Alin, gadis yatim piatu yang dekil dan jerawatan, mendadak punya kekuatan magis: bisa berubah jadi bidadari glowing setiap kali makan ubi rebus! Sialnya, sihir ini punya kedaluwarsa dan luntur tepat tengah malam.
Masalah makin rumit saat Alin tidak sengaja merusak hoodie mahal seharga 8 juta milik Rakha Pratama Bagaskara—kakak kelas arogan yang ternyata tetangga kamar kosnya! Karena tidak bisa ganti rugi, Alin dipaksa menjadi budak pembersih kamar kos Rakha setiap hari.
Tensi makin memanas ketika Rayi Arjuna Bagaskara—kembaran Rakha yang super ramah—mulai gencar mendekati Alin. Sementara Rayi tulus menyukai Alin yang apa adanya, Rakha justru gila-gilaan mengejar sosok "Bidadari Glowing" malam hari, tanpa sadar kalau cewek itu adalah pembantu kosan yang setiap hari ia tindas!
Bagaimana jadinya jika sihir ubi rebus Alin habis tepat tengah malam di dalam kamar kos Rakha?
"Nggak usah panggil gue Kakak. Ntar kalau udah sah, baru lo panggil gue Sayang!" — Rakha.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4. Rahasia Kentut Lancar Jaya
"Ah, kelamaan lo! Nungguin lo selesai gagap, keburu bangkotan tuh Pak Amir di dalam mobil!" potong Rakha cepat, buru-buru memalingkan muka karena tidak kuat menatap sepasang mata cokelat jernih Alin yang terlalu mematikan dari jarak dekat.
"Lah, Tuan Muda kok bawa-bawa saya sih? Salah saya teh naon atuh?"
Pak Amir keluar dari mobil sambil memegangi pinggangnya, ikut memprotes. "Emang saya sudah tua, tapi belum bangkotan-bangkotan amat. Gini-gini juga saya masih laku kalau ditawarin ke perawan... yang sudah rabun dekat," bisik Pak Amir di kalimat terakhir agar tidak kena semprot.
"Sudah, Pak. Jangan banyak drama. Sekarang tolong bawain koper saya yang di bagasi," perintah Rakha dingin, berjalan mendahului menuju gerbang kosan Bu Sinta.
"Baik, Tuan!"
Pak Amir segera bergerak ke belakang, mengeluarkan koper hitam besar dari bagasi. Namun sebelum menyusul langkah Rakha yang cepat, pria tua itu menyempatkan diri menghampiri Alin yang masih mematung layaknya Tugu Tani.
"Neng, maafin Tuan saya, ya. Dia itu memang kayak kerupuk melempem, kelihatannya keras tapi aslinya baik kok kalau sudah kenal," bisik Pak Amir ramah.
"I-iya, tidak apa-apa kok, Pak," sahut Alin, masih dengan mode bicara patah-patah akibat syok.
Dan tunggu dulu... cowok galak tadi mau mengekos di sini?! Di kosan triplek ini?! Dunia macam apa ini?!
"Neng, maaf ya sebelumnya, kalau boleh tahu namanya siapa? Tinggal di sini juga ya?" tanya Pak Amir kepo maksimal, mengabaikan teriakan Rakha yang sudah memanggilnya dari dalam gang.
"Eum, iya Pak. Saya ngekos di sini, sudah hampir setahun lebih. Nama saya... Alin, Pak. Maaf saya agak tidak fokus," jawab Alin jujur, otaknya masih mengalami buffering parah.
Pak Amir terkekeh melihat Alin yang mendadak gagu. Ia lalu mendekat, melirik ke arah lorong kosan untuk memastikan Rakha tidak mendengar, lalu membisikkan sesuatu dengan logat Sunda yang kental.
"Neng, Tuan Muda saya mah nggak suka ngomong sama orang yang gagap. Mungkin tadi dia ketus gara-gara Neng ngomongnya patah-patah begitu. Tapi tenang aja Neng, ada pepatah Sunda bilang..." Pak Amir menjeda kalimatnya, lalu nyengir lebar hingga giginya kelihatan semua.
"Ngomong balelol, hitut bentes!"
Alin mengerutkan kening. "Artinya apa, Pak?"
"Artinya... ngomongnya boleh belepotan, tapi kalau kentut lancar jaya dan wangi mawar! Hahaha!" seru Pak Amir yang langsung ngacir terbirit-birit menyeret koper besar menyusul Rakha sebelum kena lempar sepatu belel Alin.
Mata Alin seketika melotot sempurna. Jantungnya nyaris melompat keluar untuk kedua kalinya hari ini. Hitut bentes?! Kentut lancar jaya?! Wangi mawar?!
"D-dari mana bapak-bapak bangkotan itu tahu kalau bau kosan ini wangi mawar?!" pekik Alin dalam hati dengan horor tingkat dewa.
Apakah Pak Amir punya indra keenam, atau bau kentut mawarnya tadi pagi memang sudah menyebar sampai ke jalan raya seberang?
"Dasar bangkotan mesum!!" teriak Alin kesal, menghentakkan kakinya ke aspal panas dengan dongkol luar biasa.
Setelah emosinya sedikit mereda, Alin bergegas berlari menuju pintu kamarnya. Dengan tangan yang masih gemetar, ia memutar selot kunci, melesat masuk, dan langsung menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur busa tipisnya.
Sambil menatap langit-langit kamar yang sedikit berdebu, Alin meraba seluruh permukaan wajah barunya yang terasa sehalus sutra. Kejadian hari ini terlalu tidak masuk akal.
Mulai dari kentut mawar, wajah dewi, dikejar tatapan satu warteg, dituduh sindikat penculik oleh Bu Sinta, sampai puncaknya: bertingkah konyol menyerupai babi di depan calon tetangga kos barunya yang ternyata super tampan dan super galak.
"Apa ini cuma mimpi? Kalaupun mimpi, aku benar-benar tidak mau bangun. Terima kasih Tuhan, setidaknya sekarang tidak akan ada lagi yang mengataiku si Mutiara Dekil," bisiknya pelan seraya memejamkan mata, memeluk guling loaknya erat-erat.
****
Tanpa terasa, akibat kelelahan mental menghadapi rentetan keajaiban dan rasa malu, Alin tertidur sejenak. Saat matanya kembali terbuka, jarum jam dinding plastik di tembok sudah menunjukkan pukul 14:30 siang.
Alin tersentak kaget. "Aduh, mampus! Setengah tiga!"
Ia hanya membutuhkan waktu sepuluh menit berjalan kaki ke rumah makan tempatnya bekerja mencuci piring, dan jam kerjanya dimulai tepat pukul tiga sore.
Dengan semangat baru, ketakutan akan potongan gaji, dan wajah baru yang masih ia sembunyikan di balik selembar masker kain hitam, Alin melangkah keluar kamar. Ia siap memulai sif kerjanya, sama sekali tidak menduga bahwa di luar sana, takdir sudah menyiapkan kejutan yang jauh lebih besar untuk menyambut penampilan barunya.
Alin melangkah masuk ke tempat kerjanya tepat waktu. Sebagai penganut setia prinsip "lebih baik datang satu jam lebih awal daripada telat satu detik", Ia sudah siap siaga di pos sebelum pukul tiga sore.
Alin tahu betul, rekan-rekannya yang sudah diperas tenaganya sejak jam sembilan pagi pasti sudah bermuka "lecek" mirip cucian basah yang lupa disetrika tiga hari.
Di rumah makan sederhana ini, hanya ada empat karyawan tangguh—termasuk Alin—dan sang penguasa tertinggi, Bu Sinta. Beliau bukan hanya pemilik kedai makan, tapi juga induk semang kosan Alin. Jadi, kalau Alin macam-macam di tempat kerja, nasib kamar kosnya pun bisa ikut terancam digembok.
Namun, suasana sore itu mendadak gempar. Kedatangan Alin disambut dengan parade mata melotot dari rekan-rekannya. Cuti sehari demi merayakan kelulusan sendirian, Alin pulang-pulang sudah berubah drastis bagaikan artis papan gilesan yang baru saja keluar dari salon internasional.
Elis, sang kasir berusia dua puluh dua tahun yang paling dekat dengan Alin, sampai harus mengucek matanya berkali-kali hingga maskaranya luntur. "Lin, ini beneran kamu bukan sih? Atau kamu kembarannya yang ketukar di rumah sakit waktu bayi?"
Alin tersenyum canggung di balik kepasrahannya. "Iya, Kak Elis. Emangnya siapa lagi kalau bukan Alin?"
Bukan cuma Elis. Emilio—sang koki yang tangannya selalu lincah memainkan sutil—dan Diana pun ikut merangsek maju, mengerumuni Alin seperti semut kelaparan menemukan tumpahan gula premium.
"Iya, Lin! Kamu makin cantik aja, asli! Kulitnya kok bisa bening kinclong kayak porselen begini?" puji Emilio dengan mata berbinar-binar sampai lupa membalik tempe gorengnya.
"Kamu perawatan di klinik mana sih? Kok bisa langsung glow up brutal secepat kilat gitu? Jadi pengen deh, biar pas pulang kerja wajahku nggak kucel dan berminyak kayak bumbu rendang begini," tambah Diana sambil gemas mencubit pipi Alin yang kini kenyal merona sehat.
"Eumm... anu Kak, itu..." Alin mulai gagap.
Otaknya mendadak hang mencari alasan logis yang pas dengan akal sehat manusia Jakarta.
Masa ia harus jujur kalau ia baru saja ketiban keajaiban mistis gara-gara makan ubi jalar pemberian nenek misterius? Matanya melirik panik ke arah Bu Sinta yang sedang mengawasi dari balik meja pesanan.
Bu Sinta, yang sadar betul bahwa Alin adalah satu-satunya pemegang kunci rahasia kelam tentang "lele kuning" di dasternya tempo hari, langsung bertindak sebagai tameng baja. Ia menghampiri gerombolan itu sambil berkacak pinggang, membuat daster macan tutulnya berkibar dramatis.
"Kalian pada bubar! Bukannya kerja yang benar, malah asyik kepoin orang! Kalau Alin berubah jadi cantik ya bagus dong, ada kemajuan genetika! Nggak usah repot-repot ngurusin hidup orang. Ngerti kalian?!"