Bagi Aura, mahasiswa tingkat akhir penerima beasiswa penuh, hidup ini sederhana: belajar keras, lulus cepat, dan dapat kerja bagus demi menyembuhkan ibunya yang sakit. Dunia Aura diatur oleh jadwal kuliah yang ketat dan nilai IPK yang sempurna. Ia menjauhi segala bentuk masalah, termasuk Devan, mahasiswa jurusan hukum yang terkenal arogan, kerap bolos, dan selalu dikelilingi aura berbahaya. Devan adalah definisi nyata dari bad boy kampus yang harus dihindari.
Permusuhan mereka dimulai dari hal sepele—rebutan buku referensi langka di perpustakaan dan insiden kopi tumpah yang membuat Devan bersumpah akan membuat hidup Aura di kampus seperti neraka. Aura menganggap Devan tak lebih dari berandalan kaya yang manja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Scrpn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Satu bulan telah berlalu sejak badai hukum menghantam klan Mahendra. Pengaruh dinasti rival itu di Pelabuhan Utara runtuh seperti susunan kartu domino yang ditiup angin. Dengan draf audit buatan Aura yang kini menjadi dokumen hukum berkekuatan tetap di Kejaksaan Agung, klan Bratadikara secara resmi mengambil alih seluruh konsesi logistik di Distrik Utara, mengukuhkan dominasi mereka sebagai penguasa tunggal jalur perdagangan laut kota.
Namun bagi Aura, kemenangan terbesar tidak terjadi di pelabuhan atau di ruang rapat pleno korporasi, melainkan di sebuah ruangan berlantai parket kayu di lantai tiga Gedung Rektorat Universitas Ganesha.
Hari ini adalah hari sidang skripsi utamanya.
Aura berdiri di depan cermin besar di dalam toilet wanita, merapikan kerah kemeja putihnya yang dipadukan dengan blazer hitam formal khas peserta sidang. Jantungnya berdegup kencang, namun bukan lagi karena ketakutan akan ancaman pembunuhan atau kejaran tentara bayaran, melainkan karena getaran murni dari seorang mahasiswi yang akan mempertanggungjawabkan kerja keras akademisnya selama tiga setengah tahun terakhir.
Bzzzt.
Ponsel khusus di dalam tasnya bergetar. Aura membukanya dan mendapati sebuah pesan singkat dari Devan.
01:
Gue, Bram, dan Kenzo sudah di depan ruang sidang. Profesor Wijaya gak akan tahu apa yang menimpanya begitu lo mulai bicara. Semoga sukses, Ra.
Aura tersenyum tipis, merasakan kehangatan yang instan menjalar ke seluruh tubuhnya. Ia mengembuskan napas panjang, memantapkan tatapan matanya di cermin, lalu melangkah keluar dengan kepala tegak.
Di koridor depan ruang sidang utama nomor 302, suasana tampak begitu tenang namun sarat akan proteksi tingkat tinggi. Dua pria tegap berpakaian setelan jas rapi berdiri di dekat pintu masuk—personel keamanan privat Menara Bratadikara yang memastikan tidak ada gangguan sekecil apa pun hari ini. Devan bersandar pada dinding koridor, mengenakan kemeja kasual putih dengan lengan yang digulung rapi, memperlihatkan tato sulur hitamnya yang kini tidak lagi ia sembunyikan sebagai aib, melainkan sebagai simbol otoritas.
Begitu Devan melihat Aura berjalan mendekat, sepasang mata elangnya melembut. Ia melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka, lalu menggenggam kedua telapak tangan Aura yang sedikit dingin karena gugup.
"Lo siap, Good Girl?" tanya Devan, suaranya yang berat memberikan frekuensi ketenangan yang magis bagi rungu Aura.
"Aku siap, Devan," jawab Aura mantap. "Terima kasih sudah memastikan draf ini kembali ke sistem tanpa cacat."
"Gue cuma menjaga apa yang menjadi milik gue, Ra," Devan menunduk sedikit, mengecup kening Aura dengan lembut, sebuah kecupan yang penuh dengan rasa hormat dan dukungan mutlak sebelum pintu ruang sidang terbuka. "Masuklah. Buat mereka tahu kenapa klan Bratadikara tunduk pada otak lo."
Sidang skripsi itu berlangsung selama dua jam penuh yang menegangkan. Tiga profesor penguji, termasuk Profesor Wijaya yang terkenal paling pelit memberikan nilai, mencecar Aura dengan berbagai pertanyaan rumit mengenai metodifikasi celah hukum internasional dan sinkronisasi draf audit korporasi. Namun, Aura menghadapi semuanya dengan ketenangan seorang profesional. Setiap argumen hukum yang ia lontarkan begitu taktis, runut, dan tidak terbantahkan—sebuah kristalisasi dari pengalamannya menghadapi badai nyata di Distrik Utara.
Ketika Aura melangkah keluar dari ruang sidang dengan lembar penilaian bertuliskan huruf A Mutlak, koridor yang sepi itu mendadak terasa begitu lega.
Tari yang sudah menunggu di luar langsung berlari dan memeluk sahabatnya itu dengan histeris. "Aura! Gila, lo dapet nilai A sempurna! Gue denger dari asisten dosen di dalam, Profesor Wijaya sampai gak bisa berkata-kata pas lo bedah pasal pengecualian kargo itu!"
Aura tertawa lepas, sebuah tawa kebahagiaan yang sudah lama tidak terdengar dari bibirnya. Di belakang Tari, Devan berdiri bersama Bram dan Kenzo, memberikan tepuk tangan pelan dengan senyuman miring kebanggaannya yang khas.
"Selamat, Ra. Lo resmi jadi sarjana hukum terpintar di klan Bratadikara," kelakar Kenzo sambil menutup tabletnya yang sejak tadi memantau transmisi audio dari dalam ruang sidang secara ilegal untuk memastikan tidak ada penguji yang mengintimidasi Aura.
"Terima kasih, semuanya," ucap Aura tulus, matanya beralih ke arah Devan yang kini berjalan mendekatinya, mengabaikan kehadiran Tari yang langsung mundur beberapa langkah dengan wajah menggoda.
Devan merangkulkan lengan kokohnya di pinggang Aura, menarik tubuh gadis itu masuk ke dalam dekapannya di depan umum tanpa memedulikan status mereka sebagai pusat perhatian kampus lagi. "Satu tahap selesai, Ra. Sekarang, saatnya kita mengurus masa depan kita yang sesungguhnya."
Sore harinya, mobil jip taktis hitam milik Devan membelah jalanan protokol menuju area resor privat keluarga Bratadikara di pulau seberang, yang kini ditempuh melalui jembatan laut baru yang megah. Tempat itu adalah lokasi di mana ibu Aura dirawat dan diisolasi demi keselamatannya selama satu bulan terakhir.
Begitu mobil berhenti di depan sebuah vila bergaya kolonial yang menghadap langsung ke hamparan laut biru yang tenang, Aura langsung turun dari mobil dengan tergesa-gesa. Ia berlari kecil menuju beranda belakang, di mana seorang wanita paruh baya berwajah teduh sedang duduk di atas kursi roda, menikmati embusan angin laut sore yang hangat.
"Ibu!" panggil Aura, suaranya bergetar menahan haru.
Nyonya Rahma menoleh. Wajahnya yang sebulan lalu pucat dan lemah, kini tampak jauh lebih segar dengan binar kehidupan yang kembali hadir di matanya. "Aura... Anakku," bisiknya, mengulurkan kedua tangannya yang langsung disambut oleh pelukan erat dari Aura.
Mereka berpelukan cukup lama di bawah langit senja yang berwarna jingga keemasan. Aura menangis di pundak ibunya, menumpahkan segala beban, ketakutan, dan rasa syukur karena berhasil membawa ibunya keluar dari garis bahaya tanpa kekurangan satu apa pun.
"Ibu sudah dengar dari Dokter Kenzo, Ra," kata Nyonya Rahma setelah pelukan mereka terurai, tangannya yang lembut mengusap air mata di pipi Aura. "Kamu lulus dengan nilai terbaik di kampus. Ibu bangga sekali sama kamu."
"Semua ini karena bantuan Devan, Bu," Aura menoleh ke arah pintu beranda, di mana Devan sedang berdiri dengan sikap yang sangat sopan, melepaskan kacamata hitamnya dan membungkukkan tubuhnya sedikit sebagai tanda hormat kepada ibu dari wanita yang ia cintai.
Nyonya Rahma tersenyum hangat, memberi isyarat agar Devan mendekat. "Nak Devan, kemarilah."
Devan melangkah mendekat, duduk berlutut di samping kursi roda Nyonya Rahma, sebuah posisi yang menunjukkan kerendahan hati yang luar biasa dari seorang calon penguasa klan mafia nomor satu di kota ini.
"Terima kasih ya, Nak Devan. Terima kasih sudah menjaga Aura, dan terima kasih sudah merawat Ibu di tempat seindah ini," ucap Nyonya Rahma tulus, menggenggam tangan Devan yang bertato sulur hitam dengan penuh rasa sayang seorang ibu.
"Ini sudah menjadi kewajiban saya, Nyonya," jawab Devan, suaranya terdengar begitu lembut dan tulus, tanpa ada sisa keangkuhan sedikit pun. "Aura telah menyelamatkan masa depan klan saya, dan menjaga keselamatan Ibu serta Aura adalah prioritas tertinggi di dalam hidup saya mulai saat ini dan seterusnya."
Aura menatap interaksi di depan matanya dengan perasaan batin yang bergemuruh hangat. Di bawah langit senja pulau seberang yang damai, ia menyadari bahwa takdirnya telah sepenuhnya berpindah dari jalur kelabu mahasiswa beasiswa biasa, menjadi bagian dari sebuah keluarga baru yang dibangun di atas fondasi perlindungan, kesetiaan, dan cinta yang mutlak.
Malam harinya, di atas dermaga kayu privat yang menjorok ke arah laut lepas di depan vila, Devan dan Aura berdiri berdampingan menikmati gemerlap lampu kota Distrik Pusat yang tampak menjauh di seberang lautan. Angin malam berembus lembut, memainkan ujung kardigan abu-abu tebal yang malam ini kembali dipakai Aura—kardigan yang menjadi saksi bisu awal mula kedekatan mereka di tengah badai pelabuhan.
Devan merapatkan tubuhnya, memeluk Aura dari belakang dan melingkarkan kedua lengan kekarnya di sekeliling pinggang gadis itu, menumpu dagunya di bahu Aura yang mungil.
"Gak ada lagi draf hukum yang harus lo edit malam ini, Ra," bisik Devan di dekat telinga Aura, sebuah nada suara yang sarat akan kelegaan yang murni. "Gavin Mahendra dan bokapnya sore tadi resmi menandatangani pakta penyerahan aset Distrik Timur ke tangan klan Bratadikara untuk menghindari tuntutan kejaksaan. Perang klan ini sudah resmi berakhir."
Aura menyandarkan punggungnya pada dada bidang Devan, menggenggam jemari tangan Devan yang melingkari pinggangnya. "Lalu... apa rencana kita setelah ini, Devan? Aku sudah lulus, dan ibuku sudah aman."
Devan memutar tubuh Aura perlahan agar mereka saling berhadapan di bawah siraman cahaya bulan purnama yang keperakan. Dari balik saku kemejanya, Devan mengeluarkan sebuah kotak beludru hitam kecil. Ketika ia membukanya, sebuah cincin emas putih dengan mata berlian tunggal yang berkilau indah terpampang di hadapan Aura.
Aura menahan napasnya, matanya membelalak menatap cincin itu, lalu beralih menatap sepasang mata elang Devan yang kini memancarkan keseriusan dan komitmen tingkat tertinggi dari seorang pria.
"Rencana kita selanjutnya adalah membangun dinasti baru, Gisela Aura," ucap Devan, suaranya bergetar oleh emosi yang mendalam namun sarat akan ketegasan yang mutlak. "Gue gak mau lagi berpura-pura menjadi pacar lo di kampus atau di depan musuh-musuh gue. Gue mau lo menjadi bagian dari nama belakang gue secara resmi. Jadilah pengacara utama klan Bratadikara... dan jadilah satu-satunya wanita yang memegang kendali penuh atas hati seorang Devanandra."
Air mata kebahagiaan kembali menetes di pipi Aura, namun kali ini senyuman tercerahnya merekah dengan begitu indah. Ia tidak membutuhkan analisis hukum atau draf draf alternatif untuk menjawab pertanyaan ini. Logika hatinya telah memberikan jawaban konklusif yang tidak akan pernah bisa dianulir oleh siapa pun.
"Aku terima, Devan," bisik Aura mantap, mengulurkan jari manis tangan kirinya. "Aku terima aturan main barumu untuk seumur hidup kita."
Devan tersenyum—sebuah senyuman penuh kemenangan murni—saat ia menyematkan cincin berlian itu ke jari manis Aura. Ia menarik tubuh Aura masuk ke dalam pelukan eratnya, lalu menundukkan wajahnya untuk mengunci bibir Aura dalam sebuah ciuman yang mendalam dan penuh gairah di bawah kesaksian hamparan laut lepas dan langit malam yang bertabur bintang.
Kisah mereka yang dimulai dari sebuah insiden kopi tumpah yang penuh kebencian di perpustakaan kampus Ganesha, kini telah bertransformasi secara permanen menjadi sebuah romansa taktis yang legendaris. Di antara takhta kegelapan klan Bratadikara dan kecerdasan murni sang good girl akademis, mereka telah membuktikan bahwa badai konspirasi paling mengerikan sekalipun tidak akan pernah bisa meruntuhkan dua hati yang telah memilih untuk saling mengunci dalam janji setia dan perlindungan mutlak seumur hidup.