NovelToon NovelToon
Penaklukan Sang Asisten

Penaklukan Sang Asisten

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Perjodohan / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Bhebz

Ketika efisiensi bertemu dengan kekacauan, siapa yang akan benar-benar menaklukkan siapa?

"Cinta bukan soal efisiensi, tapi tentang bagaimana ia membuatmu kehilangan kendali."

Kisah tentang Ben Arganza, asisten dingin dan merupakan bayangan Baron Frederick yang sedang menjadi target penaklukan seorang gadis ceroboh bernama Lala Narayan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bhebz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12 Serasa Dipeluk

Lala terdiam, menatap keluar jendela dengan bibir yang terkatup rapat. Logikanya berteriak bahwa pria di sampingnya ini sudah gila—seorang atasan yang melarang karyawannya memiliki kehidupan pribadi? Itu benar-benar tidak masuk akal. Namun, di sisi lain, bayangan tagihan kontrakan yang mencekik dan ancaman pengusiran dari Ibu Kost yang garang membuatnya segera menelan ego itu bulat-bulat.

​"Baiklah," ucap Lala pelan, suaranya terdengar pasrah namun menyimpan sedikit nada jengkel. "Saya setuju dengan 'prosedur standar' Anda. Selama saya bekerja untuk Anda, saya tidak akan memikirkan calon suami. Fokus saya hanya pada desain dan... menjaga agar kemeja ini tidak rusak."

​Ben tidak menoleh, namun ada kepuasan tipis yang melintas di garis wajahnya yang kaku. Ia memindahkan tuas transmisi dengan gerakan yang halus, mobil kembali melesat ke tengah hiruk pikuk jalanan Jakarta.

​"Keputusan yang efisien," gumam Ben. "Setidaknya kamu mengerti prioritas."

​Lala hanya bisa mendengus pelan sambil membetulkan letak kemeja Ben yang terasa longgar di bahunya. Aroma kayu cendana yang kuat dari kemeja itu perlahan-lahan mulai terasa akrab, bahkan entah mengapa, terasa menenangkan di tengah kepanikannya tadi. Ia menyadari bahwa berada di dekat Ben—meskipun pria itu menyebalkan, posesif, dan kaku seperti robot—ternyata memberikannya rasa aman yang aneh.

​"Tapi Tuan Ben," ujar Lala tiba-tiba, memecah keheningan di dalam mobil.

​"Apa lagi?"

​"Kalau nanti saya sudah sukses dan tidak perlu lagi takut diusir dari kontrakan... apakah prosedur itu masih berlaku?"

​Ben mengerem mobil di depan sebuah lampu merah, lalu menoleh menatap Lala tepat di matanya. Tatapan pria itu tajam, namun kali ini ada sesuatu yang lebih dalam di balik iris abu-abunya—sesuatu yang membuat Lala mendadak tidak berani membuang muka.

​"Itu tergantung," jawab Ben pelan, suaranya kini tidak sedingin biasanya, melainkan lebih dalam dan intens.

​"Tergantung pada apa?"

​"Tergantung pada apakah saat itu kamu masih ingin menjadi desainer saya... atau apakah kamu sudah memiliki alasan lain untuk tetap berada di dekat saya."

​Lampu lalu lintas berubah hijau. Ben kembali menjalankan mobilnya, meninggalkan Lala yang mematung dengan jantung yang berdegup dua kali lebih kencang dari sebelumnya.

​Pria itu benar-benar bukan robot. Ia hanyalah pria yang sedang berusaha membangun tembok pertahanan di tengah badai yang diciptakan oleh Lala. Dan saat mereka berdua berkendara menuju kantor, Lala tahu satu hal: 48 jam yang awalnya hanya soal deadline desain, kini telah berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih rumit, lebih panas, dan jauh lebih berbahaya daripada sekadar pekerjaan interior.

​48 jam ini benar-benar akan mengubah segalanya, batin Lala sambil menyandarkan kepalanya di jendela mobil, menatap pantulan dirinya di kaca—sosok gadis ceroboh yang kini memakai kemeja pria paling ditakuti di Frederick Grup selain Baron, dalam perjalanan menuju masa depan yang tidak lagi bisa diatur oleh logika.

"Tuan Ben, saya mau mampir ke tempat kost dulu. Mau bayar kontrakan, boleh?" ucap Lala dengan senyum meringis.

"Eh mau ganti baju juga. Kemeja tuan agak kebesaran, bahu dan dadaku agak terbuka," lanjutnya sembari memperlihatkan lehernya ke bawah.

Ben yang sedang fokus memutar stir mendadak menepi lagi, kali ini di depan sebuah gerai kopi di pinggir jalan yang cukup tenang. Ia mematikan mesin, lalu memutar tubuhnya menghadap Lala.

Pandangannya tertuju tepat pada kemeja putih katun itu. Ben benar. Kemeja itu memang dirancang untuk postur pria yang tegap dan lebar, sehingga saat dikenakan oleh Lala yang bertubuh ramping, kerah kemeja itu melorot, mengekspos tulang selangka yang halus dan kulit bahu Lala yang putih bersih.

Saat Lala bergerak, kancing kemeja itu sedikit merenggang, menciptakan celah yang membuat napas Ben tercekat di tenggorokan.

Ben terdiam cukup lama. Rahangnya mengeras, matanya menatap tajam ke arah "celah" yang tidak sengaja terbuka itu, sebelum akhirnya ia menepis pandangannya dengan kasar ke arah dashboard.

"Tidakkah kamu sadar betapa tidak efisiennya cara berpakaianmu itu di depan publik?" desis Ben, suaranya terdengar tertahan.

"Ya makanya saya mau ganti baju!" sahut Lala membela diri, wajahnya memerah karena malu. "Tuan kan yang nyuruh saya pakai baju ini tadi!"

Ben menghela napas panjang, mencoba menekan emosi yang tiba-tiba meledak di kepalanya. Ia membuka pintu mobil, keluar, lalu berjalan cepat memutar ke pintu penumpang. Ia membukanya, lalu melepas jas kerja mahalnya yang ia kenakan di atas kemeja yang lain.

Tanpa sepatah kata pun, ia menyampirkan jas tebal itu ke bahu Lala, membungkus tubuh gadis itu hingga kemeja yang melorot itu tertutup sempurna.

"Tidak ada mampir ke kost," ucap Ben dengan suara absolut yang tidak bisa dibantah. "Tempatmu tidak aman, dan waktumu terlalu berharga untuk dihabiskan dengan urusan birokrasi kontrakan yang sepele."

Ia mengeluarkan ponselnya, mengetik sesuatu dengan kecepatan tinggi.

"Saya sudah memerintahkan asisten saya untuk menyelesaikan pembayaran kontrakanmu. Semua tagihanmu sudah lunas untuk satu tahun ke depan. Barang-barangmu akan dipindahkan ke apartemen staf dekat kantor siang ini juga."

Lala mematung, matanya membelalak. "Apa? Tuan, itu terlalu berlebihan! Saya tidak minta dibayarkan sampai setahun!"

Ben menatapnya dengan tatapan tajam yang membuat Lala terdiam. "Itu bukan hadiah, itu adalah efisiensi. Saya tidak mau desainer saya tidak punya tempat tinggal dan berakhir pingsan di jalanan lagi. Itu merugikan produktivitas perusahaan."

Ia kembali ke kursi pengemudi, wajahnya kembali ke mode robot yang sedingin es.

"Mengenai baju," Ben melirik jasnya yang kini membungkus tubuh Lala, "jas itu akan menutupi kekurangan pakaianmu sampai kita sampai di kantor. Dan di kantor, saya akan memintakan pakaian yang layak untukmu."

Ia menjalankan mobil kembali. "Jangan berani-berani membantah. Jika kamu membantah, saya akan menambahkan klausul 'jam kerja 24 jam' ke dalam kontrakmu."

"Tapi..." .

"Apa lagi?"

Lala hanya bisa menutup mulut, menatap jas Ben yang masih menyisakan aroma parfum yang sama dengan kemeja di dalamnya.

Aaaah aku serasa dipeluk sama robot ini sih

***

Like dan Like dong😁

1
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
sakit kerasnya itu pegangan hingga memutih itu buku"
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
darrrr derrrr dorrrr derrrr durrrrr pasti itu suara harinya ben.... uhhhhhh kayak mau turun hujan badai donk bun
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
karna semuanya di luar kendalimu...
jadi nikmati aja alurnya
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
aisssstttttt mulai menghayal yang tidak" dehhh lala
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
makanya la sedia air sebelum terbakar
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
berarti selama ini setiap keputusan nya selalu salah donk dalam hidupnya
nur annisa
tarik nafas huffft
nur annisa
baru muncul Thor 💪
Bubu
harus update pokoknya😄
Bubu
Ben pokoknya aku padamu🤭
Raffi975
update lagi dong Thor pliss😍
Raffi975
waduhh
Raffi975
lanjut Thor, kayaknya Mas Ben udah jatuh cintrong nih 🤭
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
Servis donk biar top cer lagi arus listriknya.... hihihi
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
tidak di pecat.. tapi di pikat... 😇🤭😃😄
Raffi975
kacian mas Ben, pertemukan lagi dong Thor
Raffi975
lanjut Thor
Raffi975
oh tidak
Raffi975
waduhhh plot twist nya keren
Raffi975
jangan mau dipengaruhi sama Nadya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!