafsu makan hari ini. Lebih baik aku selesaikan laporan ini saja.”

Dinda mendekat, lalu menutup berkas di hadapan Alesha dengan lembut namun tegas.

“Kalau terus begini, malah tidak akan selesai. Kamu sudah seperti ini seminggu ini, Lee. Matamu tidak lagi bersinar, keputusanmu sering ragu, dan tadi pagi bahkan kamu lupa menandatangani surat perjanjian yang sudah ditunggu oleh tim keuangan. Sebagai sahabat, aku tidak bisa diam saja melihatmu seperti ini.”

Mendengar kata‑kata yang jujur itu, dada Alesha terasa sesak.

Ia tahu Dinda benar, selama ini ia memilih menutup diri agar tidak membebani orang lain.

Namun hari ini, rasanya ia sudah tidak sanggup lagi menahan semuanya sendirian.

Ia mengangguk perlahan, lalu berdiri mengikuti Dinda keluar dari ruangan itu.

Mereka pergi ke sebuah kafe kecil di pinggir jalan raya, tempat yang sering mereka kunjungi saat ingin bicara tanpa gangguan.

Setelah pesanan tiba dan suasana terasa tenang, Dinda menatap lurus ke mata sahabatnya.

“Katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi, Lee. Selama ini kamu selalu terlihat kuat, tapi akhir‑akhir ini seolah ada tembok yang menekanmu dari segala arah. Keluarkan saja semuanya. Jangan dipendam sendirian, karena beban itu akan terasa lebih ringan jika dibagikan,” ujar Dinda dengan nada lembut namun meyakinkan.

Kata‑kata itu menjadi pemicu yang membuat pertahanan diri Alesha akhirnya runtuh. Air mata yang sudah lama ditahan tumpah membasahi pipinya.

Ia menyeka dengan kasar, namun tangisnya semakin menjadi.

“Din… aku benar‑benar terjepit dan tidak tahu harus memilih jalan mana,” bisiknya dengan suara parau.

“Setiap pilihan yang aku ambil terasa salah, dan setiap keputusan yang aku buat seolah akan menyakiti satu pihak.”

Dinda meraih tangan Alesha, menggenggamnya dengan lembut.

“Tenang saja, aku mendengarkan. Ceritakan semuanya dari awal, jangan ada yang disembunyikan.”

Dengan napas yang terputus‑putus karena isak tangis, Alesha mulai membuka seluruh isi hatinya.

Ia menceritakan masa lalu saat usaha ayahnya bangkrut, saat ibunya jatuh sakit parah tanpa biaya pengobatan, dan saat keluarga Argantara datang membawa bantuan besar namun dengan syarat dan ia mengajukan perjanjian sepuluh tahun itu.

“Aku menerima itu karena tidak ada jalan lain, Din. Aku bekerja keras, mengabdikan diriku di perusahaan ini selama bertahun‑tahun, berharap bisa melunasi rasa hutang budi itu dan bebas saat waktunya tiba. Namun ternyata, baru saja tersisa tiga tahun lagi, ibuku secara tiba‑tiba mengumumkan pertunanganku dengan Erhan akan dilaksanakan bulan depan. Ia melanggar kesepakatan yang sudah dibuat, tanpa bertanya padaku sedikit pun.”

Alesha mengusap air matanya yang terus mengalir, suaranya semakin terasa berat.

“Di satu sisi, aku merasa wajib berbakti pada orang tua. Ibu bilang tanpa bantuan mereka, kita mungkin sudah menjadi gelandangan dan ia sudah tiada. Ia takut kita dicap keluarga yang tidak tahu berterima kasih jika menolak. Di sisi lain, ada rasa terikat pada janji yang belum waktunya selesai, dan rasa tidak enak hati pada keluarga Argantara yang sudah banyak menolong.”

Ia menunduk dalam, bahunya terguncang hebat. “Tapi di dalam hatiku, hanya ada Zehar. Dia adalah cinta pertamaku, satu‑satunya lelaki yang aku cintai dengan sepenuh hati. Dia juga sudah menungguku selama bertahun‑tahun, dan baru saja kita bisa kembali bersama. Jika aku menerima pertunangan ini, aku akan mengkhianati perasaanku sendiri, menyakiti Zehar, dan menjalani hidup dalam kebohongan selamanya. Tapi jika aku menolaknya, aku takut dianggap durhaka, takut merusak nama baik keluarga, dan takut terlihat seperti orang yang lupa diri setelah berhasil.”

Dinda mendengarkan dengan penuh perhatian, matanya ikut berkaca mendengar penderitaan yang selama ini dipikul Alesha sendirian.

Ia tidak menyangka bahwa di balik kesuksesan dan posisi tinggi yang terlihat sempurna itu, tersimpan beban yang seberat itu.

“Jadi selama ini, kamu bekerja keras bukan hanya untuk karier, tapi juga untuk menebus kesalahan dan hutang budi itu?” tanya Dinda pelan.

“Ya, Din. Setiap lembur, setiap keputusan yang aku ambil, setiap keberhasilan yang aku raih, semua itu aku anggap sebagai bentuk pembayaran atas apa yang mereka berikan. Aku pikir dengan menjadi direktur, dengan membuktikan kemampuanku, aku sudah membayar semuanya. Tapi ternyata, rasa hutang itu tetap ada di mata orang tua, dan sekarang justru menjadi alasan untuk memaksaku menikah,” jawab Alesha dengan suara parau.

Ia melanjutkan dengan nada yang lebih lirih, seolah mengungkapkan ketakutan terbesarnya.

“Aku takut, Din. Aku takut jika memilih cinta, aku akan kehilangan keluarga dan dianggap buruk. Tapi aku lebih takut jika memilih jalan yang dipaksakan, aku akan hidup menyesal seumur hidup karena melepaskan kebahagiaanku sendiri. Bagaimana mungkin aku bisa bahagia bersama seseorang yang tidak aku cintai, hanya karena rasa terima kasih? Dan bagaimana bisa aku mengkhianati Zehar yang telah setia menungguku melewati segala masa sulit?”

Setelah selesai bercerita, Alesha merasa seolah ada beban yang terangkat sedikit dari dadanya, meski masalahnya belum menemukan jalan keluar.

Ia menatap Dinda dengan pandangan penuh harap, ingin mendengar pendapat sahabatnya itu.

Dinda menarik napas panjang, lalu mengusap punggung tangan Alesha dengan lembut.

“Terima kasih sudah berani menceritakan semuanya padaku, Lee. Sekarang aku mengerti mengapa pikiranmu terpecah dan pekerjaanmu terganggu. Kamu tidak sedang menghadapi satu masalah, tapi tiga hal yang sama‑sama berharga bagimu, bakti, hutang budi, dan cinta.”

Ia melanjutkan dengan nada yang tenang dan bijaksana.

“Namun ingat satu hal, Lee. Bakti bukan berarti mengorbankan kebahagiaan dirimu sendiri. Orang tua yang sebenarnya ingin melihat anaknya bahagia, bukan tertekan. Dan soal hutang budi, itu memang harus dibalas, tapi tidak harus dengan mengorbankan masa depan dan perasaanmu. Bisa dibalas dengan cara lain, bukan dengan memaksakan ikatan pernikahan.”

“Dan soal cinta,” tambah Dinda sambil menatap lurus ke mata Alesha,

“Zehar sudah membuktikan kesetiaannya. Jika kamu melepaskannya demi memenuhi keinginan orang lain, kamu mungkin tidak akan mendapatkan kesempatan kedua. Jangan biarkan rasa bersalah dan pendapat orang lain menentukan siapa yang akan mendampingimu seumur hidup.”

Mendengar nasihat itu, hati Alesha terasa lebih tenang.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa didengar dan dipahami sepenuhnya.

Ia menyeka sisa air matanya, lalu menarik napas panjang untuk mengumpulkan kekuatan baru.

“Terima kasih, Din. Hanya dengan mengeluarkan semuanya, rasanya dadaku terasa lebih lega. Aku tahu jalan keluarnya tidak akan mudah, tapi setidaknya sekarang aku tahu aku tidak sendirian menghadapi ini,” ujar Alesha dengan suara yang mulai lebih mantap.

Sore itu, saat kembali ke kantor, Alesha merasa ada perubahan dalam dirinya.

Wajahnya masih terlihat lelah, namun tatapannya sudah tidak lagi kosong.

Ia sadar bahwa dilema ini tidak akan selesai dengan diam saja, dan ia harus berani mengambil keputusan yang jujur, baik pada dirinya sendiri maupun pada semua pihak yang terlibat.

Beban itu masih ada, namun kini ia tahu ada Zehar, ada Dinda, dan ada kekuatan dalam dirinya sendiri untuk melangkah maju.

 

1
Siti Sarfiah
lancar kan urusannya kalau mengalah dari egois lanjutkan lagi cinta yg terputus dan perbaiki kembali
Siti Sarfiah
maju pakpol , buang jauh" egomu bisa nyesal kalau d ambil orang
Siti Sarfiah
itulah sama" egois🤭💪
Siti Sarfiah
pakpol yg buang" waktu , bilang saja ingin mengenang masa lalu😄👍
Siti Sarfiah
cinta lama bersemi kembali😍👍💪
Siti Sarfiah
dengan bertugasnya AKP zehar d daerah yg d tuju akan aman selalu👍💪
Siti Sarfiah
mantap ibu Dirut yg jenius👍
Elisabeth Ratna Susanti
semoga pak Zehar beneran tulus ya
Rosella
udh, 🙏
kalah saing kmu erhan
Rosella
baguss
Rosella
Zaskia sadar krna di bayarin tuh utang, coba kalau ga d bayarin, apa masih Nerima Zehar 😏
Rosella
sepakat din🙏
Rosella
keren juga Dinda 😍.
real sahabat ini mah😍
Elisabeth Ratna Susanti
harus tetap tegak berdiri 👍🥰
Rosella
aku paling suka karakter Zehar. apa yang dia ucapkan pasti positif. keren thor.
kalau bisa up banyak y. plis 🙏
Rani: tengkyu.

siapp,😍
demi readers rela up banyak kok😍
total 1 replies
Rosella
sudah pasti terpecah belah lah. gila aja anak sendiri di jadikan bahan untuk balas Budi.😏
Rani: sabar😭
total 1 replies
Rosella
ibu aja yg nikah sama erhan noh. kehormatan apaan, ngorbanin anak
Rani: sabar😭
total 1 replies
Rosella
egois bnget si ibu
Rani: sabar😭
total 1 replies
Rosella
idih
Rosella
emosian lngsung pas baca bab ini
Rani: sabar😭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!