NovelToon NovelToon
Mahar Sandiwara Sang Papa

Mahar Sandiwara Sang Papa

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:568
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Terbangun dari koma, Amira Zoe dipaksa masuk ke dalam pernikahan sandiwara tanpa cinta oleh Daniel Narendra, seorang CEO kaya. Semua demi menjadi sosok "ibu" bagi Felia, putri Daniel yang kritis karena trauma kehilangan ibu kandungnya, Selena. Amira bersedia membimbing bocah itu, asalkan statusnya tetap menjadi diri sendiri, bukan bayang-bayang masa lalu.
Namun, di balik kemegahan mansion Daniel, sebuah rahasia kelam menanti. Amira menemukan fakta mengejutkan bahwa kecelakaan yang hampir merenggut nyawanya adalah sabotase berencana. Seseorang di lingkaran terdekat sengaja mengincarnya karena wajahnya yang sangat mirip dengan mendiang Selena, demi memalsukan dokumen dan mencairkan dana asuransi kematian bernilai fantastis. Kini, di tengah getar asmara yang perlahan tumbuh di hatinya, Amira harus bertaruh nyawa mengungkap dalang kriminal tersebut sebelum dirinya benar-benar dihabisi.Akankah pernikahan sandiwara ini membuka jawaban semuanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12

Setelah sesi terapi fisik yang menguras tenaga itu selesai, Daniel tidak membiarkan Amira kembali menggunakan kursi rodanya.

Dengan gerakan yang mantap namun penuh kelembutan, Daniel menggendong tubuh Amira menyusuri koridor rumah sakit, membawa istrinya itu kembali ke ruang perawatan.

Amira tanpa sadar menyandarkan kepalanya di dada bidang pria itu, diam-diam menikmati rasa aman yang menjalar di hatinya.

Begitu pintu ruang rawat didorong terbuka, Felia yang sedang duduk bersandar di ranjangnya langsung memekik kegirangan.

Balita itu sangat peka; ia bisa melihat ibunya kembali dengan wajah yang jauh lebih ceria dan rona pipi yang tidak lagi sepucat sebelumnya.

"Mama! Papa!" sambut Felia dengan rentangan tangan, tersenyum lebar menyambut kedatangan mereka.

Daniel menurunkan Amira perlahan di atas ranjang pasien yang berada di sebelah Felia, memastikan posisi duduk wanita itu sudah nyaman sebelum ia beralih mengusap puncak kepala putrinya.

Amira menatap putri kecilnya itu dengan sorot mata penuh kasih sayang.

"Felia mau makan apa, Sayang? Pasti Felia bosan, kan, makan makanan rumah sakit terus?" tanya Amira lembut.

Mata bulat Felia seketika berbinar terang mendengar tawaran tersebut.

"Mau! Felia mau sop iga, Ma! Yang kuahnya hangat," serunya penuh semangat.

Amira terkekeh pelan melihat antusiasme anak itu.

"Siap, pesanan sop iga diterima."

Felia kemudian memiringkan kepalanya yang dihiasi jepit rambut kecil, menatap Amira dengan rasa ingin tahu.

"Kalau Mama? Mama mau makan apa?"

"Hmm..." Amira pura-pura berpikir sejenak, menempelkan telunjuk di dagunya.

"Mama, ingin makan ikan bakar."

Puas dengan jawaban ibunya, pandangan Felia kini beralih mendongak menatap sang ayah yang berdiri di antara kedua ranjang mereka.

"Papa? Papa mau makan apa?"

Daniel tersenyum simpul. Ia menatap wajah ceria Felia dan senyum manis Amira secara bergantian.

Kehangatan sederhana seperti ini adalah sesuatu yang sudah sangat lama hilang dari hidupnya.

"Kalau Papa mau nasi goreng Jawa saja."

"Asyik! Kita makan enak hari ini!" sorak Felia kegirangan sambil memeluk boneka gajah Rona-nya.

Tanpa membuang waktu, Daniel segera merogoh ponsel dari saku celananya.

Ia membuka aplikasi pesan-antar dan memesan semua hidangan yang mereka inginkan.

Setelah pesanan dikonfirmasi, Daniel menarik sebuah kursi dan duduk di dekat mereka.

Sambil menunggu makanan datang, ketiganya larut dalam obrolan ringan dan canda tawa.

Untuk sejenak, di dalam ruang perawatan yang tenang itu, bayang-bayang kesepakatan sandiwara maupun ancaman dari luar memudar, tergantikan oleh kehangatan utuh sebuah keluarga yang perlahan mulai menyembuhkan luka satu sama lain.

Tak lama kemudian, pintu kamar rawat diketuk perlahan.

Seorang petugas mengantarkan kantong besar berisi pesanan makanan mereka yang aromanya langsung menggugah selera.

Daniel menerima bungkusan tersebut, lalu dengan telaten menata wadah-wadah makanan di atas meja dorong rumah sakit yang diletakkan di antara ranjang Amira dan Felia.

Uap hangat mengepul dari mangkuk sop iga milik Felia, berbaur dengan harumnya bumbu ikan bakar pesanan Amira dan aroma khas nasi goreng Jawa pilihan Daniel.

Mereka bertiga menghabiskan makan malam bersama dengan sangat lahap, diiringi obrolan ringan dan tawa kecil Felia yang tak henti-hentinya menggema.

Suasana di dalam kamar rawat itu mendadak berubah drastis, terasa begitu hangat dan hidup layaknya sebuah keluarga utuh yang bahagia.

Di sela-sela kunyahannya, Felia tiba-tiba berhenti. Mata bulatnya menatap bergantian ke arah Daniel dan Amira yang duduk bersebelahan. Sebuah ide usil nan polos mendadak melintas di kepala kecilnya.

"Papa, suapi Mama dong," celetuk Felia tiba-tiba sambil menunjuk ke arah piring ikan bakar Amira dengan sendok plastiknya.

Uhuk!

Amira yang sedang mengunyah nasinya seketika tersedak pelan.

Wajahnya langsung memerah sempurna sampai ke telinga.

Ia bergegas meraih segelas air putih di atas nakas dan meminumnya dengan gugup.

"Eh? Ti-tidak usah, Felia. Mama bisa makan sendiri kok. Tangan Mama tidak sakit," tolak Amira halus, mencoba meredam debaran jantungnya yang tiba-tiba kembali berpacu tidak keruan.

Ia melirik Daniel dengan tatapan panik, berharap pria itu akan membantu menolak permintaan polos sang anak.

Namun, Daniel justru terdiam sejenak menatap putrinya.

Alih-alih menolak, Daniel justru meletakkan sendok nasi gorengnya sendiri.

Pria itu menggeser duduknya menjadi lebih dekat ke arah ranjang Amira, lalu meraih sendok milik istrinya itu.

"Buka mulutmu, Amira. Felia sedang memperhatikan kita," bisik Daniel dengan suara berat yang teramat pelan, nyaris tak terdengar oleh Felia.

Tatapan matanya yang tajam kini melunak, menatap lekat ke arah Amira.

Daniel menyendok sedikit nasi putih beserta sepotong daging ikan bakar yang sudah dibersihkan dari durinya, lalu mengarahkannya tepat di depan bibir Amira.

"Ayo, makan yang banyak supaya cepat sembuh," ucap Daniel dengan nada suara yang sengaja dibuat selembut mungkin.

Pandangan matanya terkunci pada manik mata Daniel yang begitu dekat.

Di bawah tatapan penuh harap dari Felia dan perlakuan manis yang tak terduga dari Daniel, pertahanan Amira kembali runtuh.

Dengan gerakan perlahan dan pipi yang merona merah, Amira akhirnya membuka mulutnya dan menerima suapan pertama dari suaminya.

"Horeee! Papa sayang Mama!" seru Felia riang gembira sembari bertepuk tangan heboh, merasa misinya menyatukan kedua orang tuanya berhasil sepenuhnya.

Daniel tersenyum tipis melihat binar bahagia di wajah putrinya, sementara Amira hanya bisa menunduk dalam-dalam, berusaha menyembunyikan senyuman manis yang diam-diam terbit di bibirnya di sela-sela kunyahan makanan yang terasa jauh lebih nikmat malam itu.

Setelah sisa-sisa makanan dirapikan oleh Daniel, suasana kembali tenang.

Felia yang kekenyangan tampak mulai mengantuk, matanya perlahan menutup sambil memeluk erat boneka gajah kesayangannya.

Daniel pun bersiap untuk beranjak ke kursi lipat yang terletak di sudut ruangan, tempat ia akan menghabiskan malam dengan tidur dalam posisi yang tidak nyaman.

Namun, sebelum Daniel sempat melangkah, Felia tiba-tiba membuka matanya sedikit dan menunjuk kursi lipat itu dengan bibir mengerucut.

"Papa, jangan tidur di kursi itu," rengek Felia pelan. "Papa tidur sama Mama saja di sana. Papa nanti sakit kalau di kursi terus."

Deg!

Jantung Amira seolah berhenti berdetak seketika.

Ia tertegun di atas ranjangnya, merasakan suhu tubuhnya meningkat drastis.

Permintaan Felia benar-benar di luar skenario sandiwara mereka.

Mereka sudah sepakat untuk menjaga jarak, dan sekarang, putri kecil itu justru membuat posisi mereka menjadi sangat sulit.

Daniel mematung di tengah ruangan. Ia menatap ranjang pasien yang cukup lebar—memang muat untuk dua orang dewasa jika mereka berdesakan—lalu menatap Amira yang sedang menatapnya dengan pandangan penuh kepanikan.

"Papa... Mama... please," pinta Felia lagi dengan nada memelas yang khas anak kecil, matanya sudah berkaca-kaca kembali, seolah ia benar-benar membutuhkan kedua orang tuanya untuk berada di sana bersamanya malam ini.

Amira menelan ludah, suaranya tercekat di tenggorokan.

Ia tidak tahu harus menjawab apa. Jika ia menolak, ia akan mengecewakan Felia dan mungkin memicu kembalinya trauma anak itu.

Tapi jika ia menerima, bagaimana dengan batasan yang sudah mereka buat?

Daniel menghela napas panjang, menatap putrinya yang tampak rapuh, lalu beralih menatap Amira dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Felia, ini tidak..."

"Papa, please..." sela Felia lagi, kali ini ia sudah mulai terisak pelan.

Daniel akhirnya menyerah. Ia tidak sanggup melihat putrinya menangis.

Dengan langkah yang terasa berat dan canggung, ia berjalan mendekati ranjang Amira.

Ia menatap Amira seolah meminta izin tanpa suara, seakan bertanya, 'Apa yang harus kita lakukan?'

Amira, yang tidak tega melihat Felia, akhirnya hanya bisa menggeser tubuhnya sedikit ke sisi ranjang, memberi ruang kosong meski hatinya masih berdebar kencang.

Ia hanya bisa menunduk, menatap selimut di pangkuannya dengan wajah yang merah padam.

Daniel perlahan naik ke atas ranjang perawatan, merebahkan tubuhnya yang lelah di samping sang istri.

Ranjang rumah sakit itu terasa begitu sempit bagi mereka berdua, memaksa tubuh mereka berada dalam jarak yang sangat dekat hingga Amira bisa merasakan embusan napas Daniel di puncak kepalanya.

Sesaat kemudian, keduanya saling memunggungi dan memejamkan mata, membiarkan keheningan malam rumah sakit menuntun mereka ke alam bawah sadar.

Malam kian larut. Dalam lelapnya, rasa dingin mulai menyerang tubuh Amira.

Tanpa sadar, dalam kondisi tertidur pulas, instingnya mencari sumber kehangatan terdekat.

Amira membalikkan badannya dan menyurukkan kepalanya ke dada bidang Daniel, lalu melingkarkan satu lengannya untuk memeluk erat tubuh suaminya.

Daniel, yang juga sudah tertidur pulas akibat

kelelahan, secara alami merespons pelukan itu.

Lengannya yang kekoh bergerak melingkari pinggang Amira, menarik wanita itu semakin rapat ke dalam dekapan hangatnya.

Dalam balutan mimpi, pertahanan mereka sepenuhnya runtuh.

Kehangatan yang tulus itu membuat mereka terbuai, sampai benar-benar lupa dengan batasan dingin yang sebelumnya mereka sepakati.

Sementara itu, di sebuah kediaman mewah di sudut kota lain, atmosfer terasa begitu kontras.

Gayatri masih terjaga dengan gumpalan dendam di dadanya.

Wanita paruh baya itu menggenggam ponselnya erat-erat, menempelkannya ke telinga menunggu nada sambung terputus.

Begitu panggilan diangkat, Gayatri langsung mengutarakan maksudnya tanpa basa-basi.

Ia menghubungi Anita—seorang wanita masa lalu yang ambisius dan memiliki kepentingan tersendiri terhadap Daniel.

"Anita, kamu harus segera datang ke Jakarta," perintah Gayatri dengan suara rendah namun sarat akan intonasi licik.

"Daniel sudah gegabah. Dia menikahi perempuan kumuh tidak jelas. Aku butuh bantuanmu untuk menyingkirkan perempuan itu dan memisahkan mereka berdua secepatnya."

Di seberang telepon, senyum kemenangan terbit di bibir Anita.

Peluang yang ditunggu-tunggunya akhirnya datang juga.

"Baik, Tante. Serahkan semuanya padaku. Aku menyanggupinya," jawab Anita dengan nada penuh percaya diri.

"Besok pagi, aku akan langsung terbang ke Jakarta."

Gayatri menutup sambungan telepon dengan senyum sinis yang mengembang di wajahnya. Badai baru kini tengah dipersiapkan untuk menerjang kebahagiaan kecil yang baru saja dirasakan oleh Daniel dan Amira di rumah sakit.

1
falea sezi
lanjut q kasih hadiah
falea sezi
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!